Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

MENGHANCURKAN PENGANGGURAN DAN MENJINAKKAN INFLASI

MENGHANCURKAN PENGANGGURAN DAN MENJINAKKAN INFLASI
Oleh: Muhammad Munif, Mahasiswa Ilmu Ekonomi (Konsentrasi Moneter)
Fakultas Ekonomi Universitas Jember

            Inflasi merupakan sebuah masalah ekonomi yang kerap melanda suatu negara. Inlfasi dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana harga-harga secara umum tinggi. Hal ini merupakan dampak dari adanya peningkatan permintaan (demand pull inflation) ataupun peningkatan biaya produksi (cost push inflation). Suatu keadaan dimana harga barang secara umum tinggi menyebabkan daya beli masyarakat berkurang. Daya beli yang berkurang akan membuat kondisi perekonomian lesu. Para produsen akan mengurangi jumlah produksinya melalui pengurangan faktor produksi sehingga output yang dihasilkan juga berkurang. Pengurangan faktor produksi ini juga menyebabkan adanya pengurangan tenaga kerja yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Pada akhirnya pengangguran akan menurunkan tingkat kesejahteraan. Inflasi tidak hanya berimbas perdagangan dalam negeri saja. Tingkat harga yang tinggi menyebabkan harga input produksi juga tinggi. Harga input yang tinggi pasti akan berimbas pada harga output yang tinggi. Produk-produk ekspor yang memiliki harga tinggi tentu akan kalah bersaing dengan produk asing yang lebih murah. Hal ini akan menyebabkan ekspor nasional berkurang.
            Pada negara berkembang, masalah makroekonomi yang sering melanda tidak hanya inflasi namun juga masalah pengangguran. Pengangguran sepertinya menjadi penyakit utama dalam negara dunia ketiga. Hal ini disebabkan oleh jumlah penduduk yang tinggi dan tidak diimbangi oleh jumlah lapangan kerja yang tersedia sehingga terjadi gap antara permintaan dan penawaran pada pasar kerja. Pertumbuhan penduduk yang tinggi pada negara berkembang menjadi penyakit yang memperparah masalah pengangguran. Selain adanya gap antara permintaan dan penawaran pada pasar kerja, pengangguran juga disebabkan oleh kurang berkualitasnya sumber daya manusia yang terdapat di negara berkembang. Padahal perusahaan semakin berkembang dan kebutuhan akan kebutuhan sumber manusia daya yang terdidik dan terampil dibutuhkan. Gap antara persyaratan perusahaan dan keadaan sumber daya manusia ini menjadi faktor yang melatarbelakangi tingginya tingkat pengangguran di negara berkembang.
            Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih memiliki masalah inflasi dan pengangguran. Masalah inflasi di Indonesia sebagian besar penyebabnya didominasi oleh faktor-faktor non moneter seperti harga komoditas pangan dan harga minyak. Hal ini menyebabkan biaya produksi dan distribusi meningkat dan berdampak pada meningkatnya harga barang secara umum. Keadaan perekonomian global yang fluktuatif juga dapat memicu tingkat inflasi nasional. Indonesia yang masih mengandalkan barang-barang impor baik barang jadi, barang setengah jadi maupun barang produksi menyebabkan perekonomian masih tergantung pada keadaan ekonomi global. Tingginya harga impor akan memincu tingginya biaya input yang berasal dari impor dan pada akhirnya akan meningkatkan harga output pada pasar nasional. Tingginya harga dalam negeri juga akan berpengaruh terhadap persaingan pada pasar internasional. Penyebab inflasi juga disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah karena pada dasarnya nilai tukar rupiah menginterpretasikan harga dari uang selain dari tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar. 
Pengangguran di Indonesia masih terbilang tinggi walaupun setiap tahunnya mengalami penurunan. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi penyumbang utama masalah tersebut. Kualitas manusia di Indonesia juga masih rendah yang dibuktikan dengan masih tingginya jumlah masyarakat yang buta aksara juga menjadi faktor pendorong tingginya jumlah pengangguran di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau mempersulit pemerataan yang dicita-citakan oleh masyarakat pada umumnya. Keadaan infrastruktur yang tidak merata dan hanya tersentral di Pulau Jawa menyebabkan kualitas manusia di luar Pulau Jawa lebih rendah. Keadaan fasilitas baik fasilitas fisik dan pengajar yang masih belum merata pada setiap daerah menjadi faktor utama rendahnya kualitas masyarakat Indonesia. Kesenjangan penduduk Jawa dengan luar Jawa sangat tinggi. Masyarakat luar Jawa yang masih didominasi masyarakat suku pedalaman menyebabkan sulitnya menciptakan pemerataan pendidikan. Pihak pengajar yang minim pada daerah terpencil semakin mempersulit program pemerintah dalam mengembangkan dan memperluas pendidikan.
Dalam mengantisipasi kedua masalah besar ini, pemerintah telah mengeluarkan banyak kebijakan melalui kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter. Pemerintah melalui kebijakan fiskalnya harus berjalan selaras dengan otoritas moneter melalui kebijakan moneternya untuk menciptakan keadaan inflasi yang stabil. Kebijakan fiskal dan moneter harus saling mendukung mengingat permasalahan inflasi tidak disebabkan oleh faktor moneter saja, bahkan didominasi oleh faktor non moneter. Pada saat ini, inflasi di Indonesia tergolong stabil walaupun harga komoditas terbilang tinggi. Kestabilan inflasi ini disebabkan oleh turunnya harga minyak dunia yang menutupi tingginya harga komoditas. Pemerintah harus menyusun kebijakan untuk menghindari inflasi yang akan meningkat drastis jika harga minyak dunia kembali meningkat. Jika pemerintah tidak membuat suatu formula untuk mengantisipasi keadaan tersebut, inflasi yang akan terjadi akan tinggi dan membahayakan perekonomian Indonesia.  Apabila harga minyak dunia naik tentu saja akan berdampak pada harga BBM yang meningkat pula. Harga komoditas pangan yang sudah tinggi ditambah lagi harga BBM yang meningkat membuat inflasi akan meningkat tajam jauh dari sebelumnya. Hal ini akan berakibat pada berkurangnya kesejahteraan masyarakat.
Derasnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia juga memunculkan ancaman inflasi. Modal asing yang masuk akan menyebabkan nilai kurs rupiah terapresiasi. Menguatnya nilai tukar rupiah ini akan menggeliatkan perekonomian karena perusahaan yang bergantung pada bahan impor akan meningkatkan produksinya karena penurunan harga impor. Selanjutnya, penawaran akan meningkat dan output nasional akan meningkat pula. Tingginya penawaran akan menyebabkan penurunan harga dan meningkatkan persaingan pada pasar domestik maupun internasional. Walaupun derasnya aliran modal ini menimbulkan dampak positif terhadap produksi nasional, aliran modal asing ini juga menimbulkan ancaman karena sebagian besar aliran modal ini dialokasikan kepada portofolio seperti SUN dan SBI. Ancaman yang timbul adalah aliran modal yang masuk bersifat jangka pendek dan dapat ditarik kapan saja. Hal ini sangat berbahaya mengingat Indonesia masih menetapkan tingkat bunga yang tinggi. Tidak hanya harus mengembalikan modal yang besar, negara juga harus membayar bunga yang telah ditetapkan. Namun, hal ini telah diantisipasi oleh Bank Indonesia melalui kebijakan moneter ekspansifnya dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan dan giro wajib minimum. Hal ini untuk menghindari kestabilan keuangan yang terancam apabila pemilik modal secara tiba-tiba menarik kembali modal yang ditanamkannya di Indonesia.
Beberapa paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah memiliki dampak signifikan terhadap berkurangnya pengangguran di Indonesia melalui multiplier effect yang ditimbulkan. Kebijakan yang memiliki visi jangka panjang telah menciptakan sentimen positif terhadap perekonomian global. Kebijakan ekonomi seperti ini sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Diantaranya bertujuan untuk meningkatkan investasi asing terutama perusahaan-perusahaan multinasional untuk membuka pabrik di Indonesia. Selain untuk medatangkan perusahaan-perusahaan asing, perusahaan domestik juga dimanjakan dengan semakin mudahnya birokrasi dan banyaknya regulasi yang memanjakan pengusaha domestik. Usaha kecil juga dikembangkan oleh pemerintah melalui program-program kredit murah. Hal ini diharapkan dapat mengembangkan usaha kecil tersebut dan meningkatkan persaingan melalui perluasan pasar bahkan jika memungkinkan hingga ke pasar internasional.
Namun di satu sisi, kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah masih belum menyentuh sektor yang banyak menyerap tenaga kerja dan sebagian besar dilakukan oleh masyarakat Indonesia yaitu pertanian. Kebijakan yang mendukung pertanian masih minim. Masyarakat Indonesia sebagian besar berada pada sektor tersebut. Penggunaan sistem tradisional dalam mengelola pertanian membuat hasil pertanian Indonesia masih minim dibandingkan dengan negara lain yang produktivitasnya sudah tinggi. Bahkan untuk beberapa komoditas pangan saja, Indonesia masih mengandalkan hasil impor dikarenakan produksi dalam negeri yang masih belum memenuhi kebutuhan nasional. Alih teknologi sangat dibutuhkan dalam pengembangan pertanian di Indonesia. Kinerja yang efisien untuk mendapatkan hasil maksimal harus dikembangkan. Pemerintah melalui berbagai pihak harus saling mendukung untuk mengembangkan pertanian Indonesia. Hal ini ditujukan agar para petani Indonesia sejahtera mengingat para petani di Indonesia rata-rata masih berada dibawah garis kemiskinan.


0 komentar:

Posting Komentar