SIKLISITAS
PEREKONOMIAN MAKRO INDONESIA
Siklus ekonomi yang
ada, baik di Negara berkembang maupun di Negara maju selalu mengalami keadaan
yang berubah-ubah. Perubahan yang terjadi bisa berupa membaiknya siklus
perekonomian atau justru semakin memburuknya siklus perekonomian. Siklus
perekonomian di suatu Negara tidak akan pernah mengalami masa yang baik secara
terus menerus dan juga tidak akan pernah mengalami siklus perekonomian yang
buruk secara terus menerus. Hal tersebut dikarenakan perekonomian yang ada di
suatu Negara pasti akan mengalami pasang dan surut. Hal tersebut bergantung
pada situasi dan kondisi perekonomian nasional maupun situasi dan kondisi
perekonomian global.
Siklus ekonomi yang
terjadi berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi yang ada di suatu Negara.
Jika siklus perekonomian baik, maka hal tersebut akan berdampak pula pada
meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang ada di suatu Negara. Hal sebaliknya pun
juga berlaku, jika siklus perekonomian di suatu Negara memburuk maka akan
berpengaruh pada menurunnya pertumbuhan perekonomian yang ada di suatu Negara.
Pertumbuhan perekonomian yang terjadi pun, juga merupakan imbas dari investasi
yang terjadi di suatu Negara. Investasi yang dimaksud bisa berupa invetasi
domestik maupun investasi dari asing. Investasi berperan penting dalam
merangsang pertumbuhan ekonomi yang ada di suatu Negara. Karena investasi
sendiri merupakan suatu indikator yang mampu menggerakkan roda perekonomian
nasional. Adanya investasi tersbutlah yang mendorong tergeraknya aktivitas-aktivitas
ekonomi yang mendatangkan keuntungan bagi investor maupun pelaku invetasi
lainnya.
Keadaan perekonomian
yang terjadi didasari pada indikator fundamental yang ada di suatu Negara.
Adapun indikator fundamental yang dimaksud adalah meliputi ekspansi, kontraksi
dan resesi. Ekspansi, kontraksi dan resesi yang merupakan indikator fundamental
tersebut yang mempengaruhi pergerakan nilai mata uang. Nilai yang dimaksud
tentunya berupa nilai riil dari mata uang suatu Negara, dimana nilai riil
tersebut menentukan seberapa kuat nilai mata uang yang ada di pasar mata uang.
Nilai riil mata uang sendiri merupapakan nilai nominal yang tertulis pada
sebuah mata uang dan dikurangkan dengan tingkat bunga yang ada.
Jika siklus
perekonomian di suatu Negara sedang mengalami resesi dikarenakan perekonomian
global yang juga mengalami resesi, maka nilai riil dari mata uang suatu Negara
akan ikut melemah. Hal yang sebaliknya juga berlaku, jika perekonomian di suatu
Negara sedang mengalami ekspansi dikarenakan pengaruh dari perekonomian global
yang mengalami ekspansi juga maka nilai riil dari mata uang akan menguat.
Secara umum, ada empat
fase perekonomian yang terjadi yaitu meliputi ekspansi (expansion), puncak (peak),
resesi (ressesion) dan lembah (trough atu bottom). Ekspansi (expansion)
sendiri merupakan keadaan perekonomian yang terjadi dimana perekonomian sedang
mengalami perbaikan yang ditandai dengan meningkatknya produksi barang-barang
atau jasa-jasa yang ada di suatu Negara. Meningkatnya produksi barang-barang
atau jasa-jasa tersebut juga diimbangi dengan tumbuhnya tenaga kerja. Hal
tersebut dikarenakan ketika perekonomian membaik maka nilai mata uang juga akan
membaik sehingga akan membuat masyarakat menambah konsumsinya. Tambahan
konsumsi tersbut yang akan menambah permintaan barang-barang dan jasa-jasa naik
maka produksi barang-barang atau jasa-jas meningkat secara otomatis perusahaan
akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih dari sebelumnya, maka dari itu
perusahaan akan melakukan rekrutmen tenaga kerja baru. Rekrutmen tenaga kerja
baru tersebutlah yang akhirnya akan membuat naiknya jumlah pengangguran turun
dan secara otomatis akan menaikkan pertumbuhan tenaga kerja. Fase ekspansi (expansion) ini biasanya disebut dengan
masa fase perbaikan atau fase recovery,
hal tersebut dikarenakan fase ini terjadi setelah perekonomian berada pada
titik terendah kemudian berangsur-angsur pada fase ini terjadi perbaikan
sedikit demi sedikit hingga perekonomian benar-benar membaik.
Fase selanjutnya yang
terjadi setelah fase ekspansi (expansion)
adalah fase puncak (peak). Fase
puncak (peak) sendiri merupakan fase
dimana fase ekspansi (expansion)
telah mencapai titik maksimal dan tidak dapat meningkat lagi. Artinya, target
dari fase recovery telah tercapai
yaitu berupa pertumbuhan ekonomi yang maksimum. Pada fase puncak (peak) ini, jumlah pengangguran akan
turun dan mencapai titik terendahnya, sebagai imbas dari pertumbuhan ekonomi
yang tinggi. Selain itu, kegiatan perekonomian juga berlangsung pada keadaan
optimal dimana perekonomian bekerja pada kapasitas yang maksimal dalam artian
kapasitas yang penuh. Pada fase ini, seluruh modal pada sektor investasi
digunakan untuk meningkatkan produktivitas barang-barang dan jasa-jasa.
Begitupun dengan sumber daya manusia (SDM) yang ada, seluruhnya digunakan untuk
peningkatan produktivitas barang-barang dan jasa-jasa. Tingkat bunga yang ada
akan segera disesuaikan oleh Bank Sentral, mengikuti tingkat inflasi yang ada.
Pada fase ini, nilai dari mata uang akan cenderung menguat dikarenakan faktor internal
berupa membaiknya keadaan ekonomi tadi. Akibatnya, arus modal (cash flow) yang masuk juga akan
bertambah dan mencapai titik maksimal juga. Sehingga keadaan perekonomian
benar-benar berada pada puncak kemakmuran.
Fase selanjutnya yang
terjadi adalah fase resesi (recession),
dimana pada fase ini aktivitas perekonomian di suatu negara mengalami penurunan
secara terus menerus. Hal tersebut ditandai dengan melemahnya aktivitas bisnis
yang ada dan juga produksi barang-barang dan jasa-jasa yang terus mengalami
penurunan. Pada fase ini pengangguran secara berangsur meningkat diiringi
dengan jumlah investasi yang terus mengalami penurunan. Aktivitas perekonomian
pun juga dinilai lesu, dengan perekonomian yang bergerak lamban. Selain itu,
pertumbuhan ekonomi yang ada akan terus turun hingga mencapai nilai negatif
pada dua periode secara berturut-turut. Akibatnya perekonomian benar-benar
mengalami masa yang sangat down. Fase
resesi (recession) ini biasa disebut dengan fase kontraksi. Hampir seluruh
aspek-aspek perekonomian yang ada mengalami penurunan, seperti produktivitas
barang-barang dan jasa-jasa yang terus menurun, nilai penjualan yang terus
menurun, dan tingkat kepercayaaan yang terus menurun antara konsumen dengan
produsen. Akibat yang ditimbulkan adalah menurunnya nilai matai uang Negara tersebut.
Fase terakhir yang
terdapat pada siklus perekonomian adalah fase lembah (through atau bottom).
Fase lembah merupakan fase dimana level produksi barang-barang dan jasa-jasa
berada pada tingkat terendah diikuti dengan penurunan tingkat tenaga kerja
hingga berada pada titik terendah. Pada fase ini, nilai mata uang terus
mengalami pelemahan hingga berada pada titik terendahnya. Akibatnya, volume
perdagangan akan terus mengalami penurunan hingga mencapai titik terendah.






0 komentar:
Posting Komentar