Pengendalian Volume Kredit, melalui Kredit selektif.
Seperti
yang telah dikatakan penurunan suku bunga hampir sama dengan hukum ekonomi yang
menyebutkan bahwa, semakin rendah tingkat harga yang ditawarkan maka permintaan
(akan barang atau jasa) akan meningkat, atau terjadi hubungan yang negatif
antara harga dan permintaan. Terlepas dari kata setuju atau tidak setuju
terhadap kebijakan pemerintah tersebut, saya rasa untuk meningkatkan volume
kredit di masyarakat dengan menggunakan instrumen suku bunga melalui kebijakan
moneter cukup akan memberi efek atau memberikan respon yang di harapkan.
Meskipun respon dari harapan itu akan terwujud dalam jangka panjang, namun
bentuk antisipasi kebijakan suku bunga acuan untuk mengintervensi volume kredit
perlu masih perlu perhatian intensif. Pasalnya, penurunan ataupun kenaikkan
suku bunga dilakukan bukan hanya pada saat ingin meningkatkan likuiditas
pembayaran melalui kredit saja, namun ada hal lain seperti inflasi dan faktor
eksternal atau internal yang dapat mengubah satuan angka pada suku bunga acuan.
Meskipun
dari beberapa data yang disebutkan diatas merupakan respon dari perbankan yang
memiliki kemungkinan akan menaikkan volume kredit dan keuntungan dari sektor
perbankan tersebut, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa ada
faktor lain yang “bisa” dan “akan” mempengaruhi suku bunga dikemudian hari.
Dari inflasi saja, jika penurunan suku bunga yang dilakukan sekarang sudah
mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam jangka panjang, namun bukan berarti
berbagai kemungkinan kondisi dalam jangka pendek akan sama dengan jangka
panjang. Apalagi faktor yang menyebabkan perubahan inflasi bisa berubah seiring
dengan waktu yang lagi-lagi penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian dalam
jangka pendek inilah yang kadanng dapat merubah ekspektasi akan kondisi yang
telah diprediksi di jangka panjang menjadi berubah, sehingga jika bank
indonesia dapat mempertahankan suku bunganya di tingkat yang sama untuk jangka
waktu yang cukup lama, maka akan ada faktor lain selain suku bunga yang akan
berubah dengan tingkat kemungkinan yang sama untuk merubah nilai dari
ekspektasi kredit yang diharapkan saat asumsi yang digunakan ceteris paribus. Singkatnya, inflasi
yang telah diprediksi di masa depan tetap akan berpotensi mengalami perubahan
jika pertimbangan yang digunakan tanpa memperhatikan secara mantap kondisi
ekonomi dalam jangka pendek.
Begitu
juga halnya dengan faktor eksternal dan atau faktor internal yang memiliki
pengaruh besar terhadap perubahan suku bunga dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Selain itu, jika pernyataan diatas (yang saya pahami) lebih berupaya
untuk meyakinkan bank bahwa penurunan suku bunga tidak akan mempengaruhi
keuntungan bank, justru akan bertambah. Dalam jangka panjang dan pendek, iya,
tetapi kehati-hatian bank dalam memilih peminjam atau debitur harus lebih
ditingkatkan. Mengingat seperti hukum ekonomi yang sebelumnya, antara suku
bunga dan kredit memiliki hubungan yang negatif, jadi ketika terjadi penurunan
suku bunga maka tidak dapat dipungkiri akan direspon dengan permintaan kredit
yang lebih tinggi. Untuk menghidari kejadian krisis keuangan yang sama yang
terjadi pada tahun 2008 di Amerika, kedalaman sistem keuangan menjadi prioritas
disini, jika pihak perbankan tetap
memilah dengan cermat siapa nasabahnya dalam menerima kredit dan menghidari
bentuk-bentuk investasi dengan resiko tinggi maka krisis akan lebih mudah
ditangani. Karena, kalau bank mengabaikan unsur ini dalam menerima peminjam
dana bukan tidak mungkin efek bubble
akan terjadi pada suatu waktu di masa depan dan tidak dapat dipungkiri lagi
bisa terjadi dann pertanda bahwa sinyal krisis akan terbaca dengan jelas dari
ini.






0 komentar:
Posting Komentar