DOLLAR vs YUAN
Wacana
mata uang Tiongkok renmibi masuk dalam daftar special drawing right
(SDR) bersama pounstreling, yen, dollar. Euro
akan segera di umumkan oleh IMF pada oktober 2016. Pertanyaanya apakah
dapat menggeser USD dalam perekonomian global? Pertama kita bahas ekonomi kedua
negara yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat.
Perkembangan
Ekonomi China
China
dengan jumlah penduduk terpadat di dunia no 1, dari hal ini bahwa China termasuk
dalam salah satu raksasa ekonomi dunia. China yang dikenal memiliki kekuatan
ekonomi domestik yang sangat kuat dengan sistem perekonomian mereka yang
tertutup. Dimana perekonomian china yang tertutup berarti jika kita asumsikan
dalam teori ekonomi milik Keynes yaitu perekonomian 3 sektor yaitu Y = C + I +
G melalui 3 variabel makro ini ekonomi China ditompang. Bayangkan tanpa
melakukan perdagangan dengan negara lain saja China sudah mampu bertahan dan
bahkan berjaya dalam sisi Ekonomi. Apalagi sekarang semenjak tahun 1979 sejak dipimpin Deng Xiaoping
terjadi beragam reformasi dan kemudahan bagi investor luar negeri untuk
menanamkan modalnya di China. Berarti rakyat China pun
diperbolehkan menjalin hubungan dengan perusahaan di luar China, maka akan
terjadi ekspansi besar - besarkan yang akan dilakukan oleh China dimana tidak
hanya dalam hal kerjasama , namun semua produk China, modal, tenaga kerja akan
membanjiri negara – negara lain.
Apakah
produk China diminati? Jawabannya adalah iya, produk china diminati oleh negara
mitra dagangnya khususnya negara Indonesia karena China mampu membuat produk
yang murah dengan kemiripan hampir 100 persen bukan hanya dalam hal tampilan
namun kinerja produknya pun tidak jauh beda dengan produk yang sama dengan
harga yang lebih mahal.
Dalam
tulisaanya Haiyyu Darman Moenir (2010), dengan banyaknya produk China
membanjiri negara- negara lain menyebabkan China sebagai raksasa ekonomi dunia.
Terlihat pada tahun 2004 PDB senilai 1.3561.5 miliar RMB (Rp 1650.7 milyar),
dan menjadikan China sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke 6, bahkan pada tahun 2004 tingkat pertumbuhan China sebesar 9.5
persen dan menjadikan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat
didunia. Bahkan saat perekonomian dunia terguncang karena mengalami perlambatan
pada tahun 2000 – 2004. China dapat menaikkan pertumbuhan ekonominya secara
tipis pada tahun 2003 sebesar 7,3 persen, dan tidak diragukan lagi China
sebagai raksasa ekonomi dunia.
Mungkin
mengapa hal ini bisa terjadi. Kembali pada penjelasan awal tadi bahwa sejak
tahun 1979 terjadi perombakan dalam ekonomi China. Terjadi reformasi besar –
besaran dan kebijakan yang terbuka dalam sisi ekonomi. Kebijakan ini membuat China terbuka dengan
globalisasi ekonomi dimana tidak ada batas negara ataupun wilayah dalam ekonomi
dan dapat mewujudkan kebijakan ekonomi yang damai. Kebijakan reformasi ini
diperlukan konsistensi yang baik. kebijakan pembukaan diri China dimulai dengan
menghapus hambatan dan kendala barang ataupun modal yang masuk ke China ataupun
yang akan keluar dari China dan melakukan liberalisme produksi dimana hal ini
dapat memajukan pembangunan di China. Cara ini sanagat efektif untuk memajukan
pertumbuhan ekonomi di China. Langkah kedua yang dilakukan oleh China adalah
melalui diplomasi damai dimana China gencar untuk melakukan perjanjian
kerjasama dengan negara lain dengan tujuan meningkatkan perekonomian mereka
sendri dan meningkatkan eksisitensi China dalam globalisasi ekonomi. contoh dari
langakh diplomasi perdamaian adalah dengan masuknya China sebagai anggota AFTA
(Asean Free Trade Area), AFTA sendiri adalah bentuk kerjasama negara- negara
anggota ASEAN yang menyepakati adanya kawasan bebas perdagangan, dimana
berusaha untuk meningkatkan daya saing kawasan regional ASEAN dan menjadi basis
produksi dunia dan menjadi pasar bagi 500 juta penduduknya. Karena jumlah
total penduduk ASEAN yang banyak maka
China menganggap Asean sebagai pasar yang potensial. Pada tahun 2003 China resmi menjadi anggota
AFTA.
Namun
perekonomian China juga tidak luput dari keterpurukan. Tiga tahun terakhir
pertumbuhan Cina mengalami penurunan yang biasanya lebih dari 8 persen menjadi
dibawahnya. Pada tahun 2013 pertumbuhan
ekonomi China berkirasar 7,7 persen hal ini menurun di bandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi China pada semester terakhir tahun 2011 sebesar 9,2 persen
(official Chinese goverment data). Berlanjut pada tahun kuartal ke IV pada
tahun 2012 pertumbuhan China hampir mendekati 8 persen dan sampai tahun 2015
pertumbuhan ekonomi China tidak menyentuh angka 8 persen, ditunjuknya pada
gambar tabel dibawah ini
Pada
bulan januari tahun 2015 keanjlokan ekspor China akibat permintaan berkurang
dari negara- negara mitra dagangnya yang berkisar 8,3 persen (kompasprint.com),
persentase pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2015 yang berkisar 6,3 persen
(Harian Nasional) ditambah pelemahan mata uang yuan terhadap dollar AS. Maka
pemerintah China akan memutuskan akan mendevaluasi mata uangnya, yaitu dengan
memotong nilai mata uang negaranya. Dan alasan lainnya adalah karena Tiongkok /
China menginginkan mata uangnya yaitu Renmibi/Yuan termasuk dalam mata uang
yang diperhitungkan masuk dalam hard currency bersama dengan dollar AS,
poundstreling Inggris, yen Jepang. Akibatnya terjadi shockwave pada pasar
keuangan yang dikutip dari kompasprint.com, Indeks Dow Jones tergerus 1,22
persen menjadi 17.402 dan indeks S&P 500 turun hampir 1 persen menjadi
2.084, sedangkan indeks DAX Jerman anjlok 2,7 persen dan akibatnya pada
Indonesia terjadi pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan
merosotnya mata uang Indonesia. Akhirnya China merubah arah kebijkan ekonominya
yaitu dari investasi dan ekspor beralih pada ekspansi yang bersumber dari
belanja konsumen .
Amerika
Amerika
Serikat adalah raksasa ekonomi dunia yaitu negara adi daya. Yang menganut
sistem liberalisme ekonomi yang mana semua orang berhak masuk ke pasar,
melakukan ekpansi di pasar jadi keberlanjutan mereka dalam pasar tergantung
pasar kemampuan mereka sendiri, yang dimaksud mereka adalah individu dan
perusahaan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, perusahaan Amerika sangat
lelusaan melakukan kegiataannya daripada negara Eropa dan Asia, mereka berhak
mengekpansi pasar sesuka mereka yaitu seperti keleluasaan dalam menentukan
kebijakan terkait tenaga kerja dan pengembangan produk. Seperti karakteristik
pasar monopoli, kebebasan keluar masuk pasar yang diterapkan Amerika dengan
sedikit kontrol dari negara menyebabkan banyak perusahaan besar yang mengusai
pasar. Maka perusahaan yang tidak dapat bersaing akan tumbang.
Karena
keperkasaan Amerika apabila ekonomi mereka sedang “batuk – batuk” maka yang
khawatir bukan hanya warga dan otoritas moneter Amerika namun hampir seluruh
negara di dunia akan melakukan kebijakan – kebiajakan yang dapat mencegah imbas
dari ekonomi Amerika Serikat. Maka secara langsung kebijakan bank sentral
Amerika Serikat (The Fed) dalam menentukan kebijakan sangat berimbas pada
emerging economies. Bank – bank sentral emerging economies dalam menentukan
kebijakannya mengamati kebijakan apa yang dilakukan The Fed dalam perekonomian.
Dalam tulisannya Teguh Sihono (2009)
Amerika Serikat menyumbang sebesar 20 persen – 30 persen perputaran
ekonomi dunia, dan PDB Amerika Serika pada tahun 2007 berkisar 20 persen dari
PDB dunia yang sebesar 13.8 trillion dollar AS. Kekuaatan utama dalam
perekonomian Amerika Serikat pada tingkat daya beli konsumen yang menyumbang
7.3 persen dalam aktivitas ekonomi (wisma:2009).
Keperkasaan ekonomi Amerika tumbang pada saat krisis
tahun 2008. Gdp yang tinggi pada tahun 2007 tidak berarti apa –apa. Akibat
terjadi krisis kredit pasar subprime mortage senilai US $ 1,8 triliun
(Teguh:2009). Dalam tulisanya Juan Feju
menjelaskan yang dimaksud krisis kredit mortage berawal dari bank tertua yang ad di AS yaitu Bank
Lehman Brothers yang meminjam uang kepada The Fed dengan sangat agresif melebihi bank lainnya karena suku bunga yang
ditetapkan sangat kecil yaitu 1 persen, karena menginginkan pengembalian yang
maksimal maka bank tersebut memberikan pinjam dalam bentuk KPR secara tergesa –
gesa dan mendobrak semua regulasi yang harus dilewati oleh peminjam . Akibatnya
harga properti terjun bebas, hal ini sangat tidak diprediksi para investor
karena mereka menganggap nilai investasi properti tidak akan tergerus. Dalam tulisannya
Teguh Sihono menjelaskan, krisis ini
menjatuhkan harga saham global dan berdampak pada kondisi ekonomi Eropa,
melemahkan dollar Amerika terhadap Euro sebesar US $ 1,4967.
Teguh
Sihono (2009) juga menjelaskan, menurut Merrill Lynch dan Goldman Sachs,
Amerika Serikat telah memasuki bahaya resesi, dengan 5 indikator (1)
keuangan rapuh, (2) pasar tetap lemah, (3) ketidakjelasan bank-bank besar
terkena dampak krisis kredit, (4) tingginya harga minyak, dan (5) lemahnya daya
beli konsumen. Akibatnya Nilai PDB menyusut hingga kuartal ke tiga 2009
menyebabkan terjadinya kondisi krisis terdalam dan terlama sejak krisis The
Great Depression, untuk mengatasi hal ini kongres Amerika mengucurkan dana
sebesar guna membeli ekuitas bank – bank dan perusahaan senilai
700 milyar dan pada Januari 2009 presiden Obama mensetujui pengucuran dana
stimulus fiskal sebesar 787 milyar USD guna tambahan belanja negara untuk
pemulihan ekonomi, pemotongan pajak bagi perusahaan.
Dikutip dari
Okezone.com, Bahwa diprediksi 3 bulan
pertama tahun 2015 ekonomi Amerika serikat menurun akibat peningkatan upah
buruh yang tidak naik secara signifikan dan memburuknya ekonomi negara di dunia
yang berimbas pada ekonomi Amerika, upah buruh yang hanya naik 2 persen jauh
dari prediksi The Fed untuk memperbaiki ekonomi Amerika Serikat. Dan imbas
terpuruknya negara – negara di Dunia. Kita ketahui ekonomi China pada tahun
2015 melambat yang mengakibatkan China harus melakukan devaluasi pada mata
uangnya yang mengakibatkan terguncangnya pelaku pasar seperti yang dikutip dari
Kompasprint.com, Indeks Dow Jones tergerus 1,22 persen
menjadi 17.402 dan indeks S&P 500 turun hampir 1 persen menjadi 2.084,
sedangkan indeks DAX Jerman anjlok 2,7 persen, dan di Indonesia IHSG merosot
dan nilai tukar melemah. Dan terjadinya deflasi di jepang, dan krisis ekonomi
Yunani yang masih terjadi. Dikutip dari okezone.com, menurut ekonom dari
Universitas Johns Hopkins Laurence Ball berpendapat dilema antara penguatan
dolar, prospek konsumen yang melamban, kenaikan suku bunga The Fed.
Akhirnya terjadi ketidak pastian
khususnya pada kenaikan suku bunga The fed.
Dalam tulisannya Teguh Hidayat (2015), Pada tahun
2015 terjadi banyak kesimpang siuran dalam ekonomi global tentang isu bahwa The
Fed ingin menaiikan suku bunga acunnya karena posisi FED rate yang sudah mentok
0,25 persen hal ini dituturkan sendri oleh gubernur The Fed Jenet Yellen.
Amerika serikat mempertahankan suku bunganya 0,25 persen guna mendorong
meningkatnya sektor riil dan berimbas
pada pertumbuhan nasional. Kesimpang siuran ini membuat kurs rupiah terhadap
dollar menurun, karena bank sentral bingung menentukan patokan BI rate karena
ketidakpastian, apakah The Fed ini menunda kenaikan atau menaikkan suku bunga
mereka.
Mengapa The Fed tidak membuat kepastian menaiikan
suku bunganya karena mereka menganggap persentase inflasi ( minus 0, 1 persen)
dan pertumbuhan ekonomi masih baik (petumbuhan 2,4 persen). Namun jika mereka
mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang lebih dari itu maka tidak mungkin waktu
dekat atau kapan pun The Fed ini menaikkan suku bunganya (teguh:2015). Akhirnya
menaikan suku bunganya 25 basis point Desember 2015
(kompas prin.com). salah satu penyebabnya adalah angka pekerjaan naik 271.000
dan jumlah pengangguran menurun di angka 5% (sindonews)
special drawing right
(SDR)
yakni
aset cadangan internasional yang buat oleh IMF pada tahun 1969. Dimana IMF
dapat menyimpan asetnya dalam SDR yang nanti akan dikonversikan ke dalam 4 mata
uang paling penting di dunia yaitu Yen, Pounstreling, Euro, USD. Nilai SDR
sangat dipengaruhi oleh USD Amerika dengan persentase 41.9% terhadap nilai SDR,
Euro 37.4%, Pound Sterling 11.3%, dan Yen 9.4%, pada review tahun 2010. Mengapa
nilai persentase Amerika Serikat lebih banyak daripada negara lain? dapat
diketahui bahwa hal tersebut cerminan permintaan dari anggota IMF. Dan negara –
negara anggota IMF berhak menyimpan asetnya kedalam 4 mata uang ini, yang
berhak memegang SDR ini hanya bank sentral masing – masing negara apabila bank
sentral masing – masing negara ini menyalurkan kepada bank umum maka harus
dikonversikan kesalah - satu dari kempat mata uang (teguh:2015). Tujuan
pembentukan SDR adalah sebagai alat pembanyaran atau transaksi perdagangan
antar anggota IMF maka dinilai dengan SDR. Dan sebagai komponen cadangan devisa
yang akan dialokasikan pada anggotanya (teguh :2015).
IMF
secara rutin mengevaluasi mata uang yang masuk dalam keranjang mata uang, saat
Yen Jepang, Poundstreling Inggris masuk
dalam SDR. China mempertanyakan mengapa Renmibi tidak masuk dalam SDR. Karena
ekonomi China termasuk raksasa ekonomi daripada jepang dan Inggris. Dikutip dari kompasprint.com, bahwa IMF
rencana akan mengumumkan masuknya yuan / renmibi pada SDR pada selasa (4/8) namun ditunda 1 oktober 2016. Alasanya China
harus lebih meliberalisasikan neraca modalnya. Karena IMF menyerukan pembebasan
pergerakan yuan, arus keluar masuk modal asing dan suku bunga. Jadi Tiongkok
harus melepas mata uangnya ke pasar tanpa ada campur tangan dari pemerintah,
membuka diri lagi akan investasi asing yang masuk, dan pergerakan suku bunga
yang bebas. Padahal yang kita ketahui dari awal bahwa Tiongkok sudah membuka
diri dengan ekonomi global, perdagangan mereka pun lebih luas, semenjak
terjadinya reformasi dan kebijakan keterbukaan pada tahun 1979. Pada tahun 1980
an China membuat 500 undang – undang yang menjamin keberlangsungan investor
asing yang berinvestasi di China, pada tahun 2007 terdapat 591.000 perusahaan yang didanai asing di China, dan
perusahaan 450 multinasioal top masuk ke China (Fransisca:2010). Bahkan Tiongkok sudah masuk dalam AFTA (Asean
Free Trade Area), WTO (World Trade Organization), (APEC) Asia-Pasific Economic
Cooperation, Shanghai coperation Organisation
(SHO), G 20, dan OPEC (Fransisca:2010), perdagangan Tiongkok menjadi semakin
liberal dan mengeekspansi besar – besaran pasar dunia.
Dikutip
dari kompasprint.com, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Australia, dan Afrika
hingga Asia mendesak Yuan segera dimasukkan ke SDR. Kini tinggal AS bersama
Jepang yang masih enggan menerima yuan masuk ke dalam SDR. Amerika serikat menginginkan liberalisme yang
lebih luas lagi. Tiongkok enggang untuk melepas mata uangnya karena mereka
beranggapan intervensi dari pemerintah diperlukan. Apabila uang mereka dicetak
secara besar – besaran. Dengan membanjirnya uang, maka uang mereka akan digunakan
untuk spekulatif dan berdampak pada mata uang mereka yuan / renmibi dan
stabilitas ekonomi mereka.
Namun
AS terus saja mendesak Tiongkok untuk liberalisme. Dikutip dari
kompasprint.com, bahwa diduga para spekulan AS mendesak pemerintah untuk
membuat pasar keuangan China / Tiongkok bisa terbuka secara lebar karena
keuntungan besar yang akan didapatkannya. Kita ketahui bahwa China dengan
pertumbuhan ekonomi yang signifikan walaupun mengalami penurunan pertumbuhan
ekonomi beberapa tahun terakhir, telah menjadikan Tiongkok sebagai raksasa
ekonomi dunia.
Apakah
mungkin yuan mendepak dollar?
SDR bukanlah mata uang dan mata uang yang
termasuk ADR tidak diperdagangkan. SDR adalah sebuah keranjang mata uang yang
terdiri dari Dollar, Poundstreling, Yen, Euro dan dalam waktu dekat Yuan. Jadi
begini apabila suatu negara ingin membeli komoditas luar negeri mereka harus
menyiapkan ke empat mata uang tersebut, mana yang dipilih sebagai mata uang
pertukaran tergantung kesepakatan transkasi mereka sendiri. Nah IMF menyediakan
SDR untuk menukar mata uang mereka dengan ke empat mata uang tersebut. Pada
masa sekarang Amerika masih mendominasi nilai SDR dengan persentase 49, 1
persen maka permintaan akan dollar lebih banyak daripada yang lain. Jika Yuan
ingin mendominasi pertukaran uang didunia maka Yuan harus mengalahkan Dollar
yang sudah menjadi cadangan devisa setiap negara, belum lagi terdapat Yen, Poundstreling
dan euro. Apalagi pelambatan ekonomi China yang paling parah dalam sejarah
dimana pertumbuhan ekonomi China tahun 2015 hanya 6,3 persen.
Mungkin
kekhawatiran Amerika serikat adalah ekspansi besar – besar China dalam
perdagangan membuat China memiliki banyak mitra dagang ditambah dengan masuknya
China ke WTO , AFTA, APEC, OPEC, SHO membuat perdagangan China meluas dan
melebar. Bila banyak yang melakukan perdagangan dengan China dan China sudah
masuk dalam SDR maka mata uang transakasi yang paling mungkin digunakan bukan
dollar lagi tapi Renmibi / yuan. Maka akan banyak negara yang akan menukarkan
asetnya yang dalam mata uang dollar menjadi Yuan. Maka yang terjadi nilai mata
uang Amerika serikat akan turun. Hal ini semakin membuat resah Amerika Serikat,
dapat diketahui dari tulisan milik Wisman Ubayaji (2009) China merupakan mitra
dagang AS, tanpa Amerika serika pertumbuhan ekonomi China tidak akan terwujud.
Karena China mengekspansi Amerika serikat dengan komoditas – komoditasnya. Karena pada sisi China mereka selalu mengalami
surplus namun Amerika serikat mengalami defisit.
Namun
menurut saya Yuan China sulit untuk
mendominasi dollar Amerika serikat, alasan pertama rasio cadangan devisa global
masih didominasi dollar dengan persentase 64 (sumber:EOWI). Kedua China harus
mau mata uangnya diliberalisme atau diperdagangkan secara bebas, tanpa campur
tangan pemerintah. Ketiga kekuatan Amerika masih besar dalam ekonomi dunia
meskipun beberapa kali mengalami krisis, namun Amerika mampu bangkit.
Jadi
yang terpenting bagi China adalah memperbaiki dahulu ekonominya yang anjlok
pada tahun 2015. Agar mereka dapat masuk dalam SDR.






0 komentar:
Posting Komentar