Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

BI akan evaluasi Kebijakan Makroprudential



BI akan evaluasi Kebijakan Makroprudential
Setelah pelaksanakan tiga bulan kebijakan makroprudential BI akan di evaluasi dengan mengkaji pengaruh unstruemen tersebut terhadap perekonomian di sisa waktu tahun ini, seperti yang tertulis di laman berita online ANTARA News. Pengevaluasian perlu dilakukan untuk menjaga alur atau tujuan awal di gunakanya kebijakan ini. Sebagus bagunya sebuah kebiakan tanpa pengawasa yang baik maka akan sama saja tidak memperbaiki masalah yang ada namun akan memperparah keadaan. Dengan pemeriksaan yang rutin dari variabel-variabel yang menjadi komponen utama maka semua akan terkontrol dan resiko-reisko yang timbul akan dapat segera terminalisir dan teratasi. Semakin intens pengawasan maka akan semakin baik dalan pelaksanaannya. Sebagai salah satu cara untuk memperbaiki perekonomian yang menyangkut orang banyak maka pengawasan harus dilakasanakan secara sistematis agar tidak menjadi permesalahan nantinya dan tidak memperburuk keadaan ekonomi karena perekonomian suatu negara sangat tergantung pada kebijakan apa yang di ambil dari negara tersebut, dan kebijakan harus sesuai dengan keadaan ekonomi yang terjadi apabila salah dalam menentukan kebijakan akan fatal akibatnya dan akan berdampak luas terhadap sektor-sektor lain.
Seperti yang kita ketahui bahwa kebijakan makroprudential ini berkembang setelah terjadinya krisis ekonomi yang dimana diyakini dapat mengatasi permasalahan ekonomi yang ada sekarang. Banyak negara asia tenggara khususnya yang menerapkan kebijakan makroprudential dan memberikan hasil yang dapat menyelesaikan masalah perekonomian yang ada. Perekonomian semakin berkembang membuat masalah yang ada juga berkembang tidak hanya kebijakan moneter ataupun fiskal kebijakan yang lain di butuhkan untuk menutupi kekurangan dari kebijakan moneter maupun fiskal. Tak terkecuali Indonesia juga menggunakan makroprudential untuk mengatasi permasalahan ekonomi, Bank Indonesia memberikan stimulus terhadap perekonomian ketika pelonggaran isntrumen moneter sulit dilakukan, mengingat masih derasnya tekanan perekonomian global. Kebijakan makroprudential merupakan segala upaya yang dulakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi. Semua instrumen dapat dimainkan dalam makroprudential tidak hanya dengan kebijakan moneter yang terbatas pada perbankan dan suku bunga saja, semua cela- cela dalam ekonomi dapaat di manfaatkan dan menjadi bahan untukpenunjang kebijkan makroprudential. Agus mengatakan bahwa pada akhir september 2015 ketika hendak membuat forecast sampai akhir tahun nanti, kita akan evaluasi. Agar tetap terkontrol maka harus adanya pengawasan yang dilakukan sehingga kebijakan dapat mengenai sasaran kebijakan dan memperbaiki perekonmian.
Hampir bersamaan dengan kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah mengenai kebijakan ekonomi untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, BI menyusul dengan mengeluarkan paket pelonggaran kebijakan makroprudensial. Pemerintah telah meluncurkan beberapa kebijakan ekonomi sebagai trobosan untuk memperbaiki ekonomi di indonesia. Paket kebijakan ini mencakup banyak hal yang menjadi permasalahan yang ada di Indonesia. Paket kebijakan yang baru diluncurkan adalah untuk mempernbaiki defisit trransaksi berjalan dimana Indonesia pada akhir tahun mengalami depresiasi rupiah yang tajam dimana rupiah hampir menyentuh angka 15ribu untuk satu dollar, akibat dari depresiasi nilai rupiah ini menyebabkan transaksi berjalan ikut defisit, karena impor membengakak akibat pelemahan dari nilai rupiah terhadap dollar. Agar rupiah tidak terus melemah maka cadangan devisa indonesia di gunakan untuk menutupi pelemahan yang terus terjadi. Dengan penerbitan paket kebijkan yang fokus terhadap transaksi neraca berjalan, BI menyusul dengan memperlonggar kebijakan makroprudential. Pelonggaran kebijakan makroprudential tersebut antara lain dengan merevisi ketentuan giro wajib minimum- rasio pinjaman terhadap simpanan (GWM-LDR), ketentuan LTV untuk kredit kepemelikan rumah (KPR), serta ketentuan membayar uang muka (down payment) untuk kredit kendaraan bermotor (KKB), dari pelonggaran kebijakan makroprudential dapat dilihat semua tertuju pada kemudahan untuk kredit, pelonggaran ini dilakukan untuk membuat perekonomian lebih bergairah dan menarik bagi investor, karena semua sektor dapat berjalan lancar sehingga menimbulkan sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia dan membuat investor datang untuk berinvestasi. Menurunkan uang muka (down payment) untuk kredit kendaraan bermotor pemerintah mendorong peningktan kredit di bidang otomotif. Ketika uang muka turun maka masyarakat akan berpikir untuk menkredit motor sehingga angka penjualan akan meningkat.
Pihak Bank Indonesia (BI) sendiri masih merinci mengenai evaluasi yang dilakukan terhadap kebijakan makroprudential. Bank Indonesia masih sulit unyuk mengubah sikap dari kebijakan moneter ketat yang masih dipertahankan, dari februaru 2015 bank indonesia mempertahankan kebijakan suku bungan acuan di 7,5 persen, meskipun tekanan pelonggaran suku bunga selaludatang datri kalangan dunia usaha. Untuk mengunbah tingkat suku bunga di perlukan perekonomian yang stabil dan untuk sekarang otoritas moneter yaitu Bank Indonesia tidak dapat menurunkan suku bunga acuan mengingat perekonomian di indonesia dalam keadaan tidak stabil. Indonesia merupakan negara yang tertinggi menerapkan suku bunga acuan tinggi dibandingkan negara di wilayah asia tenggara. Suku bunga acuan yang tinggi membuat investasi sulit berkembang sehingga pembangunan yang diharapkan belum bisa tercapai. Paket kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah meiliki proyeksi jangka panjang oleh karena itu untuk sekarang mungkin dampak dari kebijakan tersebut belum terlihat mungkin akan terlihat pada 5 tahun kedepan ataupun 10 tahun kedepan. Untuk kebijakan makroprudential yang diluncurkan oleh BI memiliki jangka waktu yang pendek karena langsung dapat terasa dampaknya. Pertimbangan sikap moneter indonesia dikarenakan masih harus memperhatikan perkembangan ekonomi dunia, khususnya amerika yang masih belum menentukan sikap untuk menentukan suku bunga, perekonomian tiongkok yang menurun, dan dampak devaluasi yuan, dengan perekonomian global yang kurang stabil BI akan punya sikap moneter agar stabilitas makro ekonomi kita terjaga. Untuk itu BI akan menjaga stance. Gubernur Bank Indonesia merespon positif sikap pemerintah yang mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk menghadapi tekanan-tekanan terhadap perekonomian domestik saat ini, dengan pemerintah mengeluarkan paket kebijakan membuat perekonomian di Indonesia akan stabil. Apabila kebijakan yang di keluarkan oleh masing-masing kementerian atau masing-masing fungsi terkadang tidak terbaca dengan lengkap. Selain paket kebijakan yang concern terhadap transaksi neraca berjalan paket kebijakan juga akan berisi tentang menopang sektor rill, sektor keuangan, dan juga sektor deregulasi birokrasi dengan tujuan untuk memperlancar aliran masuk dana ke dalam negeri, sehingga memberikan stimulus positif bagi stabilitas perekonomian.

0 komentar:

Posting Komentar