LAJU
INFLASI INDONESIA
Pemerintah sepertinya
bisa merasa lebih lega, dikarekan turunnya angka inflasi yang ada di Indonesia.
Badan Pusat Statistika (BPS), menyatakan bahwa angka inflasi di Indonesia turun
menjadi 0,51% pada Januari 2016 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu
sebesar 0,96%. Hal tersebut tentunya membuat perekonomian bisa menjadi lebih
baik, meskipun belum bisa mendongkrak perekonomian secara signifikan namun
tentunya keadaan perekonomian mengalami perubahan dengan adanya perubahan angka
inflasi yang menurun tadi.
Namun ada hal yang
membuat pemerintah patut berbangga dengan angka inflasi pada Januari 2016 ini,
dikarenakan angka inflasi pada Januari 2016 ini tercatat sebagai angka inflasi
terendah selama tujuh tahun terakhir yaitu semenjak tahun 2010 lalu. Hal
tersebut jelas diuangkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistika (BPS), Suryamin,
yang mengutarakan berita baik mengenai
angka inflasi ini.
Inflasi tentunya
menjadi salah satu indikator penting yang ada di suatu Negara, dikarenakan
keadaan perekonomian suatu Negara baik atau tidaknya bisa dilihat dari seberapa
besar angka inflasi yang ada. Dikarenakan, angka inflasi dapat menggambarkan
nilai dari harga umum suatu barang yang ada di pasar. Dimana harga umum
tersebut tentunya mempengaruhi banyak aspek di pasar, seperti berubahnya nilai
permintaan, penwaran, dan ekuilibrium di pasar yang akan berubah seiring dengan
berubahnya tingkat harga umum.
Sebenarnya, inflasi
sendiri terjadi dikarenakan banyak faktor pada mekanisme pasar yang terjadi.
Misalnya meningkatnya konsumsi masyarakat yang mungkin disebabkan karena
naiknya pendapatan masyarakat. Naiknya pendapatan masyarakat tersbut tentunya
juga akan menaikkan konsumsi masyarakat, seperti yang dikatakan oleh Keynes
dalam teori konsumsinya yang menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat dipengaruhi
oleh pendapatan dengan arah yang positif.
Hal lain yang menjadi
faktor yang mempengaruhi inflasi adalah kelebihan likuiditas uang yang ada di
pasar uang. Kelebihan likuiditas uang tersebut tentunya akan memicu masyarakat
untuk menjadi lebih konsumtif. Selain itu, masyarakat juga bisa saja
menggunakan kelebihan likuiditas uang tersbut untuk motif spekulasi yang
menyebabkan peredaran uang di masyarakat akan sulit mencapai angka yang stabil.
Distribusi barang juga
bisa menjadi faktor lain penyebab inflasi, yaitu distribusi barang yang tidak
lancar atau tidak sesuai ekspektasi. Hal tersebut bisa saja dikarenakan akses
jalan yang kurang baik yang bisa saja menjadi hambatan bagi terdistribusinya
barang. Distribusi barang yang tidak lancar tersebut tentuny akan berpengaruh
pada besar penawaran barang yang ada di pasar. Jika distribusi barang
terhambat, maka akan menyebabkan permintaan barang oleh konsumen tidak bisa
terpenuhi secara baik. Bahkan hal tersebut bisa membuat barang yang ada di
pasar mengalami kelangkaan (scarcity),
yang menyebabkan harga barang di pasar melonjak dari harga normal di pasar dan
akan menyebabkan angka inflasi akan naik juga.
Agustar Radjali,
seorang pengamat ekonomi, juga telah meramalkan tren inflasi yang akan terjadi
pada bulan-bulan awal ditahun 2016 ini. Agustar mengungkapkan bahwa inlfasi di
awal tahun akan cenderung rendah. Hal tersebut dikarenakan pada awal tahun 2016
ini keadaan perekonomian di Indonesia masih normal dengan pola konsumsi yang
normal pula. Namun akan terjadi hal yang berbeda pada petengahan atau akhir
tahun, dimana pada pertengahan atau akhir tahun terdapat perayaan hari besar
seperti Hari Raya misalnya. Pada Hari Raya, pola konsumsi masyarakat tentunya
juga akan meingkat dari biasanya. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh juga
pada meningkatnya inflasi yang ada di Indonesia.
Radjali juga mengatakan bahwa Bulan Desember tahun sebelumnya lonjakan
inflasi memang sedang terjadi. Hal tersebut dikarenakan pada Bulan Desember
tahun sebelumnya ada beberapa peringatan hari besar di Indonesia yang
menyebabkan berubahnya pola komsumsi masyarakat pada saat itu. Hari besar yang
dimaksud seperti perayaan Natal pada Bulan Desember 2016. Dimana konsumsi
masyarakat terutama untuk komsumsi makanan meningkat cukup signifikan.
Sebenarnya ada banyak
komoditas yang mengalami kenaikan harga, bukan hanya makanan saja, seperti
perumahan. Harga dari perumahan yang termasuk ke dalam komoditas properti ini
juga mengalami kenaikkan harga dan menyumbang skala yang lumayan signifikan
terhadap inflasi yang ada di Indonesia. Selain itu, naiknya harga air pada PDAM
juga mengalami kenaikan. Mengingat air merupakan kebutuhan utama masyarakat
yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, maka meskipun harga air naik
masyarakat tidak bisa untuk tidak menggunakan air karena selama ini belum ada
barang subtitusi yang bisa menggantikannya. Selain itu, gas dan bahan bakar
juga mengalami kenaikan harga. Seperti yang kita tahu, bahwa gas dan bahan bakar merupakan kebutuhan
paling pokok masyarakat di Indonesia. Dimana gas dan bahan bakar ini menopang
jalannya hampir semua sektor usaha yang ada di Indonesia karena semua sektor
tentunya membutuhkan gas dan bahan bakar untuk memeperlancar kinerjanya.
Barang lain yang juga
mengalami kenaikan harga dan menyumbang naiknya angka inflasi adalah rokok dan
tembakau. Dimana yang kita tahu jumlah konsumsi rokok di Indonesia cukup besar.
Ketika harga tembakau naik, tentunya juga akan membuat biaya produksi rokok
akan naik mengingat tembakau merupakan bahan baku utama dari produk rokok itu
sendiri. Sehingga perusahaan harus menaikkan harga jual dari rokok. Naiknya
harga tersebut tentunya tidak membuat konsumsi rokok turun, seperti yang
diuangkapkan oleh teori permintaan, justru konsumsi akan rokok naik dari waktu
ke waktu. Para konsumen rokok juga lebih memilih mengurangi kebutuhan lain
asalkan mereka tetap bisa mengkonsumsi rokok. Sehingga naiknya harga rokok
berpengaruh pada terbentuknya angka inflasi saat itu.
Sedangkan barang
konsumsi yang mengalami kenaikan ada pada beberapa jenis barang. Adapun barang
konsumsi yang mengalami kenaikan harga meliputi daging ayam ras, telur ayam
ras, bawang merah, bawang putih, dan juga beras. Barang-barang tersebut
menyumban angka inflasi yang cukup besar. Hal tersebut dikarenakan
barang-barang tersebut merupakan jenis barang yang paling banyak dikonsumsi
oleh masyarakat Indonesia. Beras misalnya, yang menjadi makanan pokok bagi
rata-rata masyarakat Indonesia dan meskipun sebenarnya banyak barang subtitusi
dari beras masyarakat Indonesia tetap saja beranggapan bahwa beras belum bisa
digantikan secara sempurna oleh barang lain. Begitupun bawang merah dan bawang
putih yang merupakan bumbu wajib yang digunakan oleh masyarkat Indoensia untuk mengolah
makanan. Karena masyarakat Indonesia menganggap bawang merah dan bawang putih
belum bisa digantikan secara sempurna untuk memenuhi kebutuhan memasak. Hal
sama terjadi juga pada daging ayam ras dan telur ayam ras yang merupakan jenis
barang kosumsi yang cukup populer di Indonesia, sehingga kebutuhan akan daging
ayam ras dan telur ayam ras tidak pernah menurun justru sebaliknya.
Naiknya harga
barang-barang tersebut semenjak Bulan Desember 2015 masih dirasakan sampai
Januari 2016. Penurunan angka inflasi pada Bulan Januari ini tidak terlepas
dari adanya deflasi pada beberapa sektor yaitu turunnya tarif di bidang
transportasi, komunikasi dan juga tarif pada jasa keuangan.






0 komentar:
Posting Komentar