Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Aliran Dana Asing (Capital Inflow)



Aliran Dana Asing (Capital Inflow)
Oleh Zannatul Maulida
Konsentrasi Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember

Perubahan dari tingkat suku bunga BI rate yang juga mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang sering disebut dengan kurs, bahwa dari adanya kenaikan tingkat suku bunga BI rate sebagai contoh kasus, maka akan mempengaruhi silisih dari kenaikan nilai antar suku bunga di Indonesia dengan suku bunga yang ada di luar negeri. Dengan adanya peningkatan tingkat suku bunga didalam negeri mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya dalam bentuk instrument keuangan di Indonesia. Seperti SBI dimana akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Sertifikat Bank Indonessia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Indonesia (BI) sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan system dikonto atau bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kestabilan nilai Rupiah. Dengan adanya aliran modal masuk asing di Indonesia diharapkan akan mampu mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Dari adanya apresiasi nilai tukar Rupiah akan berdampak pada harga impor yang lebih murah dan harga ekspor  komoditas kita di luar negeri yang lebih mahal jika perekonomian di dalam negeri kurang kompetetif sehingga dapat mendorong kegiatan impor dan mengurangi kegiatan ekspor. Maka dari  turunnya net ekspor ini akan mempengaruhi pada laju pertumbuhan ekonomi yang lesu dan juga mempengaruhi kegiatan perekonomian.
Gejolak penguatan nilai rupiah  yang dinilai akan memberikan dampak yang menguntungkan atau merugikan.
“Rupiah ditutup di level 13.132 per dollar AS, menguata sebesar 20 poin jika dibandingkan pada pembukaan yang berada pada tingkat level 13.152 per dolar AS.” Di kutip Liputan6.com (04/03/2016).
Bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS)  terus menunjukkan penguatan pada awal tahun ini. Dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar tersebut memberikan dampak positif tetapi juga perlu diwaspadai. Jika di hitung dari awal tahun 2016 penguatan rupiah hamper mencapai 5 persen atau lebih tepatnnya 4,76 persen.
Pada perdagangan tanggal 04 Maret 2016 nilai rupiah bergerak pada kisaran 13.052 per dollar Amerika Serikat (AS) sampai dengan 13.187 per dollar Amerika Serikat.
Berdasarkan Kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) Bank Sentral Indonesia (BI) gejolak nilai rupiah pada tanggal 04 Maret 2016 berkisar dilevel 13.159 per dollar Amerika Serikat (AS). Dapat dikatakan menguat jika dibandingkan dengan nilai tukar rupiah pada sehari seblumnya yang mencapai angka 13.260 per dollar AS. Apabila dihitung dari awal tahun, penguatan rupiah menurut Kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) bank Indonesia telah mencapai 5,32 persen.
Penguatan rupiah ini dikarenakan oleh tingkat bunga acuan yang di turunkan oleh Bank Indonesia (BI) untuk kedua kalinya yang memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Dan selama inflasi bisa dikendalikan dan tingkat suku bunga dapat diturunkan lagi. Dan disebabkan oleh faktor ekternal yaitu oleh adanya isu ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang sudah hilang sehinnga pergerkan nilai rupiah terhadap Amerika Serikat semakin menguat.
Dampak positif dari penguatan rupiah terhadap dollar ini membawa dampak positif terhadap produk maknan olahan di Indonesia dengan adanya penguatan rupiah tersebut dinilai dapat membuat harga dari bahan baku impor atau yang diperoleh oleh luar negeri mengalami peunurunan sehingga akan berdampak terhadapa adanya daya asing produk. Bahwa selama ini industri maknan olahan yang ada di Indonesia bergantung terhadap bahan baku yang diperolehd ari impor. Maka jika rupiah mengalami penguatan maka biaya produksi industri yang ditanggung oleh produsen dapat dipastikan akan mengalami penurunan.
Diharapkan jika biaya produksi makanan  turun maka dapat dipastikan harga jual produk makanan akan bisa lebih murah., maka, produk makanan local dapat bersaing dengan produk sejenis yang diproduksi dari negera lain atau jenis produk makanan dari negara lain.
Diperkirakan bahwa tren dari penguatan rupiah masih akan tetap berlanjut seiring dengan menurunnya pengaruh ngetaif yang berasal dari ektrernal atau dari negara lain. Diprediksikan mnguatnya nilai rupiah akan mencapai level di bawah 13.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Pengaruh eksternal yang hampir mempengaruhi seluruh mata uang di dunia perlahan mulai menyusut salah satu di antaranya yaitu ketidakpastian suku bunga The Fed dan devaluasi mata uang tuan China dalam mendorong sector ekspor. Merupakan faktor eksternal yang selama ini mempengaruhi dalam pasar dunia.
Bank Indonesia mewaspadai dari adanya penguatan rupiah sejak awal bulan 2016 ini. Karena penguatan nilai rupiah ini juga didorong oleh adanaya aliran dana asing  (Capital Inflow)yang masuk ke dalam negeri. Maka dari itu Bank Indonesia mewaspadai aliran dana masuk tersebut (Capital Inflow)  karena adanya kemungkinan dana-dana dari capital Inflow tersebut tiba-tiba keluar dan kemudian mendorong nilai rupiah mengalami pelemahan.
Menurut Direktur eksekutif Kebijakan ekonomi dan Moneter BI Juda Agungf mengatakan bahwa Indonesia di hadapkan pada dua situasi ekonomi f=global yang bertolak belakang  bahwa Amerika Serikat (AS) mengetakan kebijakan moneter sedangakan disebagian negara lainnya justru melonggarkan kebijakan moneter. Dengan adanya pengetatan sector monoter , maka uang akan lari ke Amerika Serikat (AS). Akantetapi Amerika Serikat (AS) sendiri terlihat mulai ragu terhadap kondiis perekonomiannya, dilihat dari tingkat Amerika Serikat (AS) yang masih rendah, Jadi Amerika Serikat membuat kebijkan melebar dan menyempit pada tahun ini.
Maka imbasnya aliran dana asing (Capital Inflow) asing tersebut menyerbu negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Maka tidak heran bahwa aliran dana asing (Capital Inflow) pada awla tahun ini sehingga mendorong penguatan rupiah. Meskipun demikian, Bank Indonesia harus tetap waspada tehadap Capital Inflow yang sewaktu-waktu kembali kenegaranya masing-masing.
Pemerintah tidak berharap bahwa nilai rupiah semakin menguat. Karena adanya  penguatan rupiah membuat produk dalam negeri  semakin mahal sehingga dampanya tidak bisa bersaing dengan produk dengan negara lain. Tentu kita tidak bergantung pada fundamental dari pengutan rupiah saja. Penguatan rupiah dipicu oleh capital inflow dari para investor yang menilai bahwa Indonesia sebagai tujuan investasi yang menjanjikan.

0 komentar:

Posting Komentar