Blogroll

Mahasiswa Konsentrasi Moneter 2013

Perkuliahan terakhir TA 2015/2016 semester genap Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 bersama Bapak Adhitya Wardono SE., M.Sc., Ph.D

Moment Setelah UAS Semester Genap TA 2015/2016

Moment setelah Ujian Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 Selasa 14 Juni 2016

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Rachma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rachma. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Ketika Suku Bunga Kredit Masih Enggan untuk Turun



Ketika Suku Bunga Kredit Masih Enggan untuk Turun
Keadaan suku bunga di Indonesia pada saat ini sedang mengalami fluktuasi yang cukup signifikan sehingga berdampak pada perekonomian di Indonesia. Selain karena adanya fluktuasi suku bunga, meningkatnya jumlah impor juga memicu keadaan perekonomian menjadi semakin memburuk. Dalam hal ini peran kebijakan moneter sangat diperlukan demi menjaga sektor – sektor lain agar tidak terpengaruh oleh fluktuasi suku bunga ini. Karena suku bunga dianggap penting sejak dilepaskannya sistem nilai tukar managed floating pada Agustus 1997 dan digantikan dengan sistem nilai tukar mengambang bebas. Untuk itu pemerintah mengambil kebijakan moneter dengan mencoba menurunkan tingkat suku bunga agar kegiatan investasi dapat berjalan dengan baik. Mengingat kegiatan investasi adalah salah satu penggerak dalam perekonomian. Menurut Nopirin (1992:176) tingkat bunga dalam perekonomian memiliki fungsi yaitu sebagai alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan untuk di kemudian hari.
Selama ini besarnya tingkat suku bunga selalu menjadi tolok ukur dalam berinvestasi. Apabila suku bunga yang ditetapkan pemerintah tinggi, maka para investor akan enggan untuk menanamkan investasinya. Namun sebaliknya ketika suku bunga acuan mulai rendah, para investor sudah mempersiapkan target investasi yang menurutnya akan menguntungkan. Selain mengenai suku bunga acuan atau BI Rate, dalam kegiatan investasi juga dipengaruhi suku bunga kredit. Saat ini pemerintah mencoba untuk menurunkan suku bunga dasar pinjaman dengan harapan agar para investor dapat terus menyalurkan investasinya. Langkah awal yang dilakukan pemerintah yaitu dengan membatasi bunga deposito. Bunga deposito yang dimaksud disini adalah terkait dengan penempatan dana kementerian / lembaga dan BUMN. Bunga deposito perlu dibatasi agar biaya dana bank terkendali. Bunga kredit terbentuk atas beberapa komponen yang menyertai, diantaranya adalah biaya dana, premi risiko, margin bunga bersih, serta adanya biaya operasional. Sekitar 60 persen bunga kredit dipengaruhi oleh bunga simpanan. Keadaan likuiditas industri pada perbankan akan mengalami pelonggaran ketika giro wajib minimum ikut untuk diturunkan, sehingga hal ini dapat mencegah kenaikan pada bunga deposito dan memberikan bukti bahwa perekonomian masih dalam kondisi yang stabil.
Selain membatasi bunga deposito dan dana bank, pemerintah juga aharus mengawasi besarnya inflasi. Ketika inflasi mulai merangkak naik, maka tingkat suku bunga juga akan naik. Seperti yang kita ketahui, selama berjalannya tahun 2016, Bank Indonesia (BI) sebenarnya telah melakukan penuruan suku bunga acuan atau yang dikenal BI rate sebanyak dua kali. Diketahui sejumlah bank swasta menerapkan besarnya suku bunga deposito ke dalam rupiah dengan besaran 7 persen. Menurut pemerintah terdapat 3 bank milik BUMN yang juga menerapkan suku bunga deposito dalam 1 tahun diatas level yang di tetapkan. Beberapa bank tersebut diantaranya adalah Bank Negara Indonesia (BNI) yang menerapkan sebesar 7,75 persen, Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar 7,13 persen, kemudian Bank Tabungan Negara (BTN) menetapkan sejumlah 7. Sedangkan Bank Mandiri disini hanya menerapkan suku bunga deposito selama 1 tahunnya sebesar 6,25 persen. Sebenarnya besaran acuan yang ditetapkan oleh beberapa bank tersebut tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh.
Dengan semakin menurunnya tingkat suku bunga kredit, maka diharapkan akan membantu kegiatan konsumsi masyarakat. Masyarakat yang memiliki industri dapat lebih mengembangkan industrinya menjadi lebih baik dan mampu bersaing dengan industri lain. Dengan menurunnya tingkat suku bunga acuan yang juga diikuti oleh menurunnya tingkat suku bunga kredit, maka sektor riil dalam perekonomian diharapkan akan bergerak lebih cepat. Selain itu dengan diambilnya tindakan menurunkan tingkat suku bunga, maka hal ini dapat menjadi suatu pembauktian dunia bahwa negara Indonesia tidak begitu terpengaruh dengan wacana The Fed yang akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya. Dengan demikian investor asing akan kembali yakin untuk melakukan investasi ke negara Indonesia. Apabila semakin banyak investor asing yang akan menanamkan saham ke Indonesia, maka juga akan berdampak positif terhadap perekonomian di Indonesia. Aliran dana yang akan masuk juga akan memberikan dampak positif bagi industri pasar uang di Indonesia, meskipun dalam kondisi secara global masih mengalami kelesuan. Ketika sektor riil sudah mencapai keadaan yang lebih baik, tentunya  akan mendorong kegiatan industri dalam negeri. Dalam jangka panjang hal ini akan dapat mengurangi berbagai masalah perekonomian. Ketika beberapa industri mulai bermunculan dan memiliki progres yang cukup signifikan, maka otomatis akan dapat menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Dengan demikian permasalahan dalam ekonomi akan sedikit berkurang.
Namun apabila tingkat suku bunga turun secara drastis, maka juga akan memberikan dampak negatif bagi investor yang mungkin sudah dalam jangka waktu lama telah menanamkan sahamnya, yaitu mereka bisa saja mengalami kerugian yaitu harga saham yang anjlok. Sehingga investor jika akan menjual sahamnya maka mereka akan berpikir beberapa kali sebelum benar – benar menjual sahamnya. Sisi positif yang bisa masyarakat ambil dengan keputusan pemerintah yang berencana untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit adalah agar kegiatan konsumsi masyarakat dapat terdorong dengan mudah. Selain itu jika suku bunga kredit akan turun, maka masyarakat dapat mengembangkan usaha dengan bantuan modal melalui pinjaman kredit di bank, karena suku bunganya yang sedikit mengalami penurunan. Masyarakat dapat merintis usaha atau UMKM yang kemungkinan membutuhkan modal yang tidak cukup banyak. Dengan demikian secara perlahan kualitas ekonomi masyarakat kita akan semakin membaik, masyarakat tidak hanya melakukan kegiatan konsumsi tetapi juga perlahan dapat merubah kehidupannya dan belajar untuk menjadi pribadi yang berkualitas.

Rachma Priasti Ramadhani
130810101154

Terjunnya Harga Minyak Dunia, Bagaimana Nasib Negara Eksportir & Importir ?



Terjunnya Harga Minyak Dunia, Bagaimana Nasib Negara Eksportir & Importir ?

Setelah adanya berbagai masalah seperti tappering-off , dan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat, sekarang fokus permasalahan ekonomi global beralih pada merosotnya harga minyak mentah dunia. Awalnya pemerintah hanya memprediksi bahwa merosotnya harga minyak mentah dunia hanyalah fenomena yang terjadi sementara, namun ternata lambat laun harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan yang semakin sigkifikan. Kenyataanya banyak yang tidak menduga bahwa negara - negara penghasil minyak terbesar yang beberapa saat ini tertimpa masalah seperti contohnya adalah negara Irak yang sempat terdapat konflik dengan beberapa sekelompok pengikut aliran lain yang disebut dengan ISIS (Islamic State of Iraq & Syria) seharusnya dengan adanya konflik tersebut, dapat menaikkan harga minyak dunia. Namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya, minyak mentah dunia yang semakin anjlok. Terlebih adalah adanya kabar bahwa sekelompok ISIS tersebut telah menguasai daerah kilang minyak yang cukup besar di daerah Irak, yaitu pada daerah yang dulunya merupakan pimpinan Saddam Husein.
Kemudian bagaimana tentang dampak dari penurunan harga imnyak mentah dunia itu sendiri ?. Akibat yang ditimbulkan dari gejolak tersebut pastinya akan berbeda pada tiap – tiap negara yang bersangkutan. Hal ini masih membutuhkan kajian yang panjang untuk mengetahui siapa yang akan di utungkan dan dirugikan atas adanya permasalahan tersebut. Mengingat dari tiap – tiap negara tersebut memiliki kapasitas kebutuhan akan minyak yang berbeda – beda. Namun apabila dilihat dari sudut pandang secara umum, bagi negara – negara importir minyak akan lebih diuntungkan karena adanya penurunan harga minyak tersebut. Dapat dikatakan diuntungkan karena negara yang bersangkutan akan memiliki potensi keringanan dalam hal pembayaran. Kemudian bagi negara – negara eksportir mungkin saja akan menalami guncangan ekonomi yang disebabkan oleh defisit anggaran dari target sebelumnya yang telah diperkirakan.
Kita ambil saja contoh pada negara Amerika Serikat yang selama ini dikenal dengan negara dengan konsumsi minyak yang cukup tinggi daripada negara – negara lainnya. Produksi minyak Amerika Serikat yang secara umum terus mengalami pertumbuhan, hal ini masih dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan minyak untuk negaranya itu sendiri. Negara Amerika Serikat dapat dikatakan negara dengan importir minyak yang tertinggi. Menurut data Organisasi Negara – negara Penghasil Minyak (OPEC), konsumsi minyak dunia pada tahun 2015 telah mencapai 92,8 juta barel per harinya (bph). Sedangkan negara Amerika Serikat tercatat dengan negara pertama dengan besar konsumsi minyak yang melebihi 1,5 juta bph yaitu dengan jumlah konsumsi sebesar 19 juta bph. Kemudian disusul dengan negara Cina dengan konsumsi minyak sebesar 11,1 juta bph. Sedangkan negara Indonesia menempati posisi ke 13 dengan besar konsumsi minyak sebesar 1,6 juta bph. Besar konsumsi minyak dunia ini pastinya akan semakin bertambah dari tiap tahun ke tahun, meskipun besarnya tidak terlalu besar. Bagi negara amerika Serikat dengan adanya penurunan minyak dunia dan dengan kebutuhan minyaknya yang cukup banyak, maka nantinya anggaran pemerintah Amerika Serikat untuk alokasi impor akan menjadi lebih hemat. Keadaan seperti ini sebenarnya dapat dimanfaatkan bagi pemerintah Amerika Serikat untuk mendorong perekonomian yang telah mengalami kelambatan ini dengan cara mengarahkan margin kentungan ke dalam hal – hal yang sekiranya akan mendukung pertumbuhan ekonomi, seperti pada investasi. Kemudian untuk jangka panjangnya, pemerintah dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan penguatan posisi untuk dollar AS terhadap mata uang lainnya. Secara umum, nilai tukar dolar AS memang akan selalu mengalami penguatan pada saat harga minyak merosot, begitu pula sebaliknya. Adanya fakta tersebut seharusnya dapat membuat kita lebih memahami siapa nantinya yang akan diuntungkan apabila akan terjadi kondisi seperti ini lagi.
Sedangkan bagi negara eksportir, adanya kondisi penurunan minyak sebenarnya sangatlah tidak dikehendaki. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan akan menyebabkan defisit anggaran yang nantinya dapat pula menyebabkan jatuhnya perekonomian pada negara tersebut. Terlebih apabila negara eksportir tersebut memiliki kontribusi yang cukup besar dalam total pendapatan negara yang bersangkutan. Adanya penurunan harga minyak pada tingkat dibawah break – even point dikhawatirkan akan mengganggu kondisi stabilitas perekonomian negara dari jalur kondisi yang strategis, mulai dari pada kondisi pos pendapatan yang akan mempengaruhi anggaran hingga kondisi pada nilai tukar mata uang (kecuali pada negara Arab Saudi yang menggunakan sistem nilai tukar tetap). Adanya pengurangan pada pendapatan menandakan pengetatan likuiditas dapat memperburuk kondisi kredit bagi negara – negara yang bersangkutan. Karena penggunaan kredit kemungkinan dapat menjadi suatu hal yang mampu memrusak perekonomian negara tersebut.

Rachma Priasti Ramadhani
130810101154

Laju Rupiah Kembali Berpotensi Melemah



Laju Rupiah Kembali Berpotensi Melemah

Keadaan rupiah tidak dapat dipungkiri bahwa selalu mengalami fluktuasi selama beberapa pekan ini. Hal ini dipicu karena berbagai faktor yang ada, seperti mengenai permasalahan minyak mentah dunia yang beberapa bulan yang lalu sempat menjadi perbincangan yang hangat di kalangan para pengamat ekonomi. Kali ini rupiah kembali mengalami pelemahan ketika menjelang libur panjang. Penyebab pelemahan rupiah ini dikarenakan adanya faktor dari eksternal sehingga mampu mempengaruhi pelemahan rupiah pada saat ini. Namun keadaan harga minyak mentah dunia juga masih menjadi faktor dominan dalam pelemahan rupiah. Perlu kita ketahui bahwa daerah pasar yang terbesar bagi minyak mentah di Amerika Serikat adalah pada kawasan Asia. Sedangkan dilain pihak, produksi minyak mentah yang berada di Arab Saudi, Nigeria dan Aljazair dimana yang pada dulunya menjual minyak untuk daerah Amerika Serikat, sekarang justru beralih menjual minyak pada daerah pasar Asia pula. Karena hal tersebut menyebabkan banyaknya supply minyak mentah di pasaran. Karena banyaknya supply minyak tersebut, akhirnya menyebabkan harga minyak mentah di dunia mengalami penurunan secara signifikan pada beberapa periode ini. Secara singkat dapat dikatakan bahwa adanya penurunan pada harga selama beberapa periode ini disebabkan oleh karena adanya kelebihan pada produksi minyak, sedangkan di sisi lain jumlah akan permintaannya lebih sedikit. Sehingga daya tawar menewar pada sebuah produk akan selalu menjadi rendah pada saat garis supply pada laju kurva akan lebih tinggi daripada garis demand.
 Faktor yang juga dapat menjadi beban bagi rupiah adalah karena adanya perilaku antisipasi pasar tentang data klaim pengangguran di negara Amerika Serikat. Karena apabila data tersebut ternyata lebih baik daripada dugaan pada sebelumnya, maka hal ini kemungkinan dapat menyebabkan optimisme pasar mengenai adanya peluang pada kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC akan kembali lebih baik. Oleh karena itu, kondisi tersebut nantinya akan berimbas negatif bagi mata uang yang berlawanan dengan dollar AS termasuk pada rupiah. Terlebih apabila hal ini nantinya akan diikuti dengan sikap profit taking yang kemungkinan semakin berlanjut sehingga menyebabkan kondisi rupiah yang semakin menipis. Bagi kondisi dalam negeri, saat ini masih minim sentimen. Dimana pemerintah sendiri belum memberikan langkah kebijakan seperti apa yang kemungkinan dapat diambil sebagai solusi, baik itu mengenai tax amnesty maupun pada RAPBN.
Padahal dengan adanya penerapan kebijakan melalui tax amnesty kemingkinan nantinya dapat membantu dalam penguatan rupiah. Apabila penerimaan pada dana repatriasi yang masuk ke Indonesia dalam jumlah yang cukup banyak, maka nilai tukar rupiah nantinya dapat terdorong dalam fase penguatan selama kurun waktu kurang lebih tiga bulan terakhir dengan asumsi dana dari luar yang akan masuk ke Indonesia juga cukup banyak.
Faktor selanjutnya yang berpotensi menyebabkan pelemahan rupiah adalah karena faktor dari negara Eropa yang pada beberapa pekan ini menunjukkan kondisi sistem perekonomian yang memburuk. Kemudian Bank Sentral Eropa mengambil solusi untuk membeli obligasi dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi likuiditas dalam rangka menggerakkan ekonomi di Eropa. Apabila kondisi mata uang Euro membludak, maka nilai tukar Amerika nantinya juga akan naik kemudian akan berdampak pada negara lain termasuk pada negara Indonesia yang akhirnya menyebabkan rupiah kembali tertekan.
Apabila kondisi rupiah tetap mengalami pelemahan dari sekian waktu, tak dapat dipungkiri nantinya akan memberikan dampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Dampak yang sekiranya akan dirasakan secara langsung adalah pada sektor industri yang menggunakan bahan baku dan bahan setengah jadi yang berasal dari luar negeri, atau bisa dikatakan diperoleh atas kegiatan impor, karena besarnya biaya impor pasti nantinya akan bertambah mahal. Atas efek dari mahalnya biaya impor, maka pihak produsen akan mengambil kebijakan untuk menaikkan harga jual pada produknya. Mahalnya harga jual menyebabkan para konsumen sulit untuk membeli barang yang menjadi kebutuhannya tersebut, khususnya adalah bagi masyarakat menengah kebawah. Meskipun demikian, masyarakat tetap menaruh harapan kepada pemerintah agar segera mengambil kebijakan untuk mengatasi kondisi yang sedemikian rupa agar depresiasi tidak terjadi secara berkelanjutan.


Rachma Priasti Ramadhani
130810101154