Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Pengendalian Volume Kredit, melalui Kredit selektif.



Pengendalian Volume Kredit, melalui Kredit selektif.

Seperti yang telah dikatakan penurunan suku bunga hampir sama dengan hukum ekonomi yang menyebutkan bahwa, semakin rendah tingkat harga yang ditawarkan maka permintaan (akan barang atau jasa) akan meningkat, atau terjadi hubungan yang negatif antara harga dan permintaan. Terlepas dari kata setuju atau tidak setuju terhadap kebijakan pemerintah tersebut, saya rasa untuk meningkatkan volume kredit di masyarakat dengan menggunakan instrumen suku bunga melalui kebijakan moneter cukup akan memberi efek atau memberikan respon yang di harapkan. Meskipun respon dari harapan itu akan terwujud dalam jangka panjang, namun bentuk antisipasi kebijakan suku bunga acuan untuk mengintervensi volume kredit perlu masih perlu perhatian intensif. Pasalnya, penurunan ataupun kenaikkan suku bunga dilakukan bukan hanya pada saat ingin meningkatkan likuiditas pembayaran melalui kredit saja, namun ada hal lain seperti inflasi dan faktor eksternal atau internal yang dapat mengubah satuan angka pada suku bunga acuan.
Meskipun dari beberapa data yang disebutkan diatas merupakan respon dari perbankan yang memiliki kemungkinan akan menaikkan volume kredit dan keuntungan dari sektor perbankan tersebut, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa ada faktor lain yang “bisa” dan “akan” mempengaruhi suku bunga dikemudian hari. Dari inflasi saja, jika penurunan suku bunga yang dilakukan sekarang sudah mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam jangka panjang, namun bukan berarti berbagai kemungkinan kondisi dalam jangka pendek akan sama dengan jangka panjang. Apalagi faktor yang menyebabkan perubahan inflasi bisa berubah seiring dengan waktu yang lagi-lagi penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian dalam jangka pendek inilah yang kadanng dapat merubah ekspektasi akan kondisi yang telah diprediksi di jangka panjang menjadi berubah, sehingga jika bank indonesia dapat mempertahankan suku bunganya di tingkat yang sama untuk jangka waktu yang cukup lama, maka akan ada faktor lain selain suku bunga yang akan berubah dengan tingkat kemungkinan yang sama untuk merubah nilai dari ekspektasi kredit yang diharapkan saat asumsi yang digunakan ceteris paribus. Singkatnya, inflasi yang telah diprediksi di masa depan tetap akan berpotensi mengalami perubahan jika pertimbangan yang digunakan tanpa memperhatikan secara mantap kondisi ekonomi dalam jangka pendek.
Begitu juga halnya dengan faktor eksternal dan atau faktor internal yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan suku bunga dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, jika pernyataan diatas (yang saya pahami) lebih berupaya untuk meyakinkan bank bahwa penurunan suku bunga tidak akan mempengaruhi keuntungan bank, justru akan bertambah. Dalam jangka panjang dan pendek, iya, tetapi kehati-hatian bank dalam memilih peminjam atau debitur harus lebih ditingkatkan. Mengingat seperti hukum ekonomi yang sebelumnya, antara suku bunga dan kredit memiliki hubungan yang negatif, jadi ketika terjadi penurunan suku bunga maka tidak dapat dipungkiri akan direspon dengan permintaan kredit yang lebih tinggi. Untuk menghidari kejadian krisis keuangan yang sama yang terjadi pada tahun 2008 di Amerika, kedalaman sistem keuangan menjadi prioritas disini,  jika pihak perbankan tetap memilah dengan cermat siapa nasabahnya dalam menerima kredit dan menghidari bentuk-bentuk investasi dengan resiko tinggi maka krisis akan lebih mudah ditangani. Karena, kalau bank mengabaikan unsur ini dalam menerima peminjam dana bukan tidak mungkin efek bubble akan terjadi pada suatu waktu di masa depan dan tidak dapat dipungkiri lagi bisa terjadi dann pertanda bahwa sinyal krisis akan terbaca dengan jelas dari ini.

0 komentar:

Posting Komentar