Sasaran
dan terget operasi kebijakan moneter
Oleh
Moch
fitroh Kardiansyah Univ. Jember, Fak. Ekonomi
Keberhasilan
perekonomian sebuah bangsa pasti tidak pernah lepas dari ketepatan kebijakan
yang diambil, sama halnya dengan kebijakan moneter yang seolah-olah menjadi ruh
perekonomian bangsa. Adanya kebijakan moneter yang baik dan tepat sasaran akan
menghasilkan sistem perekonomian pula namun kebijakan moneter yang buruk akan
berdampak sebaliknya. Dalam beberapa negara peran serta kebijakan moneter tentu
tidak lepas dari adanya peran Bank sentral didalam membuat kebijakan moneter,
Bank sentral sebagai lembaga Independen Pemerintah mempunyai kekuasaaan yang
mutlak di dalam mengatur kondisi perekonomian yang terjadi. Namun faktanya
kebijakan Moneter tergantung pada perilaku Bank Sentral dan Struktur ekonomi,
Bank Sentral memiliki lebih dari satu tujuan, Target Inflasi saat ini masih
tergolong inflasi yang rendah, target operasi berfokus pada tingkat suku bunga,
Bank Sentral tidak langsung mengontrol jumlah uang beredar namun menggunkan
instrumen berbasis moneter. Tujuan yang ingin dicapai oleh bank sentral sendiri
pada dasarnya ingin mencapai tujuan nasional secara tertentu seperti halnya:
kesempatan kerja penuh, Output penuh, tingkat harga stabil, tingkat pertukaran
stabil dll. Dengan adanya sebuah tujuan yang diinginkan tentu saja tidak
terlepas dari adanya instrumen kebijakan moneter yang mendoromg keberhasilan
yang diharapkan.
Namun
sejatinya instrumen yang dijalankan oleh bank sentral tidak serta merta datang
begitu saja melainkan terdapat intstrumen yang ditawarkan diantaranya pasar
terbuka dan perubahan tingkat bunga diskonto serta giro wajib minimum. Target
yang dicanangkan oleh Bank Indonesi untuk mencapai gol tingkat pengangguran
rendah, suku bunga rendah, tingkat inflasi yang rendah, stabilitas pasar
finansial, nilai tukar yang stabil. Pertama instrumen kebijakan yang diambil
adalah operasi pasar terbuka hal ini perlu dilakukan pemerintah untuk mencapai
stabilitas harga yang diinginkan. Masalah yang sering kita temui dalam
kehidupan sehari-hari terdapat sebagian besar para pedangang dan produsen untuk
memainkan harga pasar dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya padahal jika melihat fenomena yang ada konsumen dalam hal ini
sangat sulit untuk memenuhi kebutuhannya akibat melonjaknya harga pasar
sehingga timbul rasa ketidakmampuan dari konsumen sendiri dalam mendapatkan
produk yang diinginkan. Daya beli masyarakat yang menurun akan nerdampak
panjang bagi pertumbuhan ekonomi sehingga apabila hal ini terus terjadi
perekonomian akan menjadi lesu. Permintaan yang semakin meningkat pada masyarakat
tidak diiringi oleh pendapatan yang diperoleh konsumen sendiri sehingga
konsumen tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan atau bisa
jadi ketidakjelasan harga pasar yang sering terjadi berakibat masyarakat pada
umumnya akan lebih memilih menahan konsumsinya dan mengendapankan investasi
demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Kedua, tingkat bunga
diskonto yang tinggi diharapkan oleh nasabah dengan menigkatnya bunga diskonto
akan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat. Namun pada
dasarnya target yang diinginkan oleh bank sentral sendiri menginginkan tingkat
bunga diskonto rendah karena tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan
pasar finansial yang stabil, Bank Indonesia menerapkan kebijakan penuruanan
suku bunga atau yang sering disebut dengan BI rate betujuan untuk mmberikan
layanan kepada bank konvensional agar dapat melakukan peminjaman dana kepada
Bank Sentral, dana yang diperoleh dari pinjaman Bank Indonesia kepada bank
konvensional dimanfaatkan untuk cadangan lkuiditas pererbankan dimana dalam hal
ini likuiditas perbankan berfungsi
sebagai penjamin pembayaran kewajiban nasabah yang telah mengalami masa jatuh
tempo sehinga bank umum dapat merealisasikan tugasnya dengan baik. Ketiga, giro wajib minimum digunakan
oleh Bank sentral untuk berusaha menyediaka lkuiditas perbankan demi
keselamatan bank konvensional sendiri dalam memenuhi kewajibannya untuk nasabah
sehingga para bank konvensional dapat memperoleh angsuran kredit yang murah serta
dengan tujuan akhir setelah mendapatkan jaminan likuiditas perbankan Bank
Indonesia menargetkan untuk mencapai penurunan kredit usaha yang diterapkan
oleh bank umum.
Namun
yang menjadi pertanyaan klasik adalah apakah keseluruhan instrumen kebijakan tersebut
dapat terealisasi dengan benar sejalan dengan apa yang diinginkan Bank Sentral?
Tentu ketepatan dan kejelasan cukup tersirat untuk perumusan instrumen
kebijakan moneter tidak ada yang mampu menjaelaskan secara pasti instrumen
tersebut dapat teralisasi ataukah tidak namun dalam hal ini yang garis bahwahi
adalah pemerintah dan bank sentral telah bekerja keras untuk mewujudkan
bagaimana alur perekonomian kedepannya sehingga meskipun belum pasti terjadi
prediksi tersebut kemungkinan akan terwujud dengan benar.
Dalam
menentukan tingkat suku bunga mungkin sering kali kita menemui bagaimana keterikatan
dengan suku bunga agar target operasi dapat tercapai, asumsi dari berbagai
ekonom yang menyebutkan agregat moneter dan tingkat suku bunga secara kritis
mempertahankan sasaran kebijakan bank sentral dan struktur ekonomi namun dalam
hal ini bank sentral hanya dapat mempengaruhi output dan investasi
menjadikannya variable akhir dan secara terus menerus memanipulasi permintaan
agregat. Permintaaan agergat sendiri
merupakan keseluruhan permintaan terhadap barang dan jasa sesuai dengan tingkat
harga. Tingkat suku bunga dalam hal ini adalah konstan, mengapa demikian
dikarenakan pada sisi perekonomian kita sering menemui gejolak perekonomian
yang tidak stabil namun bunga
klasifikasi tingkat suku bunga dalam hal ini tidak ada perubahan yang berarti
atau disebut konstan. Bukan tanpa alasan kebijakan moneter yang dikeluarkan
oleh bank sentral dalam mempengaruhi suku bunga adalah tetap meskipun terjadi
masalah ekonomi yang bergejolak namun bank sentral tidak serta merta merubah
tingkat suku bunga karena jika dalam setiap fenomena yang terjadi pada
pereknomian. Pada beberapa negara maju di dunia seperti Amerika serikat,
Inggris dan Kanada beranggapan tingak suku bunga merupakan indikator utama
dalam kinerja ekonomi dan sering kali menggunakannya dalam target operasi. Dalam
hal ini kenaikan suku bunga terjadi akibat siklus bisnis yang dipengaruhi oleh
permintaan untuk dana pinjaman atau terjadi penurunan pada pasokan uang. Oleh
karenanya Bank sentral akan mempegaruhi tingkat suku bunga agar perenomian
masih dalam taraf yang stabil tidak bisa dipungkiri memang peran serta suku
bunga bagi investasi cukup besar semakin tinggi penawaran suku bunga perbankan
maka permintaan investasi juga meningkat. Namun yang patut diwaspadai adalah
kenaikan bunga ekuilibrium tidak serta
merta datang dengan sendirinya melainkan terdapat penyebab mengapa suku bunga
dapat meningkat oleh karenanya diperlukan beberapa kebijakan lagi demi memantau
penyebab dari kenaikan suku bunga.
Apabila
masyarakat telah berhasil memperoleh laba dari naiknya suku bunga kemudian
untuk menstbailkan jumlah uang yang beredar kebijakan monter yang diambil
adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga. Namun dalam hal ini sering kita
temui jika terjadi peningkatan suku bunga maka dampak yang dirasakan oleh para
nasabah adalah bertambahnya aset yang dimiliki karena keuntungan yang diperoleh
dari tabungan tersebut mengalami peningkatan dipengaruhi oleh suku bunga.
Berbeda pabila penurunan suku bunga tidak langsung diikuti oleh harga pasar
kecendrungan yang terjadi peningkatan pendapata akibat tinggi nya suku bunga
langsung dapat mempengaruhi harga pasar dikarenakan bertambahnya pendapatan
akan berakibat pada kenaikan konsumsi pula. Sedangkan penurunan suku bunga
tidak serta merta mempemgaruhi jumlah uang yang beredar yang ditopang oleh
pengaruh harga pasar penurunan suku bunga malah tidak berpengaruh pada sisi
harga pasar sehingga kebijakan penurunan suku bunga menjadi salah satu problema
yang serius apabila dalam penanganannya tidak secara merata.
Oleh
karenanya instrumen kebijakan yang selama ini dikeluarkan oleh Bank Sentral
menjadi sebuah harapan bagiamana ekonomi dalam masa yang akan datang, prediksi
yang tidak akurat mungkin suatu masalah yang wajar namun yang perlu digaris
bawahi adalah dengan kegagalan yang terjadi menjadi suatu pelajaran yang
berharga agar kesemuanya dapat terealisasi keberhasilan target ekonomi dapat
terwujud.






0 komentar:
Posting Komentar