Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

IHSG Kuat Akibat Sentimen Global



IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) adalah indeks dari beberapa saham yang ada diperjual belikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG telah ada sejak tanggal 10 Agutus 1982 dengan nilai indeks dasar 100. Namun banyak dari masyarakat yang belum mengetahui apa itu IHSG, seperti saya misalnya. Saya mendengar istilah IHSG pertama kali juga pada saat saya telah masuk kuliah dengan mengambil jurusan ilmu ekonomi ini. Itupun saya hanya sekedar tahu, tetapi tidak paham bagaimana kerjanya. Setelah melalui bebrapa semester perkuliahan, barulah saya paham apa itu IHSG dan bagaimana kerjanya.

Indeks Harga Saham Gabungan dibagi dalam beberapa sektor, dimana sector-sektor tersebut antara lain:

1.        Pertanian

2.        Pertambangan

3.        Industry dasar dan kimia

4.        Aneka industri

5.        Industry barang konsumsi

6.        Property dan real estate

7.        Infrastruktur, utilitas dan transportasi

8.        Keuangan

9.        Perdagangan, jasa dan investasi

Dengan adanya IHSG ini, akan diapatkan tiga manfaat utama dalam perekonomian suatu negara, diantaranya adalah sebagai berikut:

1.        IHSG dapat digunakan sebagai penanda arah pasar

Indeks harga saham gabungan meberikan informasi kepada masyarakat mengenai keadaan pasar saham yang ada di Bursa Efek Indonesia. Jadi jika masyarakatingin mengetahui mengenai harga pasar, dapt dengan mudah dilihat melalui IHSG dengan cara melihat nilai indeksnya. Apabila IHSG menurun itu menandakan bahwa harga saham yang ada dalam BEI juga mengalami penurunan dan apabila angka indeks mengalami kenaikan, mendakan harga saham di BEI juga naik. Jadi dengan adanya IHSG, masyarakat dimudahkan dalam mencari tahu bagaimana kondisi pasar saham yang ada di Indonesia.

2.        IHSG dapat digunakan untuk mengukur keuntungan

Dengan adanya indeks harga saham gabungan, kita dapat dengan mudah menghitung keuntungan yang kita peroleh dari kepemilikan suatu saham. Kita hanya melihat keuntungan yang diperoleh dari tahun ini dengan keuntungan yang diperoleh dari tahun-tahun sebelumnya.

3.        IHSG dapat digunakan untuk tolak ukur kinerja portofolio

IHSG juga dapat digunakan untuk mengukur kinerja portofolio yang kita miliki. Cara yang dilakukan untuk mengontrol portofolio yang kita miliki adalah dengan melihat kondisi IHSG, misalnya saja kita melihat nilai IHSG 5 tahun terakhir adalah 241%. Kemudian kita bandingkan dengan peningkatan portofolio kita, jika peningkatan portofolio kita kurang dari nilai tersebut, maka kita harus melakuakan suatu taktik baru yang harus dijalankan.

Perkembangan pasar saham yang terjadi di Indonesia menandakan bahwa kepemilikan saham di negara berkembang ini semakin meningkat. Sedangkan jika saham meningkat maka menandakan bahwa masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan uang bentuk baru dalam kehidupannya. Diamana uang yang memiliki fungsi bertindak sebagai penyimpan nilai dapat digantikan oleh saham disini. Jadi dengan memiliki saham seseorang dapat menyimpan uangnya tidak dalam bentuk uang dan kembali uang seperti yang kita lakukan yaitu menabung di bank-bank komersial. Tetapi pemilik saham lebih memilih membelikan uangnya dalam bentuk surat berharga yang dimana surat tersebut dapat dijadikan sebagai penyimpan nilai, jadi kita dapat menjual kembali saham itu sewaktu-waktu menurut keinginan kita. Jika kita memiliki saham di suatu perusahaan maka kita akan mendapat keuntungan jika perusahaan tersebut meningkat indeks harganya, begitu pula sebaliknya jika indeks harga saham di perusahaan tersebut mengalami penurunan, maka kita juga akan mengalami kerugian. Jadi di dalam bermain saham kita harus paham waktu yang tepat antara kita harus menjual saham dan membeli saham, keadaan politik dan ekonomi dapat kita jadikan sebagai patokan dalam melakuakan hal tersebut. Namun kepemilikan saham di BEI masih dikuasai oleh masyarakat asing, sekitar 65 % masyarakat asing yang memiliki saham di pasar saham Indonesia ini. Akibatnya jika IHSG meraup keuntungan, maka penikmat keuntungan terbesar di Indonesia adalah masyarakat asing itu sendiri. Jadi tidak ada salahnya, jika masyarakat dalam negeri harus mulai berani dalam menanamkan saham di Bursa Efek Indonesia. Dengan begitu mereka juga dapat menikmati keuntungan yang diperoleh.

Dalam melakukan penanaman saham, si pemilik saham tidak hanya terfokus pada keadaan negara yang ia tanami modal, akan tetapi keadaan global pun turut memberikan sumbangsih yang besar terhadap kuat lemahnya suatu IHSG tersebut. Pengaruh global yang dapat mempengaruhi kuat lemahnya IHSG tersebut dapat disebut dengan sentiment global.

Sentiment global disini adalah keputusan secara bersama dari pelaku penanam saham yang bergabung dalam penanaman saham internasional atau global. Dimana keputusan tersebut merupakan keputusan yang harus diambil oleh penanam saham terhadap sahamnya. Keputusan tersebut terjadi karena adanya pengaruh dari luar seperti berita mengenai indikasi kuat atau lemahnya IHSG yang akan terjadi. Sentimen ini juga memerlukan pemahaman tersendiri dalam pengertian dari setiap individu. Sentimen-sentimen tersebut dapat berupa harga minyak dunia, suku bunga BI Rate, Deflasi, Inflasi dan sebangainya. Utnuk mengatasi kerawanan tersebut, pemegang saham juga harus tau saham mana yang tidak akan mengalami kerugian. Dengan pemahan-pemahaman seperti ini membuat masyarakat berburu saham yang mereka rasa aman.

Keadaan pasar saham di Indonesia saat ini mengalami penguatan. Dimana hal ini terjadi karena adanya stabilitas sentiment global. Sentiment global saat ini masih berada pada level yang tenang. Tidak terjadi fluktuasi permasalahan yang mengindikasikan bahwa IHSG akan mengalami pelemahan. Dengan kondusifnya sentiment global tersebut berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah. Saat ini, atau tepatnya pada bulan apalagi memasuki bulan ramadhan, niali tukar rupiah selalu mengalami penguatan dari hari ke hari. Mulai dari tanggal 6 awal puasa, nilai tukar rupiah telah mengalami penguatan dengan posisi nilai tukar sebesar Rp. 13.478 per dolar AS. Kemudian pada tanggal 7 Juni 2016, rupiah kembali mengalami penguatan dengan posisi tukar sebesar Rp. 13.375 per dolar AS.  Dengan adanya peningkatan atau penguatan rupiah tersebut, memberikan sebuah kelegaan terhadap Indonesia. Hal ini dikarenakan Indonesia sangatlah panik jika telah memasuki bulan ramadhan yang mana inflasi akan berangsur-angsur meningkat pada bulan ini dan rupiah tentu saja akan mengalami kelemahan. Tidak sampai disini, pada tanggal 8 Juni 2016 yaitu hari ketiga bulan puasa, rupiah kembali mengalami penguatan hingga Rp. 13.000 per dolar AS akan tetapi ditutup pada pada harga Rp. 13.262.

Dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah ini, mendorong para investor untuk berbondong-bondong menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini menjadi peristiwa yang wajar terjadi di pasar modal. Dimana para investor berbondong-bondong untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi. Jika jumlah investasi meningkat, maka akan menyebabkan meningkat pula jumlah lapangan pekerjaan yang ada di negara ini. BI sebagai bank sentral Indonesia juga tidak menampik bahwa penguatan saham gabungan di pasar modal saat ini akibat adanya keadaan kondusif dari sentiment global saat ini.

0 komentar:

Posting Komentar