Peran Pemerintah dalam Upaya
Menjaga Tingkat Inflasi dan Mengurangi Tingkat Pengangguran
Rachma Priasti
Ramadhani
130810101154
Fakultas Ekonomi
/ S1 IESP
Ketidakpastian ekonomi global yang terjadi pada
tahun 2015 ternyata masih berlanjut pada tahun 2016 sekarang ini. Hal ini
dikarenakan adanya isu kenaikan suku bunga AS serta melemahnya mata uang Cina
sehingga menyebabkan melemahnya mata uang dalam negeri. Pada dasarnya target
pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 adalah mencapai 5,4 persen. Namun target tersebut
pada akhirnya dapat dicapai hanya dengan angka 4,7 persen. Penurunan dari
target awal pertumbuhan ekonomi ini pada dasarnya juga disebabkan oleh faktor
pelambatan ekonomi tersebut. Banyak hal yang perlu diwaspadai ketika terjadi
kondisi pelambatan ekonomi. Hal ini nantinya juga akan berdampak pada
perlambatan pada sektor – sektor lainnya. Sektor lain yang dimaksud adalah
misalnya target inflasi, tingkat pengangguran, stabilitas ekonomi, tingkat suku
bunga, jumlah uang beredar hingga pada pengaruh permintaan dan penawaran.
Seperti di Indonesia, dampak akan adanya
perlambatan ekonomi global kini mulai dirasakan. Inflasi dan pengguran
merupakan dampak yang telah kini dapat dirasakan. Permasalahan inflasi
merupakan salah satu permasalahan utama dalam perekonomian. Indonesia merupakan
salah sau negara yang mengalami masalah dalam stabilitas ekonomi. Stabilitas
ekonomi sulit dicapai karena adanya faktor inflasi. Kenaikan inflasi ini
terjadi karena berbagai hal, diantaranya adalah karena naiknya harga barang secara
umum yang terus menerus dan karena dampak dari perekonomian itu sendiri.
Seperti pada keadaan pelemahan rupiah yang telah terjadi beberapa bulan terkhir
juga telah menyababkan inflasi. Dimana ketika nilai rupiah semakin melemah,
maka harga barang secara umum akan mengalami kenaikan. Kenaikan harga barang
secara umum ini dikarenakan oleh faktor impor. Ketika kita melakukan impor atas
suatu barang pada saat rupiah di dalam negeri mengalami kenaiakn, maka harga
dalam negeri akan naik karena pembiayaan untuk impor itu sendiri juga mengalami
kenaikan. Naiknya biaya impor tersebut akan menyebabkan inflasi dan dapat
mengakibatkan penurunan pada daya beli masyarakat. Padahal seperti yang kita
ketahui, dengan adanya pelemahan rupiah ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat menuju ke arah yang positif. Salah satunya adalah dengan
meningkatkan neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor. Ekspor negara kita
yang dapat dikatakan lemah ini, nantinya akan dapat terbantu dengan adanya
pelemahan rupiah ini melalui peningkatan devisa atas ekspor yang telah kita
tingkatkan. Pemerintah sepertinya juga telah mengambil langkah – langkah
penting untuk menanggulangi dampak atas terjadinya inflasi ini. Inflasi disini
memang hanya bisa ditanggulangi dan tidak dapat dihilangkan. Karena inflasi
merupakan salah satu indikator dalam pertumbuhan ekonomi. Mengapa inflasi juga
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi? Hal ini dikarenakan dengan adanya inflasi
maka perekonomian juga akan terbantu melalui aktivitas konsumsi dari masyarakat
itu sendiri sehingga berpengaruh pada
pergerakan atau perputaran perekonomian. Pemerintah menerapkan target inflasi
untuk menjaga agar besarnya inflasi tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah. Kemudian dalam permasalahan lain yang belum terselesaikan adalah
mengenai pengangguran. Dimana terjadinya pengangguran disini juga dapat sebagai
akibat dari adanya inflasi itu sendiri. Ketika terjadi inflasi, maka akan
berhubungan dengan kenaikan permintaan secara agregate. Permintaan agregate
berarti apabila ketika permintaan naik, maka harga juga akan naik. Ketika harga
naik, maka biaya atas faktor produksi juga akan naik. Naiknya permintaan tentu
akan menambah jam kerja para pekerja dari jadwal sebelumnya. Tenaga kerja
nantinya juga akan menuntut kenaikan atas upah yang telah diterimanya sebagai
akibat penambahan jam kerja tersebut. Kemudian perusahaan merasa bahwa tidak
mampu menaikkan tingkat upah secara keseluruhan. Untuk itu perusahaan mengambil
langkah yaitu melalui pemutusan hubungan kerja terhadap para pekerja karena
perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Sehingga dampaknya adalah
pada peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia
Seperti yang kita ketahui, permasalahan pengangguran merupakan permasalahan
yang klasik, dimana negara Indonesia pasti mengalami masalah ini. Pengangguran
terjadi dapat karena berbagai hal. Negara Indonesia sendiri memiliki jumlah
penduduk yang cukup tinggi yaitu mencapai 255.993.674 jiwa dimana mencapai urutan ke
empat di dunia. Tingginya jumlah penduduk ini tidak didukung dengan pertumbuhan
ekonomi yang signifikan, dan negara Indonesia masih tergolong negara yang
berkembang. Tentunya dengan
jumlah penduduk yang cukup tinggi juga memiliki jumlah angkatan kerja yang
tinggi. Jumlah angkatan kerja adalah jumlah penduduk yang sudah memasuki usia
bekerja namum belum memiliki pekerjaan, dan sedang mencari pekerjaan.
Pengangguran yang terjadi di Indonesia juga dikarenakan kurangnya jumlah
tersedianya lapangan kerja mengingat akan banyaknya jumlah angkatan kerja. Disini
banyak dari para angkatan kerja yang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan agar
terhindar dari status sebagai pengangguran
Pada keadaan pelambatan
ekonomi dan pelemahan nilai mata uang rupiah, pemerintah seharusnya dapat
mengambil poin dari sisi positifnya. Dari adanya inflasi sebagai dampak
pelemahan nilai mata uang rupiah, maka pemerintah dapat mengambil langkah
positif yaitu berupaya meningkatan neraca perdagangan melalui aktivitas ekspor.
Apabila aktivitas ekspor meningkat, maka dapat memberikan tambahan pada devisa
negara. Aktivitas ekspor yang telah dilakukan diharapkan juga nantinya mampu
mengurangi tingkat pengangguran. Melalui apa? Yaitu melalui industri padat
karya. Dalam industri kecil biasanya lebih membutuhkan tenaga kerja yang banyak
dan terampil untuk memenuhi permintaan akan barang produksi. Karena terjadi
peningkatan dari sisi permintaan produksi, maka perusahaan / industri juga
memerlukan tambahan tenaga kerja. Sehingga pada industri kecil, penyerapan
tenaga kerja akan berjalan dengan cepat dan dapat mengurangi pengangguran. Maka
dapat dikatakan naiknya permintaan secara agregate dapat dipenuhi dan
pengangguran yang merupakan dampak dari inflasi dapat dikurangi melalui
kebijakan ekspor tersebut. Namun dengan asumsi bahwa barang maupun jasa yang
telah di ekspor mampu bersaing dipasar luar negeri dan dapat memberikan
insentif yang cukup pada neraca perdangan sehingga terjadi peningkatan devisa
negara melalui adanya peningkatan ekspor. Selain itu dukungan dari pemerintah
dalam hal ini dapat dirasakan pada kebijakannya yaitu ketika mengeluarkan paket
kebijakan jilid I hingga jilid VI yang berkaitan dengan mendorong sektor
industri. Kebijakan tersebut diantaranya adalah mengenai insentif dibidang
fiskal, diskon pajak, pemberian kredit, maupun pemberian modal. Pada paket
kebijakan jilid VI sebenarnya berfokus pada insentif perusahaan terhadap
industri. Pemberian insentif tersebut dapat berupa tax holiday, tax allowance, dan beberapa kebijakan lainnya.
Sedangkan mengenai pemberian kredit maupun pemberian modal bagi industri,
diharapkan mampu menjadikan peluang bagi masyarakat untuk membuka lapangan
usaha yang berdasarkan pada padat karya, sehingga dapat mengurangi pengangguran
yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Industri tersebut juga diharapkan memiliki
kualitas produk yang baik dan mampu bersaing dengan barang produksi luar
negeri, sehingga barang yang kita hasilkan nantinya mampu menarik pembeli dari
negara asing dan jumlah ekspor akan terus meningkat. Dengan demikian, nantinya
sedikit – demi sedikit kesejahteraan masyarakat yang berada di wilayah sekitar
dapat mencapai tingkat kesejahteraan meskipun membutuhkan proses yang cukup
lama. Selain itu inisiatif untuk membuka lapangan usaha baru seharusnya
disambut baik dengan masyarakat sekitar, khususnya kesadaran bagi masyarakat
yang masih menganggur. Apabila kebijakan ini berjalan dengan baik dan tidak ada
pengaruh dari penyelewengan mafia – mafia ekonomi, maka tinggat pengangguran
dapat diminimalisir.






0 komentar:
Posting Komentar