IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)
adalah indeks dari beberapa saham yang ada diperjual belikan di Bursa Efek
Indonesia (BEI). IHSG telah ada sejak tanggal 10 Agutus 1982 dengan nilai
indeks dasar 100. Namun banyak dari masyarakat yang belum mengetahui apa itu
IHSG, seperti saya misalnya. Saya mendengar istilah IHSG pertama kali juga pada
saat saya telah masuk kuliah dengan mengambil jurusan ilmu ekonomi ini. Itupun
saya hanya sekedar tahu, tetapi tidak paham bagaimana kerjanya. Setelah melalui
bebrapa semester perkuliahan, barulah saya paham apa itu IHSG dan bagaimana
kerjanya.
Indeks Harga Saham Gabungan dibagi
dalam beberapa sektor, dimana sector-sektor tersebut antara lain:
1.
Pertanian
2.
Pertambangan
3.
Industry dasar dan kimia
4.
Aneka industri
5.
Industry barang konsumsi
6.
Property dan real estate
7.
Infrastruktur, utilitas dan transportasi
8.
Keuangan
9.
Perdagangan, jasa dan investasi
Dengan
adanya IHSG ini, akan diapatkan tiga manfaat utama dalam perekonomian suatu
negara, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
IHSG dapat digunakan sebagai penanda arah pasar
Indeks
harga saham gabungan meberikan informasi kepada masyarakat mengenai keadaan
pasar saham yang ada di Bursa Efek Indonesia. Jadi jika masyarakatingin
mengetahui mengenai harga pasar, dapt dengan mudah dilihat melalui IHSG dengan
cara melihat nilai indeksnya. Apabila IHSG menurun itu menandakan bahwa harga
saham yang ada dalam BEI juga mengalami penurunan dan apabila angka indeks
mengalami kenaikan, mendakan harga saham di BEI juga naik. Jadi dengan adanya
IHSG, masyarakat dimudahkan dalam mencari tahu bagaimana kondisi pasar saham
yang ada di Indonesia.
2.
IHSG dapat digunakan untuk mengukur keuntungan
Dengan
adanya indeks harga saham gabungan, kita dapat dengan mudah menghitung
keuntungan yang kita peroleh dari kepemilikan suatu saham. Kita hanya melihat
keuntungan yang diperoleh dari tahun ini dengan keuntungan yang diperoleh dari
tahun-tahun sebelumnya.
3.
IHSG dapat digunakan untuk tolak ukur kinerja
portofolio
IHSG juga
dapat digunakan untuk mengukur kinerja portofolio yang kita miliki. Cara yang
dilakukan untuk mengontrol portofolio yang kita miliki adalah dengan melihat
kondisi IHSG, misalnya saja kita melihat nilai IHSG 5 tahun terakhir adalah
241%. Kemudian kita bandingkan dengan peningkatan portofolio kita, jika
peningkatan portofolio kita kurang dari nilai tersebut, maka kita harus
melakuakan suatu taktik baru yang harus dijalankan.
Perkembangan
pasar saham yang terjadi di Indonesia menandakan bahwa kepemilikan saham di
negara berkembang ini semakin meningkat. Sedangkan jika saham meningkat maka
menandakan bahwa masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan uang bentuk
baru dalam kehidupannya. Diamana uang yang memiliki fungsi bertindak sebagai
penyimpan nilai dapat digantikan oleh saham disini. Jadi dengan memiliki saham
seseorang dapat menyimpan uangnya tidak dalam bentuk uang dan kembali uang
seperti yang kita lakukan yaitu menabung di bank-bank komersial. Tetapi pemilik
saham lebih memilih membelikan uangnya dalam bentuk surat berharga yang dimana
surat tersebut dapat dijadikan sebagai penyimpan nilai, jadi kita dapat menjual
kembali saham itu sewaktu-waktu menurut keinginan kita. Jika kita memiliki
saham di suatu perusahaan maka kita akan mendapat keuntungan jika perusahaan
tersebut meningkat indeks harganya, begitu pula sebaliknya jika indeks harga
saham di perusahaan tersebut mengalami penurunan, maka kita juga akan mengalami
kerugian. Jadi di dalam bermain saham kita harus paham waktu yang tepat antara
kita harus menjual saham dan membeli saham, keadaan politik dan ekonomi dapat
kita jadikan sebagai patokan dalam melakuakan hal tersebut. Namun kepemilikan
saham di BEI masih dikuasai oleh masyarakat asing, sekitar 65 % masyarakat
asing yang memiliki saham di pasar saham Indonesia ini. Akibatnya jika IHSG
meraup keuntungan, maka penikmat keuntungan terbesar di Indonesia adalah
masyarakat asing itu sendiri. Jadi tidak ada salahnya, jika masyarakat dalam
negeri harus mulai berani dalam menanamkan saham di Bursa Efek Indonesia.
Dengan begitu mereka juga dapat menikmati keuntungan yang diperoleh.
Dalam
melakukan penanaman saham, si pemilik saham tidak hanya terfokus pada keadaan
negara yang ia tanami modal, akan tetapi keadaan global pun turut memberikan
sumbangsih yang besar terhadap kuat lemahnya suatu IHSG tersebut. Pengaruh
global yang dapat mempengaruhi kuat lemahnya IHSG tersebut dapat disebut dengan
sentiment global.
Sentiment
global disini adalah keputusan secara bersama dari pelaku penanam saham yang
bergabung dalam penanaman saham internasional atau global. Dimana keputusan
tersebut merupakan keputusan yang harus diambil oleh penanam saham terhadap
sahamnya. Keputusan tersebut terjadi karena adanya pengaruh dari luar seperti
berita mengenai indikasi kuat atau lemahnya IHSG yang akan terjadi. Sentimen
ini juga memerlukan pemahaman tersendiri dalam pengertian dari setiap individu.
Sentimen-sentimen tersebut dapat berupa harga minyak dunia, suku bunga BI Rate,
Deflasi, Inflasi dan sebangainya. Utnuk mengatasi kerawanan tersebut, pemegang
saham juga harus tau saham mana yang tidak akan mengalami kerugian. Dengan
pemahan-pemahaman seperti ini membuat masyarakat berburu saham yang mereka rasa
aman.
Keadaan
pasar saham di Indonesia saat ini mengalami penguatan. Dimana hal ini terjadi
karena adanya stabilitas sentiment global. Sentiment global saat ini masih
berada pada level yang tenang. Tidak terjadi fluktuasi permasalahan yang
mengindikasikan bahwa IHSG akan mengalami pelemahan. Dengan kondusifnya
sentiment global tersebut berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah. Saat
ini, atau tepatnya pada bulan apalagi memasuki bulan ramadhan, niali tukar
rupiah selalu mengalami penguatan dari hari ke hari. Mulai dari tanggal 6 awal
puasa, nilai tukar rupiah telah mengalami penguatan dengan posisi nilai tukar
sebesar Rp. 13.478 per dolar AS. Kemudian pada tanggal 7 Juni 2016, rupiah
kembali mengalami penguatan dengan posisi tukar sebesar Rp. 13.375 per dolar
AS. Dengan adanya peningkatan atau
penguatan rupiah tersebut, memberikan sebuah kelegaan terhadap Indonesia. Hal
ini dikarenakan Indonesia sangatlah panik jika telah memasuki bulan ramadhan
yang mana inflasi akan berangsur-angsur meningkat pada bulan ini dan rupiah
tentu saja akan mengalami kelemahan. Tidak sampai disini, pada tanggal 8 Juni
2016 yaitu hari ketiga bulan puasa, rupiah kembali mengalami penguatan hingga
Rp. 13.000 per dolar AS akan tetapi ditutup pada pada harga Rp. 13.262.
Dengan
adanya penguatan nilai tukar rupiah ini, mendorong para investor untuk
berbondong-bondong menanamkan modalnya di Indonesia. Hal ini menjadi peristiwa
yang wajar terjadi di pasar modal. Dimana para investor berbondong-bondong
untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi. Jika jumlah investasi meningkat,
maka akan menyebabkan meningkat pula jumlah lapangan pekerjaan yang ada di
negara ini. BI sebagai bank sentral Indonesia juga tidak menampik bahwa
penguatan saham gabungan di pasar modal saat ini akibat adanya keadaan kondusif
dari sentiment global saat ini.






0 komentar:
Posting Komentar