Blogroll

Mahasiswa Konsentrasi Moneter 2013

Perkuliahan terakhir TA 2015/2016 semester genap Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 bersama Bapak Adhitya Wardono SE., M.Sc., Ph.D

Moment Setelah UAS Semester Genap TA 2015/2016

Moment setelah Ujian Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 Selasa 14 Juni 2016

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Nur Bidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nur Bidayah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juni 2016

Permintaan Uang Meroket


Tingginya permintaan uang biasanya terjadi hanya karena sebuah faktor ekonomi tertentu atau karena adanya gejala atau shock tertentu dalam perekonomian. Tetapi yang lebih tenar saat ini adanya tingginya permintaan akan uang karena datangnya bulan ramadhan dan menjelang hari raya idul fitri.
Memang pada hakikatnya masyarakat cenderung akan memilih memegang uangnya saat menjelang hari raya idul fitri. Hal ini di karenakan kebutuhan saat ramadhan dan menjelang hari raya meningkat. Permintaan akan uang saat ini akan di proyeksikan terus meningkat sampai setelah arus mudik selesai. Menurut Bank Indonesia, kebutuhan uang tunai diperkirakan meningkat sebesar 14,5%, selain itu untuk transaksi non tunai diperkirakan juga akan meningkat sebesar  7 - 10%. Selain itu, diperkirakan juga bahwa permintaan uang tertinggi berada di Pulau Jawa yaitu sebesar 33%, kemudian Sumatera sebesar 20%, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 11%, serta Kalimantan sebesar 7%.
Kemudian, kenaikan permintaan uang maupun meningkatnya jumlah uang beredar tidak hanya di pengaruhi oleh bulan ramadhan dan idul fitri saja. Melainkan hal ini juga bebarengan dengan masuknya siswa – siswi baru atau masuknya ajaran baru. Sehingga kebutuhan akan uang akan terus meningkat. Bukan hanya itu, tetapi juga karena adanya gaji yang double yaitu gaji sekaligus THR (Tunjangan Hari Raya). Karena hal inilah makanya permintaan uang akan meningkat.
Dalam menghadapi kenaikan transaksi tunai maupun non tunai pihak BI bekerja sama dengan perbankan untuk menyediakan tempat penukaran uang keliling. Ini di lakukan tidak lain untuk mencegah beredar luasnya uang palsu. Setiap permintaan akan uang meningkat, ini akan membuka peluang bagi oknum – oknum kejahatan untuk memanfaatkan kondisi sekarang ini untuk lebih medah mengedarkan uang palsu. Sehingga untuk meminimalisir banyaknya kejadian penemuan uang palsu BI menyediakan pelayanan tukar uang keliling.
Tingginya permintaan uang ini juga menyebabkan kredit meningkat, mengingat kebutuhan yang semakin banyak dengan beberapa persiapan menjelang hari raya idul fitri membuat masyarakat berfikir untuk berkredit demi mencukupi kebutuhannya. Dengan adanya kemauan masyarakat yang lebih untuk mengambil kredit PT Pegadaian (Persero) menjalin kerja sama dengan BJB untuk pemberian kredit jangka pendek. Dengan adanya kerja sama ini diharapkan pihak pegadaian mampu untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dalam berkredit. Memang pada tahun ini permintaan uang akan terus meningkat pada beberapa bulan kedepan. Hal ini mengingat bahwa kebutuhan rumah tangga akan semakin meningkat seiring dengan datangnya hari raya idul fitri dan kebutuhan akan uang akan meningkat juga seiring datangnya tahun ajaran baru yang tentu akan membutuhkan banyak uang dalam pendaftaran siswa maupun siswi baru.

Hal ini dilakukan oleh pihak pemebri kredit bukan hanya semata – mata menjaga likuiditas namun juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Nur Bidayah, Ekonomi Moneter 2013 Universitas Jember

Fluktuasi Harga Minyak Dunia


Pada bulan Februari lalu harga minyak dunia sempat mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan oleh dua hal yakni karena penemuan teknologi baru oleh amerika serikat yaitu teknologi shale oil dan shale gas. Dengan adanya teknologi baru ni negara maju dan besar ini tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap impor minyak. Sedangkan negara Amerika Serikat sendiri merupakan negara konsumtif terhadap minyak di dunia. Selain adanya penemuan teknologi baru di Amerika Serikat (AS) hal lain yang menyebabkan harga minyak mentah dunia menurun adalah karena perekonomian China yang sempat lemah, hal ini ddi sebabkan olehmenurunnya pasar properti serta infrastruktur di negara tersebut. Sedangkan dari produksi minyak sendiri mengalami kelebihan produksi. Dan hal ini juga disebabkan oleh berkurangnya pasar ekspor minyak di Amerika Serikat yang disebabkan oleh adanya teknologi baru itu.
Jika dilihat secara agregat laba perusahaan minyak dunia mencapai titik penurunan terbesar salam kurun waktu satu tahun belakangan ini. Yang berdampak pada perusahaan memotong 2/3 dari investasi baik dari kegianan produksi maupun kegiatan eksplorasi.
Prospek minyak kedepan di proyeksikan akan tetap mengalami kelebihan pasokan. Apalagi mengingat ada pengurangan pasokan pada non OPEC seperti halnya AS yang telah mengurangi pasokan minyaknya karena telah menemukan teknologi baru. Pada semester kedua 2016 persediaan minyak di perkirakan akan melambat. Pasokan minyak yang masih banyak merupakan hasil timbunan pada tahun 2015. Cadangan tersebut cukup untuk menjaga stabilisasi harga minyak dunia dalam jangka pendek. Manfaat yang di dapatkan dari ini tidak lain adalah pemerintah dapat menghemat APBN.
Baru baru ini pada tanggal 7/6/16 kemarin, harga minyak dunia menyentuh 50 dollar AS per barrel. Adanya kenaikan harga minyak mentah dunia ini di sebabkan oleh adanya isu bahwa industri minyak di Nigeria akan di tutup. Nigeria merupakan negara penyuplai minyak mentah di Afrika. Dengan adanya penutupan industri minyak mentah di Nigeria ini akan berdampak besar pada perekonomian dunia.
Jika dikaitkan dengan adanya hukum permintaan bahwa permintaan yang terus meningkat dengan suplai barang yang tetap atau menurun akan mempengaruhi kenaikan harga. Dengan demikian, jika industri minyak di Nigeria di tutup ini akan memepengaruhi suplai minyak di beberapa negara. Nah, dikarenakan permintaan akan minyak mentah dunia yang diproyeksikan akan meningkat dengan berkurangnya satu penyuplai minyak mentah terbesar dunia maka harga dari minyak mentah dunia ini tentu akan terus meningkat jika industri minyak mentah di Nigeria ini benar – benar di tutup. Mengapa? Karena perekonomian dunia atau beberapa negara di dunia akan kehilangan satu penyuplai minyak mentah dunia. Yang mana kebutuhan minyak mentah dunia ini tidak ada habisnya justru dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia akan menambah banyak kebutuhan akan minyak. Sehingga perlu adanya negoisasi ulang mengenai di tutupnya industri minyak di Nigeria.
Dulunya, lonjakan harga pernah terjadi pada tahun 2008, dimana harganya telah mencapai 147 dollar per barrel, namun hal itu tidak bisa bertahan lama dan pada akhirnya turun dibawag 40 dollar per barrel di tahun 2009. Penurunan bahkan terjadi secara signifkan sekali, hal ini dikarenakan oleh naiknya pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang tinggi. Namun, setelah tahun 2009 harga minyak kembali merokat. Yang mendasari meroketnya harga minyak dan juga harga yang cenderung bertahan dalam harga yang lebih tinggi ini disebabkan oleh adanya isu kelangkaan pada minyak dunia. Apalagi mengingat bahwa pada saat itu terjadi kelangkaan pada pasokan minyak dunia yang terjadi akibat adanya kinflik di beberapa negara pemasok minyak. Negara tersebut di antaranya yaitu negara Timur Tengah, seperti Suriah, Mesir, dan juga Libya.
Penurunan harga minyak sejak kisaran tahun 1986 – 2000 dipicu oleh terjadinya kelebihan pasokan minyak. Apalagi ditambahnya oleh adanya industri pemasok baru yaitu Irak dan Iran. Saat ini harga minyak justru terus melemah, hal ini bisa terjadi sebab permintaan minyak kali ini terus menurun. Yang terjadi saat ini, fluktuasi harga pada minyak disebabkan oleh turunnya permintaan yang menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan minyak.
Kedepannya di perkirakan situasi pasar minyak dunia akan memiliki potensi untuk mengalami kelebihan pasokan. Dalam artian bahwa siklus harga yang rendah saat ini akan cenderung bertahan lama. Terkecuali adanya faktor – faktor yang diluar kebiasaan terjadi misalkan perang maka harga akan sedikit kompetitif. Namun tentu kita tidak berharap akan terjadinya suatu perang. Untuk tahun – tahun selanjutnya kita harus tetap berantisipasi pada fluktuasi harga yang terjadi. Sehingga pemerintah dapat mengatasi hal – hal yang mungkin terjadi dan dapat mengatasinya dengan suatu kebijakan.
Nur Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember,


Memahami Suku Bunga Baru
Bank sentral mengeluarkan kebijakan moneter, dan kebijakan moneter merupakan pemegang tonggak sebuah perekonomian. Pengaruh kebijakan moneter terhadap perekonomian sangatlah besar. Beberapa hari yang lalu saat Bank Sentral mengumumkan bakal adanya suku bunga mingguan yang dinamakan BI 7-Days Repo Rate para investor telah banyak yang lebih memilih untuk menarik dananya karena investor berfikir akan adanya gejolak dari perekonomian dengan adanya kebijakan terbaru tersebut. Untuk memperkecil risiko yang ditimbulkan para investor lebih memilih untuk menarik dananya. Hanya sekedar pengumuman akan adanya BI 7-Days Repo Rate saja para investor sudah ‘kalang kabut’ hal itu sudah menjekaskan bahwa suatu kebijakan moneter memberikan pengaruh yang besar terhadap perekonomian. Kebijakan moneter mempengaruhi tingkat inflasi, suku bunga, jumlah uang beredar dan variabel – variabel lain. Bahkan varibel ekonomi non moneter juga kan berpengaruh dari adanya transmisi kebijakan moneter yang di keluarkan oleh Bank Indonesia.
Bank Indonesia telah menerapkan adanya BI rate sejak tahun 2005, sejak saat itu Bi rate juga mempunyai andil besar terhadap sektor keuangan. Saat BI menaikkan suku bunga, perbankan yang memiliki banyak kelebihan dana akan ‘berbondong – bondong’ untuk menyimpan dananya di BI. Hal ini karena ekspektasi yang diharapkan adalah ketika suku bunga acuan BI rate tinggi tentu uang yang akan di dapatkan 12 bulan ke depan setelah perbankan menyimpan dana akan berspekulasi menjadi lebih banyak. Dan juga saat BI menurunkan tingkat suku bunga acuan BI rate pasar uang akan mengalami dampak yang ditimbulkan dari adanya penurunan suku bunga. Namun pada tahun 2010, perekonomian menjadi berkurang efektivitasnya. Hal ini di akibatkan oleh memburuknya perekonomian 5 tahun terakhir. Tidak stabilnya nilai tukar rupiah, tidak seimbangnya neraca perdagangan maupun neraca pembayran karena over impor dan juga inflasi yang pernah bergejolak, sehingga menimbulkan ketidakpastian dalam perekonomian.
Saat arus modal asing mulai masuk ke negara Indonesia, BI rate menjadi sosok yang tidak dapat mewakili suku bunga di pasar uang. BI rate cenderung berfokus pada suku bunga dalam tenor 12 bulan tidak pada tenor 3 bulan atau jangka pendek. Maka dari itu BI mengeluarkan BI 7-Days Repo Rate sebagai suku bunga yang mewakili pasar uang. Yang mana suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate ini lebih rendah dari suku bunga acuan BI rate. Hal ini karena BI 7-Days Repo Rate hanya berlaku dalam seminggu atau 7 hari. Jadi dihaarapkan pasar uang akan mengalami peningkatan yang signifikan dalan transaksinya. Meningkatkan penjualan surat – surat berharga yang mana juga sebagai langkah untuk mengurangi jumlah uang beredar yang dapat menyebabkan inflasi dan juga dapat menjadi sarana pinjaman antar bank dengan suku bunga rendah. Daripada harus meminjam ke Bank Indonesia atau Bank Sentral yang menerapkan suku bunga yang tinggi.
Selain itu, adanya BI 7-Days Repo Rate dirasa lebih memudahkan perbankan saat membutuhkan dana maupun mempunyai kelebihan dana atau over liquidity. Sebab saat suku bunga acuan meningkat, perbankan akan lebih memilih untuk menggunakan dananya dalam bentuk surat – surat berharga dan menjualnya di pasar uang. Sedangkan jika suku bunga kredit missal mengalami penurunan, perbankan akan memilih untuk menggunakan dananya untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat. Lain hal jika perbankan menyimpan uangnya ke BI, maka perbankan tidak bisa sewaktu – waktu meggunakan dana simpanannya untuk memenuhi money supply dari masyarakat kaerana pihak BI menetapkan aturan bahwa dana yang di simpan di BI hanya boleh di ambil dalam kurun waktu tenor 12 bulan atau satu tahun.
BI 7-Days Repo Rate merupakan suku bunga acuan yang di umumkan oleh BI yang mana akan digunakan untuk suku bunga acuan per-minggu. Kebijakan adanya BI 7-Days Repo Rate untuk memberi stimulus bagi pasar uang agar transaksi di pasar uang meningkat. Sebelumnya Bank Indonesia menerapkan sistem suku bunga acuan BI rate, saat ini BI rate sebesar 6,75%. Namun realitanya, suku bunga riil yang terjadi bukanlah sebesar BI rate yang ditetapkan. Maka dari itu, dikeluarkannya kebijakan BI 7-Days Repo Rate agar lebih mewakili kenyataan suku bunga riil yang ada di pasar uang.
Sebelumnya BI memang sudah memberi pelonggaran kebijakan moneter dengan GWM (Giro Wajib Minimum), dan saat ini BI juga akan mengeluarkan kembali kebijakan pelonggaran dengan BI 7-Days Repo Rate. Mengapa harus BI 7-Days Repo Rate? Karena dampak positif yang akan di timbulkan oleh kebijakan BI 7-Days Repo Rate akan membuat perekonomian menjadi stabil. Contohnya, jika pada suatu waktu perbankan sedang mengalami over liquity, perbankan akan menyimpan dananya di bank dan biasanya perbankan tidak mempunyai rasa simpati yang tinggi untuk meminjamkan kelebihan dananya kepada bank lain. Mereka cenderung untuk menyimpan dananya di BI dan mendapatkan bunga yang di tetapkan di BI. Dan dampak lain dari adanya perbankan yang menyimpan kelebihan dananya di bank yaitu seperti adanya penumpukan dana di Bank Indonesia dan juga perbankan yang memiliki masalah kekurangan dana akan meminjam dana kepada BI. Hal ini sharusnya di hindari, sebab meminjam dana ke BI  akan mendapatkan bunga yang sangat tinggi.
Selain itu, BI juga akan mengalami menumpukan dana, hal ini diakibatkan oleh banyaknya perbankan yang menyimpan dananya di BI. Maka dari itu, BI mengeluarkan kebijakan BI 7-Days Repo Rate untuk meningkatkan lagi gejolak jual beli surat berharga. Dan kebijakan BI 7-Days Repo Rate akan mempunyai dampak positif bagi perbankan umum. Karena suku bunga yang ditetapkan di pasar uang dengan adanya kebijakan BI 7-Days Repo Rate cukup rendah yaitu sebesar 5,5%.
Ketika perbankan mengendapkan dananya di BI dengan suku bunga acuan BI rate maka perbankan hanya bisa mengambil dananya kembali saat 12 bulan kemudian, sedangkan ketika di tengah – tengah bulan suatu perekonomian mengalami peningkatan money supply perbankan akan mengalami kekurangan dana karena dana yang di simpan di BI tidak dapat diambil kapan saja. Melainkan hanya dalam kurun waktu setahun, maka dari itu, adanya kebijakan BI 7-Days Repo Rate sangat menguntungkan. Perjanjian reserve repo hanya dalam kurun waktu sepekan atau tujuh hari saja. Saat seseorang membeli surat berharga dan dengan perjanjian membeli lagi surat berharga tersebut dalam kurun waktu 7 hari ini akan mengurangi kecenderungan perbankan untuk menyimpan dananya di BI. Mereka akan lebih cenderung untuk menerbitakan surat – surat berharga yang akan dapat memperoleh keuntungan jangka pendek. Tidak harus menunggu dalam waktu yang lama yaitu 12 bulan seperti pada kebijakan BI rate sebelumnya. Namun ada pengecualian pada pelanggaran perjanjian atau lebih dari 7 hari tidak membeli kembali surat berharga yang telah dijual. Ketika ada pelanggaran seperti ini bunga yang ditetapkan atas keterlambatan tersebut bukanlah dengan suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate melainkan dengan suku bunga BI rate.
Dalam rangka transisi dari kebijakan BI rate ke BI 7-Days Repo Rate, pihak Bank Indonesia sejak april sampai agustus akan mengumumkan 2 suku bunga setiap bulannya yaitu suku bunga BI rate dan BI 7-Days Repo Rate. Adanya BI 7-Days Repo Rate bukan berarti menghapus BI rate, karena BI rate masih tetap akan ada.
Selain itu direktur utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengatakan bahwa kebijakan BI 7-Days Repo Rate akan di respon baik oleh pihak bank. Menurutnya kebijakan ini memberi pendalaman di pasar uang dan melonggarkan kredit. Saat BI 7-Days Repo Rate di berlakukan secara efektif, ini akan berdampak pada menurunnya inflasi dan suku bunga. Saat suku bunga menurun, hal ini akan menggugah masyarakat untuk berkredit. Apalagi sebentar lagi menjelang lebaran, tentu masyarakat akan mempunyai kebutuhan yang meningkat yang mana tentu akan membutuhkan dana lebih. Hal inilah yang diharapkan oleh bank mandiri, dimana dengan adanya kebijakan moneter yang baru mengenai suku bunga akan memberi dampak positif di kemudian hari. Namun, menurutnya da saatnya juga dimana likuiditas mengalami pengetatan, ini di berlakukan untuk menjamin keamanan kredit yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini mencegah terjadinya kredit macet.
BI 7-Days Repo Rate tidak secara langsung dapat menurunkan suku bunga kredit melainkan melalui suku bunga deposito terlebih dahulu. Saat suku bunga deposito mengalami penurunan, tentu diharapkan akan berdampak pada penurunan suku bunga kredit. Dan efek samping dari penurunan suku bunga kredit ini di harapkan masyarakat maupun pelaku usaha akan tergugah untuk melakukan kredit. Sehingga perekonomian akan menjadi stabil dan suku bunga maupun inflasi dapat di stabilkan dengan pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditetapkan.
Mengganti nama sebuah suku bunga bukan berarti mengganti sebuah sikap dari Bank Indonesia dalam melakukan transmisi kebijakan moneter, melainkan untuk memperkuat kerangka OM (Operasi Moneter).
Apa itu operasi moneter? Setiap harinya suatu perbankan melakukan kegiatan pinjam meminjam, baik nasabah yang meminjam dana dari bank maupun perbankan yang memiliki masalah kekurangan dana yang meminjam dana dari perbankan lain. Saat ini pinjam meminjam antar bank masih rendah, perbankan lebih cenderung memilih bunga yang tingi dengan meminjam kepada Bank Indonesia atau Bank Sentral. Untuk perbankan yang memiliki maslah mengenai kekurangan dana dan ingin meminjam dana di BI mempunyai fasilitas yaitu Lending Facility dan untuk yng mempunyai kelebihan dana mempunyai fasilitas yaitu Deposit Facility. Kedua fasilitas di atas mempunyai suku bunga acuan yang berbeda dan adanya OM (Operasi Moneter) akan mempengaruhi Lending Facility (LF) dan Deposit Facility (DL).
Inilah yang menyebabkan BI 7-Days Repo Rate lebih menguntungkan daripada meminjam maupun menyimpan dananya di BI. Sebab saat ini saja ketika suku bunga acuan BI rate sebesar 6,75% suku bunga LF (Lending Facility) yaitu pebankan yang meminjam dana di bank dikenakan suku bunga acuan sebesar 7,25% lebih tinggi daripada BI rate. Tentu ini akan memberatkan perbankan dalam mengembalikan sejumlah dana yang dipinjam dari BI. Namun hal ini dilakukan BI agar perbankan lebih memilih meminjam dananae ke perbankan lain atau antar bank bukan kepada BI. Untuk Deposit Facility (DF) atau untuk perbankan yang memilih menyimpan uangnya di Bank Indonesia akan mendapatkan bunga yang lebih rendah dari BI rate. Saat ini bunga yang ditetapkan BI untuk DF sebesar 4,25%. Sedangkan saat kita menggunakan fasilitas baru BI mengenai BI 7-Days Repo Rate kita akan mendapatkan suku bunga per-minggu dan dan dapat bunga yang lebih rendah daripada pinjaman ke BI. Selain itu, perbankan dapat menggunakan kelebihan dana (over liquidity) dengan menerbitkan surat berharga maupun surat hutang yang dapat di beli oleh barang lain yang memiliki kekurangan dana dan dengan ketetapan bunga yang lebih rendah dari BI rate yaitu sebesar 5,5%.

Nur Bidayah, Ekonomi Moneter 2013 Universitas Jember

Cerdas Mengelola Suku Bunga dan Inflasi


Penurunan suku bunga kredit bergantung pada bagaimana upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Upaya pemerintah dalam mengelola suku bunga kredit harus di imbangi dengan melihat bagaimana inflasi yang terjadi saat itu. Inflasi yang tinggi tentu tidak memungkinkan untuk menurunkan suku bunga kredit, maka dengan demikian penurunan suku bunga kredit juga harus dengan upaya menekan inflasi menjadi lebih rendah.
Pihak pemerintah dan OJK sepakat untuk menurunkan suku bunga kredit. Di harapkan dengan penurunan suku bunga kredit ini masyarakat mampu berdaya saing dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Pernyataan ini di nilai benar, karena masyarakat tentu kekurangan modal untuk bisa berdaya saing dengan masyarakat asean lainnya. Sehingga suku bunga kredit yang rendah akan mempengaruhi sektor riil dalam menjalankan usahanya. Dengan suku bunga kredit yang rendah, masyarakat tentu tidak lagi bimbang dalam mengambil tindakan untuk meminjam dana kepada pihak bank. Sehingga jika dana yang dimiliki banyak maka masyarakat akan mampu memajukan produksinya dan mendorong perusahaan yang dimilikinya agar mampu bersaing dikancah nasional maupun internasional.
Penurunan suku bunga kredit secara intensif oleh bank ini umunya lebih di bermanfaat pada industi rumahan atau UMKM. Jika di telaah lebih lanjut UMKM bisa memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian, namun UMKM banyak terlupakan oleh pemerintah sehingga peran UMKM bagi perekonomian tidak terlalu terlihat. Salah satu pelaku usaha yang  memiliki eksistensi penting namun kadang “terlupakan”  dalam berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Padahal jika kita pahami lebih dalam, peran UMKM bukanlah  sekedar pendukung dalam kontribusi ekonomi nasional. UMKM dalam perekonomian nasional memiliki peran yang  penting. Kondisi ini dapat dilihat dari berbagai  data empiris yang mendukung  bahwa eksistensi UMKM cukup dominan dalam perekonomian Indonesia. Manfaat banyaknya UMKM beberapanya adalah : Pertama, berpotensi menambah industri yang besar dalam perekonomian. Kedua, potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja, dan ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB yang signifikan yaitu sebesar 56% dari total PDB di tahun 2010 (Biro Pusat Statistik dan Kementerian Koperasi dan UKM, 2010).

Perkembangan UMKM terbukti merupakan penggerak utama dalam perekonomian yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, perkembangan industri berskala kecil ini umumnya masih mengalami rintangan yang dihadapi. Masalah yang hingga kini masih menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha berskala kecil ini adalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh industri berskala kecil seperti UMKM. Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan industri ini dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi di butuhkan akses keuangan dari berbagai pihak. Seperti contohnya adalah peran Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga keuangan yang mengatur stabilitas moneter di Indonesia. Peran Bank Indonesia tidak boleh dianggap remeh, mengingat Bank Indonesia berberan sebagai otoritas moneter dimana kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tersebut sangat memberikan dampak yang luas terutama kebijakan terkait dengan pengembangan UMKM itu sendiri.
Menurut saya, kebijakan pemerintah dan OJK dalam menurunkan kredit ini cukup baik. Dimana kebijakan ini akan meningkatkan kredit yang mana kredit disini untuk mendorong stimulus perekonomian menjadi lebih baik. Dalam jangka pendek, akan meningkatkan kredit dan juga akan berdampak pada pendapatan dari bunga pinjaman yang juga akan meningkat. Dalam jangka panjang akan mendorong peningkatan produksi. Namun, yang harus di perhatikan dalam kebijakan inidan harus tetap dijaga disini adalah pengawasan terhadap kredit yang terjadi. Dimana kredit tidak boleh boom, yang bilamana kredit boom maka akan meningkatkan resiko sistemik yang tinggi. Sehingga pengawasan kredit harus ditekankan. Hal yang perlu ditekankan lagi adalah syarat yang harus ditetapkan bagi peminjam atau kreditor, yaitu harus mempuyai rasio kredit bermasalah kurang dari 5%.
Pada akhir tahun 2015 inflasi yang terjadi 3,35% dan pada januari 2016 meningkat sebesar 0,51% dan menjadi 4,70%* (* asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan APBN 2016). Inflasi pada akhir tahun 2015 menurun ditimbang inflasi tahun 2014. Dan seharusnya ketika inflasi yang terjadi menurun, seharusnya tingkat suku bunga simpanan juga harus turun. Secara inflasi juga turun, sehingga pada hakikatnya suku bunga simpanan juga turun. Namun yang terjadi justru sebaliknya, meskipun inflasi yang terjadi saat ini turun suku bunga deposito tetap naik. Mengapa? Karena terjadinya likuiditas yang menyebabkan bank terus menaikkan suku bunga deposito untuk menarik minat para nasabah untuk mendapatkan dana yang besar dari nasabah.
Pada tahun 2016 inflasi seharusnya tetap dijaga, seiring dengan menurunnya harga minyak dunia maka penggunaan biaya untuk bahan bakar transportasi juga rendah. Dampak positif dari menurunnya biaya yang rendah maka akan menurunkan juga inflasi terhadap barang – barang. Seperti halnya distribusi barang logistik ke beberapa wilayah yang mana ketika biaya distribusi cenderung turun maka harga dari komoditi tersebut juga turun. Sehingga inflasi yang terjadi juga akan cenderung menurun. Pada dasarnya terjadi inflasi daerah yang tinggi di beberapa wilayah juga disebabkan oleh biaya ingks distribusi logistik yang tinggi. Sehingga dengan adanya penurunan harga minyak dunia ini seharusnya direspon positif oleh upaya pemerintah dalam mengelola biaya transportasi dan ongkos barang logistik. Ketika ongkos dari distribusi tersebut turun,maka harga komoditinya juga turun. Menurut Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikin M Juhro pada dasarnya harga komoditi barang logistic yang tinggi disebabkan oleh biaya atau ongkos krim transportasi logistik yang juga mahal. Contohnya saja ketika harga minyak dunia tinggi dan ada kenaikan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) semua harga mengalami kenaikan artinya inflasi yang terjadi melonjak tinggi. Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan barang tersebut juga tinggi.

Suku bunga kredit bisa di turunkan jika jumlah biaya dana yang akan diberikan oleh perbankan ke nasabah juga menurun. Persentase pengaruh suku bunga kredit terhadap presentase biaya atau dana yang dikeluarkan oleh bank sebesar 60% , presentase ini cukup besar sehingga besaran inflasi sangat mempengaruhi suku bunga kredit dan suku bunga deposito yang ditetapkan oleh bank. Maka dari itu, upaya pemerintah ke depan adalah mengontrol inflasi agar tetap stabil. Supaya perekonomian makin membaik seiring dengan perbaikan yang sekarang dilakukan. Perekonomian memang butuh stimulus untuk memacu perekonomian di sektor riil. Penurunan suku bunga kredit yang bisa dengan penurunan tingkat inflasi juga di dukung oleh adanya kebijakan pemerintah terhadap pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit melalui penurunan inflasi juga akan berdampak pada menurunnya suku bunga deposito. Namun sampai saat ini suku bunga deposito belum diturunkan karena bank membutuhkan banyak dana dari nasabah. Sehingga perekonomian sektor riil di harapkan  terpacu oleh adanya penurunan suku bunga kredit dan kebijakan peloggaran kredit oleh pemerintah.
Di Indonesia inflasi di anggap suatu hal yang menakutkan bagi masyarakat karena harga barang – barang yang meningkat membuat pendapatan riil mereka berkurang. Sehingga dengan pendapatan tetap yang mereka terima tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka seperti sebelum terjadinya inflasi. Namun di sisi lain sebetulnya inflasi bisa menjadi penstimulus dalam perekonomian. Seperti yang terjadi saat ini, perekonomian global sedang dalam keadaan lesu sehingga butuh adanya inflasi untuk mendorong daya beli nasyarakat agar pendapatan pemerintah meningkat dan cukup untuk memperbaiki perekonomian yang sedang lesu.
Dalam artikel kompas tanggal (29/2) menyebutkan bahwa kita harus cerdas dalam mengelola inlasi. Mengapa? Karena inflasi sendiri tidak selalu bersifat atau berdampak buruk terhadap perekonomian. Di negara jepang dan eropa justru suku bunga yang di tetapkan adalah minus, mengapa? Karena negara ini mengharapkan agar masyarakatnya menghabiskan pendapatannya untuk di belanjakan tidak untuk di tabung. Jadi ketika daya beli masyarakat terus dipacu oleh adanya inflasi maka pendapatan pemerintah dari sektor pajak misalnya akan bertambah. Pendapatan pemerintah ini akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperbaiki perekonomian sektor riil yang sedang lesu. Artinya inflasi di sini tidak hanya menjadi beban dalam perekonomian, namun negara eropa dan jepang memang sengaja memicu inflasi yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara mereka.
Saat perekonomian mengalami kelesuan atau sedang mengalami perlambatan adanya inflasi ini justru di butuhkan, karena adanya infasi akan sangat berperan pada pengembalian kinerja pertumbuhan ekonomi sektor riil. Adanya inflasi tidak selalu harus menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dan perekonomian. Seperti adanya inflasi idi negara jepang dan eropa dimana inflasi memang diadakan untuk memacu kinerja perekonomian. Sehingga perekonomian akan cenderung membaik karena pertumbuhan sektor riil yang juga membaik. Saat kinerja sektor rill tumbuh dengan baik dan belanja pemerintah di tambah karena bertambahnya pendapatan masyarakat maka ini akan menjadi jurus jitu untuk merubah perekonomian tumbuh lebih baik.
Kebijakan moneter dan kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang di butuhkan saat perekonomian sedang mengalami perlambatan ekonomi. mengapa? Karena kebijakn moneter ekspansif akan memacu kinerja perekonomian sektor riil menjadi lebih baik dan kebijakan fiskal memacu perekonomian dengan menambah anggaran belanja negara dengan pendapatan yang di dapatkan pasca inflasi di naikkan dan dengan tambahan surat hutang negara.meskipun dampak dari belanja negara yang di tambah adalah hutang pemerintah bertambah namun kebijakan ini di perlukan untuk sementara waktu agar perekonomian kembali membaik. Selain itu kebijakan moneter juga menurunkan suku bunga acuan kredit atau BI rate. Kebijakan ini juga di tujukan untuk memacu perekonomian sektor riil, dimana dengan suku bunga kredit yang murah di harapkan agar banyak industri – industri maupun UMKM (Usaha Kecil Mikro dan Menengah) yang meminjam dana di  bank.
Ketika inflasi yang tinggi menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dan erekonomian, akan lebih menakutkan lagi jika inflasi yang rendah namu daya beli masyarakat juga ikut rendah. Implikasi atau dampak yang di timbulkan justru tidak baik juga untuk perekonomian. Pada tahun 2015 saja inflasi yang terjadi hanya sebesar 3,35 persen, inflasi ini di nilai cukup rendah. Tetapi apa yang terjadi? Ketika inflasi di tahun 2015 rendah daya beli masyarakat juga ikut rendah, berbanding terbalik dengan ketika inflasi yang terjadi tinggi daya beli masyarakat juga ikut meningkat. Akibat dari daya beli masyarakat maupun konsumsi rumah tangga yang tidak meningkat meskipun inflasi yang terjadi cukup rendah akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi yang rendah pula yaitu hanya sekitar 4,7%. Ini berarti inflasi yang rendah justru tidak juga berdampak baik dalam perekonomian. Bukan harus adanya inflasi yang tinggi maupun yang rendah, namun yang perlu di pastikan adalah inflasi yang stabil. Dan efek yang di timbulkan lagi adalah nilai tukar, yang mana nilai tukar juga berpengaruh terhadap kinerja sektor riil.
Stabilitas inflasi maupun nilai tukar akan mencegah perekonomian terjadi overheating, pertumbuhan ekonomi yang harus dicapai tentu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dan unutk mencapainya pemerintah maupun lembaga – lembaga otoritas moneter maupun fiskal harus tetap menjaga inflasi dan nilai tukar tetap stabil. Dalam menjaga nilai tukar, bank Indonesia harus menjaga terjadinya akses demand oleh valuta asing, hal ini dilakukan dengan pengefektifan kebijakan devisa hasil ekspor atau DHE. Selain itu pihak bank Indonesia juga harus menerapkan kebijakan soft capital control artinya devisa hasil ekspor harus di jaga agar tetap efektif, hal ini menjadi penting ketika perekonomian global seperti saat ini dimana perekonomian sedang mengalami gejolak yang menimbulkan ketidakpastian.
Kondisi perekonomian global yang sedang mengalami perlambatan seperti saat ini menyebabkan situasi pasar uang menjadi tidak menentu. Sudah saatnya pihak Bank Indonesia menerapkan soft capital control, pihak bank Indonesia seharusnya tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Mengapa? Seperti yang kita tahu kebijakan mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter selalu berdampak kontraktif terhadap perekonomian. Sehingga pertimbangan untuk mengeluarkan kebijakan dalam mengendalikan inflasi juga harus mempertimbangkan pengangguran yang akan terjadi akibat inflasi yang tinggi.
Memang pada saat ini, daya beli masyarakat turun atau rendah. Dan rata – rata daya beli masyarakat ini turun akibat inflasi yang tinggi pada harga pangan. Iflasi yang tinggi pada harga bahan pangan ini juga akan berdampak pada kemiskinan yang justru akan semakin meningkat, banyak masyarakat kalangan bawah tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya karena harga yang terlalu tinggi. Memang saat sekarang ini bahan pangan menjadi barang yang sangat mahal, Indonesia serba kekurangan akan bahan pangan. Sekarang semua yang di makan dan di pakai oleh diri kita serasa tak ada yang made in Indonesia,  semua impor segala sesuatunya impor. Seakan – akan bangsa ini tak punya jati diri untuk bisa menghidupi negaranya sendiri. Lalu kemana hasil pan negara ini? Dibawa kemana? Lahan persawahan di nilai cukup banyak di banding negara jepang, koreaa, maupun china. Namun kemana hasil pertanian kita seakan akan hasil pertanian lenyap dan kita di suapi oleh bahan angan impor yang kesehatan dan kesegarannya jauh disbanding dengan bahan pangan di negeri sendiri. Pengurangan sifat konsumif akan barang impor akan membuat perekonomian menjadi lebih baik. Dimana ketika kita mengurangi impor maka anggaran belanja pemerintah untuk barang impor akan berkurang. Biaya belanja dari hasil berkurangnya bahan pangan impor bisa di gunakan dengan hal – hal yang lain. Misalnya infrastruktur untuk mengatasi inflasi daerah karena biaya yang harus dikeluarkan untuk distribusi barang meningkat dengan membangun jalan darat ke beberapa pulau. Sehingga akan menekan inflasi yang tinggi di beberapa daerah karena biaya transportasi yang tinggi, maka inflasi di Indonesia ini akan merata. Tidak adanya lagi ketimpangan yang terjadi akibat inflasi yang tidak merata.
Nur Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember



Bonus Demografi Tidak Selalu Menjadi Peluang


Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar, yaitu pada tahun 2015 penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa. Namun, di balik keuntungan yang dimiliki negara Indonesia, ada dampak negatif yang di timbulkan dari besarnya penduduk di negeri ini. Jika di cermati keadaan demografi ini menjadi bonus bagi negara ini, jika sumber daya manusia yang dimiliki mampu berdaya saing, mampu untuk mengelola potensi sumber daya yang dimiliki, dan negara ini juga mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam artikel kompas pada tanggal 12 maret 2016 menyebutkan bahwa banyaknya penduduk atau bonus demografi di negara ini menjadi ancaman bagi negara Indonesia. Mengingat bahwa, penduduk yang besar, sumber daya yang dimiliki banyak, serta potensi pariwisata yang banyak sekali tetapi tidak di imbangi dengan kesejahteraan masyarakatnya. Dimana seperti yang kita tahu justru banyak sekali masyarakat kita yang berada di garis kemiskinan. Mengapa demikian? Karena bonus demografi yang dimiliki tidak di manfaatkan sebaik mungkin, pemerintah justru seakan tidak peka terhadap bonus demografi yang dimiliki. Sumber daya yang di miliki di nilai berkualitas rendah karena tidak mampu mengolah sumber daya yang ada dan tidak mampu berdaya saing dengan sumber daya manusia di negara lain.
Masyarakat Ekonomi Asean merupakan berita baik sekaligus berita buruk yang terbaru dari Indonesia. Dalam menghadapi MEA menurut saya Indonesia tidak mampu untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lainnya. Perbaikan mutu pendidikan maupun gizi dinilai sangat perlu untuk keberlangsungan hidup ke depan. Ketika bonus demografi seperti yang dimiliki negara ini tidak mampu dimanfaatkan, maka yang terjadi bonus demografi ini justru menjadi ancaman bagi negara Indonesia sendiri. Jika dilihat dari perbandingan sumber daya manusia di Indonesia dengan negara Asia yang lain, Indonesia kalah dengan negara – negara asia yang lain. Sumber daya di negara asia lainnya cenderung peka terhadap teknologi terbaru, namun apa yang terjadi pada sumber daya manusia di Indonesia? Kenyataan realnya adalah sumber daya manusia di Indonesia cenderung gagap terhadap teknologi, tertinggal oleh negara – negara asean yang lain.
Menurut Kepala PPK LIPI Haning Romdiati (kompas.com) menyatakan bahwa tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah melakukan perbaikan terhadap mutu pendidikan, gizi, dan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Dimana seperti yang telah diketahui bahwa persaingan ke depan akan lebih berat, mengingat tenaga kerja di negara Indonesia ini nanti akan banyak warga luar negeri atau asing yang bekerja di Indonesia. Ketika daya saing yang dimiliki Indonesia tidak mampu mengikuti persaingan yang terjadi. Maka pengangguran akan bertambah meningkat seiring di berlakunnya Masyarakat Ekonomi Asean.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh bps, pada tahun 2015 banyak sekali masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah. Seperti lulusan SD (Sekolah Dasar) sebesar 54,6 juta penduduk warga negara Indonesia yang hanya mampu mengenyam pendidikan ditingkat sekolah dasar, jumlah ini jika dijadikan persentase mencapai 45,19%. Merupakan persentase yang tinggi sekali jika disbanding dengan negara asia yang lain yang lebih mengedepankan pendidikan. Seharusnya pemerintah harus memberi kesempatan pada anak – anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, dimana pendidikan yang tinggi merupakan modal bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ibarat investasi, pemerintah mengeluarkan dana untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia dan akan mendapatkan hasil yang baik bagi perekonomian pada saat anak didiknya sudah dewasa dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka akan mendukung adanya pertumbuhan ekonomi, sebab pendapatan perkapita akan meningkat.
Produktivitas yang rendah, banyaknya pengangguran, tingkat pendidikan yang rendah, serta mengakibatkan pendapatan masyarakat yang rendah akan berpotensi pada perilaku – perilaku menyimpang yang akan banyak terjadi. Ketika pengangguran semakin banyak, dan jumlah penduduk yang terus meningkat maka adanya kepala keluarga dalam suatu keluarga tersebut akan dibebani oleh banyaknya anggota keluarga yang lain yang tidak bekerja seperti istri, kedua anak, dan mentuanya. Pendapatan yang dihasilkan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Ketika seseorang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dan berfikiran negatif, bingung harus seperti apa. Dari situ timbul perilaku menyimpang yang mana kan berbuat kejahatan atau kriminalitas untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar dengan mencuri, merampok, dan kejahatan – kejahatan yang lain. Di sisi lain mereka berbuat kejahatan karena mereka berupaya untuk memenuhi kebutuhannya, namun di sisi lain mereka di nilai salah karena mereka mendapatkan pendapatannya tersebut dari perilaku yang buruk. Peran pemerintah dalam hal perilaku menyimpang ini cukup besar, mengapa? Karena pada dasarnya mereka melakukan hal buruk tersebut karena mereka tidak mampu menghidupi anggota keluarganya dengan pendapatan yang rendah. Seharusnya pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak untuk menampung para masyarakatnya yang menganggur. Sehingga, bonus demografi yang dimilki bermanfaat untuk meningkatkan pembangunan negara Indonesia ini.
Keadaan Indonesia saar ini, banyak warga desa yang berbondong – bondone ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan da menaruh harapan untuk mejadi sukses di kota yang besar. Namun apa yang terjadi? Apa dampak dari perilaku masyarakat yang demikian? Ketika mereka berharap besar dengan pergi ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak namun dengan kualitas diri yang rendah hanya akan membuat masalah pada tatanan kota besar yang ditinggali. Mengapa? Karena meraka akan sulit mencari pekerjaan dengan kualitas diri yang rendah, sehingga mereka akan membuat pemukiman – pemukiman kumuh dipinggiran kota dan sungai. Sehingga menimbulkan bencana banjir karena tempat meresapnya air. Dengan adanya pemukiman kumuh tersebut, akan menganggu pemandangan kota. Kota akan terlihat kumuh, jelek, kotor karena mereka biasanya akan membuat gubuk – gubuk non permanen dari plastik, kardus, dan lain - lain.
Yang perlu di perbaiki di Indonesia disini bukan hanya memperbaiki tatanan sumber daya manusianya, namun juga tatanan lingkungan yang mana telah banyak tanah persawahan yang digunakan menjadi pabrik. Sehingga para tenaga kerja di  desa yang bekerja sebagai pertani akan kehilangan mata pencahariannya karena lahannya sudah tidak ada. Damapak yang dihasilkan dari berkurangnya lahan persawahan adalah kurangnya bahan pokok yang diproduksi dalam negeri dan mengakibatkan pemerintah untuk ekspor beras, serta banyaknya pengangguran yang terjadi di pedesaaan. Banyaknya petani yang telah menganggur, sehingga disarankan untuk pengurangan alih lahan dari pertanian ke industri agar para tenaga kerja di desa tidak kehilangan pekerjaannya dan  berbondong – bonding ke kota untuk mencari pekerjaan dengan modal pendidikan yang rendah. Yang perlu ditekankan lagi adalah memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia, karena pendidikan merupakan modal kedepan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, modal pendidikan juga sebagai ilmu bagi para wirausaha untuk membuka usaha yang baru, sehingga akan menyerap banyak tenaga kerja dan akan membantu masyarakat indonesia terlepas dari garis kemiskinan dan akan berdampak juga pada pendapatan perkapita dari masyarakat meingkat.  Sehingga banyaknya jumlah penduduk Indonesia tidak lagi menjadi beban dalam pembangunan, namun menjadi asset dalam pembangunan di negara ini.
Nur Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember,


Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Perlonggar Kebijakan


Kebijakan makroprudensial adalah kebijakan untuk mengantisipasi adanya resiko sistemik pada Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) yang dikeluarkan Bank Indonesia. Mengingat terjadinya krisis pada tahun 1998, merupakan pelajaran bahwa pentingnya stabilitas sistem keuangan bagi perekonomian. Stabilitas sistem keuangan akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian di suatu negara.
Pada Tahun 2012 kredit properti dan kendaraan bermotor mencapai angka yang terlalu tinggi, sehingga membuat Bank Indonesia takut mempunyai risiko sistemik yang tinggi pula. Pada saat itu, kredit properti mecapai angka 26,56%. Dimana pada saat itu, BI (Bank Indonesia) mengeluarkan kebijakan yaitu pengetatan terhadap kredit properti melalui rasio pinjaman terhadap nilai asset LTV. Secara sadar, kita tahu bahwa lesunya kredit properti juga dipicu oleh di keluarkannya kebijakan pengetatan terhadap kredit properti yang dikeluarkan pihak BI. Kenapa dilakukan pengetatan? Karena untuk meminimalisir resiko sistemik yang terjadi, seperti yang kita tahu sendiri bahwa masyarakat kita banyak yang lari atau tidak membayar hutangnya ketika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Seperti contoh kebanyakan yang kita tahu, banyak sekali kredit macet properti yang  mana kebanyakan kreditor tersebut tidak lagi membayar kredit properti tersebut. Biasanya kemacetan kredit properti tersebut diakibatkan oleh naikknya suku bunga acuan atau BI rate. Karena suku bunga acuan atau BI rate naik, kebanyakan masyarakat tidak mampu membayar karena bunga yang terlalu tinggi. Banyaknya kredit macet ini yang mendasari di keluarkannya kebijakan pengetatan kredit LTV properti maupun kendaraan bermotor.
Ditengah keadaan pertumbuhan perekonomian yang lesu dibulan Oktober 2015, BI (Bank Indonesia) memperlonggar kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian Indonesia membaik. “ Bank Indonesia sudah melonggarkan kebijakan makroprudensial melalui pelonggaran rasio pinjaman terhadap nilai asset LTV (Loan To Value) kendaraan bermotor dan rumah. Peluang pelonggaran kebijakan moneter terbuka karena tekanan dari ekonomi makro makin kecil, terutama karena proyeksi inflasi dan posisi defisit transaksi berjalan yang di bawah perkiraan ”. (Kompas Online, 17 Oktober 2015).
Berita baik ini, seharusnya direspon postif oleh pasar. Dimana ketika kebijakan ini dikeluarkan, suku bunga kredit akan turun dan diharapkan perekonomian terpacu oleh penurunan suku  bunga kredit tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang lemah, akan membuat perekonomian semakin terpuruk, sehingga dikeluarkannya kebijakan makroprudensial melalui perlonggaran rasio pinjaman kendaraan dan rumah ini merupakan pancingan untuk merubah perekonomian lebih baik.
Penurunan suku bunga kredit adalah efek dari perlonggaran dari kebijakan makroprudensial dimana ketika suku bunga pinjaman turun gairah masyarakat untuk berkredit diharapkan akan meningkat. Ketika kredit properti meningkat maka akan berdampak juga pada industri. Dimana industri – indistri bahan pembuat bangunan semisal seperti industri semen, genteng, dan lain - lain. Dimana akan meningkatkan penjualan karena efek dari meningkatnya kredit properti yang di butuhkan. Ketika permintaan terhadap barang tersebut meningkat, tentu produksi nya harus meningkat juga. Untuk meningkatkan produksi, maka di butuhkan tenagan kerja lebih, sehingga pengangguran pun berkurang, pendapatan perkapita naik, dan juga daya beli masyarakat meningkat. Ini yang dikatakan bahwa kelonggaran kredit LTV kendaraan bermotor dan properti akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan rasio pelonggaran kredit melalui LTV properti dan kendaraan bermotor  ini juga akan memeberi sinyal positif bagi masyarakat kalangan menegah kebawah. Masyarakat kalangan menegah kebawah yang kemampuan daya belinya terhadap properti tidak besar, akan merasa sangat terbantu oleh menurunnya kredit agunan yang harus dibayarkan di pembayaran awal kredit. Namun, yang di khawatirkan adalah kredit kedepannya. Yang dimana ketika pembayaran kredit awal yang terlalu rendah, akan menimbulkan biaya yang besar dikemudian hari. Apalagi ketika melihat suku bunga acuan BI yang meningkat. Maka ini akan membuat para kreditur tidak bisa membayarnya.
Namun, kondisi sistem keuangan yang masih terombang ambing seperti saat ini, pihak bank juga harus berhati – hati dalam pemberian kredit. Karena bisa saja terjadi kredit macet karena kreditur tidak mampu membayar tagihan yang naik yang di aibatkan juga oleh naikknya suku bunga acuan atau BI rate.
Menindak lanjuti dari pelonggaran kebijakan pemerintah mengenai makroprudensial dan penurunan GWM (Giro Wajib Minimum), pada tanggal 14 Januari 2016 pemerintah memperkuat kebijakan ini dengan penurunan yang terukur mengenai suku bunga acuan BI rate menjadi 7,25%. Dari penurunan suku bunga acuan ini diharapkan akan memacu perekonomian sektor riil ditengah – tengah stabilitas pasar keuangan global yang makin membaik dari tahun sebelumnya dimana nilai tukar rupiah pada 14 januari 2016 menguat menjadi 13.904 per US dollar. Lebih meguat meskipun tidak sugnifikan daripada tahun 2015 yang dimana rupiah cenderung terus melemah.
Ketidakpastian pasar keuangan yang sedang terjadi di AS mulai mereda sejak di naikkannya FFR, yang mana memberikan efek membaik pada perekonomian global. Termasuk pada perekonomian Indonesia transaksi modal dan financial mengalami surplus dan didukung oleh portofolio pada obligasi pemerintah.
Menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan itu perlu. Megapa? Sistem keuangan termasuk hal penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, apalagi ketika pasar keuangan tidak stabil seperti pada saat ini. Suku bunga acuan The Fed yang tidak stabil juga akan berdampak pada perekonomian. Seperti juga akan berdampak pada suku bunga acuan BI rate, inflasi, dan termasuk berpengaruh juga terhadap nilai tukar.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2015 belum menunjukkan perbaikan, meskipun telah dilakukan beberapa kebijakan fiskal dan relaksasi kebijakan makroprudensial. Pertumbuhan ekspor masih cenderung relative menurun karena daya beli yang lemah dan terus menurunnya harga komoditas. (Kompas Online, 14 Januari 2016).

Selain sistem keuangan yang tidak stabil, pemicu terpuruknya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lain juga karena melemahnya ekspor. Ekspor negara Indonesia kian hari kian melemah, banyak hal yang membuat ekspor kita memelmah seperti halnya: (1) Tidak mampu  memanfaatkan peluang di tengah – tengah nilai tukar rupiah yang melemah dimana nilai tukar rupiah yang melemah akan membuat barang kita bernilai tinggi di negara ekspor yang dituju. Seharusnya ekpor harus lebih tinggi dari biasanya. Namun apa? Negara ini tidak bisa mengambil peluang yang ada didepan mata. (2) Negara kita cenderung untuk lebih mengimpor barang daripada mengekspor. Seharusnya pelonggaran kredit yang dikeluarkan pemerintah melalui kebijakan makroprudensial dimanfaatkan para UMKM (Unit Mikro Kecil dan Menengah) untuk meningkatkan kualitas serta ekspor barang produksi dari UMKM tersebut. (3) Kurangnya daya tarik produk yang dibuat sehingga tidak mampu menggugah daya beli masyarakat negara yang diekspor. Berbanding dengan negeri sendiri, yang mana lebih menyukai dan lebih tergugah daya belinya pada barang impor. Banyak masyarakat kita yang tidak melirik barang produksi negeri sendiri, karena mainset mereka yang mana menilai lebih bagus barang kualitas impor daripada buatan negeri sendiri. Jika masyarakat negeri sendiri saja tidak percaya akan kualitas barangnya sendiri, bagaimana negara yang diekspor barang kita akan membeli barang yang diekspor kita.

Indonesia merupakan negara yang ‘aneh’ menurut saya, contoh kecilnya saja, misal ; Indonesia mengekspor balok kayu dari ke China dengan harga 1000 rupiah perbalok, namun China mengolahnya dan menjual kembali balok kayu tersebut berupa puzzle mainan dengan harga 3000 rupiah. Maka disini, terlihat jelas bahwa kurangnya ilmu dalam berwirausaha, kurangnya keterampilan dalam mengolah sumber daya akan mudah ditipu dengan negara asing.

Cadangan devisa pada akhir Desember kemarin sebesar 105,9 miliar dollar Amerika Serikat, atau setara dengan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang LN pemerintah (Kompas Online, 14 Januari 2016).
Nilai tukar rupiah yang fluktuatif dan cenderung melemah membuat perekonomian semakin terpuruk, dimana utang luar negeri yang bertambah karena naiknya suku bunga acuan The Fed dan juga terus meningkatnya impor Indonesia. Kebijakan pelonggaran kredit dan ditambah dengan di dukungnya BI rate yang turun diharapkan mampu memacu perekonomian menjadi lebih baik dengan meningkatkan pembelian secara kredit, sehingga bunga dari pembelian kredit tersebut akan menyumbang devisa negara dan dapat digunakan untuk membayar utang luar negeri negara ini.

Perlonggaran ini di manfaatkan oleh kebijakan moneter dengan harus tetap menjaga inflasi,nilai tukar, mengelola cadangan devisa, dan memperbaiki arus modal asing ke dalam negeri. Bank Indonesia (2015) dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan mengeluarkan paket kebijakan seperti berikut :
§  Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan memperkuat adanya intervensi dipasar forward. Dengan menjaga stabilitas dan keseimbangan dipasar forward diharapkan mampu mengurangi tekanan yang ada dipasar spot.
§  Memperkuat likuiditas rupiah dengan menerbitkan instrument OPT (Operasi Pasar Terbuka) untuk menekan penggunaan likuiditas mata uang rupiah yang berlebihan pada sebuah kegiatan yang justru akan membuat risiko yang berlebihan terhadap rupiah.
§  Memperkuat akses demand dan supply valas atau valuta asing dengan beberapa kebijakan yaitu:
-          Penguatan akses supply dan demand dipasar forward dengan tujuan mendorong terjadinya transaksi jual rupiah atau valas.
-          Menerbitkan SBBI (Surat Berharga Bank Indonesia).
-          Menurunkan holding SBI yang awalnya 1 bulan dipersingkat jadi 1 minggu untuk menarik adanya arus modal asing yang masuk.
-          Mengkoversikan pajak bunga deposit eksportir ke dalam rupiah.
-          Memperkuat laporan LLD (Lalu Lintas Devisa).

Di bidang kebijakan makroprudensial, kebijakan ini lebih banyak diterapkan di bank sentral yang menganut sistem nilai tukar mengambang. Dimana dalam sistem nilai tukar mengambang, akan membatasi efektivitas kebijakan moneter dalam mengendalikan  pertumbuhan kredit. Tipe shock yang sering terjadi disini juga mempengaruhi pemilihan instrumen. Capital inflow merupakan salah satu tipe shock yang memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas sektor keuangan di negara berkembang. Kebijakan makroprudensial ini umumnya diarahkan untuk mengendalikan  pertumbuhan kredit yang over yang dimana di sebabkan oleh tingginya capital inflow. Kebijakan makroprudensial di sini digunakan untuk menstabilisasi ketika kredit sedang boom, dimana ketika kredit sedang boom resiko sistemik yang terjadi akan semakin besar. Sehingga, untuk meminimalisir resiko tersebut makroprudensial menjaga stabilitas sistem keuangan dan stabilitas suku bunga acuan BI.

Sebenarnya, tujuan utama dari adanya kebijakan makroprudensial ini adalah mendorong perekonomian menjadi lebih baik. Dimana, diharapkan dari adanya pelonggaran kredit dan suku bunga acuan atau BI rate yang diturunkan, maka pemerintah berharap sektor riil kembali tergugah. Ketika sektor riil  tergugah untuk berkredit maka daya beli akan meningkat dan juga akan menambah pendapatan pemerintah dari pajak yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kredit asset LTV (properti dan kendaraan bermotor). Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seharusnya kebijakan ini di respon positif oleh pasar dan peka terhadap dorongan ekonomi pemerintah melalui kebijakan makroprudensial.
Oleh : Nur Bidayah, Ekonomi Moneter 2013 Universitas Jember


Say Hello Ramadhan, Welcome Inflasi


Bulan Ramadhan akan berlangsung pada bulan Juni mendatang. Seperti biasa, inflasi merupakan momok tahunan yang akan terus menghantui masyarakat seiring datangnya bulan puasa dan lebaran. Keadaan ini sama seperti tahun - tahun sebelumnya, setiap menjelang ramadhan bahan pokok akan mengalami kenaikan harga, terutama pada beras, daging sapi, daging ayam, minyak, bawang putih dan cabai.
Pada hari Jumat (6/5) harga beras medium mencapai harga Rp. 10.620 per kg. Jika dibandingkan bulan lalu, harga beras medium mengalami penurunan, sebelumnya pada bulan april harga beras medium sebesar Rp 10.790 per kg. Penurunan ini relatif kecil, sehingga dampaknya tidak begitu di rasakan oleh masyarakat. Selain itu penurunan terjadi pada harga bahan pokok lain yaitu harga daging sapi pada bulan Mei sebesar Rp. 104.341,- per kg lebih rendah di bandingkan bulan april yakni sebesar Rp. 110.000 per kg. Meskipun mengalami penurunan namun penurunan ini tidak sampai pada harga ideal daging sapi, harga ideal daging sapi adalah sebesar Rp. 99.000,-. Harga cabai pada bulan Mei sebesar Rp.28.650,- lebih rendah dari April lalu sebesar Rp.29.800,-. *Harga – harga bahan pokok yang dicantumkan adalah wilayah Surabaya. Perubahan harga bisa berbeda di setiap wilayah. Penurunan beberapa harga bahan pokok disebabkan oleh adanya deflasi yang terjadi bulan februari 2016 dan berlanjut sampai saat ini.
Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Senin (2/5) Suryamin mengumumkan di bulan april deflasi mencapai 0,45%, ini merupakan deflasi terbesar sepanjang tahun 2000. Tiga penyebab adanya deflasi yang cukup besar, yang Pertama, beberapa bahan pangan mengalami penurunan harga seperti beras, daging,telur, dan bumbu – bumbu masak. Kedua, adanya penurunan Tarif Dasar Listrik (TDL). Ketiga, seiring dengan harga BBM yang turun kelompok transportasi juga mengalami deflasi sebesar 1,6 persen.
Bank Indonesia mencatat, pada April 2016 inflasi sebesar 3,60 persen lebih rendah dari bulan Maret sebesar 4,45 persen. Dan setelah adanya deflasi pada kuartal pertama tahun 2016, pada kuartal kedua di perkirakan inflasi akan mengalami kenaikan. Hal ini di karenakan seiring datangnya bulan ramadhan, permintaan bahan pokok diperkirakan mengalami kenaikan sehingga harga bahan pokok juga akan mengalami kenaikan. Pada bulan ramadhan, daya beli masyarakat akan meningkat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang meningkat dua kali lipat dari biasanya. Sesuai dengan teori bahwa jumlah uang beredar yang meningkat akan menyebabkan inflasi yang meningkat pula. Sehingga dengan berdasarkan teori ini pada bulan juni mendatang diperkirakan inflasi akan mengalami peningkatan, terutama pada bahan – bahan pokok.
Sisi Lain
Ketika deflasi terjadi, hal ini dilatar belakangi oleh usaha pemerintah di bulan – bulan sebelumnya dalam memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat. Namun, disisi lain faktor lain yang mempengaruhi deflasi adalah pada saat yang bersamaan terjadi penurunan permintaan yang disebabkan turunnya daya beli masyarakat. Saat daya beli masyarakat turun, jumlah uang yang beredar ikut turun. Dampaknya akan banyak perusahaan yang akan mengurangi faktor produksinya dan efek selanjutnya ialah banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan perusahaan. Sehingga kebutuhan permintaan juga akan menurun.
Jika dilihat dari sisi penawaran, pemerintah menjaga kestabilan harga komoditas dengan jalan menambah impor. Hal ini memang solusi yang baik, bila hanya dalam waktu jangka pendek. Namun dalam jangka panjang adanya impor yang berlebihan akan membunuh barang domestik. Saat ini saja, banyak sekali barang impor yang menghuni pasar dalam negeri termasuk buah – buahan. Buah dalam negeri jarang diminati oleh pasar domestik dan buah impor lebih di minati oleh pasar domestik. Jika keadaan ini terus berlangsung bisa saja pasar impor akan menggeser pasar dalam negeri. Dan pada saat pasar dalam negeri terancam keberadaannya, maka akan terjadi banyak pengangguran. Itu jelas terjadi, seperti yang telah diketahui bahwa banyak orang yang menggantungkan kehidupan mereka di pasar domestic. 
Solusinya?
1.    Sejak sekarang, pemerintah sebisa mungkin untuk menyiapkan stok bahan – bahan pangan yang diperkirakan akan mengalami kenaikan permintaan pada bulan ramadhan. Sehingga pada bulan ramadhan mendatang, inflasi akan stabil dan tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
2.    Mengurangi impor ; maka barang dalam negeri akan ‘hits’ kembali. Setelah sekian lama barang impor membanjiri Indonesia barang dalam negeri kehilangan kepopulerannya.
3.    Perbaikan infrastruktur dipercepat mungkin, sehingga di inflasi yang dikarenakan faktor distribusi akan menurun.

Penulis : Nur Bidayah, Ekonomi Moneter 2013 Universitas Jember


Indonesia : Inflasi dan Pengangguran

Setelah mengalami guncangan perekonomian di tahun 2015, inflasi saat memasuki tahun 2016 sampai saat ini di nilai cukup membaik dan stabil. Pemerintah mencanangkan inflasi di tahun ini tetap stabil dengan kisaran dari 3-5%. Target inflasi tahun 2016 inflasi year of year di proyeksikan mencapai 4,7%. Bank Indonesia telah melakukan survei terhadap harga bahan pangan pada februari lalu yang ternyata mengalami deflasi sebesar 0,13%. Hasil survei ini cenderung menurun di banding dengan hasil survei pada awal minggu pertama bulan februari terjadi deflasi sebesar 0,15% dan pada minggu ketiga februari sebesar 0,14%. Inflasi yang terjadi pada bulan – bulan berikutnya akan dipengaruhi oleh ada atau tidaknya stok bahan makanan yang ada di Indonesia. Ketika stok bahan makanan tetap terbilang stabil maka inflasi juga akan bergerak kea rah stabil, namun sebalikya jika stok bahan makanan terpenuhi inflasi akan di proyeksikan tetap dalam kedaan rendah. Selain itu inflasi juga si pengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia yang turun, dimana inflasi juga bisa di kendalikan jika kebijakan pemerintah mengenai bahan bakar minyak ini harganya juga bisa di turunkan. Sehingga inflasi juga akan mengikuti turunnya harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia terus jatuh maka pemerintah harus mengeluarkan kebijakan tarif transportasi pasca kenaikan harga minyak dunia. Ketika tarif transportasi yang di tetapkan rendah maka akan mempengaruhi inflasi di beberapa daerah. Tentunya di daerah – daerah kepulauan yang distribusi bahan pangannya yang susah. Pemerataan harga di daerah kepulauan tersebut jauh ditas rata – rata harga di kota – kota besar di Indonesia lainnya. Ketika tarif transportasi rendah, maka inflasi di daerah tujuan distribusi barang tersebut juga rendah sebab biaya transportasi atas distribusi barang juga akan turun.
Stabilitas harga bahan pangan tentu berperan penting bagi inflasi. Dimana ketika harga bahan pangan dapat di kendalikan maka inflasi akan cenderung terkontrol dan daya beli masyarakat maupun konsumsi dari rumah tangga akan tumbuh lebih baik lagi. Dan dengan konsumsi dari masyarakat maupun rumah tangga pemerintah dapat menambah anggaran belanja negara untuk memeperbaiki pertumbuhan ekonominya. Sebab,ketika daya beli meningkat maka retribusi pajak dari barang akan bertambah, pemerintah tentu juga akan mendapat pendapatan yang besar sehingga bisa mengembalikan perekonomian yang di proyeksikan pada tahun ini bisa lebih dari 5%. Maka dari itu, penstabilan harga bahan pangan tentu merupakan suatu priorotas yang akan mendukung terjadinya perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Kedepannya, penstabilan harga pangan diharapkan tidak merugikan petani – petani yang ada. Dimana tugas utama dari kementrian pertanian  ke depan adalah lebih memfokuskan dalam peningkatan ksejahteraan petani dengan memperhatikan distribusi bahan – bahan maupun obat – obat untuk membentuk hasil panen menjadi lebih baik. Seperti dengan menjamin adanya distribusi pupuk yang berkualitas dengan harga yang murah serta benih, pestisida, teknologi, serta saluran irigasi yang lebih baik dari sebelumnya.
Langkah untuk mengendalikan inflasi dari sektor bahan pangan adalah dengan perbaikan infrastruktur jalur transportasi distribusi bahan pangan yang perlu di buat seefektif dan seefisien mungkin. Sehingga, distribusi bahan pangan bisa memenuhi permintaan konsumen sehingga tidak terjadi inflasi sebab ketika permintaan akan bahan pangan itu meningkat maka kenaikan harga juga akan berpotensi lebih tinggi. Seperti yang dijelaskan oleh teori permintaan dimana ketika permintaan akan barang yang diminta naik dan penawaran tetap maka harga barang tersebut akan naik. Pembasmian kepada pihak atau oknum – oknum tertentu yang sengaja menimbun bahan pangan untuk di jualnya lagi dengan harga yang lebih mahal ketika barang yang diminta banyak juga harus di tumpas. Karena oknum ini juga berperan terhadap kenaikan barang – barang yang mana akan memicu kenaikan inflasi. Ketika barang – barang yang di timbun oleh praktik – praktik kartel ini maka harga yang akan mereka jual pada saat bahan pangan ini mengalami keterlambatan dalam pendistribusian barang maka harga akan cenderung terus meningkat dan inflasi juga akan terus meningkat.
Ketika harga komoditas dunia yang menurun, di Indonesia yang terjadi justru sebaliknya. Harga komoditas Indonesia tidak terkontrol, peningkatan harga dari bahan pangan di Indonesia justru bergejolak dan cederung ke arah yang tinggi meskipun saat ini inflasi negeri ini cukup rendah (3,35%). Kenaikan harga bahan pangan ini yang pertama tentu beras,dimana sejak beberapa tahun terakhir stok panen beras di Indonesia tidak mencukupi kebutuhan konsumtif negaranya sendiri sehingga di perlukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan akan beras. Harga beras medium saja sejak maret 2016 tercatan mengalami kenaikan sebesar 13,2% dan ini berarti harga beras medium ini saja sudah mencapai 4 kalinya dari inflasi di Indonesia. Ketika pada tahun 2014, inflasi yang terjadi tinggi yaitu sebesar 8,36%(yoy) dan ketika inflasi yang tercatat cukup tinggi namun impor akan bahan pangan terutama beras tidak setinggi saat ini.
Pergerakan harga bahan pangan di landasi oleh beberapa faktor yang memicu terjadinya perubahan harga dari bahan pangan itu sendiri,beberapa faktor utama yang melandasi peubahan hharga tersebut adalah : (1) Stok konsumsi bahan pangan ; stok yang ada akan mempengaruhi harga pada bulan selanjutnya akan mengalami kenaikan atau tidak. Karena keterbatasan bahan pangan ini akan tentu berdampak pada harga yang tentunya akan cenderung naik sebab bahan pangan yang tersedia terbatas. (2) Harga minyak bumi ; Seperti yang telah di jelaskan di atas bahwa biaya transportasi untuk mengirim barang produksi tentu akan mempengaruhi harga yang akan di jual dari barang tersebut karena ongkos biaya transportasi termasuk ke dalam biaya produksi. (3) Nilai tukar mata uang ; inflasi tentu ditandai dengan adanya kenaikan harga barang umum secara terus menerus, tinggi dan rendahnya infasi di dalam suatu negara tentu juga akan mempengaruhi nilai tukar di negara tersebut. Dalam hal ini, nilai tukar suatu negara yang lemah, maka harus mengeluarkan uang yang lebih banyak dalam bertransaksi di perdagangan internasional atu impor. Nilai tukar ini akan mempengaruhi pada biaya yang harus di bayarkan oleh negara importer yang tentu akan besar sebab nilai mata uang importer yang rendah, serta pada biaya masuk atau bea cukai dan pajak.


Investasi Portofolio Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Nur Bidayah, Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Konsentrasi Moneter Angkatan 2013
Investasi Portofolio
Investasi portofolio merupakan jenis investasi yang bisa berupa arus modal nasional maupun arus modal internasional dalam bentuk aset keuangan seperti obligasi maupun saham. Ketika memutuskan untuk berinvestasi hal – hal yang prlu diketahui sebelumnya adalah modal,return dan risiko. Berinvestasi dalam aset keuangan bisa dengan portofolio, portofolio ini menentukan return atau imbal hasil yang di peroleh oleh investor. Portofolio bisa di sebut juga kumpulan aset – aset keuangan seperti saham, obligasi maupun emas. Yang paling umum adalah portofolio saham dimana dalam portofolio saham kumpulan aset – aset keuangan beupa saham dari perorangan maupun saham dari perusahaan – perusahaan tertentu yang di perjual belikan di pasar saham.
Dalam hal memutuskan untuk berinvestasi yang pertama harus di miliki tentu modal, modal yang dimiliki menentukan fee yang akan di peroleh. Investor harus cerdik dalam mengelola keuangannya dan cerdik dalam hal menginvestasikan uangnya kemana ke saham kah atau ke oligasi kah? Dan modal, tujuan investor untuk berinvestasi juga menentukan kemana uang itu di investasikan misalnya untuk jaminan dana pensiun maka investasi yang tepat adalah di investasikan ke tabungan saham. Tabungan saham disini bisa juga diartikan seperti reksadana. Risiko juga perlu juga di perhatikan, apalagi ketika berinvestasi di saham, pasar saham yang bergejolak juga akan mempengaruhi besaran risiko yang ditanggung oleh investor.
Untuk memulai portofolio investasi, ada beberapa hal yang harus di perhatikan oleh pemula  ketika kita akan menginvestasikan dana kita : (1) Perlu menyusun rencana keuangan untuk masa depan misal untuk pendidikan masa depan anak, pensiun, maupun untuk membeli kebutuhan di masa mendatang seperti membeli mobil, motor, maupun rumah. Sehingga kita bisa menargetkan berapa return dan risiko yang seberapa untuk mencapai target rencana keuangan yang telah di tentukan. (2) Mengetahui risiko terbesar ke depan yang akan di tanggung, sehingga bisa menyesuaikan dana yang dimiliki untuk di investasikan kemana missal di investasi yang agresif seperti pada reksadana, emas maupun saham. (3) Mengalokasikan dana cadangan investasi, apalagi saat perekonomian seperti saat ini, gejolak nilai tukar dan suku bunga yang fluktuatif. Sehngga banyak investor yang menarik dananya karena ketidakpastian sistem keuangan yang terjadi yang mana akan menyebabkan risiko yang tinggi pada investor sehingga para investor banyak yang menarik dananya. (4) Perencanaan keuangan investasi sejak dini, artinya kita harus merencanakan investasi dan mulai untuk berinvestasi minimal 22 tahun  saat sudah memiliki pendapatan sendiri. Setiap bulannya kita bisa menyisihkan 10% hingga 20%  penghasilan yang di terima untuk investasi. Untuk merencanakan masa depan yang lebih baik investasi memang perlu dilakukan sejak sekarang, maka masa tua akan lebih terjamin sebab investasi ini akan membuat uang yang kita miliki lebih banyak dari sebelum berinvestasi.lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan uang yang kita pegang dan tidak digunakan. Ketika uang yang banyak itu kita pegang semua, maka lama – kelamaan nilai uang itu kan turun dan akan merugi tentunya. Namun jika uangnya di investasikan maka akan menguntungkan. Misalnya saja jika kita berinvestasi pada umur 22 tahun dan akan digunakan untuk dana pensiun dan bunga yang ditetapkan adalah sebesar 5% misalnya maka uang yang kita miliki akan bertambah 5% setiap tahunnya. Beda lagi jika kita memegang uang kita artinya uang tersebut tidak digunakan untuk apapun melainkan hanya di simpan saja, maka uang itu tidak akan berubah dan nilai mata uangnya juga akan menurun.
Risiko merupakan komitmen yaitu komitmen anda sebagai investor untuk meminimalisir risiko yang terjadi. Yang perlu di garis bawahi asalah meminimalisir bukan menghindari risiko artinya bukan hanya bermain aman tapi membatasi risiko pada investasi yanganda lakukan. Karakter para investor ada 3 yaitu : (1) Investor konservatif ; Tipe investor ini cenderung mencari aman, takut dengan risiko yang tinggi. Rata – rata investor tipe ini cenderung berinvestasi di pasar saham dan biasanya tujuan dari investor tipe ini adalah untuk dana pensiun agar hidup sejahtera dimasa yang akan datang. (2) Investor Moderat ; Tipe investor ini cenderung memilih risiko yang besar namun dengan pengembalian atau imbal hasil atau return yang besar pula. Tipe ini cenderung berani dalam mengambil risiko yang tinggi. (3) Investor Agresif ; Investor tipe ini cenderung berada pada investasi saham dan biasa berspekulasi dengan jual beli di pasar saham.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi investasi, berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi investasi : (a) Suku Bunga ; Modal investasi biasanya di peroleh dari bank, sehingga suku bunga bank akan mempengaruhi investasi. Ketika suku bunga bank turun, maka para investor akan cenderung untuk meminjam dana ke bank. Sehingga investor akan menginvestasikan dananya lebih banyak, namun jika suku bunga bank yang ditetapkan tinggi maka para investor akan merugi. Karena timbale balik yang dihasilkan dari investasi tidak mencukupi untuk membayar bunga pada dana yang di pinjamkan ke bank. Sehingga kenaikan dan penurunan suku bunga akan mempengaruhi minat para investor untuk berinvestasi. (b) PDRB daerah dan pendapatan perkapita di suatu daerah maupun negara ; Pertumbuhan negara yang tinggi tentu di tentukan oleh PDRB dan pendapatan perkapitanya yang tinggi. Jika pendapatan perkapita yang dimiliki rendah, investor cenderung tidak percaya untuk menanmkan modalnya. Mengapa? Ketika pendapatan perkapita rendah tentu akan berdampak pada daya beli masyarakatnya yang juga rendah. Sehingga minat investor untuk berinvestasi di daerah tersebut juga rendah. Ketika daya beli daerah tersebut tinggi maka di cerminkan juga oleh pendapatan perkapitanya yang tinggi sehingga meningkatkan minat para investor untuk menanamkan modalnya di daerah maupun negara tersebut. (c) Infrastruktur ; Infrastruktur berupa jalan, bandara, terminal maupun pelabuhan akan mempengaruhi distribusi komoditas untuk bisa dijangkau oleh masyarakat luas dengan mudah. Hal ini mempengaruhi minat investor untuk berinvestasi. Karena jika sarana dan prasarana infrastruktur di negara maupun daerah tersebut baik tentu akan mempengaruhi pada distribusi barang yang mudah sehingga timbal balik yang diterima investor akan baik juga. (d) Kualitas SDM ; Sumber daya di suatu daerah tentu akan mempengaruhi minat para investor menanamkan modalnya. Dimana pada era modern seperti saat ini banyak sekali industri yang teknologinya kian hari kian bagus sehingga perlu keterampilan khusus untuk bisa menjalankan teknologi yang telah tersedia di dalam industry tersebut. (e) Peraturan ketenagakerjaan ; peraturan ketnagakerjaan disini menyangkut upah yang diberikan terhadap tenaga kerja yang dipakai dalam suatu industri atau perusahaan tersebut. (f) Perizinan ; Proses perizinan yang sulit justru akan membuat waktu banyak terbuang dan maraknya kasus suap pada oknum – oknum tertentu yang bisa memperpendek perizinan asalkan ada uang suap yang di berikan.
Negara berkembang seperti Indonesia biasanya mengalami hambatan dalam membangun perekonomiannya salah satunya yaitu kekurangan dalam hal modal. Kendala modal ini di sebabkan oleh rendahnya tingkat tabungan maupun investasi di sektor produksi. Karena kendala kekurangan modal ini pertumbuhan ekonomi terhambat. Banyak sekali perbaikan infratruktur yang harus di lakukan di Indonesia, namun kekurangan modal ini menjadi salah satu penghambat dalam pembangunan. Rendahnya investasi di Indonesia menyebabkan pengangguran meningkat. Sebab tingkat produktivitas rendah sehingga permintaan akan produksi yang rendah akan menimbulkan banyaknya pengangguran yang terjadi. Jika Indonesia mengoptimalkan diri untuk lebih giat menarik minat investor untuk berinvestasi maka akan memberi dampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Dimana ketika investasi yang ditanamkan di Indonesia meningkat akan memberi peluang kesempatan kerja bagi masyarakat. Sehingga pengangguran terserap dan secara tidak langsung akan berdampak pada menurunnya tingkat pengangguran yang terjadi. Selain itu penerimaan pemerintah melalui sektor pajak juga akan bertambah.
Indonesia merupakan negara berkembang yang tentu akan terus meningkatkan pembangunannya untuk memperbaiki perekonomiannya. Investasi merupakan peran penting dalam pertumbuhan maupun pembangunan ekonomi suatu negara. Penanaman modal yang banyak atau dalam arti peningkatan investasi dalam suatu negara berdampak pada modal negara tersebut yang akan bertambah dan bisa di gunakan untuk memperbaiki infrastruktur misalnya. Sehingga peranan investasi merupakan hal yang penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di dalam suatu negara. Ketika investasi dalam suatu negara tersebut meningkat ini menandakan bahwa pertumbuhan industri – industri di dalam negara itu meningkat. Dan akan berdampak pada pembangunan ekonomi yang juga kan meningkat. Ini di sebabkan karena penanaman modal bertambah tentu pembangunan suatu negara tersebut akan berjalan dengan baik. Industri – industri yang semakin banyak tentu akan maningkatkan kesempatan kerja. Sehingga banyak pengangguran yang terserap, ini artinya beban pembangunan yang ditanggung negara akan semakin berkurang. Pendapatan masyarakatnya pun akan meningkat serta pendapatan pemerintah juga akan meningkat. Efek dari ini adalah pemerintah bisa menambah belanja negara untuk memperbaiki perekonomian.
Indonesia menerbitkan surat berharga berupa obligasi maupun saham dan ini digunakan oleh pemerintah untuk menambah pendapatan negara maupun untuk menutupi APBN yang mengalami defisit.  Peran obligasi disini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan yang mana membutuhkan modal yang banyak. Sehingga dengan adanya obligasi ini memberikan penambahan modal bagi negara Indonesia untuk menggiatkan pembangunan. Selain itu, pendapatan pemerintah juga bisa melalui sektor pajak, ketika banyak investor yang menanamkan modalnya di Indonesia makan pertumbuhan industri juga akan meningkat dan ketika industry meningkat maka pendapatan pemerintah di sektor pajak juga akan meningkat. Banyak manfaat yang di dapat dengan adanya portofolio investment di suatu negara, peranan investasi dalam suatu negara tersebut ada beberapa hal yaitu : (1) Modal yang di dapat dari investasi portofolio dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Karena pertumbuhan ekonomi di dalam suatu negara berkembang seperti Indonesia banyak yang terhambat karena adanya keterbatasan modal. Dengan adanya penambahan modal dari investasi asing maka pertumbuhan ekonomi bisa di percepat sebab modal yang ada mendukung untuk menambah belanja pemerintah dalam rangka perbaikan perekonomian. (2) Selain itu, modal asing juga bisa digunakan untuk perbaikan infrastruktur Indonesia yaitu dengan modal yang mencukupi pemerintah juga bisa menggunakannya untuk memperbaiki infrastruktur jalan menuju kawasan – kawasan kepulauan. Hal ini bisa mengatasi kesenjangan harga yang terjadi di suatu daerah kepulauan seperti papua misalnya. Kesenjangan harga di papua sangat besar, dikarenakan infrastruktur jalan menuju ke papua sangat sulit. Mahalnya biaya transportasi juga akan mempengaruhi inflasi daerah, menyebabkan harga jual di daerah tersebut juga akan mahal. (3) Modal yang didapat dari adanya investasi asing ini juga bisa digunakan untuk mengurangi pengangguran yang terjadi di Indonesia. Seperti halnya bertambahnya investasi sama dengan bertambahnya industri. Bertambahnya industri akan membuka kesempatan kerja baru maka pengangguran terserap dan akan mengurangi tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia. (4) meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ketika masyarakat yang dulunya menganggur dan sekarang mendapatkan pekerjaan yang di sebabkan oleh meningkatnya industri maka kesejahteraan masyarakat pun akan semakin membaik. Hal ini di karenakan masyarakat mempu memenuhi kebutuhannya, sebab mereka mempunyai pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya. (5) Pendapatan pemerintah juga akan meningkat karena penerimaan melaui pajak juga meningkat, hal ini karena penanam modal asing di Indonesia yang tentunya juga dikenakan pajak untuk menambah cadangan devisa di indonesia sendiri.
Selain manfaat tentu ada dampak negatif dari banyaknya investasi yang ada di Indonesia terutama investasi asing. Dampaknya yaitu seperti dalam beberapa hal sebagai berikut :
a.       Eksploitasi yang berlebihan oleh investor asing sebab biasanya investor asing akan mencari keuntungan sebesar – besarnya tanpa mengingat dampak buruk dari adanya eksploitasi yang berlebihan. Selain itu, biasanya investor asing akan cenderung menindas tenaga kerjanya dengan upah yang rendah sebab kembali pada motif utamanya yang mencari keuntungan sebesar – besarnya.
b.      Kebijakan – kebijakan maupun  peraturan perusahaan asing biasanya cenderung bertolak belakang dengan kebijakan dan peraturan dalam negeri sehingga nantinya akan terjadi bentrok antara kedua kubu yang berlawanan.
c.       Timbal balik hasil tidak sebanding dengan kerusakan alam yang di timbulkan. Contohnya Freeport yang mana kita hanya mendapatkan sedikit sekali hasil dari adanya pertambangan tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Menurut Sadono Sukirno (2000) kegiatan investasi akan bedampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, kemakmuran serta kesempatan kerja. Peran investasi ini bersumber dari 3 fungsi dari adanya investasi yaitu : (a) Investasi terdapat dalam cakupan pengeluaran agregat sehingga dengan adanya pengeluaran agregat tentu kegiatan investasi yang meningkat akan berdampak pada permintaan agregat yang meningkat, kesempatan kerja yang semakin terbuka sehingga banyak tenaga kerja yang terserap dan akan meningkatkan pendapatan nasional masyarakat. (b) Kapasitas produksi akan bertambah dengana adanya investasi, sebab modal tentu akan bertambah maka dapat meningkatkan output sebuah produksi.
Ketika diulas lagi mengenai materi di ekonomi makro, investasi merupakan suatu komposisi dari produk domestic bruto (PDB). Dalam hal ini pengaruh investasi terhadap suatu pertumubuhan ekonomi di suatu negara di ukur dari pendapatan nasional di suatu negara. Dalam persamaan :
Y = C + I + G + (X-M), Y disini sebagai GDP. Sehingga GDP atau PDB ini berhubungan posiitif dengan investasi. Jika investasi meningkat maka GDP pun akan meningkat. Sebabnya produk domestic bruto akan meningkat jika modal untuk produksi komoditas bertambah. Maka output yang dihasilkan pun juga akan bertambah. Dan juga sebaiknya jika GDP menurun maka investasi juga akan mengalami penurunan. Selain itu, investasi juga di pengaruhi oleh return dimana tingkat pengembalian modal investor harus lebih besar dari tingkat bunga yang ditetapkan. Ini berkorelasi positif dengan tingkat suku bunga yang dimana ketika tingkat suku bunga terlalu tinggi maka investasi tidak menguntungkan. Karena tidak menguntungkan maka akan mengurangi minat investor, sehingga para investor akn beralih ke deposito agar mendapatkan keuntungan dari modal yang dimiliki.
Mengapa Indonesia membutuhkan banyak investor saat ini, beriku kemungkinan beberapa sebab mengapa investasi sangat di perlukan oleh Indonesia :
a.       Penyerapan tenaga kerja ; Banyaknya pengangguran tentu akan berdampak pada perilaku menyimpang sesorang. Ketika pengangguran semakin banyak, dan jumlah penduduk yang terus meningkat maka adanya kepala keluarga dalam suatu keluarga tersebut akan dibebani oleh banyaknya anggota keluarga yang lain yang tidak bekerja seperti istri, kedua anak, dan mentuanya. Pendapatan yang dihasilkan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Ketika seseorang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dan berfikiran negatif, bingung harus seperti apa. Dari situ timbul perilaku menyimpang yang mana kan berbuat kejahatan atau kriminalitas untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar dengan mencuri, merampok, dan kejahatan – kejahatan yang lain. Selain itu pengangguran juga kan meningkatkan kemiskinan yang terjadi. Sehingga dengan adanya tingkat investasi yang tinggi diharapkan mampu menyerap pengangguran yang ada
b.      Meningkatkan pembangunan di beberapa daerah; Peran investasi disini adalah sebagai sumber dana untuk menbangun infrastruktur yang belum memadai. Seperti halnya pemerataan distribusi barang serta kesenjangan harga yang terjadi di sebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai. Biaya transportasi yang mahal tentu akan memicu timbulnya inflasi daerah yang tinggi.
c.       Meningkatkan kemampuan teknologi ; Sebab seperti yang kita tahu bahwa Indonesia sangat – sangat terlinggal akan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sehingga adanya investor asing juga di butuhkan dalam rangka alih teknologi.
d.      Untuk mengurangi devisa impor dan untuk menghemat anggaran dimana dalam kedaan ini investasi memegang peranan sebagai penambah anggaran subtitusi barang impor yang dilakukan di Indonesia. Sehingga adanya impor tidak membebani anggaran APBN yang saat ini saja sudah membengkak. Belum lagi jika keadaan ini terus berlanjut segala sesuatunya impor maka tentu akan semakin memperburuk perekonomian serta memperburuk anggaran yang ada.