Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Membaca Arah Kebijakan Moneter tahun 2016



Membaca Arah Kebijakan Moneter tahun 2016

Kejelasan arah kebijakan moneter yang lebih baik dari Bank Indonesia merupakan salah satu kemudahan dari bank sentral agar dapat membantu memperluas peran pelaku pasar keuangan seperti perbankan dan lembaga keuangan lainnya untuk terus memberikan konttribusiya dalam menjaga perekonomian menjadi yang lebih baik, terutama pada stabilitas sistem keuangan yang meliputi pengendalian tingkat harga dan inflasi di Indonesia. Dengan melalui keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada desember 2015 keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga BI rate di level 7,5% dirasa lebih sesuai denga kondisi perekonomian yang ada. Sedangkan kondisi ekonomi dalam negeri terbilang stabil dan tingkat inflasi yang rendah bank sentral juga sudah pasti telah mempertimbangkan faktor lain diluar perekonomian nasional yang dapat memberikan guncangan atau shock. Kebijakan kenaikkan suku bunga di Amerika Serikat menjadi salah satu pengaruh yang masih bisa di prediksi arah kebijakan nasional seperti apa, karena beberapa kali juga telah diprediksi bahwa selama kebijakan ekonomi Amerika masih dalam tahap yang tidak terlalu menimbulkan guncangan yang berarti, bank sentral masih dapat mengatasinya dengan mengeluarkan beberapa stimulus kebijakan guna mendukung jalannya instrumen kebijakan terhadap target yag lebih optimal.
Proyeksi yang optimistis dari para ekonom bank BNI menandakan, meskipun telah terjadi pelemahan yang cukup berarti di Indonesia, mereka yakin dengan kebijakan bank sentral ini dianggap dapat secara bertahap dan perlahan memperbaiki keyakinan dan kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia. tidak dapat dipungkiri bahwa, kebijakan suku bunga akan selalu mengarah pada pertumbuhan investasi pada suatu negara. Dengan pelonggaran kebijakan suku bunga di awal tahun 2016 yang cukup meyakinkan menjadi faktor utama yang membuat keyakinan investor akan mengalami kenaikan di tahun 2016. Penurunan suku bunga kebijakan oleh bak sentra telah dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu masing-masing dengan interval penurunan sebesar 25 basis point, sehingga suku bunga BI Rate saat ini yang berlaku adalah pada kisaran 6,75% dan diikuti dengan munculnya wacana baru dari bank Indonesia yang ingin mengubah suku bunga kebijakan tidak lagi menggunakan BI Rate, melainkan 7-day Repo Rate yang diharapkan dapat lebih intensif lagi dalam mengontrol kebijakan pada sektor keuangan.
Meskipun sebelum kebijakan ini diumumkan, keyakinan investor untuk berinvestasi di Indonesia juga didoraong dari segi fiskal. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ijin investasi saat ini mulai menampakkan hasil, setelah terjadi beberapa pemangkasan ijin dari beberapa sub sektor. Bentuk dukungan pemeritah melalui kebijakan fiskal untuk terus berkomitmen melakukan senergi dengan kebijakan moneter adalah suatu bentuk kordinasi dua kebijakan yang sangat diperlukan disaat terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi. Namun lagi-lagi jika dilihat dari kebijakan moneter sendiri, penetapan kebijakan suku bunga dengan sistem yang baru akan membutuhkan penyesuaian dari pasar barang dan tentunya pasar uang. Kedua penyesuaian inilah yang kadang mejadi salah satu faktor krusial ketika kebijakan baru mulai akan ditetapkan. Berbagai guncangan dari sisi penawaran dan permintaan entah yang bersifat positif ataupun negatif pada kedua pasar akan menyebabkan fluktuasi dari permintaan agregat menjadi lebih bervariatif. Perubahan nilai dari masing-masinng pasar akan menimbulkan pertanyaan apakah kebijakan yang baru akan lebih efektif untuk mencapai target dari kebijakan moneter? Pertanyaan tersebut nantinya akan terjawab melalui mekanisme transmisi alat kebijakan yang digunakan mempegaruhi variabel-variabel yang ada di kedua pasar. Jika kondisi pasar diasumsikan tidak terjadi kendala atau dalam keadaan yang baik-baik saja, penurunan suku bunga, misalnya, akan mendoronng permintaan uang dimasyarakat menjadi lebih banyak (pada pasar uang) dan kondisi ini harus diimbangi dengan besaran supply uang yang memadai atau yang sesuai dari bank sentral agar tidak terjadi kelebihan permintaan, yang berakibat pada inflasi yang lebih besar. Denga demikian, penurunan suku bunga akan menjadi faktor utama  dari inflasi, dengan asumsi bahwa bank sentral telah mentargetkan stabilitas harga, sehingga untuk menghindari kenaikan atau perubahan harga kelebihan permintaan harus diimbangi dengan tambahan penawaran uang di masyarakat. Sehingga terbentuk keseimbangan baru.
Itulah megapa, meskipun perekonomian 2016 terpreediksi mengalami perbaikan namun satu kebijakan saja tidak akan cukup untuk menjadi kontrol atas suatu kondisi perekonomian. Kebijakan moneter, sebagai salah satu kebijakan yang mengatur sistem keuangan, harga, dan inflasi di Indonesia juga mempertimbagkan hal lain dalam menentukan instrume apa yang akan digunakan untuk menuntun arah kebijakan yang lebih baik serta bagaimana efektivitas dari instrumen tersebut untuk dijadikan kontrol.

0 komentar:

Posting Komentar