Menguak
Harapan BI rate Sevendays
Oleh
Moch
Fitroh Kardiansyah
Univ. Jember
Tak
bisa dipungkiri memang setiap bangsa seluruh dunia mempunyai sebuah kebijakan
masing-masing dalam menentukan dan menjalankan sistem perekonomiannya. Mulai
dari negara berkembang sampai dengan negara maju mempunyai sama-sama
berkonsentrasi dalam menggerakkan sistem perekonomian yang tepat dan sesuai
dengan kondisi serta kemampuan yang dimilikinya. Tak pelak seperti halnya
negara yang berjuluk Adikuasa Amerika Serikat yang mempunyai peran yang cukup
signifikan dalam perekonomian dunia, tak hanya itu juga seperti halnya Inggris
dan Kanada merupakan negara yang cukup berhasil dalam mengatur dan menjalankan
perekonomiannya sehingga menjadi sebuah panutan dan tolok ukur bagi negara-negara dunia.
Keberhasilan
suatu negara pasti tidak terlepas dari kinerja sistem otoritas moneter yang
baik dan sistem fiskal yang menjadi pendukung dibelakangnya. Keduanya merupakan
sebuah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini bukan
tanpa alasan otoritas moneter maupun fiskal harus sejalan dan seirama seseuai
dengan konsep dan teori yang ada, tujuannya agar keduaanya mempunyai sebuah
pedoaman yang kokoh dalam menjalankan tugasnya dengan sesuai dan tidak tumpang
tindih satu sama lain. Apabila salah satunya mempunyai kelemahan dalam
menjalankan tugas masing-masing maka tidak dapat dipungkiri hal ini akan
menjadi sebuah kepincangan dalam perekonomian suatu negara.
Pokok
pembahasan yang akan diulas adalah Kinerja Otoritas Moneter dan Fiskal dalam
menjalankan sistem ekonomi sebuah negara. Mungkin banyak yang bertanya mengapa
banyak negara didunia mengandalkan peran serta Bank sentral dalam mengatur
sistem finasial dalam negeri, tidakkah otoritas fiskal saja yang mampu memanage hal tersebut. hal ini menjadi
pertanyaan klasik yang timbul oleh khalayak banyak orang di dunia. Namun yang
patut diperhatikan adalah apakah semua negara dapat megatur seluruh kebijakan
moneter dengan pemerintah sendiri yang menjalankannya. Tidak semua dapat
tertata dengan rapi sesuai dengan konsep yang diharapkan. Banyak negara di
dunia merasa bahwa kinerja keuangan dalam negeri sulit untuk dijalankan dan
diawasi akibat dari tidak adanya lembaga keuangan negara yang khusus untuk
mengaturnya. Oleh karenanya hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Bank
Sentral di suatu negara yang bertugas mengatur dan mengawasi kinerja sistem
keuangan negara ditinjau dari otoritas moneter.
Jika
meninjau dari keberhasilan yang ada seperti halnya Amerika yang mempunyai
sistem yang kuat dalam menjalankan perekonomian dengan sangat tertata dan
terstruktur baik tentu saja sangat menarik untuk dibahas. Otoritas moneter yang
mampu bertindak sebagai lembaga yang paling independen di dunia menjadi sebuah
cerminan bahwasanya Amerika menjadi salah satu negara percontohan bagi negara-negara
lain untuk berjuang dalam meningkatkan perekonomiannya. The Fed yang merupakan
nama lain Bank Sentral Amerika telah mampu
membuktikan peranannya sebagai lembaga negara yang independen dalam
menjalankan otoritas moneter sesuai dengan konsep awal dan keputusan yang
diambil. Kinerja The Fed dalam hal ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata
karenanya The Fed mampu membuktikan bahwa dirinya menjadi Bank Sentral yang
merdeka tanpa dipengaruhi oleh lembaga
negara lainnya.
Begitu
pula dengan Bank Of England yang mampu mensinergikan antara sistem negara
kerajaan dengan perekonomian yang berjalan mulus hampir tidak ada masalah yang
berarti dalam menggerakkan perekonomiannya. Bank sentral yang menjalankan
otoritas moneter menjadikan dirinya independen dalam terfokus pada kinerja
ekonomi yang ingin dicapai. Terbukti Bank of England mampu menciptakan
pertumbuhan yang tinggi, pengangguran yang rendah. Kebijakan yang diterapkan
oleh Inggris merupakan sebuah transparansi kebijakan dimana Bank Sentral diberi
keleluasaan dalam menjalankan Otoritas Moneter dengan kekuatan moneter masih
dipegang teguh oleh Kanselir. Hal ini terbukti dapat mengangkat kinerja
perekonomian yang lebih baik.
Tak
berbeda jauh dengan negara Canada yang dinilai cukup berhasil menciptakan
sistem otoritas moneter dengan sistem birokrasi yang terkoordinir dengan baik
antara Pemerintah selaku penggerak kebijakan fiskal dengan Bank Sentral yang
mempunyai peran dalam segi moneter. Target inflasi dimasa depan menjadi sebuah
acuan bagaimana sistem perekonomian negara dapat berjalan dengan baik.
Ketiga
negara tersebut merupakan negara maju di dunia yang berhasil menciptakan
otoritas moneter dengan baik. Target operasi yang dianut oleh ketiga negara
hampir mempunyai kesamaan satu sama lain dimana peranan suku bunga menjadi
sebuah acuan dalam mempengaruhi tingkat inflasi. Fluktuasi ekonomi menjadi
sebuah tantangan dan sekaligus harapan dalam mengukur kinerja otoritas moneter
dalam menjalankan peranannya. Amerika, UK, Canada menjadi sebuah cerminan
perekonomian dunia. fluktuasi ekonomi yang terjadi pada ketiga negara
menyebabkan munculnya inovasi baru dalam
melahirkan kebijakan moneter untuk mengantisipasi flutuatif ekonomi akibat
adanya gejolak ekonomi yang terjadi.
Oleh
karenanya untuk mengatasi fluktuatiatif ekonomi yang terjadi tentu tidak dapat
dipastikan dan diprediksi secara akurat bagaimana kondisi yang akan terjadi
akibat gejolak ekonomi. Maka kebijakan yang diambil adalah menatapkan bunga
acuan bank sentral overnight loan
sebagai alternatif kebijakan yang diambil untuk mengantisipasi adanya flutuasi
ekonomi yang terjadi.
Berbicara
dengan Indonesia mungkin tidak lepas dari Bank Indonesia yang menjadi lembaga
independen yang menjalankan otoritas moneter. Gejolak ekonomi yang sering
terjadi membuat permasalahan yang hadapi pun cukup beragam membuat bank sentral
selaku pemangku kebijakan dengan dibantu oleh pemerintah berupaya agar menjaga
stabilitas ekonomi yang terjadi. gejolak ekonomi yang sering terjadi dalam
kondisi pasar barang menyebabkan shock
pada pasar barang berimbas teradap pasar uang. Hal ini akan berdampak pada
permainan suku bunga dalam mengantisipasi masalah yang terjadi. Bank Sentral akan menetapkan suku bunga
konstan dalam pasar uang agar kekacauan yang terjadi dapat diminimalisir.
Jika
melihat pada negara maju Bank of England, Bank of Canada, dan The Fed mereka
menetapkan bunga acuan Overnigt Loan untuk mengantisipasi fluktuasi ekonomi
yang tidak menentu. Dan yang menjadi permasalahnya adalah bagaimana Bank
Indonesia dalam menetapkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate. Penetapan
suku bunga dalam setiap negara tentu saja tidak semerta-merta sama antar
negara, apalagi Indonesia bukanlah negara yang maju dengan tingkat perputaran
uang yang tinggi. Oleh karenanya kebijakan moneter yang diambil adalah dengan
menetapkan BI rate Sevendays. keputusan yang diambil tentunya bukan tanpa
alasan, dengan menetapkan suku bunga sevendays bertjuaan untuk mengantisipasi
fluktuasi ekonomi yang terjadi. Pada awalnya Bunga Acuan yang diperbarui
sebulan sekali dan dinilai tidak efektif dalam mengantisipasi gejolak ekonomi
yang terjadi. besar kecilnya investasi akan dipengarui oleh tingkat suku bunga.
Maka
dengan sistem pembaharuan suku bunga acuan tidaklah efektif apabila dilakukan
setiap bulan karena perputaran uang yang terjadi relatif cepat hal ini
berakibat pada tinggi rendahnya daya beli masyarakat dan tingkat investasi.
Tentu saja dengan penetapan suku bunga acuan sebulan sekali maka tidak relevan
dilakukan dalam otoritas moneter. Investasi yang berpotensi dalam menggerakkan
pertumbuhan ekonomi akan mengalami kendala apabila tingkat suku bunga acuan
tidak dapat serta merta berubah tingkat investasi. Apabila suku rendah maka
secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan investasi sehingga
kebijakan Otorotas moneter yang lama akan mengambat pertumbuhan ekonomi yang
terjadi.
Tentu
saja negara kita tidak bisa menetapkan suku bunga acuan setara dengan dengan
maju lainnya dikarenkan perputaran uang yang terjadi masih relatif rendah dibandingkan
negara maju lain. Oleh karenanya harapan kebijakan moneter yang baru dengan
menetapkan bunga acuan Sevendays akan berdampak positif dalam menggerakkan
kelesuan ekonomi yang terjadi sehingga pertumbuan ekonomi dapat terwujud.






0 komentar:
Posting Komentar