Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

Peran Investasi dalam Pembangunan Nasional



Peran Investasi dalam Pembangunan Nasional
Investasi secara umum dikenal sebagai penanaman modal dengan harapan akan adanya imbal hasil dimasa depan. Nilai ekspektasi dari uang dalam bentuk portofolio kini juga selain salah satu instrumen aset investasi pada pasar keuangan investasi portofolio juga merupakan incaran investasi bagi kebanyakn investor, baik investor dalam negeri maupun asing. Saat ini, usaha yang tengah dilakukan pemerintah untuk memperluas jangkauan dari banyaknya investasi yang bisa menjadi objek investasi adalah dengan memperbaiki atau memperbarui infrastrukur yang ada. Nilai investasi asing yang masuk ke Indonesia dengan jumlah yang sangat besar akan sangat membantu pembangunan dari segi permodalan. Berbagai proyek infrastruktur dasar seperti alat transportasi, jalan dan pelabuhan adalah beberapa dari proyek dasar yang penyelesaiannya harus dilakukan dan disiapkan terutama mengenai ketersediaan akses jalan. Implikasi keberadaan fasilitas tersebut terhadap besaran investasi sangatlah berpengaruh. Semakin banyaknya akses yang dapat disediakan maka aliran dana investasi asing yang masuk ke Indonesia juga akan semakin besar. Seperti yang diharapkan pemerintah, daya dukung infrastruktur dalam mendorong minat investor untuk berinvestasi di Indonesia harus selalu ditingkatkan. Pembangunan proyek infrastruktur yang saat ini menjadi fokus utama merupakan salah satu cara bagaimana pemerintah menarik investasi asing disamping beberapa perbaikan dan evaluasi dari segi  regulasi terkait perijinan.
Demi mencipatakan iklim investasi yang kondusif dalam negeri pemerintah berupaya untuk memperluas fokus investasi di indonesia, terutama diluar sektor keuangan yaitu sektor rill. Untuk memperkuat stabilitas sistem keuanan sendiri regulasi-regulasi terkait bagaimana mekanisme penanaman modal asing di Indonesia terutama investasi yang masuk ke sektor keuangan. Kebanyakan dari investasi yangg masuk disektor keuangan didominasi oleh hot money, atau investasi dipasar keuangan dengan tenor waktu yang kurang dari satu tahun. Untuk menghindari investasi yang memiliki resiko pembalikan modal yang tinggi, Bank Indonesia menetapkan kebijakan berupa Kerangka kebijakan stabiltas sistem keuangan yang didalamnya mengandung kebijakan lain seperti penetapan jaring pengaman sistem keuangan. Kebijakan-kebijakan tersebut dikeluarkan untuk menciptakan iklim keuangan yang kuat dan stabil. Biasanya antisipasi dari kebijakan ini memiliki implikasi terhadap perlindungan stabilitas sistem keuangan dari resiko krisis global. Jaring pengaman sistem keuangan ini di terapkan oleh Bank Indonesia beserta bank-bank nasabah Bank Indonesia.
Pada kondisi tertentu di suatu negara, hubungan antara investasi dan suku bunga merupakan kondisional. Ada kondisi dimana, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang diinginkan atau diharapkan suatu negara harus menetapkan suku bunga yang tinggi, untuk menarik minat investor untuk berinvestasi di negara tersebut. Misalnya, jika suatu negara membutuhkan pinjaman dana asing dengan upaya menerbitkan surat utang negaranya atau obligasi. Imbal hasil dari pembeelian surat berharga tersebut supaya dapat menaikkan minat investor untuk berinvestasi adalah dengan menaikkan suku bunga pinjamannya. Sehingga unsur kenaikkan suku bunga menjadi lebih efektif untuk menarim investor. Namun kondisi akan berbeda jika tujuan daari investasi yanng ditetapkan adalah dengan menggerakkan sektor riil. Pemberian atau penetapan suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi investasi secara negati di negara tersebut. Karena, investasi tersebut memiliki unsur pengembalian atau biaya bunga yang tinggi untuk bisa mereaisasikan investasi tersebut kepada sektor riil. Untuk itu, kebijakan suku bunga yang ditetapkan di kondisi ini akan sangat bisa direspon dengan penetapan persentasi yang rendah. Karena dengan suku bunga yang rendah, investasi akan mengalir deras ke sektor riil, karena biaya untuk mengembalikan modal tersenut oleh pihak ketiga murah, sehingga bisa dikatakan pada kondisi ini, terjadi trade off  atau hubungan yang negatif antara suku bunga dan investasi. Sehingga agar tidak terlalu memihak di salah satu, penetapan suku bunga juga harus ideal, dalam artian sesuai dengan kebutuhan dan kemamppuan.
Pelemahan ekonomi global pada 2015 tidak dapat dipungkiri telah banyak mencatatkan kinerja perlambatan dari berbagai sektor ekonomi yang mennjadi andalan untuk menopang besarnya PBD di Indonesia. Dorongan untuk terus menambahkan dan meperluas bebagai stimulus dan insentive kepada sektor-sektor yang terdampak pelemahan terus dilakukan agar tidak memperburuk perekonomian nasional. Masalah-masalah krusial yang melibatkan sektor keuangan merupakan yang paling banyak mendapatkan insentif dari pemerintah. Data yang tercatat, pada sektor ini swasta lebih banyak melakukan transaksi pembayaran dibandingkan dengan penarikan di luar negeri. Inilah yang cukup membuat cadangan devisa menjadi turun karena pembayaran hutang yang telah jatuh tempo juga tidak dapat dihindari sehingga surplus pada neraca pembayaran juga ikut tertekan. Sumbangan dari sektor keuangan melalui investasi juga tidak dapat menutupi defisit NPI tersebut. Ketidakstabilan perekonomian global merupakn masalah bagi semua negara, terutama bagi negara-negara emerging faktor eksternal seperti ini pastinya telah berpengaruh besar pada kinerja perkonomian nasional, terutama jika dipandang dari segi nilai tukar mata uang. Sepanjang 2015 rupiah telah mengalami depresiasi mata uang sekitar 10 persen. Dengan depresiasi ini, cadangan devisa menjadi sedikit mengalami tekanan, karena naiknya nilai hutang negara. Secara tidak langsung ketika terjadi pelemahan nilai tukar, investor akan melihat bagaimana fluktuasi dari nilai tukar tersebu. Jika dinilai fluktuasi nilai tukar terhadap dollar terlalu tajam dan dalam ada bebagai kemunginan yang terjadi. Pertama, yaitu dari segi investasi yang masuk sebelumnya, jika efek dari guncangan pelemahan ekonomi global secar signifikan berpengaruh terhadap nilai tukar, dapat dihipotesiskan bahwa banyak terjadi capital outflow di negara tersebut sehingga secara tidak langsung akan memperngaruhi cadangan devisa dari negara tersebut. Lalu yang kedua adalah, pertumbuhan ekonomi, jika pertumbuhan ekonomi yang dialami negara tersebut tidak terlalu tinggi tetapi tetap menunjukkan trend yang positif, bisa dikatakan negara tersebut sedang mengalami pertumbuhan yang positif.



0 komentar:

Posting Komentar