Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

INVESTASI MENGUNTUNGKAN SAAT SUKU BUNGA RENDAH

INVESTASI MENGUNTUNGKAN
SAAT SUKU BUNGA RENDAH
Oleh : Eka Wahyu Utami
Fakultas Ekonomi , Universitas Jember


Menurut berita yang diterbitkan Kompas pada 26 Februari 2015 lalu mengungkapkan hal tentang investasi-investasi yang cocok dilakukan ketika turunnya tingkat suku bunga bank. Bulan November yang lalu, pemerintah telah meminta Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat BI Rate atau tingkat suku bunga acuan. Namun karena alasan tertentu, pada bulan November 2015 Bank Indonesia masih tetap mempertahankan tingkat BI Rate pada 7,5%. Pada tanggal 18 Februari 2016 lalu, tingkat BI Rate turun menjadi 7,0%. Adanya keadaan yang demikian, menyebabkan para investor-investor untuk mulai merencanakan planning untuk mengambil kesempatan berivestasi pada sektor-sektor tertentu. Pada berita tersebut, diberikan pilihan jenis saham yang cocok digunakan bagi para investor-investor lama maupun baru yang belum mau mengambil resiko terlalu tinggi. Adapun pilihannya adalah reksadana.
Menurut saya, banyak alternatif yang dilakukan para pengusaha untuk menginvestasikan uangnya. Mereka memiliki tujuan masing-masing, ada yang berinvestasi untuk jangka pendek jangka panjang atau bahkan mencoba-coba.  Namun, mereka juga harus memperhatikan posisi atau kondisi perekonomian saat ini. Dalam kondisi perekonomian yang baik atau buruk, mereka tetap bisa berinvestasi. Tergantung tujuan atau target yang nantinya ingin dicapai.  Sebagai contohnya adalah investasi pada saham atau menyimpan uang mereka dalam bentuk simpanan di bank-bank konvensional.
Berawal dari tingkat suku bunga, tingka suku bunga acuan menurut saya adalah sebuah tingkat bunga yang ditentukan oleh BI melihat kondisi perekonomian pada suatu waktu tertentu. BI tidak bisa sembarangan menaikkan atau menurunkan tingkat BI Rate. BI Rate dapat ditentukan maluli rapat antara dewan gubernur. BI rate sebuah tingkat suku bunga yang nantinya akan menjadi acuan bagi bank-bank konvensional yang nantinya akan mereka gunakan dalam kebijakan menaikkan dan menurunkan tingkat bunga. BI Rate  sendiri menurut BI adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. Sedangkan menurut Dahlam Siamat, BI rate adalah suku bunga dengan tenor satu bulan yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu yang berfungsi sebagai sinyal atau stance kebijakan moneter (Dahlan siamat, 2005;139).
Pada bulan November 2015, pemerintah meminta BI untuk menurunkan tingak suku bunga acuan atau BI Rate. Pada saat itu level target BI Rate adalah sebesar 7,5%. Pada saat itu, pemerintah meminta BI menurunkan tingkat suku bunga acuan karena inflasi masih stabil sehingga terdapat jarak yang terlalu jauh antara BI Rate dan jumlah inflasi pada saat itu. Darmin berpendapat bahwa erdapat jarak yang sangat jauh, karena menurutnya nilai inflasi pada akhir tahun 2015 adalah kisaran 3,6 persen atau 4 persen, terdapat selisih 4 persen. Menurut Darmin , Indonesia belum pernah mengalami jarak yang terlalu jauh seperti pada saat ini, dan biasanya hanya 1 persen saja. Namun BI masih belum mau menurunkan tingkat BI Rate karena alasan ada terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah.
Darmin juga mengungkapkan bahwa, ada ruang yang lebar antara BI Rate dan nilai inflasi. Seharusnya BI memanfaatkan tersebut untuk menurunkan tingkat BI Rate. Apabila jarak yang terlalu tersebut dibiarkan, maka orang-orang akan lebih senang menyimpan uangnya di bank dalam bentuk simpanan daripada melakukan pinjaman ke bank-bank konvensional untuk kegiatan-kegiatan mereka.
Dalam hal ini, ketika kita memperhatikan tingkat suku bunga naik maka banyak yang berfikir bahwa menyimpan uangnya dalam bentuk simpanan adalah hal yang tepat. Karena mereka menganggap bahwa keuntungan yang diperoleh akan tinggi karena bunga yang diberikan juga cukup tinggi. Namun sebaliknya, ketika tingkat suku bunga turun maka pilihan yang tepat adalah menginvestasikan uang mereka dalam bentuk saham atau obligasi. Baik atau buruknya kondisi perekonomian sebenarnya sama saja, hanya kebanyakan orang masih ingin mendapatkan keuntungan yang besar akan tetapi mereka takut akan menanggung resiko yang besar juga.
Investasi dalam bentuk saham ada bermacam – macam jenis dan bentuknya. Tergantung tujuan yang akan kita capai nanti. Menurut Subroto 1986, investasi saham adalah pemilikan atau pembelian saham – saham perusahaan oleh suatu perusahaan lain atau perorangan dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan tambahan diluar pendapatan dari usaha pokoknya. Jadi saham merupakan salah satu instrumen pasar model yang diperbandingkan di lantai bursa efek, yang digunakan bagi perusahaa untuk kelangsungan hidup perusahaan dalam membutuhkan dana dari masyarakat.
Menurut Buletin BES (1990), ada beberapa keuntungan yang diperoleh seorang investor dengan memiliki saham perusahaan lain, yaitu :
a.      Kemungkinan memperoleh dividen yaitu sebagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham.
b.      Kemungkinan memperoleh capital gain yaitu keuntungan yang diperoleh pemegang saham dari hasil jual beli saham, berupa selisih nilai jual yang lebih tinggi dari nilai beli yang lebih rendah.
c.       Memiliki hak prioritas untuk membeli bukti right yang dikeluarkan oleh perusahaan.
d.      Kemungkinan memperoleh hak atas saham bonus.
e.       Waktu kepemilikan tidak terbatas dan berakhir pada saat investor menjual kembali saham tersebut dibursa efek.
Ketika kita akan berinvestasi hendaknya memperhatikan tujuan kita terlebih dahulu. Apabila tujuan investasi kita jangka pendek, maka investasi yang bisa kita ambil adalah menyimpan uang kita dalam bentuk simpanan di bank-bank konvensional atau apabila kita ingin menginvestasikan dalam bentuk saham, kita bisa memlih reksadana karena kinerjanya cenderung stabil dan tidak fluktuatif. Kalaupun turun, tidak terlalu jauh, ketika naikpun tidak terlalu tinggi. Namun apabila tujuan yang kita ambil adalah untuk jangka panjang, seperti untuk membeli rumah, biaya pendidikan, biaya pernikahan dan lain-lainnya maka yang baik kita ambil adalah investasi saham atau reksadana.

Sehingga kesimpulan yang dapat diambil dari berita yang diterbitkan oleh Kompas tersebut adalah ketika kita dapat melakukan investasi dalam bentuk apapun dalan kondisi baik ataupun buruk. Namun kembali lagi pada tujuan yang ingin kita capai. Apabila tujuan kita berinvestasi hanya untuk jangka pendek dan kita tidak ingin mendapatkan resiko yang tinggi, maka pilihan yang tepat adalah menyimpan uang dalam bentuk simpanan walaupun keuntungan yang kita perole tidak terlalu tinggi. Namun sebaliknya, ketika kita ingin berinvestasi dalam jangka panjang dan ingin mendapatkan keuntungan yang tinggi, maka saham adalah pilihan yang tepat. Namun seperti yang kita ketahu bahwa investasi saham memiliki resiko yang tidak pernah kita duga sebelumnya, bisa jadi kita mendapatkan keuntungan yang tinngi namun juga bisa saja kita rugi. Disini ada pilihan investasi yang cocok untuk para pemula atau orang – orang yang tidak mau menanggung resiko tinggi, yaitu adalah reksa dana. Kinerja reksa dana lebih stabil ketimbang jenis saham lain. Kenaikkan dan penurunan yang tidak terlalu fluktuatif dapat menjadi pilihan kita dalam meninvestasikan unag kita.

0 komentar:

Posting Komentar