EFEKTIFKAH
KEBIJAKAN MONETER DALAM MENGENDALIKAN PEREKONOMIAN
DAERAH?
Kebijakan moneter
merupakan otoritas kebijakan yang dilaksanakan oleh bank sentral, dimana di
Indonesia otoritas tersebut dikuasai oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia
memiliki wewenang untuk mengendalikan variabel-variabel moneter demi
tercapainya stabilitas perekonomian makro. Adapun variabel-variabel moneter
yang dikendalikan oleh Bank Indonesia beragam. Mulai dari variabel yang
berpengaruh secara langsung terhadap perekonomian makro maupun variabel moneter
yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap perekonomian makro. Variabel
tersebut meliputi tingkat bunga, nilai tukar, tingkat harga, permintaan agregat
dan sebagainya. Variabel-variabel tersebut tentunya memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap perekonomian nasional. Karena tujuan utama dari otoritas
moneter adalah untuk mencapai tujuan nasional.
Saat ini, otoritas
moneter menjadi sebuah ototiras yang memiliki eksistensi tinggi dalam
mempengaruhi keadaan ekonomi suatu Negara. Dimana perekonomian suatu Negara
keadaannya baik atau buruk dipengaruhi oleh otoritas moneter. Seperti variabel
tingkat bunga misalnya, perubahan dari tingkat bunga yang ada di suatu Negara
akan berpengaruh pada segala sektor perekonomian yang ada di Negara tersebut.
Naik turunnya tingkat bunga yang dikendalikan oleh otoritas moneter bertujuan
untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Selain itu, naik
turunnya tingkat bunga juga akan mempengaruhi besarnya investasi yang akan ditanamkan
di suatu Negara, dimana berubahnya investasi akan berpengaruh pada berubahnya
pendapatan nasional dengan arah yang positif.
Variabel lain yang
dapat dikendalikan oleh bank sentral adalah tingkat inflasi, namun pengendalian
yang dilakukan tidak secara langsung namun melalui instrumen dengan menggunakan
varibel lain. Menurut Sadono Sukirno (2008) inflasi merupakan suatu proses
kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Sedangkan tingkat
inflasi adalah persentasi kenaikan harga-harga barang dalam periode waktu
tertentu. Dimana tingkat inflasi disini berakitan dengan tingkat harga. Jadi
bank sentral dalam pengendalian tingkat inflasi melalui instrument yaitu
tingkat harga. Tingkat harga bisa dikendalikan karena ada kebijakan yang mengendalikan
tingkat harga umum, dimana tingkat harga bisa dikendalikan dengan adanya harga
minimum dan harga maksimum. Dengan begitu lonjakan harga yang terjadi tidak
akan melebihi harga maksimum yang ditentukan.
Bank sentral
tentunya berperan penting dalam pengendalian stabilitas perekonomian nasional,
terbukti dari kebijakan-kebijakan moneter yang secara efektif mampu berperan
dalam mengembalikan stabilitas perekonomian nasional. Namun, di Indonesia ada
kebijakan ekonomi daerah atau biasa disebut dengan otonomi daerah dimana
masing-masing daerah memiliki kewenangan sendiri dalam menentukan perekonomian
daerahnya masing-masing. Dari sini timbul pertanyaan apakah perekonomian daerah
dalam kinerjanya menggunakan aplikasi dari otoritas moneter sebagai dasar dari
penentuan kinerja perekonomian daerah?
Seperti yang kita
tahu, dengan adanya otonomi daerah ini maka setiap daerah menysusun kebijakan
sendiri dalam mengatur dan mengendalikan perekonomian di daerahnya. Dimana masing-masing
daerah memiliki pola pengaturan kebijakan yang berbeda-beda. Pada dasarnya,
kebijakan otonomi daerah terkait dengan kebijakan fiskal dan juga kebijakan
pembangunan daerah. Dan sangat jarang sekali dalam otonomi daerah menyinggung
mengenai otoritas moneter serta pengaruhnya terhadap kinerja otonomi daerah.
Jadi dari sini perlu dikaji mengenai pengaruh otoritas moneter terhadap kinerja
otonomi daerah, apakah pengaruhnya bersifat positif atau justru sebaliknya.
Jika diamati, otoritas
moneter secara garis besar memiliki tujuan utama berupa tujuan nasional. Namun
sebenarnya, kinerja dari otoritas moneter juga berpengaruh terhadap segala
sektro perekonomian termasuk di dalamnya otonomi daerah. Keterpengaruhan
otoritas moneter terhadap segala sektor perekonomian terlihat dari perekonomian
mikro yang kinerjanya dipengaruhi oleh ekonomi moneter. Contohnya seperti
sebuah perusahaan yang menganalisis siklus pendapatannya menggunakan analisis
hubungan produksi dengan ekonomi. Dimana pada analisis tersebut dijelaskan
bahwa ketika kita ingin mengetahui siklus pendapatan dari sebuah perusahaan,
maka siklus yang pendapatan tersebut selain mengkaji laba yang diperoleh juga
mengkaitkannya dengan keadaan ekonomi nasional berupa perekonomian makro yang
sedang terjadi. Ketika stabilitas makro sedang berada pada kondisi yang tidak
stabil, maka akan berpengaruh terhadap siklus pendapatan perusahaan yang ada.
Dan sebaliknya, jika perekonomian nasional sedang mengalami masa yang stabil
maka akan berpengaruh positif terhadap siklus pendapatan persuhaan. Dari situ
terbukti bahwa otoritas moneter memiliki pengaruh terhadap segala sektor
perekonomian termasuk perekonomian secara mikro.
Bisa dikatakan
bahwa otoritas moneter merupakan sebuah hal yang vital dalam perekonomian suatu
Negara. Otoritas moneter tidak bisa dinggap remeh keberadaannya, karena jantung
dari perekonomian suatu Negara ada pada otoritas moneter itu sendiri. Kita
ambil contoh tingkat bunga, dimana bank sentral memiliki hak dalam pengendalian
nilai tinglkat bunga. Tingkat bunga ini tidak hanya berpengaruh pada pendapatan
agregat saja melalui naik atau turunnya investasi. Namun, banyak sektor
perekonomian yang kinerjanya dipengaruhi oleh naik atau turunnya tingkat bunga
itu sendiri. Segala kegiatan perekomian pun juga terkena dampak dari naik atau
turunnya tingkat bunga. Kecenderungan seseorang dalam berkonsumsi atau menabung
juga dipengaruhi oleh tingkat bunga yang ada, dimana ketika tingkat bunga
tinggi seseorang akan cenderung menabungkan uangnya di bank daripada
berkonsumsi. Dan sebaliknya, jika tingkat bunga turun sesorang akan cenderung
tidak menabung uangnya di bank dan akan menaikkan jumlah konsumsinya. Hal
tersebut juga terkait dengan jumlah uang yang beredar di masyarakat, dimana
jumlah uang beredar harus dikendalikan. Hal tersebut dikarenakan jika jumlah
uang beredar di masyarakat terlalu banyak maka akan menyebabkan nilai riil dari
uang tersebut akan cenderung turun akibatnya akan terjadi lonjakan inflasi
karena harga-harga barang umum akan cenderung naik ketika jumlah uang yang
beredar di masyarakat terlalu banyak. Sebaliknya, jika jumlah uang beredar di
masyarakat terlalu sedikit maka akan menyebabkan disekulibrium pada pasar uang
yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan uang masyarakat.
Dari ulasan
beberapa contoh mengenai pengaruh otoritas moneter terhadap berbagau sektor
perekonomian tentunya cukup menggambarkan betapa pentingnya otoritas moneter
dalam pengendalian segala sektor perekonomian di suatu Negara. Hal tersebut
juga dapat dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi
daerah sendiri memiliki beberapa tujuan tertentu yaitu untuk meningkatkan
pelayanan yang ada di suatu daerah serta membuat suatu daerah dapat memenuhi
kebutuhan sesuai dengan porsinya. Karena yang kita tahu, jika perekonomian di
suatu Negara bersifat sentralisasi memiliki kelemahan dimana pembangunan
infrastruktur tidak merata dan setiap daerah tidak dapat merasakan pembangunan
yang merata sesuai porsi mengingat setiap daerah memiliki porsi kebutuhan
pembangunan yang berbeda. Maka desentralisasi memiliki tujuan utama yaitu
mencapai pembangunan yang merata pada setiap daerah yang ada di Indonesia tidak
terkecuali daerah terpencil.
Otonomi daerah
berfokus dengan anggaran daerah yaitu berupa pemasukan dan pengeluaran daerah.
Dalam menanggapi fokus dari otonomi daerah ini khususnya di sisi pengeluaran,
karena otonomi daerah lebih terfokus kepada pengeluaran yang produktif, maka otoritas
moneter juga berpengaruh dalam pengeluaran daerah. Karena pengeluaran daerah
berupa pembangunan infrastruktur yang bersifat investasi, maka tentu saja
investasi tersebut berkaitan erat dengan tingkat bunga yang sudah dijelaskan
sebelumnya. Sehingga investasi yang ada pada setiap daerah tentunya tidak bisa
terlepas dari otoritas moneter yang ada. Dimana dalam melakukan pembangunan
infrastruktur yang produktif, perangkat daerah juga harus memperhatikan apakah
pembangunan tersebut akan menghasilkan feedback
yang positif di masa yang akan dating. Hal tersebut bisa ditinjau dari
peramalan perekonomian di masa depan dengan melihat kecenderungan perekonomain
yang ada pada periode-periode sebelumnya.
Selain itu, segala
jenis kegiatan yang ada pada otonomi daerah sebenarnya juga harus memperhatikan
otoritas moneter yang ada karena sejatinya setiap kegiatan otonomi daerah
merupakan kegiatan perekonomian yang tidak bisa terlepas pengaruhnya dari
kebijakan-kebiajakn moneter yang ada.






0 komentar:
Posting Komentar