Inklusi
keuangan “vitamin” untuk pertumbuhan ekonomi
Indonesia merupakan negara berkembang yang pertumbuhan
ekonominya di ukur melalui GDP sangat fluktuatf. Pemerintah menargetkan
pertumuhan ekonomi Indonesia pada tahun
ini berkisar antara 5,3 persen hingga 5,4 persen. Pemerintah menerapkan banyak
sekali strategi untuk mecapai pertumbuhan ekonomi 2016 seperti yang telah
ditargetkan. Diantaranya penyerapan anggaran, membuka keran investasi seluas –
luasnya hingga megeluarkan sepuluh kebijakan ekonomi. Sektor keuangan baik
lembaga bank maupun non bank merupakan jembatan bagi masyarakat yang kelebhan
dana dengan masyarakat yang kekurangan dana. Adanya lembaga keuangan yang
optimal dalam hal intermediasi mampu meningkatkan produksi yang akan mendorong
pertumbuhan perkonomian dalam jangka panjang. Peran lembaga keuangan baik bank
maupun non bank sangat penting dalam pasar uang. Selain perbankan lembaga bank
lainnya yaitu Banl Penkreditan Rakyat (BPR) merupakan lembaga keuangan bank
yang hanya berfungsi sebagai penyalur dan penghimpun dana dari masyarakat tanpa
melakukan pelayanan lainnya seperti bank – bank pada umumnya. Selain lembaga
perbankkan lembaga non bank juga berperan penting dalam perekonomian
diantaranya yaotu asuransi, modal ventura bursa efek, penggadaian dan lain-
lain.
Pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi suatu negara baik negara berkembang maupun negara maju
dapat diukur dari ketahanan dan stabilitas pasar keuangan yang terdapat pada
lembaga keuangan tersebut, karena dengan adanya sistem keuangan yang kompleks
mampu mengatasi berbagai guncangan ekonomi melalui ketahanan regulasi
pemerintah. Berdasar pada pendapat Solow mengenai pertumbuhan ekonomi bahwa
pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak hanya mendasar pada akumulasi modal dan
perumbuhan teknologi melainkan juga dipengaruhi oleh tingkat tabungan
masyarakat. Selain tingkat tabungan masyarakat tingkat investasi masyarakat
juga berperan penting karena akan meningkatkan cadangan pada pasar modal
sebagai penyedia modal sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi negara
tersebut. Dana yang berputar dalam pasar uang yang optimum mampu menciptakan
efisiensi dalam pertumbuhan perekonoman melalui saluran uang. Sehingga seluruh
efektifitas aktivitas keuangan yang baik, baik di pasar uang maupu pasar modal
dapat berdampak pada aktivitas konsumsi dan produksi masyarakat secara
langsung.
Keuangan inklusif sebagai
bentuk kebijakan yang bertujuan untuk menghilangkan segala hambatan akses atas
lembaga keuangan baik bersifat harga maupun non harga, sehingga mampu mendorong
peningkatan layanan akses keuangan yang pada akhirnya mampu menekan gap pendapatan masyarakat, menekan angka
kemiskinan serta mampu menciptakan stabilitas sistem keuangan di suatu negara (Bank Indonesia, 2014).
Menghilangkan hambatan harga dan non harga dalam perekonomian dalam hal ini
mengurangi adanya hambantan akses lembaga keuangan pada sisi penawaran dan
permintaan. Pada sisi penawaran masyarakat berperan sebagai subjeknya sedangkan
dalam sisi permntaan uang berperan sebagai subjeknya. Berdasarkan survey yang
dilakukan world bank tahun 2010 di Indonesia terdapat 49 persen dari populasi
penduduk pmenggunakan jasa perbankan formal dan sisanya sebesar 51 persen
menggunakan jasa non formal yaitu rentenir untuk meminjam dana. Sektor keuangan
yang baik mampu mendorong perekonomian yang baik secara massif. Indonesia
merupakan salah satu negara yang cukup dipertimbangkan oleh pasar global
memiliki banyak permasalahan, salah satunya dalam pembangunan keuangan. Masih
banyak masyarakat yang tidak percaya bahkan memandang sebelah mata tehadap
lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Banyak kajian menyebutkan bahwa
terjadinya kemiskinan disuatu negara salah satunya disebabkan oleh minimnya hubungan masyarakatnya dengan
lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Oleh karena itu perlu adanya sistem
keuangan yang inklusif untuk mengatasi masalah tersebut. Adanya pembahasan
tentang keuangan inklusif menyebabkan pemerintah menyusun strategi keuangan
inklusif dalam Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI).
Tujuan
dari keuangan inklusif adalah membantu pemerataan pendapatan melalui siklus
permodalan sehingga mampu merangsang produksi dan konsumsi masyarakat yang akan
berimbas pada pertumbuhan perekonomian. Mewujudkan keuangan inklusif di suatu negara sama
halnya menciptakan struktur sistem keuangan yang baik dan kuat, dengan hadirnya
struktur sistem keuangan yang kuat dalam jangka panjang akan mampu menciptakan
pembangunan keuangan dan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut (Levine, 1997).
Untuk
mengetahui kinerja keuangan inklusif dibutuhkan suatu ukuran tertentu yang
disebut sebagai indicator. Salah satunya adalah ketersediaan atau akses akan
lembaga keuangan, hal ini mengukur keterjangkauan fisik lembaga keuangan baik
bank maupun non bank. Kebijakan
moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada dasarnya bertujuan untuk
menciptakan kondisi perekonomian yang kuat dan stabil. Saat ini Bank Indonesia
berdasarkan
beberapa
kajian pada forum internasional mencanangkan kebijakan untuk mengatasi
permasalah keuangan ekslusif pada masyarakat yang notabene memiliki pendidikan
rendah, buruh tani, masyarakat daerah terpencil dan lain-lain agar permasalahan
gap pendapatan dapat diatasi. Bagi
bank sentral penerapan kebijakan keuangan inklusif akan mampu menciptakan
beberapa kebaikan bagi suatu negara. Pertama,
keuangan inklusif akan berdampak pada pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi disuatu negara melalui penekanan tingkat kemiskinan. Kedua, keuangan
inklusif akan mampu menciptakan stabilitas moneter dan keuangan pada suatu
negara. Keuangan inklusif sangat penting diterapkan di Indonesia mengingat
jumlah penduduk terdiri dari lebih banyak produktif dan membutuhkan pekerjaan.
Dan diharapkan dengan akses yang mudah dan berbagai manfaat dari keuangan
inklusif dapat dimanfaatkan dengan baik. Sehingga mampu meningkatkan jumlah
UMKM dan mengurangi jumlah pengangguran serta mampu mengurangi kemisknan yang
akan berdampak pada tercapanya pertumbuhan ekonomi yang diprediksikan
oleh
pemerintah.
beberapa
kajian pada forum internasional mencanangkan kebijakan untuk mengatasi
permasalah keuangan ekslusif pada masyarakat yang notabene memiliki pendidikan
rendah, buruh tani, masyarakat daerah terpencil dan lain-lain agar permasalahan
gap pendapatan dapat diatasi. Bagi
bank sentral penerapan kebijakan keuangan inklusif akan mampu menciptakan
beberapa kebaikan bagi suatu negara. Pertama,
keuangan inklusif akan berdampak pada pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi disuatu negara melalui penekanan tingkat kemiskinan. Kedua, keuangan
inklusif akan mampu menciptakan stabilitas moneter dan keuangan pada suatu
negara. Keuangan inklusif sangat penting diterapkan di Indonesia mengingat
jumlah penduduk terdiri dari lebih banyak produktif dan membutuhkan pekerjaan.
Dan diharapkan dengan akses yang mudah dan berbagai manfaat dari keuangan
inklusif dapat dimanfaatkan dengan baik. Sehingga mampu meningkatkan jumlah
UMKM dan mengurangi jumlah pengangguran serta mampu mengurangi kemisknan yang
akan berdampak pada tercapanya pertumbuhan ekonomi yang diprediksikan
oleh
pemerintah.





0 komentar:
Posting Komentar