Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

DOLLAR VS YUAN



DOLLAR vs YUAN

Wacana mata uang Tiongkok renmibi masuk dalam daftar special drawing right (SDR) bersama pounstreling, yen, dollar. Euro  akan segera di umumkan oleh IMF pada oktober 2016. Pertanyaanya apakah dapat menggeser USD dalam perekonomian global? Pertama kita bahas ekonomi kedua negara yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat.  
Perkembangan Ekonomi China
China dengan jumlah penduduk terpadat di dunia no 1, dari hal ini bahwa China termasuk dalam salah satu raksasa ekonomi dunia. China yang dikenal memiliki kekuatan ekonomi domestik yang sangat kuat dengan sistem perekonomian mereka yang tertutup. Dimana perekonomian china yang tertutup berarti jika kita asumsikan dalam teori ekonomi milik Keynes yaitu perekonomian 3 sektor yaitu Y = C + I + G melalui 3 variabel makro ini ekonomi China ditompang. Bayangkan tanpa melakukan perdagangan dengan negara lain saja China sudah mampu bertahan dan bahkan berjaya dalam sisi Ekonomi. Apalagi sekarang semenjak tahun 1979 sejak dipimpin Deng Xiaoping terjadi beragam reformasi dan kemudahan bagi investor luar negeri untuk menanamkan modalnya di China. Berarti rakyat China pun diperbolehkan menjalin hubungan dengan perusahaan di luar China, maka akan terjadi ekspansi besar - besarkan yang akan dilakukan oleh China dimana tidak hanya dalam hal kerjasama , namun semua produk China, modal, tenaga kerja akan membanjiri negara – negara lain.
Apakah produk China diminati? Jawabannya adalah iya, produk china diminati oleh negara mitra dagangnya khususnya negara Indonesia karena China mampu membuat produk yang murah dengan kemiripan hampir 100 persen bukan hanya dalam hal tampilan namun kinerja produknya pun tidak jauh beda dengan produk yang sama dengan harga yang lebih mahal.
Dalam tulisaanya Haiyyu Darman Moenir (2010), dengan banyaknya produk China membanjiri negara- negara lain menyebabkan China sebagai raksasa ekonomi dunia. Terlihat pada tahun 2004 PDB senilai 1.3561.5 miliar RMB (Rp 1650.7 milyar), dan menjadikan China sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke  6, bahkan pada tahun  2004 tingkat pertumbuhan China sebesar 9.5 persen dan menjadikan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat didunia. Bahkan saat perekonomian dunia terguncang karena mengalami perlambatan pada tahun 2000 – 2004. China dapat menaikkan pertumbuhan ekonominya secara tipis pada tahun 2003 sebesar 7,3 persen, dan tidak diragukan lagi China sebagai raksasa ekonomi dunia.
Mungkin mengapa hal ini bisa terjadi. Kembali pada penjelasan awal tadi bahwa sejak tahun 1979 terjadi perombakan dalam ekonomi China. Terjadi reformasi besar – besaran dan kebijakan yang terbuka dalam sisi ekonomi.  Kebijakan ini membuat China terbuka dengan globalisasi ekonomi dimana tidak ada batas negara ataupun wilayah dalam ekonomi dan dapat mewujudkan kebijakan ekonomi yang damai. Kebijakan reformasi ini diperlukan konsistensi yang baik. kebijakan pembukaan diri China dimulai dengan menghapus hambatan dan kendala barang ataupun modal yang masuk ke China ataupun yang akan keluar dari China dan melakukan liberalisme produksi dimana hal ini dapat memajukan pembangunan di China. Cara ini sanagat efektif untuk memajukan pertumbuhan ekonomi di China. Langkah kedua yang dilakukan oleh China adalah melalui diplomasi damai dimana China gencar untuk melakukan perjanjian kerjasama dengan negara lain dengan tujuan meningkatkan perekonomian mereka sendri dan meningkatkan eksisitensi China dalam globalisasi ekonomi. contoh dari langakh diplomasi perdamaian adalah dengan masuknya China sebagai anggota AFTA (Asean Free Trade Area), AFTA sendiri adalah bentuk kerjasama negara- negara anggota ASEAN yang menyepakati adanya kawasan bebas perdagangan, dimana berusaha untuk meningkatkan daya saing kawasan regional ASEAN dan menjadi basis produksi dunia dan menjadi pasar bagi 500 juta penduduknya. Karena jumlah total  penduduk ASEAN yang banyak maka China menganggap Asean sebagai pasar yang potensial.  Pada tahun 2003 China resmi menjadi anggota AFTA.
Namun perekonomian China juga tidak luput dari keterpurukan. Tiga tahun terakhir pertumbuhan Cina mengalami penurunan yang biasanya lebih dari 8 persen menjadi dibawahnya.  Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi China berkirasar 7,7 persen hal ini menurun di bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi China pada semester terakhir tahun 2011 sebesar 9,2 persen (official Chinese goverment data). Berlanjut pada tahun kuartal ke IV pada tahun 2012 pertumbuhan China hampir mendekati 8 persen dan sampai tahun 2015 pertumbuhan ekonomi China tidak menyentuh angka 8 persen, ditunjuknya pada gambar tabel dibawah ini
Pada bulan januari tahun 2015 keanjlokan ekspor China akibat permintaan berkurang dari negara- negara mitra dagangnya yang berkisar 8,3 persen (kompasprint.com), persentase pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2015 yang berkisar 6,3 persen (Harian Nasional) ditambah pelemahan mata uang yuan terhadap dollar AS. Maka pemerintah China akan memutuskan akan mendevaluasi mata uangnya, yaitu dengan memotong nilai mata uang negaranya. Dan alasan lainnya adalah karena Tiongkok / China menginginkan mata uangnya yaitu Renmibi/Yuan termasuk dalam mata uang yang diperhitungkan masuk dalam hard currency bersama dengan dollar AS, poundstreling Inggris, yen Jepang. Akibatnya terjadi shockwave pada pasar keuangan yang dikutip dari kompasprint.com, Indeks Dow Jones tergerus 1,22 persen menjadi 17.402 dan indeks S&P 500 turun hampir 1 persen menjadi 2.084, sedangkan indeks DAX Jerman anjlok 2,7 persen dan akibatnya pada Indonesia terjadi pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan merosotnya mata uang Indonesia. Akhirnya China merubah arah kebijkan ekonominya yaitu dari investasi dan ekspor beralih pada ekspansi yang bersumber dari belanja konsumen .
Amerika
Amerika Serikat adalah raksasa ekonomi dunia yaitu negara adi daya. Yang menganut sistem liberalisme ekonomi yang mana semua orang berhak masuk ke pasar, melakukan ekpansi di pasar jadi keberlanjutan mereka dalam pasar tergantung pasar kemampuan mereka sendiri, yang dimaksud mereka adalah individu dan perusahaan. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, perusahaan Amerika sangat lelusaan melakukan kegiataannya daripada negara Eropa dan Asia, mereka berhak mengekpansi pasar sesuka mereka yaitu seperti keleluasaan dalam menentukan kebijakan terkait tenaga kerja dan  pengembangan produk. Seperti karakteristik pasar monopoli, kebebasan keluar masuk pasar yang diterapkan Amerika dengan sedikit kontrol dari negara menyebabkan banyak perusahaan besar yang mengusai pasar. Maka perusahaan yang tidak dapat bersaing akan tumbang.
Karena keperkasaan Amerika apabila ekonomi mereka sedang “batuk – batuk” maka yang khawatir bukan hanya warga dan otoritas moneter Amerika namun hampir seluruh negara di dunia akan melakukan kebijakan – kebiajakan yang dapat mencegah imbas dari ekonomi Amerika Serikat. Maka secara langsung kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam menentukan kebijakan sangat berimbas pada emerging economies. Bank – bank sentral emerging economies dalam menentukan kebijakannya mengamati kebijakan apa yang dilakukan The Fed dalam perekonomian. Dalam tulisannya Teguh Sihono (2009)  Amerika Serikat menyumbang sebesar 20 persen – 30 persen perputaran ekonomi dunia, dan PDB Amerika Serika pada tahun 2007 berkisar 20 persen dari PDB dunia yang sebesar 13.8 trillion dollar AS. Kekuaatan utama dalam perekonomian Amerika Serikat pada tingkat daya beli konsumen yang menyumbang 7.3 persen dalam aktivitas ekonomi (wisma:2009).  
Keperkasaan ekonomi Amerika tumbang pada saat krisis tahun 2008. Gdp yang tinggi pada tahun 2007 tidak berarti apa –apa. Akibat terjadi krisis kredit pasar subprime mortage senilai US $ 1,8 triliun (Teguh:2009).  Dalam tulisanya Juan Feju menjelaskan yang dimaksud krisis kredit mortage berawal  dari bank tertua yang ad di AS yaitu Bank Lehman Brothers yang meminjam uang kepada The Fed dengan sangat agresif  melebihi bank lainnya karena suku bunga yang ditetapkan sangat kecil yaitu 1 persen, karena menginginkan pengembalian yang maksimal maka bank tersebut memberikan pinjam dalam bentuk KPR secara tergesa – gesa dan mendobrak semua regulasi yang harus dilewati oleh peminjam . Akibatnya harga properti terjun bebas, hal ini sangat tidak diprediksi para investor karena mereka menganggap nilai investasi properti tidak akan tergerus. Dalam tulisannya Teguh Sihono menjelaskan,  krisis ini menjatuhkan harga saham global dan berdampak pada kondisi ekonomi Eropa, melemahkan dollar Amerika terhadap Euro sebesar US $ 1,4967.
Teguh Sihono (2009) juga menjelaskan, menurut Merrill Lynch dan Goldman Sachs, Amerika Serikat telah memasuki bahaya resesi, dengan 5 indikator (1) keuangan rapuh, (2) pasar tetap lemah, (3) ketidakjelasan bank-bank besar terkena dampak krisis kredit, (4) tingginya harga minyak, dan (5) lemahnya daya beli konsumen. Akibatnya Nilai PDB menyusut hingga kuartal ke tiga 2009 menyebabkan terjadinya kondisi krisis terdalam dan terlama sejak krisis The Great Depression, untuk mengatasi hal ini kongres Amerika mengucurkan dana sebesar guna membeli ekuitas bank – bank dan perusahaan senilai 700 milyar dan pada Januari 2009 presiden Obama mensetujui pengucuran dana stimulus fiskal sebesar 787 milyar USD guna tambahan belanja negara untuk pemulihan ekonomi, pemotongan pajak bagi perusahaan.

Dikutip dari Okezone.com,  Bahwa diprediksi 3 bulan pertama tahun 2015 ekonomi Amerika serikat menurun akibat peningkatan upah buruh yang tidak naik secara signifikan dan memburuknya ekonomi negara di dunia yang berimbas pada ekonomi Amerika, upah buruh yang hanya naik 2 persen jauh dari prediksi The Fed untuk memperbaiki ekonomi Amerika Serikat. Dan imbas terpuruknya negara – negara di Dunia. Kita ketahui ekonomi China pada tahun 2015 melambat yang mengakibatkan China harus melakukan devaluasi pada mata uangnya yang mengakibatkan terguncangnya pelaku pasar seperti yang dikutip dari Kompasprint.com, Indeks Dow Jones tergerus 1,22 persen menjadi 17.402 dan indeks S&P 500 turun hampir 1 persen menjadi 2.084, sedangkan indeks DAX Jerman anjlok 2,7 persen, dan di Indonesia IHSG merosot dan nilai tukar melemah. Dan terjadinya deflasi di jepang, dan krisis ekonomi Yunani yang masih terjadi. Dikutip dari okezone.com, menurut ekonom dari Universitas Johns Hopkins Laurence Ball berpendapat dilema antara penguatan dolar, prospek konsumen yang melamban, kenaikan suku bunga The Fed. Akhirnya  terjadi ketidak pastian khususnya pada kenaikan suku bunga The fed.
Dalam tulisannya Teguh Hidayat (2015), Pada tahun 2015 terjadi banyak kesimpang siuran dalam ekonomi global tentang isu bahwa The Fed ingin menaiikan suku bunga acunnya karena posisi FED rate yang sudah mentok 0,25 persen hal ini dituturkan sendri oleh gubernur The Fed Jenet Yellen. Amerika serikat mempertahankan suku bunganya 0,25 persen guna mendorong meningkatnya sektor  riil dan berimbas pada pertumbuhan nasional. Kesimpang siuran ini membuat kurs rupiah terhadap dollar menurun, karena bank sentral bingung menentukan patokan BI rate karena ketidakpastian, apakah The Fed ini menunda kenaikan atau menaikkan suku bunga mereka.
Mengapa The Fed tidak membuat kepastian menaiikan suku bunganya karena mereka menganggap persentase inflasi ( minus 0, 1 persen) dan pertumbuhan ekonomi masih baik (petumbuhan 2,4 persen). Namun jika mereka mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang lebih dari itu maka tidak mungkin waktu dekat atau kapan pun The Fed ini menaikkan suku bunganya (teguh:2015). Akhirnya menaikan suku bunganya 25 basis point Desember 2015 (kompas prin.com). salah satu penyebabnya adalah angka pekerjaan naik 271.000 dan jumlah pengangguran menurun di angka 5% (sindonews)
special drawing right (SDR)
yakni aset cadangan internasional yang buat oleh IMF pada tahun 1969. Dimana IMF dapat menyimpan asetnya dalam SDR yang nanti akan dikonversikan ke dalam 4 mata uang paling penting di dunia yaitu Yen, Pounstreling, Euro, USD. Nilai SDR sangat dipengaruhi oleh USD Amerika dengan persentase 41.9% terhadap nilai SDR, Euro 37.4%, Pound Sterling 11.3%, dan Yen 9.4%, pada review tahun 2010. Mengapa nilai persentase Amerika Serikat lebih banyak daripada negara lain? dapat diketahui bahwa hal tersebut cerminan permintaan dari anggota IMF. Dan negara – negara anggota IMF berhak menyimpan asetnya kedalam 4 mata uang ini, yang berhak memegang SDR ini hanya bank sentral masing – masing negara apabila bank sentral masing – masing negara ini menyalurkan kepada bank umum maka harus dikonversikan kesalah -  satu  dari kempat mata uang (teguh:2015). Tujuan pembentukan SDR adalah sebagai alat pembanyaran atau transaksi perdagangan antar anggota IMF maka dinilai dengan SDR. Dan sebagai komponen cadangan devisa yang akan dialokasikan pada anggotanya (teguh :2015).  
IMF secara rutin mengevaluasi mata uang yang masuk dalam keranjang mata uang, saat Yen Jepang, Poundstreling Inggris  masuk dalam SDR. China mempertanyakan mengapa Renmibi tidak masuk dalam SDR. Karena ekonomi China termasuk raksasa ekonomi daripada jepang dan Inggris.  Dikutip dari kompasprint.com, bahwa IMF rencana akan mengumumkan masuknya yuan / renmibi pada SDR pada selasa (4/8)  namun ditunda 1 oktober 2016. Alasanya China harus lebih meliberalisasikan neraca modalnya. Karena IMF menyerukan pembebasan pergerakan yuan, arus keluar masuk modal asing dan suku bunga. Jadi Tiongkok harus melepas mata uangnya ke pasar tanpa ada campur tangan dari pemerintah, membuka diri lagi akan investasi asing yang masuk, dan pergerakan suku bunga yang bebas. Padahal yang kita ketahui dari awal bahwa Tiongkok sudah membuka diri dengan ekonomi global, perdagangan mereka pun lebih luas, semenjak terjadinya reformasi dan kebijakan keterbukaan pada tahun 1979. Pada tahun 1980 an China membuat 500 undang – undang yang menjamin keberlangsungan investor asing yang berinvestasi di China, pada tahun 2007 terdapat 591.000  perusahaan yang didanai asing di China, dan perusahaan 450 multinasioal top masuk ke China (Fransisca:2010).  Bahkan Tiongkok sudah masuk dalam AFTA (Asean Free Trade Area), WTO (World Trade Organization), (APEC) Asia-Pasific Economic Cooperation,  Shanghai coperation Organisation (SHO), G 20, dan OPEC (Fransisca:2010), perdagangan Tiongkok menjadi semakin liberal dan mengeekspansi besar – besaran pasar dunia.
Dikutip dari kompasprint.com, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Australia, dan Afrika hingga Asia mendesak Yuan segera dimasukkan ke SDR. Kini tinggal AS bersama Jepang yang masih enggan menerima yuan masuk ke dalam SDR.  Amerika serikat menginginkan liberalisme yang lebih luas lagi. Tiongkok enggang untuk melepas mata uangnya karena mereka beranggapan intervensi dari pemerintah diperlukan. Apabila uang mereka dicetak secara besar – besaran. Dengan membanjirnya uang, maka uang mereka akan digunakan untuk spekulatif dan berdampak pada mata uang mereka yuan / renmibi dan stabilitas ekonomi mereka.
Namun AS terus saja mendesak Tiongkok untuk liberalisme. Dikutip dari kompasprint.com, bahwa diduga para spekulan AS mendesak pemerintah untuk membuat pasar keuangan China / Tiongkok bisa terbuka secara lebar karena keuntungan besar yang akan didapatkannya. Kita ketahui bahwa China dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan walaupun mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir, telah menjadikan Tiongkok sebagai raksasa ekonomi dunia.
Apakah mungkin yuan mendepak dollar?
SDR  bukanlah mata uang dan mata uang yang termasuk ADR tidak diperdagangkan. SDR adalah sebuah keranjang mata uang yang terdiri dari Dollar, Poundstreling, Yen, Euro dan dalam waktu dekat Yuan. Jadi begini apabila suatu negara ingin membeli komoditas luar negeri mereka harus menyiapkan ke empat mata uang tersebut, mana yang dipilih sebagai mata uang pertukaran tergantung kesepakatan transkasi mereka sendiri. Nah IMF menyediakan SDR untuk menukar mata uang mereka dengan ke empat mata uang tersebut. Pada masa sekarang Amerika masih mendominasi nilai SDR dengan persentase 49, 1 persen maka permintaan akan dollar lebih banyak daripada yang lain. Jika Yuan ingin mendominasi pertukaran uang didunia maka Yuan harus mengalahkan Dollar yang sudah menjadi cadangan devisa setiap negara, belum lagi terdapat Yen, Poundstreling dan euro. Apalagi pelambatan ekonomi China yang paling parah dalam sejarah dimana pertumbuhan ekonomi China tahun 2015 hanya 6,3 persen.
Mungkin kekhawatiran Amerika serikat adalah ekspansi besar – besar China dalam perdagangan membuat China memiliki banyak mitra dagang ditambah dengan masuknya China ke WTO , AFTA, APEC, OPEC, SHO membuat perdagangan China meluas dan melebar. Bila banyak yang melakukan perdagangan dengan China dan China sudah masuk dalam SDR maka mata uang transakasi yang paling mungkin digunakan bukan dollar lagi tapi Renmibi / yuan. Maka akan banyak negara yang akan menukarkan asetnya yang dalam mata uang dollar menjadi Yuan. Maka yang terjadi nilai mata uang Amerika serikat akan turun. Hal ini semakin membuat resah Amerika Serikat, dapat diketahui dari tulisan milik Wisman Ubayaji (2009) China merupakan mitra dagang AS, tanpa Amerika serika pertumbuhan ekonomi China tidak akan terwujud. Karena China mengekspansi Amerika serikat dengan komoditas – komoditasnya.  Karena pada sisi China mereka selalu mengalami surplus namun Amerika serikat mengalami defisit.
Namun menurut saya Yuan China  sulit untuk mendominasi dollar Amerika serikat, alasan pertama rasio cadangan devisa global masih didominasi dollar dengan persentase 64 (sumber:EOWI). Kedua China harus mau mata uangnya diliberalisme atau diperdagangkan secara bebas, tanpa campur tangan pemerintah. Ketiga kekuatan Amerika masih besar dalam ekonomi dunia meskipun beberapa kali mengalami krisis, namun Amerika mampu bangkit.
Jadi yang terpenting bagi China adalah memperbaiki dahulu ekonominya yang anjlok pada tahun 2015. Agar mereka dapat masuk dalam SDR.

0 komentar:

Posting Komentar