Membaca Arah Kebijakan Moneter tahun 2016
Kejelasan
arah kebijakan moneter yang lebih baik dari Bank Indonesia merupakan salah satu
kemudahan dari bank sentral agar dapat membantu memperluas peran pelaku pasar
keuangan seperti perbankan dan lembaga keuangan lainnya untuk terus memberikan
konttribusiya dalam menjaga perekonomian menjadi yang lebih baik, terutama pada
stabilitas sistem keuangan yang meliputi pengendalian tingkat harga dan inflasi
di Indonesia. Dengan melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada desember
2015 keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga BI rate di level 7,5%
dirasa lebih sesuai denga kondisi perekonomian yang ada. Sedangkan kondisi
ekonomi dalam negeri terbilang stabil dan tingkat inflasi yang rendah bank
sentral juga sudah pasti telah mempertimbangkan faktor lain diluar perekonomian
nasional yang dapat memberikan guncangan atau shock. Kebijakan kenaikkan suku bunga di Amerika Serikat menjadi
salah satu pengaruh yang masih bisa di prediksi arah kebijakan nasional seperti
apa, karena beberapa kali juga telah diprediksi bahwa selama kebijakan ekonomi
Amerika masih dalam tahap yang tidak terlalu menimbulkan guncangan yang
berarti, bank sentral masih dapat mengatasinya dengan mengeluarkan beberapa
stimulus kebijakan guna mendukung jalannya instrumen kebijakan terhadap target
yag lebih optimal.
Proyeksi
yang optimistis dari para ekonom bank BNI menandakan, meskipun telah terjadi
pelemahan yang cukup berarti di Indonesia, mereka yakin dengan kebijakan bank
sentral ini dianggap dapat secara bertahap dan perlahan memperbaiki keyakinan
dan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia. tidak dapat
dipungkiri bahwa, kebijakan suku bunga akan selalu mengarah pada pertumbuhan
investasi pada suatu negara. Dengan pelonggaran kebijakan suku bunga di awal
tahun 2016 yang cukup meyakinkan menjadi faktor utama yang membuat keyakinan
investor akan mengalami kenaikan di tahun 2016. Penurunan suku bunga kebijakan
oleh bak sentra telah dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu masing-masing dengan
interval penurunan sebesar 25 basis point, sehingga suku bunga BI Rate saat ini
yang berlaku adalah pada kisaran 6,75% dan diikuti dengan munculnya wacana baru
dari bank Indonesia yang ingin mengubah suku bunga kebijakan tidak lagi
menggunakan BI Rate, melainkan 7-day Repo Rate yang diharapkan dapat lebih
intensif lagi dalam mengontrol kebijakan pada sektor keuangan.
Meskipun
sebelum kebijakan ini diumumkan, keyakinan investor untuk berinvestasi di
Indonesia juga didoraong dari segi fiskal. Kebijakan pemerintah yang berkaitan
dengan ijin investasi saat ini mulai menampakkan hasil, setelah terjadi
beberapa pemangkasan ijin dari beberapa sub sektor. Bentuk dukungan pemeritah
melalui kebijakan fiskal untuk terus berkomitmen melakukan senergi dengan kebijakan
moneter adalah suatu bentuk kordinasi dua kebijakan yang sangat diperlukan
disaat terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi. Namun lagi-lagi jika dilihat dari
kebijakan moneter sendiri, penetapan kebijakan suku bunga dengan sistem yang
baru akan membutuhkan penyesuaian dari pasar barang dan tentunya pasar uang.
Kedua penyesuaian inilah yang kadang mejadi salah satu faktor krusial ketika
kebijakan baru mulai akan ditetapkan. Berbagai guncangan dari sisi penawaran
dan permintaan entah yang bersifat positif ataupun negatif pada kedua pasar
akan menyebabkan fluktuasi dari permintaan agregat menjadi lebih bervariatif.
Perubahan nilai dari masing-masinng pasar akan menimbulkan pertanyaan apakah
kebijakan yang baru akan lebih efektif untuk mencapai target dari kebijakan
moneter? Pertanyaan tersebut nantinya akan terjawab melalui mekanisme transmisi
alat kebijakan yang digunakan mempegaruhi variabel-variabel yang ada di kedua
pasar. Jika kondisi pasar diasumsikan tidak terjadi kendala atau dalam keadaan
yang baik-baik saja, penurunan suku bunga, misalnya, akan mendoronng permintaan
uang dimasyarakat menjadi lebih banyak (pada pasar uang) dan kondisi ini harus
diimbangi dengan besaran supply uang yang memadai atau yang sesuai dari bank
sentral agar tidak terjadi kelebihan permintaan, yang berakibat pada inflasi
yang lebih besar. Denga demikian, penurunan suku bunga akan menjadi faktor
utama dari inflasi, dengan asumsi bahwa
bank sentral telah mentargetkan stabilitas harga, sehingga untuk menghindari
kenaikan atau perubahan harga kelebihan permintaan harus diimbangi dengan
tambahan penawaran uang di masyarakat. Sehingga terbentuk keseimbangan baru.
Itulah
megapa, meskipun perekonomian 2016 terpreediksi mengalami perbaikan namun satu
kebijakan saja tidak akan cukup untuk menjadi kontrol atas suatu kondisi
perekonomian. Kebijakan moneter, sebagai salah satu kebijakan yang mengatur
sistem keuangan, harga, dan inflasi di Indonesia juga mempertimbagkan hal lain
dalam menentukan instrume apa yang akan digunakan untuk menuntun arah kebijakan
yang lebih baik serta bagaimana efektivitas dari instrumen tersebut untuk
dijadikan kontrol.






0 komentar:
Posting Komentar