Blogroll

Mahasiswa Konsentrasi Moneter 2013

Perkuliahan terakhir TA 2015/2016 semester genap Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 bersama Bapak Adhitya Wardono SE., M.Sc., Ph.D

Moment Setelah UAS Semester Genap TA 2015/2016

Moment setelah Ujian Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 Selasa 14 Juni 2016

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label M Rizqi Iskhaqi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M Rizqi Iskhaqi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2016



Permainan perekonomian demi menguasai berbagai lini memang sangat banyak dilakukan, kondisi demgrafis tidak lagi menjadi sebuah hambatan bagimana penguasaan itu berhenti. Penawaran uang di lelang saham minyak badan usaha milik negara arab saudi mulai genjar dilakukan. Dalam taktisnya mereka sedikit demi sedikit mengalihkan sumberdaya yang ada ke berbagai sumberdaya yang masih hal yang sulit dan tidak ada di dala penguasaannnya. Pengalihan makna disini  tersirat bahwa perekonomian mulai berfikir jangka panjang dengan melihat trend dan perkembangan yang ada.
Dalam pergeakannya secara tidak langsung sebuah langkah yang di ambil akan sangat mempengaruhi suatu keseimbangan akan peredaran uang dalam masyarakat. Penjualan surat berharga akan merespon permintaan akan uang bergulir dalam proses tersebut. Tidak hanya dalam proses transaksi yang terjadi saja, namun biaya yang akan di timbulkan juga akan menciptakan sebuah alasan kenapa suatu saat akan terjadi gejolak aka jumlah uang yang beredar. Sebenarnya dalam pergerakan keuangan ini di dasari atas penawaran akan sebuah kebutuhan.
Kebijakan yang dilakukan suatu negara seperti yang dilakukan arab saudi dengan meminta menambah jumlah uang beredar dengan secara implisit. Pasalnya seperti yang tengah disampaikan dalam sebelumnya keseluruhan akan penguasaaan perekonomian juga akan menimbulkan permintaan akan barang lain yang juga dapat menimbukan penawwaran akan uang juga meningkat. Belum lagi jika ini di ikuti dengan arus biaya yang terjdi dalam keberlangsungan perekonomian juga tentunya menciptakan ruang dimana pihak ketiga menjadi ladang berkembangnya akan penawaran uang.
Penawaran uang kini dapat menjadi sebuah gambaran kekuatan maupun kelemahan suatu perekonomian suatu wilayah. Dalam kasus penawaran uang untuk pengalihan kekayaann mutlak ke arah kekayaan yang minoritas dapat di tafsirkan ke dalam penawaran yang positif. Yang dimaksudkan disini adalah penawaran guna membuka sebuah peluang kepemilikan dengan harapan sebuah kemandirian. Pengeluaran tersebut atau penawaran uang menjadi kunci utama kesejahteraan akan pemenuhan kebutuhan yang merata bagi masyarakat sekitarnya.
Dalam pengeluarannya atau penawarannnya yang dikatakan negatif adalah dimana dalam proses berjalannnya mengakibatkan sebuat ketidak efektifan alokasi dana tersebut. Dalam masa yang tengah dilakukan dalam perekonomian ini sering terjadi jika penawaran akan uang hanya terjadi akibat berkembangnya pihak ketiga sebagai gambaran biaya dalam memegang uang. Biayan akan memegang uang tidak tersebut menciptakan gap yang jelas dari permintaan akan penawaran uang berlebih dengan output yang semu. Disni dapat diartikan bahwa suntingan dana tidak lagi di alokasikan dalam ranah yag produktif.
Perekonomian saat yang di gambarkan oleh penawaran uang berlebih oleh masyarakat kini tidak lagi dapat dikaji menjadi suatu gambaran pertumbuhan perekonimian domistik begitu saja. Dalam lapang mungkin ini akan dapat di kelompokkan dala kondisi yang positif dan negatif dalam segi kemanfaatan aplikatifnya. Namun, dalam jangka panjang ini akan mengguncang kestabilan perekonomian yang terjadi di suatu wilayah tersebut. Penawaran akan uang yang berjalan pada bidang produktif dan semu yang diakibatkan oleh pihak ketiga disini sedikit demi sedikit menggeser keseimbangan perekonomian yang ada dalam wilayah tersebut.
Perlu menjadi sebuah pembelajaran juga bahwa ketika seseorang memegang uang disitu akan ada biaya yang akan masuk dan memengaruhi penawaran uang tanpa di sadari. Biaya akan memegang uang menjadi tanggungan yang harus di keluarkan dengan aspek keamanan serta jaminan akan kepemilikan uangnya. Dari sinilah awal mulanya muncul peran pihak ketiga dimana penghantar akan dua kebutuhan yang berbeda. Suatu kondisi dimana salah seorang membutuhkan akan jaminan dan keamanan dan disisi lain membutuhkan sebuah dorongan modal untuk produktif.
Sampai saat ini dorongan akan penawaran uang menjadi berbaga macam bentuk seperti berbagai ranah yang di gunakan sebagai sarana penghantar. Sebagai contoh yang dilakukan disaat diberlakukan kebijakan dengan menurunkan tingkta bunga oleh otoritas moneter, sebenarnya ini membuka peluang akan peningkatan penawaran uang denga pasif. Jalan di buka dengan sengaja dengan harapan kondisi hasil yang positif. Oleh karenanya dalam menjaga sebuah kestabilan sangatlah sulit karena sering di jumpai kontradiksi antar pelaku ekonomi dalam menjalankan perannya. Penyelarasan atau perimbangan dari salah satu pemegang otoritas kebijakan harus dilakukan. Kordinasi dan komunikasi menjadi salah satu kunci utama menjaga kondisi yang stabil.

Jumat, 10 Juni 2016

Penawaran Uang Tabu Dalam Sinkroniasi Kebijakan

 Penawaran Uang Tabu Dalam Sinkroniasi Kebijakan
Oleh : M rizqi iskhaqi S1 ilmu economi dan study pembangunan Fakultas ekonomi universitas negri jember

Seperti apa yang tengah terjadi dalam perkembangan zaman, Polemik dalam perekonoian kini semakin sulit untuk di prediksi. Pemilihan berbagai macam kebijakan harus di sandingkan dengan suatu kondisi mengendalikan berbagai polemik yang terus berdatangan. Pergerakan yang semakin tidak menentu akan menggiring suatu permasalahan yang tak kunjung selesai akar permasalahannya. Beberapa hal yang tampak nyata terjadi dalam nilai tukar yang bermanufer mengikuti arus yang berjalan. Seperti yang tengah kita ketahui bahwa masalah ini merupakan dampak nyata yang akan tercipta dari hasil aplikasi perilaku masyarakat sebagai pelaku yang merespon pergerakan perekonomian yang terjadi.
Peran nyata harus di lakukan oleh para pemangku kebijakan dalam merespon kondisi ini melalui kebijakan yang di tempuh nantinya. Hrapan yang tinggi harus di imbangi dengan berbagai pertimbangan yang matang dari banyak sektor yang mendukung jalannya roda ekonomi masyarakat luas. Banyak hal tersebut meliputi berbagai bidang seperti stabilitas dalam pasar valuta asing dimana dalam hal tersebut akan mengacu pada permintaan uang yang terjadi. Butuh menjaga nilai tukar tetap dalam range yang sudah di tetapkan untuk dapat menjaga pengeluaran uang dan pasokan uang. Hal-hal ini akan merujuk pada yang di gambarkan dalam cadangan devisa untuk mampu berkontribusi dalam perekonomian secara nasional.
Kebijakan menjadi suatu obat manjur bagi perekonomian meski selalu berubah seiring dengan pergerakan yang berlangsung. Dalam stabilitas perekonomian kebijakan moneter memiliki peran yang cukup penting dalam mengantisipasi dari berbagai ramalan perekonomian yang akan terjadi. Salah satu contoh yang menjadi contoh riil yaitu dalam bidang keuangan melalui sekup  suku bunga, investasi dengan tax holiday, inflasi dan masih banyak lagi yang menjadi varibel olahan dalam mengatur perekonomian agar tetap dalam kondisi yang di harapkan.
Dalam mengambil suatu keputusan kebijakan moneter juga diperlukan berbagai macam dorongan dari sektor lain di luar ruang monetary. Sinkronisasi pada setiap lini pelaku perekonomian harus menjadi suatu tuntutan terciptanya iklim perekonomian yang di harapkan. Seperti yang sudah dirumuskan dimana penyerapan pengeluaran baik berupa faktor riil maupun kebijakan akan mempengaruhi kinerja kebijakan selanjutnya. Tidak samapai disitu namun Arah kebijakan juga akan terpengaruh dengan langkah yang di ambil oleh otoriter lain yang mempengaruhi satu kesatuan perekonomian. Oleh karenanya pembentukan arus perekonomian harus di sesuaikan dan di kondisikan dengan seksama demi suatu langkah mudah untuk mencapai tujuannya.
Kebijakan moneter merupakan salah satu ranah dimana pengaturan arus keuangan dalam suatu negara terjadi. Kestabilan perekonomian dimainkan melalui pengaturan investasi, suku bunga, dan surat berharga baik portofolio maupun lainnya yang sejenis. Pengelolaan atau pengaturan lebih di tekan pada dasar permodalan dan arus keuangan yang dinilai dapat menggerakkan sektor riil. Seperti yang tengah berlanjut hingga saat ini bahwa permainan modal menjadi point yang nyata untuk memulai suatu langkah usaha. Tanpa asupan modal yang kuat maka sektor riil akan tergerus roda perekonomian dimana di dalamnya saling menjatuhkan. Nilai tukar merupakan salah satu tolak ukur respon pasar dunia terhadap kondisi perekonomian suatu negara. Pelemahan nilai tukar adalah penurunan permintaan akan komoditi yang ada dalam suatu negara baik investasi atau barang dan jasa.
Sebagai contoh dimana jika dalam mengembalikan nilai tukar untuk kembali dalam kondisi yang semestinya, maka permainan akan dilakukan dalam sekup penawaran uang untuk menggerakkan sektor riil. Jika output meningkat tinggi hingga volume expor menigkat , maka permintaan uang akan meningkat dan akan diikuti dengan penguatan nilai tukar. Nilai tukar yang normal maka dengan sendirinya akan menyetabilkan harga. Sesutau yang mustahil menjadi mungkin dimana kekuatan penawaran uang menjadi kunci jalannya perekonomian. Namun untuk saat ini dengan perekonomian yang global kondisi ini akan semakin sulit untuk di kendalikan karena supply barang yang semakin banyak dan bersumber dari banyak pihak. Persaingan pelaku yang tidak lagi sama ini akan menjadi suatu masalah baru bagi pemangku kebijakan moneter dalam menstabilkan perekonomian melalui sektor arus keuangan dan barang. Variabel yang digunakan seperti suku bunga menjadi sangat riskan dan butuh pertimbangan yang sangat luas.
seperti yag tengah kita ketahui bahwa suatu koordinasi dan sinkronisasi dalam suatu tujuan yang sama memang sangat di perlukan. Namun yang perlu dapat di ketahui ketika dalam otoritas yang berbeda menempuh jalan yang bertentangan dengan sinkronisasi sebelumnya yang terbentuk maka ranah kestabilan menjadi langkah pengimbangan. Kebijakan akan cenderung mengerucut pada langkah antisipasi dari pada membangun. Ini dilakukan pasalnya dalam perjalanan natinya terjadi gejolak yang menekan perekonoman bila tidak dilakukan perimbangan dari pihak lain.
Seperti yang dilakukan oleh lembaga otoritas bank sentral indonesia dalam mengawal berbagai paket kebijakan perekonomian yang di keluarkan oleh pemerintah kerja presiden jokowi. Dalam kebijakan moneter yang di ambil pengendalian inflasi dan suplai dilakukan untuk menggerakkan sektor riil dengan mengkoordinasi tiap daerah. Ini di harapkan gairah masyarakat tetap dalam konsistensi jalannya perekonomian pada mestinya. Koordinasi tiap daerah di harapkan akan membentuk opini tentang infasi dalam tingkat nasional, pasalnya pengendalian tiap daerah di nilai lebih mudah dari pada  melalui sekup global secara langsung.
Tidak hanya disitu stabilitas nilai mata uang juga menjadi suatu gambaran menjadi sasaran untuk menciptakan suatu kondisi sehat. Upanya pengaturan pada pasar uang dan obligasi menjadi point yang dimainkan. Laju nilai tukar akan di jaga dalam kondisi yang aman sampai kestabilan di sektor riil tidak terpengaruh. Tidak hanya disitu , macam-macam obligasi mulai di mainkan dengan melakukan pembelian beberapa di antaranya untuk menjaga peredaran uang yang ada di luar pihak perbankan. Penyerapan yang di perlukan di lakukan  dengan menjual surat berharga yang di keluarkan pada pihak perbankkan. Dalam hal ini sentrlasisasi kontrol di harapkan dilakukan melalui lembaga keuangan yang mana masih dalam  lingkup pengeolaan otoritas moneter.
Dalam pengawalannya sektor valuta asing juga tidak luput dalam pengawalan karena dinilai dapat mengganggu kestabilan perekonomian jika ketimpangan sangat besar terjadi di dalamnya. Pengaturan baik di sisi penawaran maupun permintaan menjadi kunci besaran yang nlai dalam valas tersebut. Penyempitan waktu di nilai menjadi solusi untuk evaluasi terkait dengan pergerakan yang terjadi  baik dalam trend yang positif maupun negatif. Range waktu satu minggu merupakan waktu yang ideal untuk mengkaji perubahan perilaku di pasar. Perpanjangan tenor juga hanya di batasi dalam jangka 3 bulan ini dengan harapan apabila terjadi suatu gejolak nantinya dapat di ambil alih supaya tidak berkepanjangan. Batas pembelian valas juga di batasi ayng mulanya 100ribu dolar kini menjadi 25ribu dolar pernasabah perbulan serta di ikuti lampiran NPWP dan mempercepat proses persetujuan utang luar negri dengan asas kehati –hatian. Dalam kasus ini di harapkan pengendalian tetap lancar dan tidak ada hambatan jika terjadi kekuranagn modal dan tidak lepas dari tanggung jawab pajak.
Langkah yang menjadi prioritas selanjunya adalah dimana otoritas moneter juga memperhitungkan pertimbangan pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan infrastruktur. Langkah ini di kembangkan melalui swap hedging yang juga ikut berperan serta membangun devisa negara melalui pajak yang di dapatkan. Hal tersebut dinilai sangat berpotensi dalam mempengaruhi perkembangan ekonomi di masa yang akan datang. Ini di karenakan akses distribusi dan pengelolaan kestabilan perekonomian menjadi dasr kelancaran arus perekonomian.
Permainan perekonomian demi menguasai berbagai lini memang sangat banyak dilakukan, kondisi demgrafis tidak lagi menjadi sebuah hambatan bagimana penguasaan itu berhenti. Penawaran uang di lelang saham minyak badan usaha milik negara arab saudi mulai genjar dilakukan. Dalam taktisnya mereka sedikit demi sedikit mengalihkan sumberdaya yang ada ke berbagai sumberdaya yang masih hal yang sulit dan tidak ada di dala penguasaannnya. Pengalihan makna disini  tersirat bahwa perekonomian mulai berfikir jangka panjang dengan melihat trend dan perkembangan yang ada.
Dalam pergeakannya secara tidak langsung sebuah langkah yang di ambil akan sangat mempengaruhi suatu keseimbangan akan peredaran uang dalam masyarakat. Penjualan surat berharga akan merespon permintaan akan uang bergulir dalam proses tersebut. Tidak hanya dalam proses transaksi yang terjadi saja, namun biaya yang akan di timbulkan juga akan menciptakan sebuah alasan kenapa suatu saat akan terjadi gejolak aka jumlah uang yang beredar. Sebenarnya dalam pergerakan keuangan ini di dasari atas penawaran akan sebuah kebutuhan.
Kebijakan yang dilakukan suatu negara seperti yang dilakukan arab saudi dengan meminta menambah jumlah uang beredar dengan secara implisit. Pasalnya seperti yang tengah disampaikan dalam sebelumnya keseluruhan akan penguasaaan perekonomian juga akan menimbulkan permintaan akan barang lain yang juga dapat menimbukan penawwaran akan uang juga meningkat. Belum lagi jika ini di ikuti dengan arus biaya yang terjdi dalam keberlangsungan perekonomian juga tentunya menciptakan ruang dimana pihak ketiga menjadi ladang berkembangnya akan penawaran uang.
Penawaran uang kini dapat menjadi sebuah gambaran kekuatan maupun kelemahan suatu perekonomian suatu wilayah. Dalam kasus penawaran uang untuk pengalihan kekayaann mutlak ke arah kekayaan yang minoritas dapat di tafsirkan ke dalam penawaran yang positif. Yang dimaksudkan disini adalah penawaran guna membuka sebuah peluang kepemilikan dengan harapan sebuah kemandirian. Pengeluaran tersebut atau penawaran uang menjadi kunci utama kesejahteraan akan pemenuhan kebutuhan yang merata bagi masyarakat sekitarnya.
Dalam pengeluarannya atau penawarannnya yang dikatakan negatif adalah dimana dalam proses berjalannnya mengakibatkan sebuat ketidak efektifan alokasi dana tersebut. Dalam masa yang tengah dilakukan dalam perekonomian ini sering terjadi jika penawaran akan uang hanya terjadi akibat berkembangnya pihak ketiga sebagai gambaran biaya dalam memegang uang. Biayan akan memegang uang tidak tersebut menciptakan gap yang jelas dari permintaan akan penawaran uang berlebih dengan output yang semu. Disni dapat diartikan bahwa suntingan dana tidak lagi di alokasikan dalam ranah yag produktif.
Perekonomian saat yang di gambarkan oleh penawaran uang berlebih oleh masyarakat kini tidak lagi dapat dikaji menjadi suatu gambaran pertumbuhan perekonimian domistik begitu saja. Dalam lapang mungkin ini akan dapat di aplikatifnya. kelompokkan dala kondisi yang positif dan negatif dalam segi kemanfaatan Namun, dalam jangka panjang ini akan mengguncang kestabilan perekonomian yang terjadi di suatu wilayah tersebut. Penawaran akan uang yang berjalan pada bidang produktif dan semu yang diakibatkan oleh pihak ketiga disini sedikit demi sedikit menggeser keseimbangan perekonomian yang ada dalam wilayah tersebut.
Perlu menjadi sebuah pembelajaran juga bahwa ketika seseorang memegang uang disitu akan ada biaya yang akan masuk dan memengaruhi penawaran uang tanpa di sadari. Biaya akan memegang uang menjadi tanggungan yang harus di keluarkan dengan aspek keamanan serta jaminan akan kepemilikan uangnya. Dari sinilah awal mulanya muncul peran pihak ketiga dimana penghantar akan dua kebutuhan yang berbeda. Suatu kondisi dimana salah seorang membutuhkan akan jaminan dan keamanan dan disisi lain membutuhkan sebuah dorongan modal untuk produktif.
Sampai saat ini dorongan akan penawaran uang menjadi berbaga macam bentuk seperti berbagai ranah yang di gunakan sebagai sarana penghantar. Sebagai contoh yang dilakukan disaat diberlakukan kebijakan dengan menurunkan tingkta bunga oleh otoritas moneter, sebenarnya ini membuka peluang akan peningkatan penawaran uang denga pasif. Jalan di buka dengan sengaja dengan harapan kondisi hasil yang positif. Oleh karenanya dalam menjaga sebuah kestabilan sangatlah sulit karena sering di jumpai kontradiksi antar pelaku ekonomi dalam menjalankan perannya. Penyelarasan atau perimbangan dari salah satu pemegang otoritas kebijakan harus dilakukan. Kordinasi dan komunikasi menjadi salah satu kunci utama menjaga kondisi yang stabil.



Maksimalisasi penyerapan tenaga kerja dan stabilitas harga dengan suku bungan acuan dan investasi produktif

Maksimalisasi penyerapan tenaga kerja dan stabilitas harga dengan suku bungan acuan dan investasi produktif

            Suatu perekonomian yang stabil tentu menjadi harapan dan impian setiap negara. Pasalnya dengan situasi seperti itu suatu kondisi masyarakat di dalamnya akan menuai sebuah kesejahteraan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kondisi seperti itu dapat di gambarkan dengan salah satunya yaitu daya beli masyakat yang terjadi dalam perekonomian dapat terkendali dan terakomodir sesuai dengan program yang telah di tetapkan. Pengetapan suatu kebijakan dalam mencapainya memang harus di sesuaikan dengan kondisi perekonomian. Kondisi perekonomian yang berbeda tidak bisa di samaratakan dalam pengaturan penanganannya. Dalam kali ini kita coba meramalkan perekonomian dengan melalu sektor moneter.
            Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa Permasalahan yang dialami suatu negara tentunya berbeda dengan negara lain. Berkaca dengan kondisi perekonomian saat ini yang mengalami pelemahan ekonomi global yang berdampak buruk bagi perekonomian dalam negri.  Kondisi seperti ini harus di pangkas guna mencapai maksimalisasi dalam perekonomian dalam negri. Banyak upaya-upaya yang yang dapat di tempuh dalam meningkatkan intensitas perkonomian tersebut. Meningkatkan produktivitas atau meninkakan output produksi merupakan salah satu cara yang tepat melihat terdapat faktor produksi yang melimpah dan masih banyak yang belum tersentuh hingga menghasilkan kontribusi positif dalam jalannya suatu kegiatan perekonomian di indonesia.
            Dalam menggerakkan perekonomian yang dengan kondisi yang sedang lesu seperti ini tentunya kita memerlukan suntikan stimulus di sektor finansial guna merangsang kegiatan ekonomi tersebut. Berdasarkan kondisi ekonomi masyarakat yang lemah, instrumen yang memungkinkan untuk dapat di mainkan dalam menggerakkan sektor keuangan tersebut dalam jalannya perekonomian adalah penetapan suku bunga acuan. Seperti yang kita ketahui bahwa suku bunga acuan merupakan pertimbangan seseorang dalam memenejemeni unag yang sedang di pegang masyarakat. Pertimbangan ini diartikan sektor mana yang akan dimainkan oleh para pemegang uang berlebih, apakah bermain dalam pasar uang (investasi uang) ataukah akan bermain dalam sektor produksi (investasi produktif). Seperti yang telah di rumuskan sebagai mana motive seseorang dalam memegang uang sebagai spekulasi.
            Sebagai pemangku kebijakan dalam sektor moneter dalam menetapkan kebijakannya harus jeli dengan kondisi perekonomian yang sedang dirasakan saat ini. Jeli disini di sini dapat di harapkan dengan mengacu pada semua sektor yang bersangkutan dengan dasar berjalannya suatu roda perekonomian. Melihat kondisi perekonomian saat ini pengangguran masih sangat besar seiring dengan perekonomian yang tidak dapat menampungnya terkait pelambatan ekonomi global yang terjadi. Pemangkasan yang dilakukan diharuskan tepat sasaran sehingga memberikan kontribusi yang positif baik bagi konsumen maupun produsen dalam jalannya perekonomian domestik terlebih dahulu dan di ikuti di tingkat nasional nantinya.
            Penurunan suku bunga acuan dalam kondisi saat ini adal suatu pilihan yang tepat. Dengan penurunan ini di harapkan terjadi perubahan perilaku terhadap para pemegang modal atau masyarakat yang mengalokasikan uangnya dalam sektor yang tidak produktif. Perubahan perilaku tersebut nantinya akan di giring untuk berjalan dalam investasi yang produktif dengan berbagai kebijakan fiskal yang mempermudah akses dalam pergerakan sektor produktif itu sendiri. Perekonomian dalam sektor riil seperti ini akan lebih berdampak besar terhadap kondisi yang lebih besar cakupannya dalam mempengaruhi tenaga kerja dan kelimpahan faktor produksi yang ada. Terciptanya usaha baru akan memberikan perubahan yang besar dalam permintaan tenaga kerja dan faktor produksi.
            Bergambar pada perekonomian di amerika serikat yang diman the fed yang berperan sebagai bank sentral disana memilih menetapkan suku bunga acuan hampir mendekati 0 persen yaitu hanya berkisar antara 0,25 sapai 0,50 persen. Mereka menempuh jalur ini untuk menjaga arus investasi dalam negaranya. Sebuah langkah yang tepat dan cekatan mungkin menjadi salah satu faktor kehebatan amerika dalam menggerakkan sektor perekonomian dengan perkembangan perubahan di dalamnya. Perekonomian ini juga tidak serta merta dapat bergerak tanpa di iringi dengan faktor pendukung lainnya. Infrastruktur yang sudah memadai dan tingkat investasi yang ada merupakan intrumen mereka gerakkan demi menjawab gejolak perekonomian dan ketidakpastian yang timbul menjadi damapak nyata. Disamping itu kompetensi tenaga kerja sendiri sangat mendukung  akan dilakukan perekonomian yang mandiri lewat pertumbuhan investasi sektor produktif di amerika.
            Dari sektor produktif yang akan di jalankan keuntungannya ssudah di jawab oleh kondisi perekonomian yang terjadi di amerika serikat diatas. Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja AS menunjukkan pergerakan yang signifikan mereka dengan mudahnya dengan diikuti penambahan lowongan pekerjaan baru. Pertumbuhan pembukaan lowongan kerja baru yang cepat menunjukkan pengurangan tingkat pengangguran dalam masyarakat. Dalam penyerapan tenaga kerja nantinya juga di harapkan di ikuti dengan skil yang mumpuni di bidangnya guna  menghadapi persaingan dalam perekonomian atau jasa yang di jalankannya. Pengaturan dalam pelaksanaan yang baik sesuai dengan basik skil tenaga kerja akan menghantarkan keberlanjutan usaha dengan stabil dan mampu bersaing.
            Masalah lain yang akan terobati dengan hadirnya tenaga kerja yang profesional di bidangnya akan menutup kegagalan dalam pengembangan pasar. Kegagalan dalam pengembangan pasar dari sektor sumberdaya yang terbatas akan menciptakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat di minimalisir dengan baik melalui program tersebut. Perekonomian seperti inilah yang di harapkan, perekonomian seperti ini merupakan suatu kondisi ekonomi yang menunjukkan suatu kemandirian. Kekuatan domestik di nilai mampu dalam mengimbangi perkembangan global dengan pemanfaatan faktor produksi dan penyerapan pengangguran yang ada. Pergerakan ini juga di imbangi dengan berbagai faktor pendukungnya seperti infrastruktur  yang akan timbul dengan sendirinya seperti konsep desentralisasi yang di terapkan di cina, dengan konsenpnya membangun desa menata kota yang ampuh menggerakkan roda perekonomian suatu negara.
            Permasalahan yang terjadi saat ini adalah kondisi tenaga kerja yang ada di indonesia melimpah namun tidak di ikuti denga tingkat kapabilitas yang mumpuni. Penganguran yang terbentuk disini tidak hanya di pengaruhi oleh inflasi yang ada dan runtutan perekonomian yang menyebabkan penambahan pengangguran di dalamnya. Penawaran akan tenaga kerja sendiri di rasa tidak dapat memberikan apa yang tengah di harapkan oleh permintaan pasar yang sedang berjalan saat ini. Tingkat kualitas yang rendah menjadi salah satu penyebab yang tidak menemukan akan pasar tenaga kerja dengan permintaan akan tenaga kerja. Tuntutan zaman yang tinggi mengharuskan perekrutan tenaga kerja harus di imbangi dengan kualitas atau skill tenaga tersebut. Kondisi penawaran tenaga kerja dengan kualitas yang rendah ini digambarkan dengan tingkat pendidikan yang telah di tempuh oleh para tenaga kerja yang masuk dalam pasar tenaga kerja. Dalam konsep tenaga kerja bahwa suatu pendidikan merupakan suatu investasi jangka panjang dimana dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka seseorang akan mendapatkan pendapatan yang tinggi dengan tingkat kapabilitas yang menyertainya.
            Kembali dalam pembahasan awal bahwa ketetapan tingkat suku bunga rendah, dapat menguraikan permasalahan komplek yang terjadi dalam  perekonomian. Tingkat suku bunga yang rendah di harapkan dapat menggerakkan investasi sehingga Permasalahan tersebut dapat teratasi dengan terciptanya usaha-usaha produktif baru. investasi produktif tersebut tentunya akan membutuhkan tenaga kerja dalam proses produksinya. kondisi seperti ini yang di harapkan akan terjadi dari penetapan tingkat suku bunga yang sengaja di ubah agar menciptakan kredit usaha. Pergerakan di sektor riil harus di optimalkan supaya penyerapan tenaga kerja dapat dilakukan secara maksimal. Perubahan jumlah stok barang sebagai akibat dari peningkatan proses produksi yang meningkat. Jumlah barang yang berlimpah di pasar di harapkan mampu menstabilkan harga dipasaran. Harga barang yang mulanya sangat tinggi dengan kini mulai turun dengan penambahan stok barang yang akan masuk dalam persaingan pemasaran. Persebaran jumlah barang yang merata akan dengan sendirinya menyetabilkan tingkat harga barang yang ada dalam pasaran nantinya. Namun keputusan seperti ini harus di imbangi dengan kondisi keuangan negara dan hegomoni perekonomian yang sudah ada. 

Merumuskan stimulus perekonomian dengan kebijakan makroprudensial

Merumuskan stimulus perekonomian dengan kebijakan makroprudensial
        Dalam perekonman dewasa ini peekonomian sealu mendapat berbagai sentuhan operasional yang berubah- seuai dengan gejolak perekonomian yang terjadi. Tidak dapat di pungkiri pengambilan keputusan menjadi sentral keberlangsungan jalannya perekonomian yang akan datang. Banyak bidang dan sektor yang dapat digunakan sebagai instrumen dalam meningkatkan gairah perekonomian atau menjaga suatu kesetabilan dalam perekonomian.
            Benar adanya ketika kita masih dalam suatu tekanan yang sangat kuat. Tekanan tersebut dari sumber yang berbeda dan kita harus berbenah bagaimana kita dapat bertahan bahkan dapat membalikkan suatu keadaan. Dalam saat ini perekonomian indonesia memang dalam tekan perekonomian dunia di tengah lesunya perekonomian dalam negri. Perlu sebuah stimulus yang harus di keluarkan guna membangkitkan gairah perekonomian negri dewasa ini.
            Dalam layaknya permainan ketika kita dalam sebuah tekan ada dua opsi yaitu merotasi atau memperbaiki suatu instrumen yang ada atau mengganti dengan instrumen yang baru. man yang harus di lakukan..? dalam hal ini bank indonesia melakukan evaluasi tentang beberapa kebijakan yang di nilai kurang tepat sasaran dengan kondisi realita saat ini. Saya setuju ketika di lakukan evaluasi dalam bidang pelonggaran kebijakan makroprudensial karena kebijakan ini dinilai lebih responsif.
            Peluang di dalam makroprudensial memang lebih berpotensi karena pelonggaran dalam sektor lain seperti moneter sulit dilakukan terkait dengan berbagai keterbatasan. Belum lagi berbicara dengan tekanan global yang semakin menekan sektor moneter. Opsi lain yang dapat digunakan dalam mengembalikan kondisi perekonomian yang stabil adalah dengan mengeluarkan paket kebijakan baru yang sesuai dengan kebutuhan yang diminta dan di ikuti dengan kebijakan makroprudensial yang baru. Evaluasi yang dilakkan oleh BI tidak sia-sia yang akhirnya dapat mengeluarkan kebijakan baru. Dengan melihat kondisi pasar perekonomian yang berjalan dengan mengubah beberapa ketetapan dalam makroprudensial yang meliputi bidang yang bersinggungan secara langsung dengan pelaku ekonomi dengan mengeluarkan langkah- langkah strategisnya dalam ranah makroprudensial.
            Terkait dengan langkah strategis yang di bahas oleh bank indonesia pembagian fungsi, tugas, dan cakupan wewenang bank indonesia dan makro prudensial memang harus gamblang. Dengan di lakukan kanalisasi dalam pengambilan keputusan baik secara fokus atau umum, hal ini harus di pertegas guna medapati suatu kesamaan tujuan atau harapan yang sama sehingga tidak terjadi kontraproduktif dalam setiap penetapan kebijakan.
            Dalam langkah yang kedua ini saya menangkap adanya singkronisasi dalam menjaga kecukupan keuangan dalam arti likuiditas anatar bank indonesia dan otoritas jasa keuangan.  Ketahanan dalam permodalan lembaga keuangan dalam mendorong laju perekonomian yang saat ini memang mengalami penurunan aktivitas. Kedua lembaga tersebut mencoba mendorong melalui stimulus finansial dalam menggerakkan atau memacu perekonomian dengan menerapkan LCR dan regulasi pendalaman pasar keuangan.
             Dalam pembahasan langkah kedua memang perlu sebuah kesadaran dengan tidak mengedepankan ego antara pembuat kebijakan antara fiskal, moneter, makro prudensial dan ojk dalam penetapan kebijakannya. Namun perlu di harapkan sebuah kolaborasi atau formulasi yang tepat di dalamnya. Bergambar pada langkah satu dan dua memang saat ini di nilai perlu suatu dorongan dari sektor keuangan dan sebuah koordinasi yang tepat.
            Berbeda dengan langkah satu dan dua, dalam langkah selajutnya saya  memahami lebih di bahas pada bagaimana aplikasi dari apa yang di usahakan atau di bicarakan pada langkah sebelumnya seperti koordinasi dan penguatan sumber keuangan. Dalam langkah ketiga penekanan lebih di tujukan pada bagaimana fungsi intermediasi atau penghubung lembaga keuanagan dalam mengfasilitasi masyarakat luas dalam lingkup nasional maupun regional. Jadi disini di harapkan nantinya dapat terjadi kredit yang akan menggerakkkan roda perekonomian dalam daerah tersebut.
            Sedangkan dalam langkah yang terkhir disini dilakukan suatu kolaborasi antara lembaga konvensional dan sistem syariah melalui pengembangan instrumen moneter baru dengan berbasis syariah. Dalam kaca mata saya Sebenarnya ini hanya untuk lebih mepermudah dalam pengaturan dan pemetaan investasi yang berjalan dari segi likuiditas keuangannya yang mana nanti di harapkan dapat di koordinasikan oleh satu basis yang sama.
            Banyak langkah yang dapat di tempuh dalam menstimulus sektor makroprudensial. Namun dalam dampak perekonomian kita tidak dapat mentik beratkan pada satu kebijakan saja karen kita harus melihat kondisi pasar dan kekuatan perekonomian negara. Seperti yang tengah dilakukan otositas manapun baik dala sektor moneter, makroprudentianl ataupun yang telah diakukan oleh Pemerintah ketika mengeluarkan atau melakukan deregulasi bebas visa 100 negara dengan harapan akan memicu arus masuk yang disebaban oleh datangna turis mancanegara dan mau membelajakan uangnya seketika paska dikeluarkannya kebijakan tersebut. Namun ini digunakan untuk menggerkkan sektor riil untuk sejtinya dapat mempersiapkan apa yang akan di sajikan kedepannya untuk hal ini.
Sama halnya dengan dampak yang akan disebabkan dengan kebijakan pelonggaran kebijana LTV yang tengah dikeluarkan tidak dapat menggerakkan sektor kredit dengan seketika, seperti yang tengah dibahas diatas bahwa dalam pengaruhnya atau cakupan kredit sangat luas bukan hanya dilaksanakan oleh pihak likuiditas, dan pemangku kebijakan saja, kondisi perekonomian yang sedang melambat. Ini tercermin dari daya beli masyarakat yang menurun.
Disisi lain masih banyak lagi ketika kita membahas bahwa prioritas konsumsi di indonesia atau pangsa konsumsi di indonesia harus di cermati.  Permintaan akan sektor properti yang sepertinya kurang diminati juga mungkin jadi suatu kendala, atau mungkin sektor komoditas diniai lebih menggoda ketimbang melakukan konsumsi di bidang properti itu sendiri. Dari pihak penyandang kredit sendiri seperti juga tidak merespon  baik dengan kedakpastian akan lembaga perbankkan sendiri. Bahkan pada saat booming pelonggaran akan LTV belum juga bisa berkontribusi.
Dalam penerapan LTV sendiri di indonesia saya setuju ketika harus di barengi dengan kebijakan lain seperti pelonggaran dalam giro wajb minimum (GWM), suku bunga pinjaman dan masih banyak kebijakan lainnya sehingga kebijakan tersebut seperti terkawinkan hingga menemui daya jual baik dari sektor sasaran kredit maupun pelaksana kredit ( lembaga perbankkan) itu sendiri sehingga dapat memberika kontribusi sesuai dengan arah dan harapan kebijakan pelonggaran LTV tersebut.
            Dalam kajian ini kita dapat merasakan bahwa bahkan dapat sediki menyimpulkan bahwa dalam penetapan suatu keputusan atau kebijakan harus melihat kemampuan pasar, kebutuhan pasar, kondisi pasar dan perekonomian negara tersebut. Apabila tiadak ada support untuk salah satunya maka kebijaka tersebut harus di dorong dengan kebijakan baru yang akan mendorong dan mendukung kelancaran tujuan kebijakan awal.
           



Tidak berhenti sampai disini saja, gubernur bank indonesia juga menyatan akan adanya penguatan di dalam sistem keuangan dengan merancang undang-undang jaring pengaman sistem keuangan yang tengah di bicarakan dengan komisi IX DPR tegasnya. Ketakutan akan terjadi krisis keuangan seperti yang dialami pada tahun 1997-1998 dan krisis jkeuangan tahun 2008 akan sedikit terobati atau tersendu dengan bisa dikatakan sebagai alat pendeteksi atau penjaring di bidang keuangan. Bank indonesia sebagai lembaga yang berwenang mengatur sektor monetary mecanankan untuk pemebentukan jaring keamanan untuk meminimalisir bahka mendeteksi akan gejolak dalam perekonomian dari segi sistem keuangannya.
Meski masih di belum di tetapkan dan masih dalam proses pembahasan yang akan di ajukan dalam rapat bersama dewan perwakilan rakyat (DPR), Agus Martowardojo yang saat ini menjabat sebagai gubernur bank indonesia (BI) saat ini yakin akan selesai di bahas dan akan segera di jalankan. Menanggapi hal tersebut, ini merupakan langkah yang sangat cepat dan semoga DPR sendiri mampu mengkaji dengan cermat apa yang terlapir dalam rancangan Undang-Undang Jaring Pengaman sistem keuangan (JPSK).
Dalam pertemuan pers-nya pada tanggal 19 februari 2016, penuturan gubernur  bank indonesia tersebut  memaparkan dalam pertemuannya dengan komisi IX DPR beberapa isu terkait dengan sudah dibahas dengan lugas terkait dengan rancangan Undang-Undang Jaring Pengaman sistem keuangan (JPSK) dan tuntas. Dalam bahasnnya juga di singgung masalah terkait kebijakan makro prudensial yang dapat diselesaikan dalam minggu ini. Dari sisni kita dapat mendapat gambaran bahwa dari keduanya mempunyai kesamaan persepsi dalam memandang kondisi perekonomian saat ini dan yang akan datang.

            Bergambar pada krisis keuangan yang pernah dialami oleh indonesia  langkah bank indonesia saat ini memang seharusnya dilakukan bila tidak ingin terjungkal dalam permasalahan berdampak yang snagat luar biasa ini. Perlu kita ketahui bahwa respon dalam perekonomian dalam jangka setelah terjadi krisis di bidang keuangan berdampak lebih besar dan lebih lama bila di bandingkan dengan sektor riil. Pasalnya perekonomian kita yang cenderung lemah dalam pengawasan bahkan dalam pegamanan  di bidang keuangan hingga sering kali terjadi krisis keuangan yang di akibatkan akan lemahnya sistem keuangan negara kita. 

Sendi perekonomian dalam dekapan fiskal dan moneter



Sendi perekonomian dalam dekapan fiskal dan moneter
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Pembangunan sendi-sendi perekonomian akan terus di genjot dengan menggunakan sektor financial sebagai penggerak. Memang pada dasarnya dalam suatu lingkup pereknomian tdak dapat lepas dari sektor keuangan kelangsungan berjangka panjang. Dimana di ketahui bahwa perekonomian dapat di gambarkan dengan berbagai ilustrasi dari sektor keuangan itu sendiri.
            Tidak lama dari selang waktu masih dalam bulan ini, seperti sudah di koordinasikan dengan baik dan terdapat kontrak politik, dimana kelembagaan dari perwakilan pemerintah dan kebijakan yang berhubungan dengan sektor financial dan pengambil kebijakan dalam bidang moneter seperti satu parpol. Semua sepakat, mereka mengajukan secara satu pandangan tingkat bunga pinjaman untuk segera diturunkan atau menuju arah single digit.
            Bukan menjadi omongan lagi namun ini suah menjadi fakta dimana fluktuasi ekonomi yang memang dirasa bagus tidak selalu dalam posisi yang menguntungkan karena dalam pengerjaannya masih sangat sulit tanpa campur tangan pihak pemerintah dan pihak penyedia jasa keuangan. Dalam kondisi seperti ini memang harus dipadukan dalam satu persepsi terlebih dahulu diamankan dalam posisi yang sama dalam melangkah. Bayangkan saja ketika salah satu dari pihak yang berpengaruh diatas mengalami keterpurukan atau melakukan penghambatan akan salah satu program yang diberikan dalam pengembangan sektor perekonomian.
            Sebenarnya memang banyak program dalam pengfokusan suatu usaha, atau upaya-upaya untuk memadukan atau menghamonisasikan suatu usaha atau program layaknya suatu team, yang dirancang dan mulai dilakukan untuk mencapai harapan dalam perekonomian bunga murah tersebut. Namun dalam pelaksanaannya tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada pula yang masih mengusung kepentingan bukan atas apa yang sudah disepakati dengan berbagi kedok dalam program, dapat dikatan juga pagar makan tanaman bahkan memakan apa saja yang bisa menguntungkan pihaknya.
            Kita kembalikan lagi dalam sebuah upaya yang mungkin kini harus di cermati bila mana hendak mencapai sebuah pereknomian yang kaya akan sektor produksi atau suatu perekonomiana yang menuju arah kedewasaan seperti yang dikatakan oleh musgrave dan rostow. Berdasarkan fakta dari sektor financial Bank Indonesia kini mulai dengan mengupayakan pergerakan uang dengan coba melonggarkan kebijakan moneter melalui dua kali penurunan tingkat bunga acuan, BI Rate, masing-masing sebesar 25 basis poin (0,25%) seperti yang suadah di tetapkan. Dengan jalan tersebut, BI Rate pada saat ini berubah dalam level 7%, dari semula 7,5% di akhir quartal satu tahun 2016 ini.
            Tidak hanya berhenti sampai disini, berbagai harapan  Menyusul kemudian terkait usaha Otoritas Jasa Keuangan yang mendorong efisiensi perbankan dalam membuat insentif untuk mendorong agar margin bunga bersih (NIM) perbankan tidak melebehi 4 % bahkan sebisa mungkin bi bawahnya. Ini merupakan sebuah etikat yang baik dari pihak penyandang dana yang mempunyai harapan yang besar dari apa yang sudah mereka umpankan. Kebijakan ini bukan tanpa efek mungkin sebuah penrunan berbagai saham dan berbagai sumber keuangan lainnya mengalami penurunan nilai yang sangat drastis. Pasalnya ini nampak dalam harga saham yang mencakun saham bumn yang ajlok sampai mendapati sekitar 1,7% dari harga saham awalnya.
             Reaksi perubahan perilaku sesaat dalam pasar saham itu bisa mungkin dapat dimaklumi, karena mereka mungkin hanya menggunakan sudut panng secara sepihak upaya pemerintah dan otoritas moneter tersebut. Mereka terlihat seperti terprovokasi diman terlihat mengabaikan manfaat jangka panjang upaya dalam memadukan untuk menurunkan tingkat bunga yang pada ending ceritanya memberikan kotribusi besar dalam memperkuat bisnis di sektor perbankan dan sklus perekonomian di masa mendatang. Coba kita bayangkan jika suatu dalam alokasinya kita hanya terpaku pada tingkat suku bunga atau bi rate yang di awal maka banyak kalangan yan akan berpikir ulang dalam mengambil suatu keputusan karena mereka takut akan kesulitan dalam pengembalian modal terhadap pihak penyandang dana.
            Dalam waktu dekat ini memang tidak ada lagi jalan, upaya menarik atau menekan tingkat suku bunga kredit menjadi susuatu yang harus dilakukan demi pergerakan sektor rii yang lebih berkontribusi. Coba kita berkaca ulang, menurut data bank indonesia pada bulan Desember 2015, tingkat suku bunga kredit dalam bidang ritel bank BUMN berkisar 11,5%-12,25%, sedangkan bunga KPR dan non-KPR tercatat 8,6%-12,5%. Ini suah menjadi langkah yang baik yang sudah dilakukan oleh pihak perbankan agar proses perputaran uang yang tinggi pada nanti akhirnya. Tidak hanya dalam sektor ritel dan kpr saja, tingkat bunga kredit mikro juga berada di level 18,75%-19,25%. dapat melihat, tingkat bunga tersebut sangat tidak memberi daya tarik sehingga memulai usaha di Indonesia sangat berbeban pada modal yang besar jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Bayangkan jika pihak perbankan tetap kekeh dalam suku bungan awal mak tidak akan ada perubahan yang hanya tinggal harapan.
            Langkah yang dilakukan oleh sektor keuanga ini merupakan untuk mengejar ketertinggalan yang dilakukan oleh pihak perbangkan yang telah mengerti jika mereka tidak boleh menekan investor atau debitor untuk suatu hasil yang besar nantinya. Berkaca pada negara lainnya seperti Filipina, pada saat ini tingkat bunga kredit hanya berkisar di 4,5%, begitu pula dengan yang lainnya. Jelas, hal itu menjadi hambatan yang kasat mata bagi perusahaan Indonesia bahkan masayarakat umumnya untuk bersaing memasuki Masyarakat Ekonomi Asean. Meskipun faktor daya saing yang dimiliki masih banyak lagi seperti biaya logistik, pajak dan ekonomi dengan harga tinggi akibat kebijakan daerah, penetapan suku bunga yang mahal adalah faktor penghambat  yang menggerogoti. Oleh karenanya, maka Mereka para pemangku kebijakan memang harus mengurangi suku bunga mereka demi sebuah rutinitas yang lebih besar nantinya ketimbang besar namun dengan tempo dan kendala lainnya seperti kredit macet dan masih banyak lagi lainnya.
            Dalam hal semacam ini Kita memang dituntut untuk memahami, setiap pilihan dalam menentukan sebuah kebijakan yang dirasa sangat fital atau berpengaruh luas tentu membawa risiko jangka pendek dan kerap tidak populer bagi kalangan tertentu yang mempunyai sudut pandang dan yang berbeda. Namun demikian, apabila penentuan suatu kebijakan diformulasikan dan di atur sesuai dengan konsep yang sangat luas dan komprehensif, maka dapat dipastikan manfaat positif dari sebuah kebijakan dalam jangka panjang akan menjadi sangat lebih besar seperti apa yang telah saya sampaikan sebelumnya.
Dengan prioritas seperti diatas, kita memang dapat berharap mempunyai  daya saing dalam bisnis yang akan membaik, baik dalam dasar permodalan dalam penyaluran kredit yang lebih bergairah dengan suku bunga yang rendah, risiko dalam kredit bermasalah yang tentunya akan menurun, dan pada akhirnya akan membentuk pondasi perekonomi yang lebih kuat. Dampak selanjutnyayang mungkin dapat dirasakan adalah meningkatnya sektor investasi yang akan tampak lebih bergairah, sektor ini yang nantinya didrapkan membawa pengentasan pengangguran sampai meningkatkan kesejahteraan masyarakat.