Peran Investasi dalam Pembangunan
Nasional
Investasi secara umum dikenal sebagai
penanaman modal dengan harapan akan adanya imbal hasil dimasa depan. Nilai
ekspektasi dari uang dalam bentuk portofolio kini juga selain salah satu
instrumen aset investasi pada pasar keuangan investasi portofolio juga
merupakan incaran investasi bagi kebanyakn investor, baik investor dalam negeri
maupun asing. Saat ini, usaha yang tengah dilakukan pemerintah untuk memperluas
jangkauan dari banyaknya investasi yang bisa menjadi objek investasi adalah
dengan memperbaiki atau memperbarui infrastrukur yang ada. Nilai investasi
asing yang masuk ke Indonesia dengan jumlah yang sangat besar akan sangat
membantu pembangunan dari segi permodalan. Berbagai proyek infrastruktur dasar
seperti alat transportasi, jalan dan pelabuhan adalah beberapa dari proyek
dasar yang penyelesaiannya harus dilakukan dan disiapkan terutama mengenai
ketersediaan akses jalan. Implikasi keberadaan fasilitas tersebut terhadap
besaran investasi sangatlah berpengaruh. Semakin banyaknya akses yang dapat
disediakan maka aliran dana investasi asing yang masuk ke Indonesia juga akan
semakin besar. Seperti yang diharapkan pemerintah, daya dukung infrastruktur
dalam mendorong minat investor untuk berinvestasi di Indonesia harus selalu
ditingkatkan. Pembangunan proyek infrastruktur yang saat ini menjadi fokus
utama merupakan salah satu cara bagaimana pemerintah menarik investasi asing
disamping beberapa perbaikan dan evaluasi dari segi regulasi terkait perijinan.
Demi
mencipatakan iklim investasi yang kondusif dalam negeri pemerintah berupaya
untuk memperluas fokus investasi di indonesia, terutama diluar sektor keuangan
yaitu sektor rill. Untuk memperkuat stabilitas sistem keuanan sendiri
regulasi-regulasi terkait bagaimana mekanisme penanaman modal asing di
Indonesia terutama investasi yang masuk ke sektor keuangan. Kebanyakan dari
investasi yangg masuk disektor keuangan didominasi oleh hot money, atau investasi dipasar keuangan dengan tenor waktu yang
kurang dari satu tahun. Untuk menghindari investasi yang memiliki resiko
pembalikan modal yang tinggi, Bank Indonesia menetapkan kebijakan berupa
Kerangka kebijakan stabiltas sistem keuangan yang didalamnya mengandung
kebijakan lain seperti penetapan jaring pengaman sistem keuangan.
Kebijakan-kebijakan tersebut dikeluarkan untuk menciptakan iklim keuangan yang
kuat dan stabil. Biasanya antisipasi dari kebijakan ini memiliki implikasi
terhadap perlindungan stabilitas sistem keuangan dari resiko krisis global.
Jaring pengaman sistem keuangan ini di terapkan oleh Bank Indonesia beserta
bank-bank nasabah Bank Indonesia.
Pada
kondisi tertentu di suatu negara, hubungan antara investasi dan suku bunga
merupakan kondisional. Ada kondisi dimana, untuk menciptakan pertumbuhan
ekonomi yang diinginkan atau diharapkan suatu negara harus menetapkan suku
bunga yang tinggi, untuk menarik minat investor untuk berinvestasi di negara
tersebut. Misalnya, jika suatu negara membutuhkan pinjaman dana asing dengan
upaya menerbitkan surat utang negaranya atau obligasi. Imbal hasil dari
pembeelian surat berharga tersebut supaya dapat menaikkan minat investor untuk
berinvestasi adalah dengan menaikkan suku bunga pinjamannya. Sehingga unsur
kenaikkan suku bunga menjadi lebih efektif untuk menarim investor. Namun
kondisi akan berbeda jika tujuan daari investasi yanng ditetapkan adalah dengan
menggerakkan sektor riil. Pemberian atau penetapan suku bunga yang tinggi akan
mempengaruhi investasi secara negati di negara tersebut. Karena, investasi
tersebut memiliki unsur pengembalian atau biaya bunga yang tinggi untuk bisa mereaisasikan
investasi tersebut kepada sektor riil. Untuk itu, kebijakan suku bunga yang
ditetapkan di kondisi ini akan sangat bisa direspon dengan penetapan persentasi
yang rendah. Karena dengan suku bunga yang rendah, investasi akan mengalir
deras ke sektor riil, karena biaya untuk mengembalikan modal tersenut oleh
pihak ketiga murah, sehingga bisa dikatakan pada kondisi ini, terjadi trade off atau hubungan yang negatif antara suku bunga
dan investasi. Sehingga agar tidak terlalu memihak di salah satu, penetapan
suku bunga juga harus ideal, dalam artian sesuai dengan kebutuhan dan
kemamppuan.
Pelemahan
ekonomi global pada 2015 tidak dapat dipungkiri telah banyak mencatatkan
kinerja perlambatan dari berbagai sektor ekonomi yang mennjadi andalan untuk
menopang besarnya PBD di Indonesia. Dorongan untuk terus menambahkan dan
meperluas bebagai stimulus dan insentive kepada sektor-sektor yang terdampak
pelemahan terus dilakukan agar tidak memperburuk perekonomian nasional.
Masalah-masalah krusial yang melibatkan sektor keuangan merupakan yang paling
banyak mendapatkan insentif dari pemerintah. Data yang tercatat, pada sektor
ini swasta lebih banyak melakukan transaksi pembayaran dibandingkan dengan penarikan
di luar negeri. Inilah yang cukup membuat cadangan devisa menjadi turun karena
pembayaran hutang yang telah jatuh tempo juga tidak dapat dihindari sehingga
surplus pada neraca pembayaran juga ikut tertekan. Sumbangan dari sektor
keuangan melalui investasi juga tidak dapat menutupi defisit NPI tersebut.
Ketidakstabilan perekonomian global merupakn masalah bagi semua negara,
terutama bagi negara-negara emerging
faktor eksternal seperti ini pastinya telah berpengaruh besar pada kinerja
perkonomian nasional, terutama jika dipandang dari segi nilai tukar mata uang.
Sepanjang 2015 rupiah telah mengalami depresiasi mata uang sekitar 10 persen.
Dengan depresiasi ini, cadangan devisa menjadi sedikit mengalami tekanan,
karena naiknya nilai hutang negara. Secara tidak langsung ketika terjadi
pelemahan nilai tukar, investor akan melihat bagaimana fluktuasi dari nilai
tukar tersebu. Jika dinilai fluktuasi nilai tukar terhadap dollar terlalu tajam
dan dalam ada bebagai kemunginan yang terjadi. Pertama, yaitu dari segi
investasi yang masuk sebelumnya, jika efek dari guncangan pelemahan ekonomi
global secar signifikan berpengaruh terhadap nilai tukar, dapat dihipotesiskan
bahwa banyak terjadi capital outflow di
negara tersebut sehingga secara tidak langsung akan memperngaruhi cadangan
devisa dari negara tersebut. Lalu yang kedua adalah, pertumbuhan ekonomi, jika
pertumbuhan ekonomi yang dialami negara tersebut tidak terlalu tinggi tetapi
tetap menunjukkan trend yang positif, bisa dikatakan negara tersebut sedang mengalami
pertumbuhan yang positif.






0 komentar:
Posting Komentar