Sendi
perekonomian dalam dekapan fiskal dan moneter
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Pembangunan sendi-sendi perekonomian akan terus
di genjot dengan menggunakan sektor financial sebagai penggerak. Memang pada dasarnya
dalam suatu lingkup pereknomian tdak dapat lepas dari sektor keuangan
kelangsungan berjangka panjang. Dimana di ketahui bahwa perekonomian dapat di
gambarkan dengan berbagai ilustrasi dari sektor keuangan itu sendiri.
Tidak lama dari selang
waktu masih dalam bulan ini, seperti sudah di koordinasikan dengan baik dan terdapat
kontrak politik, dimana kelembagaan dari perwakilan pemerintah dan kebijakan
yang berhubungan dengan sektor financial dan pengambil kebijakan dalam bidang
moneter seperti satu parpol. Semua sepakat, mereka mengajukan secara satu
pandangan tingkat bunga pinjaman untuk segera diturunkan atau menuju arah
single digit.
Bukan menjadi omongan
lagi namun ini suah menjadi fakta dimana fluktuasi ekonomi yang memang dirasa
bagus tidak selalu dalam posisi yang menguntungkan karena dalam pengerjaannya
masih sangat sulit tanpa campur tangan pihak pemerintah dan pihak penyedia jasa
keuangan. Dalam kondisi seperti ini memang harus dipadukan dalam satu persepsi
terlebih dahulu diamankan dalam posisi yang sama dalam melangkah. Bayangkan
saja ketika salah satu dari pihak yang berpengaruh diatas mengalami
keterpurukan atau melakukan penghambatan akan salah satu program yang diberikan
dalam pengembangan sektor perekonomian.
Sebenarnya memang
banyak program dalam pengfokusan suatu usaha, atau upaya-upaya untuk memadukan
atau menghamonisasikan suatu usaha atau program layaknya suatu team, yang
dirancang dan mulai dilakukan untuk mencapai harapan dalam perekonomian
bunga murah tersebut. Namun dalam pelaksanaannya tidak dapat dipungkiri
bahwa masih ada pula yang masih mengusung kepentingan bukan atas apa yang sudah
disepakati dengan berbagi kedok dalam program, dapat dikatan juga pagar makan
tanaman bahkan memakan apa saja yang bisa menguntungkan pihaknya.
Kita kembalikan lagi
dalam sebuah upaya yang mungkin kini harus di cermati bila mana hendak mencapai
sebuah pereknomian yang kaya akan sektor produksi atau suatu perekonomiana yang
menuju arah kedewasaan seperti yang dikatakan oleh musgrave dan rostow.
Berdasarkan fakta dari sektor financial Bank Indonesia kini mulai dengan
mengupayakan pergerakan uang dengan coba melonggarkan kebijakan moneter
melalui dua kali penurunan tingkat bunga acuan, BI Rate, masing-masing
sebesar 25 basis poin (0,25%) seperti yang suadah di tetapkan. Dengan
jalan tersebut, BI Rate pada saat ini berubah dalam level 7%, dari semula 7,5%
di akhir quartal satu tahun 2016 ini.
Tidak
hanya berhenti sampai disini, berbagai harapan
Menyusul kemudian terkait usaha Otoritas Jasa Keuangan
yang mendorong efisiensi perbankan dalam membuat insentif untuk
mendorong agar margin bunga bersih (NIM) perbankan tidak melebehi 4 %
bahkan sebisa mungkin bi bawahnya. Ini merupakan sebuah etikat yang baik dari
pihak penyandang dana yang mempunyai harapan yang besar dari apa yang sudah
mereka umpankan. Kebijakan ini bukan tanpa efek mungkin sebuah penrunan
berbagai saham dan berbagai sumber keuangan lainnya mengalami penurunan nilai
yang sangat drastis. Pasalnya ini nampak dalam harga saham yang mencakun saham
bumn yang ajlok sampai mendapati sekitar 1,7% dari harga saham awalnya.
Reaksi perubahan perilaku sesaat dalam pasar
saham itu bisa mungkin dapat dimaklumi, karena mereka mungkin hanya
menggunakan sudut panng secara sepihak upaya pemerintah dan otoritas
moneter tersebut. Mereka terlihat seperti terprovokasi diman terlihat
mengabaikan manfaat jangka panjang upaya dalam memadukan untuk menurunkan
tingkat bunga yang pada ending ceritanya memberikan kotribusi besar dalam
memperkuat bisnis di sektor perbankan dan sklus perekonomian di masa
mendatang. Coba kita bayangkan jika suatu dalam alokasinya kita hanya terpaku
pada tingkat suku bunga atau bi rate yang di awal maka banyak kalangan yan akan
berpikir ulang dalam mengambil suatu keputusan karena mereka takut akan
kesulitan dalam pengembalian modal terhadap pihak penyandang dana.
Dalam
waktu dekat ini memang tidak ada lagi jalan, upaya menarik atau menekan
tingkat suku bunga kredit menjadi susuatu yang harus dilakukan demi
pergerakan sektor rii yang lebih berkontribusi. Coba kita berkaca
ulang, menurut data bank indonesia pada bulan Desember 2015, tingkat
suku bunga kredit dalam bidang ritel bank BUMN berkisar
11,5%-12,25%, sedangkan bunga KPR dan non-KPR tercatat 8,6%-12,5%. Ini
suah menjadi langkah yang baik yang sudah dilakukan oleh pihak perbankan agar
proses perputaran uang yang tinggi pada nanti akhirnya. Tidak hanya dalam
sektor ritel dan kpr saja, tingkat bunga kredit mikro juga berada di level 18,75%-19,25%. dapat
melihat, tingkat bunga tersebut sangat tidak memberi daya tarik sehingga
memulai usaha di Indonesia sangat berbeban pada modal yang besar jika
dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Bayangkan
jika pihak perbankan tetap kekeh dalam suku bungan awal mak tidak akan ada
perubahan yang hanya tinggal harapan.
Langkah
yang dilakukan oleh sektor keuanga ini merupakan untuk mengejar ketertinggalan
yang dilakukan oleh pihak perbangkan yang telah mengerti jika mereka tidak
boleh menekan investor atau debitor untuk suatu hasil yang besar nantinya.
Berkaca pada negara lainnya seperti Filipina, pada saat ini tingkat bunga
kredit hanya berkisar di 4,5%, begitu pula dengan yang
lainnya. Jelas, hal itu menjadi hambatan yang kasat mata bagi perusahaan Indonesia
bahkan masayarakat umumnya untuk bersaing memasuki Masyarakat Ekonomi Asean.
Meskipun faktor daya saing yang dimiliki masih banyak lagi seperti biaya
logistik, pajak dan ekonomi dengan harga tinggi akibat kebijakan daerah,
penetapan suku bunga yang mahal adalah faktor penghambat yang menggerogoti. Oleh karenanya, maka
Mereka para pemangku kebijakan memang harus mengurangi suku bunga mereka demi
sebuah rutinitas yang lebih besar nantinya ketimbang besar namun dengan tempo
dan kendala lainnya seperti kredit macet dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam
hal semacam ini Kita memang dituntut untuk memahami, setiap pilihan dalam
menentukan sebuah kebijakan yang dirasa sangat fital atau berpengaruh luas
tentu membawa risiko jangka pendek dan kerap tidak populer
bagi kalangan tertentu yang mempunyai sudut pandang dan yang berbeda.
Namun demikian, apabila penentuan suatu kebijakan diformulasikan dan di atur
sesuai dengan konsep yang sangat luas dan komprehensif, maka dapat dipastikan
manfaat positif dari sebuah kebijakan dalam jangka panjang akan menjadi
sangat lebih besar seperti apa yang telah saya sampaikan sebelumnya.
Dengan
prioritas seperti diatas, kita memang dapat berharap mempunyai daya saing dalam bisnis yang
akan membaik, baik dalam dasar permodalan dalam penyaluran kredit yang
lebih bergairah dengan suku bunga yang rendah, risiko dalam
kredit bermasalah yang tentunya akan menurun, dan pada akhirnya akan
membentuk pondasi perekonomi yang lebih kuat. Dampak selanjutnyayang mungkin dapat
dirasakan adalah meningkatnya sektor investasi yang akan tampak lebih
bergairah, sektor ini yang nantinya didrapkan membawa pengentasan pengangguran
sampai meningkatkan kesejahteraan masyarakat.






0 komentar:
Posting Komentar