KONVERGENSI INFLASI SOLUSI ATASI KETIMPANGAN
Berdasarkan BAPPENAS (2015) Indonesia merupakan negara kepualauan
yang memiliki jumlah pulau terbanyak yaitu 18.110 pulau dan juga berpredikat
sebagai negara yang memiliki wilayah laut yang lebih lua dari wilayah
daratannya atau dua per tiga dari total luas wilayahnya serta merupakan negara
dengan negara terpanjang kedua di dunia dengan panjang pantai yaitu 95.181 KM.
Wilayah Indonesia terbagi atas 3 bagian berdasarkan pembagian waktu yaitu
wilayah barat yang terdiri dari daerah di pulau Sumatra dan Jawa, Kalimantan
Barat dan Tengah, wilayah Indonesia bagian tengah terdiri dari Kalimantan
Timur, Selatan dan Utara, seluruh daerah di pulau Sulawesi, Bali, NTB, NTT
serta Sumbawa, sedangkan wilayah Indonesia bagian timur terdiri dari Maluku
Utara, Maluku dan daerah papua seperti
yang terlihat pada peta dibawah.
Peta Pembagian Wilayah Di Indonesia Berdasarkan Waktu

Ketiga bagian wilayah Indonesia tersebut memiliki tingkat
pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pembangunan yang berbeda, wilayah
Indonesia bagian barat memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi, hal tersebut di
karenakan pulau jawa dan sumatra memiliki infrastruktur yang lebih baik
dibanding di pulau lainnya, selain itu posisi Jakarta Sebagai ibukota negara
yang berada di pulau jawa membuat perkembangan perekonomian baik dari segi
pertumbuhan ekonomi, infrastruktur maupun inflasi lebih baik dari yang lain dan
cenderung terpusat di pulau jawa dan pulau yang dekat dengannya seperti Sumatra
dan Bali.
keadaan perekonomian wilayah tengah Indonesia juga hampir mendekati
dari pembangunan yang ada di wilayah Indonesia bagian barat. Namun berbeda
halnya dengan wilayah Indonesia bagian timur yang notabenya merupakan wilayah
paling jauh dari pusat pemerintah Indonesia, baik dari segi infrastruktur
maupun perekonomian daerah ini cenderung tertinggal jauh bahkan hampir semua
daerahnya masuk dalam kelompok daerah tertinggal, meskipun pemerintah Indonesia
telah membuat suatu rancangan untuk percepatan daerah timur negara Indonesia,
namun hingga saat ini program tersebut belum terbukti adanya.
Masalah utama yang masih terus membuat disparitas antara wilayah
timur, barat dan tengah Indonesia yaitu disparitas inflasi. Inflasi di wilayah
timur cenderung lebih besar dibandingkan dengan inflasi di wilayah barat
terutama pulau jawa, menurut data dari Bank Indonesia inflasi di Provinsi Papua
pada triwulan IV 2015 mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya yaitu 7,07%
(yoy) menjadi 3,57% (yoy) hal tersebut disebabkan oleh turunnya harga komoditas
yang diatur oleh pemerintah. Sedangkan inflasi di Maluku utara menurut Bank
Indonesia pada triwulan IV 2015 tercatat sebesar 4,52% (yoy) lebih rendah dari
inflasi triwulan sebelumnya yaitu sebesar 6,60% (yoy) dan jauh lebih rendah
dibandingkan dengan inflasi tahun sebelumnya yang mencapai 9,34% (yoy). Turunnya
inflasi tersebut disebabkan oleh turunnya harga komoditas yang diatur oleh
pemerintah dan efek menghilangnya inflasi karena BBM.
Jika dibandingkan dengan inflasi di salah satu kota di Jawa yaitu
Daerah Khusus Yogyakarta yang memiliki inflasi 3,09% (yoy) pada tahun 2015 dan
lebih rendah dari inflasi nasional yaitu 3,35% (yoy), jelas hal tersebut jauh
dari inflasi yang ada di wilayah timur Indonesia. Meskipun inflasi di wilayah
timur Indonesia mengalami penurunan namun penurunan tersebut tidak sebanding
dengan penurunan yang terjadi di wilayah barat dan tengah Indonesia yang
cenderung memiliki inflasi yang lebih stabil dan tidak terlalu tinggi,
perbedaan inflasi tersebut ditengarai oleh tidak meratanya pembangunan
infrastruktur jalan yang dijadikan sebagai akses distribusi logistik ke wilayah
timur baik digunakan untuk konsumsi maupun produksi.
Apabila inflasi di bagian wilayah timur Indonesia memang lebih
kecil, hal tersebut disebakan karena hasrat masyarakat untuk membeli barang
tidak terlalu besar sehingga menyebabkan harga-harga relatif stabil pada
saat-saat tertentu. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Darius dan
Handri (2013) bahwa terjadi ketergantungan pada sistem distribusi dan
transportasi dalam hal pengiriman logistik yang cenderung terpusat pada daerah
jawa. Jika merujuk pada tabel dibawah ini kualitas infrasturktur Indonesia di
tingkat dunia masih jauh dibawah kata layak.
Kualitas Infrastruktur di Indonesia
Indikator
|
Peringkat
|
Kualitas Keseluruhan
|
92
|
Kualitas Jalan
|
90
|
Kualitas Infrastruktur Kereta Api
|
51
|
Kualitas Infrastruktur Pelabuhan
|
104
|
Kualitas Infrastruktur Trasnportasi Udara
|
89
|
Kualitas Pasokan Listrik
|
93
|
Sambungan Telepon/100 Penduduk
|
78
|
Gambar 4.1 kualitas Infrastruktur Indonesia 2012–2013. (Sumber;
Global Competitiveness Report WEF, data diolah )
Oleh karena itu disparitas harga tersebut sudah
selayaknya dihilangkan sehingga inflasi di wilayah-wilayah Indonesia menuju ke
arah inflasi yang berkonvergensi. Konvergensi inflasi yang dimaksud adalah keadaan dimana inflasi akan bertemu pada satu titik, inflasi yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah inflasi wilayah timur Indonesia yang
terdiri dari papua dan maluku dengan acuan konvergensi yaitu inflasi provinsi
di pulau jawa. Provinsi di pulau Jawa dijadikan sebagai acuan konvergensi
karena memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga ketika inflasi
wilayah timur Indonesia berkonvergensi dengan inflasi Jawa maka hal tersebut
mengindikasikan bahwa wilayah timur Indonesia mampu mengejar ketertinggalan
perekonomian provinsi di pulau jawa yang tergolong maju.
Konvergensi inflasi mengindikasikan adanya kesamaan kemajuan antar
berbagai wilayah di Indonesia sehingga hal tersebut sangat penting untuk
dilakukan. Solusi yang dapat dilakukan yaitu
bauran dari kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Jika biasanya menurut teori
otoritas moneter di negara berkembang sering kali membantu menutupi defisit
fiskal pemerintah maka sudah selayaknya ada timbal balik pemerintah membantu
mengatasi masalah moneter yaitu inflasi. Solusi riil yang telah dilakukan
pemerintah yaitu melalui penerapan tol laut.
Ketika
tol laut telah di implementasikan maka hal tersebut akan berdampak pada
percepatan arus transportasi laut dan distribusi logistik melalui laut serta
pengurangan biaya angkut karena proses pengiriman yang lebih cepat membuat
biaya-biaya lain seperti biaya hidup pengirim juga dapat berkurang, hal
tersebut membuat harga barang logistik yang diangkut menjadi lebih murah dan
hal itu berdampak pada pembelian baik oleh konsumen secara langsung maupun oleh
produsen untuk proses produksi, ketika barang tersebut dibeli oleh produsen
maka biaya pada proses produksi akan menjadi lebih kecil karena harga bahan
baku lebih murah, ketika permintaan barang dari proses produksi daerah
meningkat sementara proses produksi lancar maka keseimbangan akan terjadi,
harga menjadi lebih stabil dan berdampak pada percepatan konvergensi inflasi.
Dengan
penerapan tol laut maka infrastruktur dari segi transportasi publik akan
bertambah dan masalah yang ada pada penelitian Darius dan Handri (2013) yang
menyebutkan bahwa penyebab sulitnya konvergensi inflasi antar wilayah di
Indonesia disebabkan oleh ketergantungan logistik wilayah timur Indonesia
sehingga peran transportasi sangat diperlukan, hal tersebut dapat teratasi
melalui penerapan tol laut. Inflasi yang dimaksudkan pada penelitian ini yaitu
lebih pada teori cost push inflation yang mana sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Atmadja (1999) sebagai negara berkembang Indonesia memang
lebih dominan terkena cost push inflation dan juga dipengaruhi oleh
keadaan Indonesia sebagai negara kepulauan. Cost push inflation
menekankan pada biaya tenaga kerja dari wilayah timur Indonesia yang akan
meningkat seiring dengan peningkatan biaya distribusi dan transportasi. Oleh
karena itu itu melalui penerapan tol laut maka akan membuat distribusi logistik
lancar sehingga biaya pengiriman berkurang dan harga akan cenderung turun.






0 komentar:
Posting Komentar