Dollar
Singapura dan Koruptor Indonesia
Oleh Coniq Putri Andinata, Mahasiswi S1 angkatan 2013, Konsentrasi Moneter Ilmu
Ekonomi Universitas Jember.
“Jadi
Tersangka, Politikus Golkar Ini Terima Ratusan Ribu Dolar”, sekilas saya
bingung dengan berita ini. Bagaimana mungkin partai golkar yang menjadi salah
satu anggota partai di Indonesia tapi transasksinya menggunakan dollar
singapura yang kita ketahui bersama merupakan mata uang salah satu Negara
maju di wilayah asia tenggara ini ? selanjutnya di sini saya akan membahas dari
sisi ekonomi moneter menyikapi berita terebut.
Dari beberapa berita yang pernah
saya baca, para koruptor Indonesia sangat mengidolakan mata uang Dollar
Singapura berbentuk pecahan 10000. Padahal di negaranya sendiri, pemerintah
setempat telah memberhentikan atau tidak lagi mencetak pecahan mata uang
tersebut. Dalam sisi ekonomi moneter, mata uang terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Hard
Currency ( merupakan mata uang yang digunakan dalam transaksi internasional dan
dimiliki oleh Negara yang notabennya Negara maju. Disebut sebagai hard currency
Karena nilainya lebih stabil dan cenderung bergerak positif atau menguat
dibandingkan beberapa Negara lainnya)
2. Soft
Currency ( merupakan mata uang yang
jarang digunakan dalam transaksi internasional, biasanya mata uang ini dimiliki
oleh Negara – negara berkembang. Disebut sebagai soft currency karena nilainya
yang tidak stabil dan cenderung mengalami penurunan nilai uang itu sendiri ).
Dari penjelasan mengenai pembagian
karakteristik mata uang itu maka dollar singapura termasuk hard currency. Hal
ini bisa dikatakan demikian karena singapura merupakan salah Negara maju di
kawasan asia tenggara yang perekonomiannya juga relative stabil. Sebagaimana
dilansir pada vibinews.com menyatakan
bahwa pengangguran di singapura yaitu 2,1%. Sehingga dari sini jelas bahwa mata uang
dollar singapura dapat dikategorikan sebagai hard currency.
Menurut saya para koruptor
seharusnya tidak hanya mengidolakan dollar singapura dalam praktek korupsinya,
tapi juga bisa mengggunakan emas maupun perak seperti pada tahu 1900an.
Keuntungan dari emas itu sendiri yaitu terjaminnya stabilitas karena sampai
saat ini emas masih menjadi favorit di dunia internasional.
Valuta asing atau mata uang asing
atau foreign exchange atau foreign currency merupakan investasi yang berskala
internasional. Perubahan antar nilai mata uang dari waktu ke waktu menjadi
keuntungan yang di peroleh. Pada kasus korupsi di Indonesia ini, nilai 1 SGD
adalah sebesar Rp 9.533,59
Dari data tersebut dapat kita
cermati bahwa pergerakan nilai tukar rupiah mulai menurun, sehingga mungkin
juga bagi para calon koruptor untuk mulai berganti haluan kepada emas ataupun
saham misalnya. Dan dengan diketahuinya penurunan nilai dollar singapura
berarti nilai riil dari mata uang tersebut berrgerak menurun. Dalam ilmu
moneter, nilai dari mata uang terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Nilai
Nominal
Yaitu nilai
yang dicantumkan nominalnya pada uang kertas atau koin. Dengan kata lain jumlah
nominal yang dapat dikeluarkan untuk memperoleh suatu barang atau jasa. Jika
kita lihat dari sisi nominal penurunan SGD terhadap IDR dari Rp.9.460 menjadi
Rp.9.520 per dolar singapur. Hal ini jelas menandakan bahwa secara nilai nominal
menurun.
2. Nilai Riil
Adalah daya
beli atas komoditas, dapat disebut pula dengan nilai intrinsic yang dimiliki
oleh uang tersebut. Jika nilai nominal dari mata uang suatu Negara terhadap
Negara lain itu menurun berarti nilai instrinsik atau nilai rill dari mata uang
Negara tersebut juga menurun. Atau dengan kata lain dapat kita jelaskan bahwa terjadi
penguatan rupiah terhadap dollar singapura.
Selanjutnya
mengenai mengapa pecahan SGD 10.000 menjadi favorit? Karena pecahan ini sangat
langka adanya dan kerap digunakan sebagai alat transaksi illegal, sehingga
Otoritas Jasa Keungan (OJK) mengedarkan surat larangan pencairan pecahan 10.000
dollar singapura tersebut.
Selain
itu jika kita lihat melalui sudut pandangilmu moneter, bila penawaran uang
dollar singapur tersebut diatur dan ditetapkan oleh otoritas moneter, maka
permintaan akan uang dollar singapur ini ditentukan oleh kebutuhan masyarakat
mengacu pada motif yang mendasarinya. Menurut teori Keynes modern terdapat 3
motif dalam permintaan uang, antara lain:
1. Motif untuk
bertransaksi
Dalam hal ini, permintaan akan uang
tergantung dari seberapa besar tingkat pendapatannya. Jadi permintaan uang
antara seseorang yang digaji harian pasti akan berbeda dengan yang digaji
bulanan.
2. Motif untuk
berjaga-jaga
Motif inilah yang menurut saya yang
menjadi alasan bagi para koruptor dalampermintaan uang “pelicinnya” berupa
dollar singapura. Sri Mulyani Indrawati (1998;64) mengatakan bahwa Motif ini muncul
karena ketidakpastian dalam arus uang masuk dan uang keluar. Dalam studi kasus
berita ini, memang jelas ketidakpastian dollar singapur terhadap rupiah menjadi
salah satu motif. Para koruptor berharap dengan langkanya uang pecahan 10.000
SGD serta semakin menguatnya SGD terhadap IDR menimbulkan banyak selisih pendapatan
yang bakalan mereka dapatkan. Akan tetapi hal ini sungguh disayangkan, karena
pada akhir akhir ini nilai rupiah menguat terhadap dollar singapura.
3. Motif
Spekulasi
Sri Mulyani Indrawati (1998;64)
menjelaskan bahwa Motif ini melalui pendekatan portofolio dari tobin yang
bertujuan untuk mengoreksi asumsi Keynes yang menyatakan:
a. Sector
moneter hanya terdiri dari uang dan obligasi. Hal ini dianggap tidak realistis
karena faktanya terdapat beberapa bentuk asset finansial lainnya. Contoh tanah,
rumah, dll.
b. Teori
preferensi likuiditas dibentuk berdasarkan ekpektasi orang per orang dari
setiap investor. Sementara itu untuk setiap investor hanya tersedia satu
alternative saja, memegang uang seluruhnya atau memegang bond. Dalam pendekatan
portofolio memungkinkan setiap investor memegang portofolio dari berbagai macam
bentuk asset.
Dari ketiga motif ini, menurut saya motif kedua lah
yang mendasari permintaan SGD oleh para koruptor. Sehingga hal ini dapat
memberikan kita beberapa asumsi bahwa semakin menurunnya nilai dari rupiah baik
dipengaruhi oleh inflasi maupun lainnya, hal ini juga akan meningkatkan semakin
meningkatnya permintaan mata uang asing oleh para koruptor.
Dan untuk kasus penangkapan koruptor ini, pelaku
yang melakukan tindakan penyuapan merupakan salah satu pemilik jasa kontraktor
yang besar yang menangani hampir seluruh proyek jalan di ambon. Hal ini tentu
akan sangat mudah bagi penyuap untuk memberikan dollar singapura ke para
koruptor. Karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa dalam pelaksanaan
suatu industry kontraktor akan sering melakukan impor ataupun ekspor terhadap
Negara lain. Sehingga tak ayal, untuk mendapatkan pecahan SGD 10.000 akan mudah
di dapatnya.
Kasus korupsi lain yang menggunakan dollar singapura
dalam pembayarannya yaitu kasus korupsi yang dilakukan oleh rRubi Rubaidini
yang merupakan eks kepala SKK Migas. Akan tetapi dalam kasus ini, dia cukup
cerdik untuk mengelabui aparat KPK. Dia menukarkan uang pecahan 10.000 SGD yang
diperolehnya dari suap dengan pecahan 1000 dollar singapura. Hal ini dilakukan
agar sorotan public tidak tertuju kepadanya. Akan tetapi, dalam dunia KPK sendiri tetap
mengetahui dari mana seoranf eks kepala SKK migas memiliki uang pecahan 10.000
SGD yang merupakan hard currency dan penyebarannya sangat jarang dan sudah
tidak di produksi lagi.






0 komentar:
Posting Komentar