Aliran
Dana Asing (Capital Inflow)
Oleh
Zannatul Maulida
Konsentrasi
Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Perubahan dari tingkat
suku bunga BI rate yang juga mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat (AS) yang sering disebut dengan kurs, bahwa dari adanya
kenaikan tingkat suku bunga BI rate sebagai contoh kasus, maka akan
mempengaruhi silisih dari kenaikan nilai antar suku bunga di Indonesia dengan
suku bunga yang ada di luar negeri. Dengan adanya peningkatan tingkat suku
bunga didalam negeri mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya dalam
bentuk instrument keuangan di Indonesia. Seperti SBI dimana akan mendapatkan
tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Sertifikat Bank Indonessia (SBI) adalah
surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Indonesia (BI) sebagai
pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan system dikonto atau
bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia (BI)
dalam menjaga kestabilan nilai Rupiah. Dengan adanya aliran modal masuk asing
di Indonesia diharapkan akan mampu mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Dari
adanya apresiasi nilai tukar Rupiah akan berdampak pada harga impor yang lebih
murah dan harga ekspor komoditas kita di
luar negeri yang lebih mahal jika perekonomian di dalam negeri kurang
kompetetif sehingga dapat mendorong kegiatan impor dan mengurangi kegiatan
ekspor. Maka dari turunnya net ekspor
ini akan mempengaruhi pada laju pertumbuhan ekonomi yang lesu dan juga
mempengaruhi kegiatan perekonomian.
Gejolak penguatan nilai
rupiah yang dinilai akan memberikan
dampak yang menguntungkan atau merugikan.
“Rupiah ditutup di
level 13.132 per dollar AS, menguata sebesar 20 poin jika dibandingkan pada
pembukaan yang berada pada tingkat level 13.152 per dolar AS.” Di kutip
Liputan6.com (04/03/2016).
Bahwa nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS)
terus menunjukkan penguatan pada awal tahun ini. Dengan adanya penguatan
nilai tukar rupiah terhadap dollar tersebut memberikan dampak positif tetapi
juga perlu diwaspadai. Jika di hitung dari awal tahun 2016 penguatan rupiah
hamper mencapai 5 persen atau lebih tepatnnya 4,76 persen.
Pada perdagangan
tanggal 04 Maret 2016 nilai rupiah bergerak pada kisaran 13.052 per dollar
Amerika Serikat (AS) sampai dengan 13.187 per dollar Amerika Serikat.
Berdasarkan Kurs
Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) Bank Sentral Indonesia (BI)
gejolak nilai rupiah pada tanggal 04 Maret 2016 berkisar dilevel 13.159 per
dollar Amerika Serikat (AS). Dapat dikatakan menguat jika dibandingkan dengan
nilai tukar rupiah pada sehari seblumnya yang mencapai angka 13.260 per dollar
AS. Apabila dihitung dari awal tahun, penguatan rupiah menurut Kurs Refrensi
Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) bank Indonesia telah mencapai 5,32
persen.
Penguatan rupiah ini
dikarenakan oleh tingkat bunga acuan yang di turunkan oleh Bank Indonesia (BI)
untuk kedua kalinya yang memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Dan selama inflasi bisa
dikendalikan dan tingkat suku bunga dapat diturunkan lagi. Dan disebabkan oleh
faktor ekternal yaitu oleh adanya isu ketidakpastian kenaikan suku bunga
Amerika Serikat (AS) yang sudah hilang sehinnga pergerkan nilai rupiah terhadap
Amerika Serikat semakin menguat.
Dampak positif dari
penguatan rupiah terhadap dollar ini membawa dampak positif terhadap produk
maknan olahan di Indonesia dengan adanya penguatan rupiah tersebut dinilai
dapat membuat harga dari bahan baku impor atau yang diperoleh oleh luar negeri
mengalami peunurunan sehingga akan berdampak terhadapa adanya daya asing
produk. Bahwa selama ini industri maknan olahan yang ada di Indonesia
bergantung terhadap bahan baku yang diperolehd ari impor. Maka jika rupiah
mengalami penguatan maka biaya produksi industri yang ditanggung oleh produsen
dapat dipastikan akan mengalami penurunan.
Diharapkan jika biaya
produksi makanan turun maka dapat
dipastikan harga jual produk makanan akan bisa lebih murah., maka, produk
makanan local dapat bersaing dengan produk sejenis yang diproduksi dari negera
lain atau jenis produk makanan dari negara lain.
Diperkirakan bahwa tren
dari penguatan rupiah masih akan tetap berlanjut seiring dengan menurunnya
pengaruh ngetaif yang berasal dari ektrernal atau dari negara lain. Diprediksikan
mnguatnya nilai rupiah akan mencapai level di bawah 13.000 per dollar Amerika
Serikat (AS). Pengaruh eksternal yang hampir mempengaruhi seluruh mata uang di
dunia perlahan mulai menyusut salah satu di antaranya yaitu ketidakpastian suku
bunga The Fed dan devaluasi mata uang tuan China dalam mendorong sector ekspor.
Merupakan faktor eksternal yang selama ini mempengaruhi dalam pasar dunia.
Bank Indonesia
mewaspadai dari adanya penguatan rupiah sejak awal bulan 2016 ini. Karena
penguatan nilai rupiah ini juga didorong oleh adanaya aliran dana asing (Capital
Inflow)yang masuk ke dalam negeri. Maka dari itu Bank Indonesia mewaspadai
aliran dana masuk tersebut (Capital
Inflow) karena adanya kemungkinan
dana-dana dari capital Inflow tersebut tiba-tiba keluar dan kemudian mendorong
nilai rupiah mengalami pelemahan.
Menurut Direktur
eksekutif Kebijakan ekonomi dan Moneter BI Juda Agungf mengatakan bahwa
Indonesia di hadapkan pada dua situasi ekonomi f=global yang bertolak
belakang bahwa Amerika Serikat (AS) mengetakan
kebijakan moneter sedangakan disebagian negara lainnya justru melonggarkan
kebijakan moneter. Dengan adanya pengetatan sector monoter , maka uang akan
lari ke Amerika Serikat (AS). Akantetapi Amerika Serikat (AS) sendiri terlihat
mulai ragu terhadap kondiis perekonomiannya, dilihat dari tingkat Amerika
Serikat (AS) yang masih rendah, Jadi Amerika Serikat membuat kebijkan melebar
dan menyempit pada tahun ini.
Maka imbasnya aliran
dana asing (Capital Inflow) asing
tersebut menyerbu negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Maka tidak heran
bahwa aliran dana asing (Capital Inflow)
pada awla tahun ini sehingga mendorong penguatan rupiah. Meskipun demikian,
Bank Indonesia harus tetap waspada tehadap Capital
Inflow yang sewaktu-waktu kembali kenegaranya masing-masing.
Pemerintah tidak
berharap bahwa nilai rupiah semakin menguat. Karena adanya penguatan rupiah membuat produk dalam
negeri semakin mahal sehingga dampanya
tidak bisa bersaing dengan produk dengan negara lain. Tentu kita tidak
bergantung pada fundamental dari pengutan rupiah saja. Penguatan rupiah dipicu
oleh capital inflow dari para investor yang menilai bahwa Indonesia sebagai
tujuan investasi yang menjanjikan.






0 komentar:
Posting Komentar