Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

Pembangunan Berjalan, Inflasi dan Pengangguran Apa Kabar ?



 Pembangunan Berjalan, Inflasi dan Pengangguran Apa Kabar ?
Oleh: Diah Retno Yuniasih
Saat ini pemerintah tengah gencar-gencarnya meakukan pembangunan di Indonesia. Beberapa proyek infrastruktur yang strategis seperti pelabuhan dan jalan menjadi fokus utama pemerintah kali ini, bahkan pemerintah dari awal juga telah mencanangkan proyek tol laut yang akan menjadi proyek nasional. Proyek ini menjadi fokus utama pemerintah mengingat Indonesia sebagai negara yang memiliki wilayah dan potensi laut yang besar entah dilihat dari hasil kelautan maupun potensi lain seperti jalur perdagangan internasional yang diharapkan akan menyaingi singapura dalam hal penyediaan pelabuhan. Dengan berbagai pertimbangan inilah pemerintah ingin mengembalikan citra bangsa indonesia yang dulu dipandang sebagai negara yang kuat berporos pada sektor kemaritiman.
Dilihat dari segi perekonomian, implikasi pembangunan  proyek-proyek strategis ini dimasa depan atau dalam jangka panjang adalah untuk memperbaiki sistem distribusi barang jasa. Distribusi barang dan jasa yang lancar akan mempermudah daerah-daerah diseluruh penjuru negara ini dapat menerima pelayanan dan pembangunan yang sama. Dengan mudahnya akses ini pula akan ada ekspektasi perubahan harga yang signifikan di masa depan. Jika sebelumnya banyak ditemukan ketimpangan harga barang-barang dan jasa-jasa tertentu yang terkesan lebih mahal dibandingkan dengan daerah lain maka dengan adanya proyek pembangunan jalan dan pelabuhan yang akan menjadi bagian dari proses distribusi ini akan sangat membantu menurunkan gap yang ada. Sehingga harga-harga barang dan jasa dapat disamakan antar daerah. Selain itu, pembangunan infrastruktur ini juga akan mengakomodir pembangunan-pembangunan yang lain didaerah seperti pembangunan fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah dan beberapa pusat terpadu daerah untuk memantau perkembangan antar daerah. Pembangunan-pembangunan inilah nantinya yang akan memberikan memobilisasi aktifitas-aktifitas ekonomi sehingga tercipta efisiensi serta efektifitas dalam mewujudkan tujuan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Setelah membicarakan masalah serta program pembangunan yang tengah berjalan, masalah lain yang menjadi topik pembahasan utama dalam tulisan ini adalah pengangguran dan inflasi. Keduanya merupakan variabel-variabel dalam ekonomi yang penyelasaiannya memerlukan koordinasi dari berbagai kebijakan baik fiskal maupun moneter. Keduanya  merupakan masalah semua negara di dunia tidak peduli negara maju seperti Amerika ataupun negara berkembang dan negara miskin sekalipun, pengangguran dan inflasi adalah masalah semua negara. Secara umum pengangguran dikenal sebagai kondisi dimana lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanyak pencari kerja sehingga menimbulkan excess atau kelebihan tenaga kerja yang menimbulkan pengangguran, atau dalam kondisi lain antara pencari pekerja dan lapangan pekerjaan yang ada tidak terjadi kelebihan, tetapi permintaan pasar tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja yang ditawarkan sehingga tidak terjadi kecocokan antara permintaan dan penawaran dalam ketenagakerjaan. Dengan demikian jelas bahwa, minimnya keahlian yang dimiliki oleh seseorang nantinya akan berimbas pada peluang masyarakat atau seseorang tersebut dalam memperoleh pekerjaan. Sedangkan untuk inflasi sendiri, memiliki pengertian kenaikkan harga-harga secara umum dan terus menerus sehingga dapat menimbulkan turunnya daya beli masyarakat. Turunnya daya beli dari masyarakat ini akan mempengaruhi produksi nasional, karena permintaan akan barang-barang menjadi turun sehingga akan ada banyak perusahaan yang secara bertahap akan mengurangi biaya produksi mereka melalui kebijakan perusahaan tersebut. Selain turunnya produksi nasional yang berakibat pada penerimaan negara, kebijakan masing—masing perusahaan terkait masalah efisiensi biaya produksi juga dapat menimbulkan dampak pengangguran yang luar biasa. Sehingga dari banyak negara mencoba untuk terus meminimalisir pengangguran di negara masing-masing karena secara umum keberadaan pengangguran yang tinggi akan menciptakan berbagai masalah sosial disamping masalah ekonomi yang telah dibahas sebelumnya.
Pada negara maju dan berkembang, pengangguran adalah masalah utama yang tidak ada habisnya, bahkan tidak ada satupun negara didunia ini yang mampu mengatasi pengangguran secara keseluruhan atau bersih tidak ada pengangguran sama sekali. Tidak seperti dalam paham klasik yang mnyebutkan bahwa mekanisme pasar akan menyelesaikan permasalahan permintaan dan penawaran barang saja, akan tetapi masih banyak permasalahan diluar konteks ekonomi yang justru dapat menyebabkan imbalances dalam perekonomian, seperti masalah pengangguran dan kemiskinan. Inilah yang menjadi kegagalan paham klasik dan dari kegagalan inilah muncul peran pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut. Dalam perekonomian pengangguran menempati posisi yang paling diperhitungkan dalam mengambil kebijakan, baik kebijakan fiskal maupun moneter pertimbangan yang diambil akan selalu berujung pada bagaimana perekonomian berjalan dengan stabil dan diikuti dengan tingkat pengangguran yang seminimal mungkin. Pertimbangan inilah kemudian yang akan memunculkan berbagai macam kebijakan yang pro tehadap pengurangan pengangguran tersebut. Dari segi kebijakan fiskal atau pengeluaran pemerintah, pemerintah akan selalu berupaya untuk memaksimalkan anggarannya untuk kepentingan pembangunan. Dimana arah pembangunan inilah nantinya yang akan menentukan bagaimana cara pemerintah menangani masalah pengangguran yang ada, dengan proyek-proyek pembangunan, belanja pegawai, atau dengan memberikan insentif kepada berbagai perusahaan agar menambah kapasitas pegawainya? Ketiga-tiganya adalah langkah yang cukup strategis dalam mengakomodir jumlah pengangguran untuk mencapai titik terendahnya. Namun yang perlu diwaspadai dari pengambilan keputusan ini adalah pertimbangan akan kebutuhan yang lain (sektor riil maupun sektor keuangan yang berperan aktif dalam mewujudkan iklim perekonomian yang stabil) disamping penanganan masalah pengangguran tersebut. Biasanya langkah yang digunakan pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran tersebut dengan cara mendefisitkan anggaran belanja negara atau kebijakan defisit APBN untuk memaksimalkan penanganan. Karena biasanya kebijakan ini digunakan ketika perekonomian tengah mengalami pelemahan sehingga banyak sektor-sektor yang memerlukan insentif untuk ‘kelangsungan hidupnya’ di tengah pelemahan ekonomi yang terjadi. Melalui kebijakan ini pemerintah dapat melakukan pembaruan beberapa infrastruktur seperti pembuatan jalan, pembangunan pelabuhan-pelabuhan untuk menunjang proyek tol laut, peningkatan fasilitas di beberapa sektor seperti pertanian, perkebunan dan pertambangan mengingat tiga sektor ini biasanya yang paling terdampak dari pelemahan ekonomi nasional, dan banyak sektor-sektor lainnya. Dari pemberian insentif tersebut akan secara bertahap mengurangi jumlah pengangguran yang ada secara signifikan di masyrakat.meskipun membutuhkan mekanisme penanganan yang cukup panjang, namun untuk mencapai hasil yang maksimal sedikit tambahan waktu akan mampu memberikan pemahaman serta penyesuaian untuk beberapa sektor yang potensial dalam pembangunan. Beberapa proyek diatas yang sudah berjalan diantaranya pembangunan kereta cepat jakarta-surabaya, pembangunan jalan tol lintas sumatra, pembuatan dan pembangunan jalur kereta api di beberapa wilayah luar jawa, pembangunan pelabuhan di beberapa daerah terutama bagian Indonesia Timur, serta beberapa proyek lainnya di bidang pertanian seperti pembangunan waduk jatigede yang tengah berjalan saat ini.
 Dari kesemuanya itu jelas bahwa sasaran dan tujuan pemerintah melalui proyek-proyek tersebut adalah distribusi barang dan jasa antar daerah yang lebih cepat dan lancar uuntuk menghindari berbagai kesenjangan yang ada. Komitmen pemerintah terkait pembangunan ini memberikan impact yang positif terhadap masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal didaerah tempat pembangunan tersebut. Tercatat pengangguran di Indonesia pada februari  2014 adalah sebesar 7,24 juta orang dan mengalami peningkatan pada februari 2015 yaitu sebesar 7,4 juta jiwa, artinya terjadi peningkatan dari tahun 2014 ke tahun 2015 hampir 1 juta jiwa per tahun 2014/2015. Adanya proyek-proyek strategis inilah yang menjadi senjata utama pemerintah untuk mengurangi dan mengatisipasi pengangguran yang ada tersebut.  
Dampak pengangguran terhadap perekonomian adalah terhambatnya pembangunan suatu negara dikarenakan adanya penurunan penerimaan pajak sebagai salah satu sumber pendapatan terbesar negara dalam pembangunan. Pengaruh pengangguran terhadap perekonomian secara tidak langsung dapat dijelaskan melalui mekanisme penerimaan pajak yang akan menurun jika terjadi peningkatan pengangguran, dan turunnya pendapatan pemerintah melaui pajak ini akan berpengaruh terhadap kinerja pembangunan nasional sehingga banyak proyek-proyek terhambat pembangunan karena terbatasnya modal Terhambatnya proses pembangunan ini akan menyebabkan akses dari mobilisasi kegiatan ekonomi akan membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga akan ada banyak waktu yang terbuang untuk kegiatan ekonomi tersebut, sehingga tidak tercipta efisiensi. Pengaruh yang lainnya adalah adanya hambatan bagi ara investor untuk berinvestasi. Semakin tinggi tingkat pengangguran maka akan semakin rendah pula daya beli masyarakat terhadap produksi barang dan jasa yang ada, sehingga barang dan jasa tersebut akan mengalami penurunan harga pada level tertentu hingga masyarakat mampu membelinya. Hal ini berlaku dengan asumsi, tidak adanya hutang untuk pembiayaan dan proyek pembangunan yang dimaksud merupakan barang publik sehingga tidak ada keuntungan setelah selesai sehingga investasi secara mandiri harus dilakukan oleh pemerintah sendiri serta di bawah asumsi bahwa semua faktor dianggap konstan atau ceteris paribus.
Selain dari segi proyek pembangunan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah terkait skill dan kesiapan para calon pekerja. Pasalnya, tidak semua lapisan maasyarakat yang mengganggur dapat masuk kedalam proyek pembangunan infrastruktur tersebut, sehingga masih diperlukan langkah-langkah lain untuk mengatasi pengangguran yang ada. Langkah-langkah tersebut yang dilakukan adalah seperti pelatihan dan pemberdayaan. Pelatihan dan pemberdayaan yang utama dilakukan pada sektor riil, seperti industri kreatif dan padat karya serta UMKM (yang akan dijelaskan melalui mekanisme suku bunga kredit perbankan) karena sektor inilah yang ternyata mampu menjangkau segala lapisan masyarakat serta pertimbangan ketahanannya dalam menghadapai berbagai ketidakpastian perekonomian global dan nasional. Sehingga untuk lebih jauh dapat dikatakan bahwa sektor inilah yang paling utama untuk menangani masalah pengangguran.
Dilihat dari segi kebijakan moneter, dampak pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah dapat menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Mekanisme dampak dari pembangunan infrastruktur ke sektor keuangan terutama jumah uang yang beredar yakni melalui investasi pemerintah dan asing yang mendanai proyek-proyek tersebut. Masuknya dana dari sisi pembangunan infrastruktur ini selain dapat menambah jumlah uang yang beredar melalui investasi juga akan berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat. Jalannya uang melalui proyek terhadap konsumsi bisa terjadi melalui mekanisme upah dan gaji pekerja yang seiring berjalannya waktu juga akan mempengaruhi pola konsumsi pekerja tersebut (berkaitan dengan masalah pengangguran sebelumnya). Meningkatnya daya beli masyarakat melalui perubahan pola konsumsi mereka secara tidak langsung akan mempengaruhi permintaan akan barang dan jasa tertentu. Peningkatan permintaan akan barang tertentu inilah yang akan menentukan banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, ketika jumlah permintaan meningkat maka secara teori dapat dikatakan harga juga akan meningkat. Peningkatan harga yang terjadi tersebut dikarenakan jumlah uang yang beredar meningkat di masyarakat. Dan ketika terjadi kenaikan harga itulah nilai uang akan suatu barang akan turun, dan semuanya itu berujung pada satu hal yaitu inflasi. Banyak yang mengibaratkan inflasi sebagai pedang bemata dua, tidak bisa ditetapkan terlalu tinggi juga tidak bisa ditetapkan terlalu rendah sehingga yang diharapkan dari besaran inflasi adalah kesesuain dan kestabilannya dalam segala kondisi perekonomian.
            ...................
            Dari kedua variabel diatas, pengangguran dan inflasi, keduanya memiliki hubungan positif. Artinya ketika terjadi kenaikkan inflasi maka akan merangsang tingat pengangguran yang lebih tinggi pula. Teori yang menjelaskan hubungan keduanya antara lain New Keynesian Philips Curve, teori ini menjelaskan bagaimana hubungan inflasi pada tingkat tertentu akan berimbas pada tingkat pengangguran di tingkat tertentu pula. Dalam teori ini dijelaskan bagaimana hubungan antara kemungkinan kelebihan penawaran tenaga kerja yang terjadi di pasar akan mempengaruhi penadapatan. Seiring dengan pesatnya laju pembangunan di Indonesia rangsangan akan naiknya inflasi juga dipengaruhi oleh turunnya jumlah pengangguran di Indonesia. Sehingga bisa dikatakan bahwa terjadi trade off antara inflasi dan pengangguran pada kondisi tertentu, seperti adanya pembangunan yang tengah berjalan selain juga mengurangi jumlah pengangguran yang ada  juga terjadi kenaikkan inflasi di beberapa komoditas karena peningkatan daya beli masyarakat yang kian naik seiring jalannya pembangunan.

0 komentar:

Posting Komentar