Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Sasaran dan terget operasi kebijakan moneter

Sasaran dan terget operasi kebijakan moneter
Oleh
Moch fitroh Kardiansyah Univ. Jember, Fak. Ekonomi

Keberhasilan perekonomian sebuah bangsa pasti tidak pernah lepas dari ketepatan kebijakan yang diambil, sama halnya dengan kebijakan moneter yang seolah-olah menjadi ruh perekonomian bangsa. Adanya kebijakan moneter yang baik dan tepat sasaran akan menghasilkan sistem perekonomian pula namun kebijakan moneter yang buruk akan berdampak sebaliknya. Dalam beberapa negara peran serta kebijakan moneter tentu tidak lepas dari adanya peran Bank sentral didalam membuat kebijakan moneter, Bank sentral sebagai lembaga Independen Pemerintah mempunyai kekuasaaan yang mutlak di dalam mengatur kondisi perekonomian yang terjadi. Namun faktanya kebijakan Moneter tergantung pada perilaku Bank Sentral dan Struktur ekonomi, Bank Sentral memiliki lebih dari satu tujuan, Target Inflasi saat ini masih tergolong inflasi yang rendah, target operasi berfokus pada tingkat suku bunga, Bank Sentral tidak langsung mengontrol jumlah uang beredar namun menggunkan instrumen berbasis moneter. Tujuan yang ingin dicapai oleh bank sentral sendiri pada dasarnya ingin mencapai tujuan nasional secara tertentu seperti halnya: kesempatan kerja penuh, Output penuh, tingkat harga stabil, tingkat pertukaran stabil dll. Dengan adanya sebuah tujuan yang diinginkan tentu saja tidak terlepas dari adanya instrumen kebijakan moneter yang mendoromg keberhasilan yang diharapkan.
Namun sejatinya instrumen yang dijalankan oleh bank sentral tidak serta merta datang begitu saja melainkan terdapat intstrumen yang ditawarkan diantaranya pasar terbuka dan perubahan tingkat bunga diskonto serta giro wajib minimum. Target yang dicanangkan oleh Bank Indonesi untuk mencapai gol tingkat pengangguran rendah, suku bunga rendah, tingkat inflasi yang rendah, stabilitas pasar finansial, nilai tukar yang stabil. Pertama instrumen kebijakan yang diambil adalah operasi pasar terbuka hal ini perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai stabilitas harga yang diinginkan. Masalah yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari terdapat sebagian besar para pedangang dan produsen untuk memainkan harga pasar dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya padahal jika melihat fenomena yang ada konsumen dalam hal ini sangat sulit untuk memenuhi kebutuhannya akibat melonjaknya harga pasar sehingga timbul rasa ketidakmampuan dari konsumen sendiri dalam mendapatkan produk yang diinginkan. Daya beli masyarakat yang menurun akan nerdampak panjang bagi pertumbuhan ekonomi sehingga apabila hal ini terus terjadi perekonomian akan menjadi lesu. Permintaan yang semakin meningkat pada masyarakat tidak diiringi oleh pendapatan yang diperoleh konsumen sendiri sehingga konsumen tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan atau bisa jadi ketidakjelasan harga pasar yang sering terjadi berakibat masyarakat pada umumnya akan lebih memilih menahan konsumsinya dan mengendapankan investasi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Kedua, tingkat bunga diskonto yang tinggi diharapkan oleh nasabah dengan menigkatnya bunga diskonto akan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat. Namun pada dasarnya target yang diinginkan oleh bank sentral sendiri menginginkan tingkat bunga diskonto rendah karena tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan pasar finansial yang stabil, Bank Indonesia menerapkan kebijakan penuruanan suku bunga atau yang sering disebut dengan BI rate betujuan untuk mmberikan layanan kepada bank konvensional agar dapat melakukan peminjaman dana kepada Bank Sentral, dana yang diperoleh dari pinjaman Bank Indonesia kepada bank konvensional dimanfaatkan untuk cadangan lkuiditas pererbankan dimana dalam hal ini likuiditas perbankan  berfungsi sebagai penjamin pembayaran kewajiban nasabah yang telah mengalami masa jatuh tempo sehinga bank umum dapat merealisasikan tugasnya dengan  baik. Ketiga, giro wajib minimum digunakan oleh Bank sentral untuk berusaha menyediaka lkuiditas perbankan demi keselamatan bank konvensional sendiri dalam memenuhi kewajibannya untuk nasabah sehingga para bank konvensional dapat memperoleh angsuran kredit yang murah serta dengan tujuan akhir setelah mendapatkan jaminan likuiditas perbankan Bank Indonesia menargetkan untuk mencapai penurunan kredit usaha yang diterapkan oleh bank umum.
Namun yang menjadi pertanyaan klasik adalah apakah keseluruhan instrumen kebijakan tersebut dapat terealisasi dengan benar sejalan dengan apa yang diinginkan Bank Sentral? Tentu ketepatan dan kejelasan cukup tersirat untuk perumusan instrumen kebijakan moneter tidak ada yang mampu menjaelaskan secara pasti instrumen tersebut dapat teralisasi ataukah tidak namun dalam hal ini yang garis bahwahi adalah pemerintah dan bank sentral telah bekerja keras untuk mewujudkan bagaimana alur perekonomian kedepannya sehingga meskipun belum pasti terjadi prediksi tersebut kemungkinan akan terwujud dengan benar.
Dalam menentukan tingkat suku bunga mungkin sering kali kita menemui bagaimana keterikatan dengan suku bunga agar target operasi dapat tercapai, asumsi dari berbagai ekonom yang menyebutkan agregat moneter dan tingkat suku bunga secara kritis mempertahankan sasaran kebijakan bank sentral dan struktur ekonomi namun dalam hal ini bank sentral hanya dapat mempengaruhi output dan investasi menjadikannya variable akhir dan secara terus menerus memanipulasi permintaan agregat.  Permintaaan agergat sendiri merupakan keseluruhan permintaan terhadap barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Tingkat suku bunga dalam hal ini adalah konstan, mengapa demikian dikarenakan pada sisi perekonomian kita sering menemui gejolak perekonomian yang tidak stabil namun  bunga klasifikasi tingkat suku bunga dalam hal ini tidak ada perubahan yang berarti atau disebut konstan. Bukan tanpa alasan kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh bank sentral dalam mempengaruhi suku bunga adalah tetap meskipun terjadi masalah ekonomi yang bergejolak namun bank sentral tidak serta merta merubah tingkat suku bunga karena jika dalam setiap fenomena yang terjadi pada pereknomian. Pada beberapa negara maju di dunia seperti Amerika serikat, Inggris dan Kanada beranggapan tingak suku bunga merupakan indikator utama dalam kinerja ekonomi dan sering kali menggunakannya dalam target operasi. Dalam hal ini kenaikan suku bunga terjadi akibat siklus bisnis yang dipengaruhi oleh permintaan untuk dana pinjaman atau terjadi penurunan pada pasokan uang. Oleh karenanya Bank sentral akan mempegaruhi tingkat suku bunga agar perenomian masih dalam taraf yang stabil tidak bisa dipungkiri memang peran serta suku bunga bagi investasi cukup besar semakin tinggi penawaran suku bunga perbankan maka permintaan investasi juga meningkat. Namun yang patut diwaspadai adalah kenaikan  bunga ekuilibrium tidak serta merta datang dengan sendirinya melainkan terdapat penyebab mengapa suku bunga dapat meningkat oleh karenanya diperlukan beberapa kebijakan lagi demi memantau penyebab dari kenaikan suku bunga.
Apabila masyarakat telah berhasil memperoleh laba dari naiknya suku bunga kemudian untuk menstbailkan jumlah uang yang beredar kebijakan monter yang diambil adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga. Namun dalam hal ini sering kita temui jika terjadi peningkatan suku bunga maka dampak yang dirasakan oleh para nasabah adalah bertambahnya aset yang dimiliki karena keuntungan yang diperoleh dari tabungan tersebut mengalami peningkatan dipengaruhi oleh suku bunga. Berbeda pabila penurunan suku bunga tidak langsung diikuti oleh harga pasar kecendrungan yang terjadi peningkatan pendapata akibat tinggi nya suku bunga langsung dapat mempengaruhi harga pasar dikarenakan bertambahnya pendapatan akan berakibat pada kenaikan konsumsi pula. Sedangkan penurunan suku bunga tidak serta merta mempemgaruhi jumlah uang yang beredar yang ditopang oleh pengaruh harga pasar penurunan suku bunga malah tidak berpengaruh pada sisi harga pasar sehingga kebijakan penurunan suku bunga menjadi salah satu problema yang serius apabila dalam penanganannya tidak secara merata.

Oleh karenanya instrumen kebijakan yang selama ini dikeluarkan oleh Bank Sentral menjadi sebuah harapan bagiamana ekonomi dalam masa yang akan datang, prediksi yang tidak akurat mungkin suatu masalah yang wajar namun yang perlu digaris bawahi adalah dengan kegagalan yang terjadi menjadi suatu pelajaran yang berharga agar kesemuanya dapat terealisasi keberhasilan target ekonomi dapat terwujud. 

0 komentar:

Posting Komentar