KEBIJAKAN MONETER UNTUK PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA YANG BERKELANJUTAN
Oleh : Muhammad
Munif, Ilmu Ekonomi (Moneter)
Fakultas
Ekonomi Univesritas Jember
Negara Indonesia merupakan negara yang
sangat kaya dengan berbagai keragaman sumber daya yang dimiliki. Bahkan dimajaskan
dengan kalimat bukan lautan tapi kolam susu yang dapat mengubah kayu dan batu
menjadi tanaman. Mirisnya, keadaan realistis yang
terjadi pada saat ini bertolak belakang sangat jauh. Rakyat miskin masih
memiliki jumlah yang cukup banyak. Keadaan perekonomian masyarakatnya berada
pada tingkatan menengah ke bawah. Kekayaan Indonesia sebagian besar dimiliki
oleh perusahaan-perusahaan asing dan lebih parahnya lagi masyarakat pribumi
hanya menjadi pekerja saja bahkan hanya menjadi penonton. Kita lihat saja salah
satu perusahaan asing, PT. Freeport yang mengeruk kekayaan alam Indonesia timur
namun tidak memiliki dampak yang positif bagi masyarakat sekitar perusahaan
tersebut. Masyarakat Indonesia timur masih miskin dan tingkat kesejahteraannya
masih sangat rendah. Hal ini diakibatkan oleh masyarakat pribumi yang hanya
menjadi penonton kekayaannya dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing.
Reformasi
ekonomi sangat dibutuhkan oleh Indonesia demi memperbaiki seluruh struktur
ekonomi dari tingkat mikro hingga makro. Para pembuat kebijakan baik dari kebijakan fiskal maupun moneter harus saling mendukung dan bekerja sama untuk
menciptakan suatu kebijakan yang sangat efektif dalam membangun perekonomian
nasional. Kebijakan ini dibutuhkan untuk menciptakan kondisi perekonomian
nasional yang sesuai dengan tujuan bersama yaitu keadilan bagi seluruh rakyat
Indonesia. Hingga saat ini pemerintah masih melakukan berbagai reformasi untuk
meningkatkan sentimen positif global. Reformasi ini dilakukan melalui banyak
aspek. Dimulai dari aspek politik dengan menciptakan keadaan politik yang
stabil sampai menciptakan perekonomian yang sehat melalui kebijakan fiskal
maupun moneter. Kebijakan untuk mendorong perekonomian
nasional tanpa mengganggu stabilitas keuangan sangat dibutuhkan dan merupakan cita-cita
yang sangat diidam-idamkan. Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter sangat
dibutuhkan dalam hal ini. Koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter
harus diperkuat agar berjalan selaras dalam mencapai cita-cita tersebut.
Pemerintah mendorong perekonomian melalui kebijakannya dalam mengelola keadaan
fiskal Indonesia. Sisi moneter dilakukan oleh otoritas moneter melalui
instrumen-instrumen kebijakan moneter ditambah lagi pengawasan yang harus
dilakukan melalui instrumen makroprudensial untuk menghindari instabilitas.
Jika kedua pihak ini bekerja sama dan saling mendukung, maka cita-cita untuk
mendorong perekonomian nasional tanpa kekhawatiran terhadap ketidakstabilan
sistem keuangan akan tercapai.
Walaupun
pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat setiap tahun, pertumbuhan tersebut
masih belum dapat menggambarkan adanya pemerataan kesejahteraan masyarakat. Ini
dapat dilihat dari masih lebarnya kesenjangan antara masyarakat dengan
perekonomian rendah dengan masyarakat menengah ke atas dan juga masih tingginya
angka kemiskinan di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang berlandaskan asas-asas
ideologi Pancasila hanya pertumbuhan ekonomi yang dirasakan seluruh rakyat
Indonesia. Kesejahteraan harus dirasakan bersama oleh setiap lapisan masyarakat
sehingga tujuan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
tercapai. Pemerintah harus mensinergikan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan
kesejahteraan sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ekonomi jangan hanya digunakan sebagai acuan
utama untuk membanggakan perekonomian Indonesia di mata dunia namun juga harus
memprioritaskan aspek keadilan dan pemerataan.
Pada saat ini
pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam meningkatkan roda
perekonomian nasional yang didukung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia.
Sebagian besar kebijakan mengarah pada peningkatan investasi melalui perbaikan
iklim investasi di Indonesia. Pemerintah melalui kebijakan fiskalnya
mengeluarkan kebijakan dengan meningkatkan alokasi pengeluaran pemerintah untuk
perbaikan dan pembangunan infrastruktur. Pembangunan ini memiliki tujuan
menstimulus investor asing agar merasa nyaman berinvestasi di Indonesia. Infrastruktur
yang memadai sangat mempengaruhi iklim investasi. Paket-paket kebijakan ekonomi
yang telah dikeluarkan juga merupakan salah satu cara pemerintah dalam
meningkatkan investasi di Indonesia. Banyak kebijakan yang sangat mendukung
bagi pertumbuhan investasi Indonesia diantaranya adalah adanya deregulasi dan
debirokratisasi serta penyederhanaan pajak.
Kebijakan
moneter yang dalam hal ini merupakan wewenang Bank Indonesia juga harus
mengambil peran misalnya dengan penurunan tingkat suku bunga acuan dengan
harapan suku bunga kredit juga akan ikut menurun sehingga investasi akan
meningkat. Investasi yang meningkat juga akan membentuk multiplier yang lebih
besar pada perekonomian dan berimbas pada pertumbuhan ekonomi melalui
penambahan output. Investasi yang meningkat akan mengakibatkan produktivitas
juga meningkat sehingga jumlah output yang dihasilkan akan bertambah. Output
yang tinggi mengindikasikan Produk Domestik Bruto (GDP) yang merupakan
determinan perrtumbuhan ekonomi juga meningkat. Multiplier ini juga akan
berdampak positif terhadap aspek keadilan karena dapat mengurangi pengangguran
sehingga angka ketergantungan akan menurun. Angka ketergantungan yang menurun
ini mengindikasikan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan
moneter Bank Indonesia saat ini terfokus pada pengendalian inflasi atau disebut
juga sebagai Targetting Inflation Framework. Jadi, dalam membuat kebijakan Bank Indonesia
menggunakan target inflasi yang akan dicapai sebagai tolok ukur
keberhasilannya. Keadaan inflasi di Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh sektor-sektor
non-moneter seperti harga BBM dan komoditas pangan. Oleh karena itu, fluktuasi
harga minyak dan komoditas pangan sangat berpengaruh signifikan terhadap
perekonomian mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar dan
perekonomian Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi masyarakat. Harga
BBM juga memiliki hubungan dengan tingkat harga komoditas pangan karena
sebagian besar proses distribusi sangat bergantung pada biaya transportasi.
Proses produksi dalam berbagai industri juga sangat tergantung pada bahan bakar
minyak.
Pada
saat ini, inflasi di Indonesia dapat dikatakan masih stabil dan terkendali.
Walaupun harga komoditas pangan masih terbilang cukup tinggi, namun masih dapat
ditekan oleh harga minyak yang masih rendah. Turunnya harga minyak dunia ini
juga memberi kesempatan otoritas moneter untuk menerapkan kebijakan ekspansif
berupa penurunan tingkat bunga acuan dan giro wajib minimum primer. Hal ini
dilakukan untuk menghindari ancaman capital inflow yang deras mengalir
ke surat-surat berharga. Arus modal masuk yang hanya diparkir
di surat-surat berharga saja tidak akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi akan tercapai jika arus modal ini dikucurkan untuk
membangkitkan sektor riil terutama sektor industri dan pertanian yang dapat
menyerap banyak tenaga kerja. Apabila aliran modal masuk ini dikucurkan dalam
instrumen lain yang dapat menyentuh sektor riil terutama dalam bentuk Foreign
Direct Investment (FDI) khususnya investasi langsung kepada industri yang
menyerap banyak tenaga kerja atau tradable sector seperti industri
manufaktur dan pertanian.
Demi
menciptakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan diperlukan adanya dukungan
dari berbagai pihak. Pihak pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang sangat
pro terhadap pihak-pihak yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi
nasional seperti para investor yang menyerap banyak tenaga kerja. Otoritas
moneter harus memberikan kepastian dalam menjaga stabilitas perekonomian
nasional melalui kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan kondisi moneter
nasional. Pihak investor juga harus memberikan investasi yang baik yang saling
menguntungkan pada kedua belah pihak. Investor mendapatkan keuntungan dari
investasinya namun investor juga harus memberikan keuntungan bagi perekonomian
nasional seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan GDP nasional.
Masyarakat juga harus ambil peran melalui peningkatan kualitas sumber daya
manusia agar dapat bersaing dan terserap dalam pasar kerja.
Pemerintah
Indonesia harus menemukan keunggulan apa yang dimiliki sehingga pemerintah
dapat dengan mudah memetakan prioritas pembangunan. Indonesia pada dasarnya
merupakan negara agararis. Herannya, pembangunan dalam sektor agraria masih
sangat kecil. Pemerintah hanya berfokus pada industrialisasi di bidang yang
lain seperti manufaktur. Industrialisasi pada sektor agraris sangat dibutuhkan
mengingat sebagian masyarakat Indonesia bermatapencaharian sebagai petani. Alih
teknologi juga dibutuhkan untuk menciptakan sistem pertanian yang efisien dan
mencapai cita-cita untuk swasembada pangan. Selain pada sektor agraris, sektor
usaha kecil juga memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Hal ini
terbukti dengan bertahannya Indonesia terhadap krisis global yang disebabkan
oleh sektor usaha kecil (UMKM).
Untuk
mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, otoritas moneter bersama
pemerintah harus menciptakan suatu kebijakan yang memprioritaskan jantung
perekonomian nasional tersebut. Kebijakan otoritas moneter untuk menurunkan
tingkat suku bunga acuan merupakan salah satu kebijakan dalam meningkatkan
perkembangan UMKM. Melalui penurunan BI rate tersebut, diharapkan tingkat bunga
kredit juga ikut turun sehingga defisit modal pada UMKM dapat diatasi melalui kredit
yang diberikan. Program pemerintah untuk kredit usaha kecil juga semakin
dipermudah dan dipermurah. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan dapat
membantu pengembangan usaha-usaha padat karya masyarakat sehingga dapat
bersaing dalam pasar nasional maupun internasional. Pengembangan UMKM sangat
dibutuhkan perekonomian untuk bertahan dalam kondisi pelemahan perekonomian
global saat ini.
Indonesia
pada saat ini mengalami penurunan inflasi yang salah satunya disebabkan oleh
anjloknya harga minyak dunia yang berimbas pada turunnya harga BBM. Pada
dasarnya faktor yang menyebabkan menurunnya inflasi tersebut adalah disebabkan
oleh deflasi pada sektor administered price seperti tarif dasar listrik
dan harga BBM serta volatile foods yang bersumber dari sebagian besar
komoditas pangan. Keadaan ini juga didukung oleh tingkat konsumsi masyarakat
yang masih terjaga yang dapat dilihat dari tingkat daya beli masyarakat yang
masih stabil. Inflasi yang menurun ini mengindikasikan stabilitas makroekonomi
Indonesia yang masih terjaga. Keadaan ini digunakan Bank Indonesia untuk
mengeluarkan kebijakan pelonggaran moneter. Bank Indonesia telah mengeluarkan
kebijakan berupa penurunan tingkat BI rate dan reserve requirement. Kebijakan
pelonggaran moneter ini ditujukan untuk menciptakan percepatan pembangunan
ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global. Pelonggaran moneter ini
diharapkan dapat direspon oleh pihak yang diinginkan seperti para investor demi
tercapainya tujuan untuk meningkatkan permintaan domestik. Likuiditas dari
perbankan juga diharapkan dapat semakin lancar sehingga peningkatan arus kredit
dapat tercapai.
Perbankan
dan lembaga keuangan lain harus mendukung kebijakan Bank Indonesian ini melalui
penurunan bunga kredit. Bank Indonesia mengharapkan dengan turunnya suku bunga
acuan ini, perbankan dan lembaga keuangan lain akan menurunkan tingkat suku
bunga kreditnya. Jika tingkat bunga kredit perbankan turun, maka masyarakat
akan tertarik untuk meningkatkan kreditnya baik untuk hal produktif maupun
konsumtif seperti kredit rumah dan kendaraan. Pertumbuhan kredit masyarakat ini
akan berimbas pada tingginya permintaan agregat karena daya beli masyarakat
juga meningkat. Daya beli masyarakat yang tinggi akan menungkatkan jumlah
produksi dan meningkatkan pendapatan nasional.
Dalam
implementasinya, penurunan suku bunga acuan tidak serta merta diikuti oleh
penurunan tingkat suku bunga kredit. Hal ini menurunkan kredibilitas Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Perbankan
dan lembaga keuangan lain masih bersifat profit
oriented atau masih memprioritaskan pada keuntungan. Banyak pertimbangan
yang dilakukan lembaga keuangan dalam menurunkan tingkat bunga kreditnya sehingga turunnya tingkat bunga
acuan sulit diikuti oleh turunnya bunga kredit.
Diantaranya adalah biaya dan resiko kredit yang tinggi, tingkat bunga deposito
yang tinggi dan juga ketidakpastian masyarakat untuk memanfaatkan kredit yang
disediakan. Biaya dan resiko kredit ini muncul karena kredit yang disalurkan
tidak bersifat produktif dan kurangnya pengawasan serta seleksi kredit yang
dilakukan lembaga keuangan sehingga potensi terjadinya kredit macet sangat
tinggi. Tingkat bunga deposito juga merupakan biaya yang harus ditanggung untuk
memancing dana pihak ketiga dari masyarakat. Karena berorientasi pada
keuntungan, biasanya lembaga keuangan menetapkan tingkat bunga kredit yang jauh
lebih tinggi dari pada tingkat bunga deposito. Padahal, walaupun lembaga
keuangan tersebut menetapkan tingkat suku bunga acuan sebagai tingkat bunga
acuannya, lembaga keuangan tersebut masih bisa mendapatkan keuntungan karena
pada umumnya tingkat bunga deposito lebih rendah dari pada suku bunga acuan.
Dalam
menumbuhkan kredit, Bank Indonesia juga harus mempertimbangkan dampak negatif
yang terjadi. Pertumbuhan kredit yang berlebihan dapat mengancam kestabilan
ekonomi makro terutama inflasi. Peningkatan kredit khususnya yang bersifat
konsumsi akan meningkatkan permintaan masyarakat dan menimbulkan demand pull
inflation. Pihak perbankan yang optimis terhadap kredit yang diberikan
kepada masyarakat juga menjadi pemicu terjadinya resiko kredit macet yang dapat
berakibat pada terjadinya resiko sistemik. Otoritas moneter harus memagari
pemberian kredit ini supaya tidak terjadi kredit berlebihan yang dapat
membahayakan kondisi perekonomian terutama pada stabilitas keuangan.
Pertumbuhan kredit yang berlebihan dapat berimbas pada krisis pada sektor
keuangan. Untuk meminimalisasi kredit macet yang dapat menyebabkan resiko pada
perbankan, Bank Indonesia harus memberikan kebijakan berupa kredit selektif
yaitu kredit yang hanya diberikan untuk kegiatan produktif. Selain meminimalkan
resiko yang terjadi, kredit ini juga akan menimbulkan multiplier effect yang
besar terhadap perekonomian nasional. Bank Indonesia dan OJK harus
berkoordinasi dalam memantau pertumbuhan kredit yang terjadi.
Peningkatan
arus likuiditas ini harus selalu diawasi untuk menciptakan keadaan stabilitas
keuangan tetap terjaga. Meningkatnya likuiditas berarti bahwa arus kredit
dibuka semakin melebar dan resiko semakin meningkat terutama resiko
instabilitas finansial. Oleh karena itu, Bank Indonesia dan OJK harus
meningkatkan koordinasi dalam menjaga ketahanan industri perbankan dalam
mengantisipasi resiko likuiditas. Rasio kecukupan modal perbankan juga harus
diawasi untuk menjaga stabilitas keuangan secara mikro maupun makro.
Hingga saat ini
kinerja kebijakan pemerintah bersama dengan kebijakan moneter yang dikeluarkan
oleh Bank Indonesia telah dapat dirasakan hasilnya walaupun tidak seluruhnya
berjalan efektif. Keadaan makroekonomi Indonesia yang masih cukup stabil
disebabkan oleh faktor neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Neraca
perdagangan Indonesia sudah mulai menunjukkan tren positifnya. Hal ini dapat
dilihat dari perdagangan yang mencatat nilai surplus baik ekspor migas maupun
nonmigas. Neraca pembayaran juga mencatat surplus mengingat masih derasnya
aliran modal asing yang masuk. Tren positif pada neraca perdagangan dan neraca
pembayaran ini disebabkan oleh mulai meningkatnya ekspor migas dan nonmigas
serta penurunan jumlah impor baik migas maupun nonmigas. Surplus pada neraca
perdagangan dan pembayaran ini menyebabkan penguatan mata uang rupiah. Tingkat
pertumbuhan ekonomi nasional juga memiliki ekspektasi baik mengingat semakin
tingginya investasi pemerintah dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur
dan juga tingkat konsumsi agregat yang masih stabil. Inflasi juga masih
terkendali karena masih terjaganya harga komoditas pangan yang ditekan oleh
harga BBM yang semakin menurun. Stabilitas sistem keuangan nasional masih tetap
terjaga yang dapat dilihat dari pertumbuahan kredit dan diiringi pertumbuhan
inklusi keuangan yang dapat dilihat melalui pertumbuhan Dana Pihak Ketiga.






bandar Togel online terpercaya di indonesia
BalasHapusAgen TOGEL 4DPOIN,Online Terpercaya.
Minimal Deposit Dan Withdraw 20.000
Keterangan Lebih Lanjut, Anda Bisa Hubungi Disini.
? Pin BBM : D1A279B6
? Pin BBM : 7B83E334
? Whatsapp : +85598291698
? Skype : Poin.4D
? Line : +85598291698