Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

LAJU INFLASI INDONESIA



LAJU INFLASI INDONESIA

Pemerintah sepertinya bisa merasa lebih lega, dikarekan turunnya angka inflasi yang ada di Indonesia. Badan Pusat Statistika (BPS), menyatakan bahwa angka inflasi di Indonesia turun menjadi 0,51% pada Januari 2016 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,96%. Hal tersebut tentunya membuat perekonomian bisa menjadi lebih baik, meskipun belum bisa mendongkrak perekonomian secara signifikan namun tentunya keadaan perekonomian mengalami perubahan dengan adanya perubahan angka inflasi yang menurun tadi.
Namun ada hal yang membuat pemerintah patut berbangga dengan angka inflasi pada Januari 2016 ini, dikarenakan angka inflasi pada Januari 2016 ini tercatat sebagai angka inflasi terendah selama tujuh tahun terakhir yaitu semenjak tahun 2010 lalu. Hal tersebut jelas diuangkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistika (BPS), Suryamin, yang mengutarakan berita  baik mengenai angka inflasi ini.
Inflasi tentunya menjadi salah satu indikator penting yang ada di suatu Negara, dikarenakan keadaan perekonomian suatu Negara baik atau tidaknya bisa dilihat dari seberapa besar angka inflasi yang ada. Dikarenakan, angka inflasi dapat menggambarkan nilai dari harga umum suatu barang yang ada di pasar. Dimana harga umum tersebut tentunya mempengaruhi banyak aspek di pasar, seperti berubahnya nilai permintaan, penwaran, dan ekuilibrium di pasar yang akan berubah seiring dengan berubahnya tingkat harga umum.
Sebenarnya, inflasi sendiri terjadi dikarenakan banyak faktor pada mekanisme pasar yang terjadi. Misalnya meningkatnya konsumsi masyarakat yang mungkin disebabkan karena naiknya pendapatan masyarakat. Naiknya pendapatan masyarakat tersbut tentunya juga akan menaikkan konsumsi masyarakat, seperti yang dikatakan oleh Keynes dalam teori konsumsinya yang menjelaskan bahwa konsumsi masyarakat dipengaruhi oleh pendapatan dengan arah yang positif.
Hal lain yang menjadi faktor yang mempengaruhi inflasi adalah kelebihan likuiditas uang yang ada di pasar uang. Kelebihan likuiditas uang tersebut tentunya akan memicu masyarakat untuk menjadi lebih konsumtif. Selain itu, masyarakat juga bisa saja menggunakan kelebihan likuiditas uang tersbut untuk motif spekulasi yang menyebabkan peredaran uang di masyarakat akan sulit mencapai angka yang stabil.
Distribusi barang juga bisa menjadi faktor lain penyebab inflasi, yaitu distribusi barang yang tidak lancar atau tidak sesuai ekspektasi. Hal tersebut bisa saja dikarenakan akses jalan yang kurang baik yang bisa saja menjadi hambatan bagi terdistribusinya barang. Distribusi barang yang tidak lancar tersebut tentuny akan berpengaruh pada besar penawaran barang yang ada di pasar. Jika distribusi barang terhambat, maka akan menyebabkan permintaan barang oleh konsumen tidak bisa terpenuhi secara baik. Bahkan hal tersebut bisa membuat barang yang ada di pasar mengalami kelangkaan (scarcity), yang menyebabkan harga barang di pasar melonjak dari harga normal di pasar dan akan menyebabkan angka inflasi akan naik juga.
Agustar Radjali, seorang pengamat ekonomi, juga telah meramalkan tren inflasi yang akan terjadi pada bulan-bulan awal ditahun 2016 ini. Agustar mengungkapkan bahwa inlfasi di awal tahun akan cenderung rendah. Hal tersebut dikarenakan pada awal tahun 2016 ini keadaan perekonomian di Indonesia masih normal dengan pola konsumsi yang normal pula. Namun akan terjadi hal yang berbeda pada petengahan atau akhir tahun, dimana pada pertengahan atau akhir tahun terdapat perayaan hari besar seperti Hari Raya misalnya. Pada Hari Raya, pola konsumsi masyarakat tentunya juga akan meingkat dari biasanya. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh juga pada meningkatnya inflasi yang ada di Indonesia.
 Radjali juga mengatakan bahwa  Bulan Desember tahun sebelumnya lonjakan inflasi memang sedang terjadi. Hal tersebut dikarenakan pada Bulan Desember tahun sebelumnya ada beberapa peringatan hari besar di Indonesia yang menyebabkan berubahnya pola komsumsi masyarakat pada saat itu. Hari besar yang dimaksud seperti perayaan Natal pada Bulan Desember 2016. Dimana konsumsi masyarakat terutama untuk komsumsi makanan meningkat cukup signifikan.
Sebenarnya ada banyak komoditas yang mengalami kenaikan harga, bukan hanya makanan saja, seperti perumahan. Harga dari perumahan yang termasuk ke dalam komoditas properti ini juga mengalami kenaikkan harga dan menyumbang skala yang lumayan signifikan terhadap inflasi yang ada di Indonesia. Selain itu, naiknya harga air pada PDAM juga mengalami kenaikan. Mengingat air merupakan kebutuhan utama masyarakat yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, maka meskipun harga air naik masyarakat tidak bisa untuk tidak menggunakan air karena selama ini belum ada barang subtitusi yang bisa menggantikannya. Selain itu, gas dan bahan bakar juga mengalami kenaikan harga. Seperti yang kita tahu, bahwa  gas dan bahan bakar merupakan kebutuhan paling pokok masyarakat di Indonesia. Dimana gas dan bahan bakar ini menopang jalannya hampir semua sektor usaha yang ada di Indonesia karena semua sektor tentunya membutuhkan gas dan bahan bakar untuk memeperlancar kinerjanya.
Barang lain yang juga mengalami kenaikan harga dan menyumbang naiknya angka inflasi adalah rokok dan tembakau. Dimana yang kita tahu jumlah konsumsi rokok di Indonesia cukup besar. Ketika harga tembakau naik, tentunya juga akan membuat biaya produksi rokok akan naik mengingat tembakau merupakan bahan baku utama dari produk rokok itu sendiri. Sehingga perusahaan harus menaikkan harga jual dari rokok. Naiknya harga tersebut tentunya tidak membuat konsumsi rokok turun, seperti yang diuangkapkan oleh teori permintaan, justru konsumsi akan rokok naik dari waktu ke waktu. Para konsumen rokok juga lebih memilih mengurangi kebutuhan lain asalkan mereka tetap bisa mengkonsumsi rokok. Sehingga naiknya harga rokok berpengaruh pada terbentuknya angka inflasi saat itu.
Sedangkan barang konsumsi yang mengalami kenaikan ada pada beberapa jenis barang. Adapun barang konsumsi yang mengalami kenaikan harga meliputi daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, dan juga beras. Barang-barang tersebut menyumban angka inflasi yang cukup besar. Hal tersebut dikarenakan barang-barang tersebut merupakan jenis barang yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Beras misalnya, yang menjadi makanan pokok bagi rata-rata masyarakat Indonesia dan meskipun sebenarnya banyak barang subtitusi dari beras masyarakat Indonesia tetap saja beranggapan bahwa beras belum bisa digantikan secara sempurna oleh barang lain. Begitupun bawang merah dan bawang putih yang merupakan bumbu wajib yang digunakan oleh masyarkat Indoensia untuk mengolah makanan. Karena masyarakat Indonesia menganggap bawang merah dan bawang putih belum bisa digantikan secara sempurna untuk memenuhi kebutuhan memasak. Hal sama terjadi juga pada daging ayam ras dan telur ayam ras yang merupakan jenis barang kosumsi yang cukup populer di Indonesia, sehingga kebutuhan akan daging ayam ras dan telur ayam ras tidak pernah menurun justru sebaliknya.
Naiknya harga barang-barang tersebut semenjak Bulan Desember 2015 masih dirasakan sampai Januari 2016. Penurunan angka inflasi pada Bulan Januari ini tidak terlepas dari adanya deflasi pada beberapa sektor yaitu turunnya tarif di bidang transportasi, komunikasi dan juga tarif pada jasa keuangan.

0 komentar:

Posting Komentar