Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

KONVERGENSI INFLASI SOLUSI ATASI KETIMPANGAN



KONVERGENSI INFLASI SOLUSI ATASI KETIMPANGAN
Berdasarkan BAPPENAS (2015) Indonesia merupakan negara kepualauan yang memiliki jumlah pulau terbanyak yaitu 18.110 pulau dan juga berpredikat sebagai negara yang memiliki wilayah laut yang lebih lua dari wilayah daratannya atau dua per tiga dari total luas wilayahnya serta merupakan negara dengan negara terpanjang kedua di dunia dengan panjang pantai yaitu 95.181 KM. Wilayah Indonesia terbagi atas 3 bagian berdasarkan pembagian waktu yaitu wilayah barat yang terdiri dari daerah di pulau Sumatra dan Jawa, Kalimantan Barat dan Tengah, wilayah Indonesia bagian tengah terdiri dari Kalimantan Timur, Selatan dan Utara, seluruh daerah di pulau Sulawesi, Bali, NTB, NTT serta Sumbawa, sedangkan wilayah Indonesia bagian timur terdiri dari Maluku Utara, Maluku dan daerah  papua seperti yang terlihat pada peta dibawah.
Peta Pembagian Wilayah Di Indonesia Berdasarkan Waktu
Description: http://ilmupengetahuanumum.com/wp-content/uploads/2014/05/Pembagian-Waktu-di-Indonesia.jpg
Ketiga bagian wilayah Indonesia tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pembangunan yang berbeda, wilayah Indonesia bagian barat memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi, hal tersebut di karenakan pulau jawa dan sumatra memiliki infrastruktur yang lebih baik dibanding di pulau lainnya, selain itu posisi Jakarta Sebagai ibukota negara yang berada di pulau jawa membuat perkembangan perekonomian baik dari segi pertumbuhan ekonomi, infrastruktur maupun inflasi lebih baik dari yang lain dan cenderung terpusat di pulau jawa dan pulau yang dekat dengannya seperti Sumatra dan Bali.
keadaan perekonomian wilayah tengah Indonesia juga hampir mendekati dari pembangunan yang ada di wilayah Indonesia bagian barat. Namun berbeda halnya dengan wilayah Indonesia bagian timur yang notabenya merupakan wilayah paling jauh dari pusat pemerintah Indonesia, baik dari segi infrastruktur maupun perekonomian daerah ini cenderung tertinggal jauh bahkan hampir semua daerahnya masuk dalam kelompok daerah tertinggal, meskipun pemerintah Indonesia telah membuat suatu rancangan untuk percepatan daerah timur negara Indonesia, namun hingga saat ini program tersebut belum terbukti adanya.
Masalah utama yang masih terus membuat disparitas antara wilayah timur, barat dan tengah Indonesia yaitu disparitas inflasi. Inflasi di wilayah timur cenderung lebih besar dibandingkan dengan inflasi di wilayah barat terutama pulau jawa, menurut data dari Bank Indonesia inflasi di Provinsi Papua pada triwulan IV 2015 mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya yaitu 7,07% (yoy) menjadi 3,57% (yoy) hal tersebut disebabkan oleh turunnya harga komoditas yang diatur oleh pemerintah. Sedangkan inflasi di Maluku utara menurut Bank Indonesia pada triwulan IV 2015 tercatat sebesar 4,52% (yoy) lebih rendah dari inflasi triwulan sebelumnya yaitu sebesar 6,60% (yoy) dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi tahun sebelumnya yang mencapai 9,34% (yoy). Turunnya inflasi tersebut disebabkan oleh turunnya harga komoditas yang diatur oleh pemerintah dan efek menghilangnya inflasi karena BBM.
Jika dibandingkan dengan inflasi di salah satu kota di Jawa yaitu Daerah Khusus Yogyakarta yang memiliki inflasi 3,09% (yoy) pada tahun 2015 dan lebih rendah dari inflasi nasional yaitu 3,35% (yoy), jelas hal tersebut jauh dari inflasi yang ada di wilayah timur Indonesia. Meskipun inflasi di wilayah timur Indonesia mengalami penurunan namun penurunan tersebut tidak sebanding dengan penurunan yang terjadi di wilayah barat dan tengah Indonesia yang cenderung memiliki inflasi yang lebih stabil dan tidak terlalu tinggi, perbedaan inflasi tersebut ditengarai oleh tidak meratanya pembangunan infrastruktur jalan yang dijadikan sebagai akses distribusi logistik ke wilayah timur baik digunakan untuk konsumsi maupun produksi.
Apabila inflasi di bagian wilayah timur Indonesia memang lebih kecil, hal tersebut disebakan karena hasrat masyarakat untuk membeli barang tidak terlalu besar sehingga menyebabkan harga-harga relatif stabil pada saat-saat tertentu. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Darius dan Handri (2013) bahwa terjadi ketergantungan pada sistem distribusi dan transportasi dalam hal pengiriman logistik yang cenderung terpusat pada daerah jawa. Jika merujuk pada tabel dibawah ini kualitas infrasturktur Indonesia di tingkat dunia masih jauh dibawah kata layak.
Kualitas Infrastruktur di Indonesia
Indikator
Peringkat
Kualitas Keseluruhan
92
Kualitas Jalan
90
Kualitas Infrastruktur Kereta Api
51
Kualitas Infrastruktur Pelabuhan
104
Kualitas Infrastruktur Trasnportasi Udara
89
Kualitas Pasokan Listrik
93
Sambungan Telepon/100 Penduduk
78
Gambar 4.1 kualitas Infrastruktur Indonesia 2012–2013. (Sumber; Global Competitiveness Report WEF, data diolah )
Oleh karena itu disparitas harga tersebut sudah selayaknya dihilangkan sehingga inflasi di wilayah-wilayah Indonesia menuju ke arah inflasi yang berkonvergensi. Konvergensi inflasi yang dimaksud adalah keadaan dimana inflasi akan bertemu pada satu titik, inflasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah inflasi wilayah timur Indonesia yang terdiri dari papua dan maluku dengan acuan konvergensi yaitu inflasi provinsi di pulau jawa. Provinsi di pulau Jawa dijadikan sebagai acuan konvergensi karena memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga ketika inflasi wilayah timur Indonesia berkonvergensi dengan inflasi Jawa maka hal tersebut mengindikasikan bahwa wilayah timur Indonesia mampu mengejar ketertinggalan perekonomian provinsi di pulau jawa yang tergolong maju.
Konvergensi inflasi mengindikasikan adanya kesamaan kemajuan antar berbagai wilayah di Indonesia sehingga hal tersebut sangat penting untuk dilakukan. Solusi yang dapat dilakukan yaitu bauran dari kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Jika biasanya menurut teori otoritas moneter di negara berkembang sering kali membantu menutupi defisit fiskal pemerintah maka sudah selayaknya ada timbal balik pemerintah membantu mengatasi masalah moneter yaitu inflasi. Solusi riil yang telah dilakukan pemerintah yaitu melalui penerapan tol laut.
Ketika tol laut telah di implementasikan maka hal tersebut akan berdampak pada percepatan arus transportasi laut dan distribusi logistik melalui laut serta pengurangan biaya angkut karena proses pengiriman yang lebih cepat membuat biaya-biaya lain seperti biaya hidup pengirim juga dapat berkurang, hal tersebut membuat harga barang logistik yang diangkut menjadi lebih murah dan hal itu berdampak pada pembelian baik oleh konsumen secara langsung maupun oleh produsen untuk proses produksi, ketika barang tersebut dibeli oleh produsen maka biaya pada proses produksi akan menjadi lebih kecil karena harga bahan baku lebih murah, ketika permintaan barang dari proses produksi daerah meningkat sementara proses produksi lancar maka keseimbangan akan terjadi, harga menjadi lebih stabil dan berdampak pada percepatan konvergensi inflasi.
Dengan penerapan tol laut maka infrastruktur dari segi transportasi publik akan bertambah dan masalah yang ada pada penelitian Darius dan Handri (2013) yang menyebutkan bahwa penyebab sulitnya konvergensi inflasi antar wilayah di Indonesia disebabkan oleh ketergantungan logistik wilayah timur Indonesia sehingga peran transportasi sangat diperlukan, hal tersebut dapat teratasi melalui penerapan tol laut. Inflasi yang dimaksudkan pada penelitian ini yaitu lebih pada teori cost push inflation yang mana sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Atmadja (1999) sebagai negara berkembang Indonesia memang lebih dominan terkena cost push inflation dan juga dipengaruhi oleh keadaan Indonesia sebagai negara kepulauan. Cost push inflation menekankan pada biaya tenaga kerja dari wilayah timur Indonesia yang akan meningkat seiring dengan peningkatan biaya distribusi dan transportasi. Oleh karena itu itu melalui penerapan tol laut maka akan membuat distribusi logistik lancar sehingga biaya pengiriman berkurang dan harga akan cenderung turun.


0 komentar:

Posting Komentar