Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

Simalakama Dari Inflasi



Simalakama Dari Inflasi
Oleh Coniq Putri Andinata, Mahasiswi  S1 angkatan 2013, Konsentrasi Moneter Ilmu Ekonomi Universitas Jember.
Inflasi merupakan momok mengerikan yang selalu di kendalikan oleh setiap negara. Terlebih lagi bagi negara berkembang seperti inonesia. Tingkat petumbuhan negara mengasumsikan bahwa kondisi perekonomian negara tersebut bergerak maju atau malah mengalami kemunduran. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah inflasi. Inflasi merupakan peningkatan atau kenaikan pada harga-harga umum yang terjadi pada suatu periode secara signifikan yang bersifat umum. Inflasi disini terjadi dari beberapa faktor baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dampak dari adanya kenaikan harga atau inflasi ini secara cepat akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
Inflasi merupakan masalah klasik yang tak hentinya diperdebatkan. Penyebab dari adanya inflasi tidak hanya dari sektor keuangan saja tapi juga dari sektor riil juga. Dalam berita tersebut kita ketahui salah satu penyebab dari inflasi adalah pungutan yang di tanggung oleh para pelaku pasar di sektor domestik. Dengan biaya pungutan antara 30 sampai 40 persen tersebut tentu akan menyebabkan meningkatnya harga dari komoditi baik barang maupun jasa. Dan dengan asal mula inilah tentunya nanti akan merangsang kenaikan pada beberapa komoditi lain sehingga laju inflasi juga akan mengalami kenaikan.
Laporan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan laju inflasi sebesar 0,51% pada bulan januari 2016 menunjukkan bahwa inflasi masih di kisaran ringan. Dan  laju pertahun (year on year) berada pada presentese 4,14. Laju ini masiih juga dianggap ringan dalam parameter tingkat inflasi karena masih berada di bawah nilai 10%. Akan tetapi disuatu negara berkembang laju ini akan berpengaruh cepat pada terhadap berbagai sektor. Kontrol terhadap laju inflasi ini tidak hanya berdasarkan data yag disajikan, tapi juga terlebih juga perbaikan pada sistem yang akan diterapkan guna mengontrol laju inflasi.

Stabil dan rendahnya laju inflasi merupakan harapan setiap kota maupun negara guna meningatkan kesejahteraan pada setiap masyarakatnya. Dalam sektor keuangan naiknya laju inflasi akan mengakibatkna menurunnya nilai tukar mata uang negara tersebut. Di indonesia laju inflasi setiap minggunya dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan mengukur Indek Harga Konsumsi (IHK) dari setiap kota. Pengaruh Indeks Harga Konsumsi (IHK) terhadap inflasi dalam penyajian dari BPS disebut dengan disegigasi inflasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui indikator yang mempengaruhi inflasi tersebut lebiih fundamental. BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan yang lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut dilakukan untuk menghasilkan suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental. Fundamental disini yaitu seperti interaksi permintaan-penawaran, nilai tukar, harga komoditi barang secara global, serta perkiraan inflasi dari produsen dan konsumen. Inflasi dibagi menjadi Inflasi inti dan Inflasi Non Inti. Inflasi Non Inti terdiri yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor-faktor non fundamental, seperti inflasi yang disebabkan oleh harga komoditi yang diatur oleh pemerintah (administered Prices).
Untuk mengetahui tingkat inflasi, biasanya menggunakan indeks harga konsumen (IHK). IHK dapat menjelaskan tingkat konsumsi baik barang maupun jasa yang terjadi di masyrakat. Secara umum dapat kita simpulkan bahwa ketika terjadi kenaikan harga maka nilai dari IHK akan cenderung menurun. Dan begitupula sebaliknya. Ketika terjadi kenaikan nilai IHK maka mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan konsumsi masyarakat kaaren penurunan harga secara umum. Hal ini dapat kita sebut dengan deflasi.
Laju inflasi pada awal januari ini disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga pada bahan-bahan pokok serta kenaikan pada tarif listrik yang ditetapkan oleh perusahaan listrik negara (PLN). Kenaikan harga pada bahan pokok seperti beras, daging ayam, bawang putih dll disebabkan dari tingkat penawaran yang rendah sehingga terjadi kenaikan harga yang memicu kenaikan harga pada barang lain. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa saat ini dalam pasar gloal harga minyak dunia terjadi penurunan. Berarti kenaikan harga ini berasal dari sektor domestik sendiri. 
Inflasi jika ditinjau dari sebab terjadinya ada 2, yaitu Demand Pull Inflation dan Cost pull Inflation. Pertama yaitu Demand Pull Inflation yaitu inflasi yag disebabkan oleh permintaan akan barang atau jasa tersebut mengalami kenaikan. Biasanya kondisi ini disebabkan oleh kenaikan pendapatan di masyarakat dan hal ini menunjukkan bahwa perekonomian negara atau  wilayah tersebut mengalami perkembangan yang pesat. Sebab yang kedua yaitu cost pull inflation, inflasi ini disebabkan oleh kenaikan biaya produksi pada barang atau jasa baik dari sisi moneter seperti perubahan nilai tukar maupun sisi fiskal seperti penetapan harga suatu barang tertentu oleh pemerintah (administered price). Dari sini maka dapat kita ketahui studi kasus pada berita ini dapat kita sebutkan Cost Pull Inflation. Dan jika kita cermati, inflasi dengan sebab kelebihan penawaran atau dapat kita sebut dengan Demand pull inflation yaitu diprediksi akan terjadi pada bulan juni dan juli mendatang. Hal ini terjadi karena pada bulan tersebut memasuki bulan puasa. Jika hal ini tidak kita waspadai sedari awal, maka akan ada kemungkinan laju inflasi meningkat tak terkendali. Dan biasanya harga hargad di pasaran mulai menyesuaikan dengan berbagai kota maupun wilayah. Sehingga laju inflasi di beberapa wilayah juga bermain penting dalam adanya inflasi.
Di indonesia, ketika harga dari suatu komoditi naik,  maka akan sulit ataupun jarang terjadi ketika kita megalami deflasi haraga tersebut mengalami penurunan. Hal ini disebut dengan shock inflasi. Biasanya shock inflasi. Terjadi ketika  harga bahan bakar minyak (BBM) naik, maka akan menyebabkan atau dapat kita katakan pasti akan memicu kenaikan harga komoditi lain di pasar. Akan tetapi, ketika harga BBM mengalai penurunan, para produsen maupun penjual di pasar enggan melakukan penurunan harga. Dan inilah sebabnya ketika terjadi deflasi, jarang sekali kita rasakan sepenuhnya sehingga yang selalu kita rasakan hanya ketika inflasi terjadi.
Fenomena inflasi di setiap wilayah ini kemungkinan akan terus muncul jika hal-hal tentang kebijakan yang telah dibuat tidak dilaksanakan dengan semestinya. Inflasi nasional tentu dipengaruhi oleh tingkat inflasi dari setiap provinsi dan begitupula dengan inflasi dari setiap provinsi akan dipenagruhi oleh tingkat inflasi dari setiap kota maupun kabupaten. Saat inflasi terjadi, maka akan terjadi trade off antara inflasi dengan pengangguran. Dimana ketika kita menginginkan penurunan harga ini berseberangan dengan para produsen. Ketika perusahaan mengalami penurunan laba atau profit dari rendahnya harga barang atau jasa yang dijual ini maka perusahaan akan memangkas biaya produksi yang salah satu faktor produksi adalah tenaga kerja. Dan ketika hal ini terjadi akan berakibat banyaknya pengangguran yang muncul. Salah satu contoh kasus seperti pada wilayah provinsi Jawa Timur, sekitar 12.125 buruh mengalami PHK dari perusahaan rokok Sampoerna dan sekitar 6.189 buruh pada Perusahaan Gudang Garam. Dari contoh ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa dalam penanggulangan inflasi diperlukan langkah yang tepat dan adanya kesinambungan dari berbagai pihak.
Salah satu penyebabnya yang berasal dari sektor domestik sendiri yaitu panjangnya rantai dalam pendistribusian kooditi di pasar. Kebijakan pemerintah dalam pengahapusan biaya pungutan antar negara seharusnya diterapkan bagi aturan biaya pungutan antar wilayah kabupaten atau kota maupun antar provinsi. Alasan pemerintah yang dana tersebut masuk ke sumber pendapatan asli daerah (PAD) ternyata tidak sedemikian rupanya dalam prakteknya. Buktinya anggaran APBD tidak dipengaruhi secara signifikan oleh PAD. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi permainan antara para petugas atau aparat di lapangan. Dana yang diterima lebih banyak masuk ke saku pribadi sehingga jelas kerugian negara akan semakin banyak dan menyebabkan penyakit klasik suatu  negara yaitu inflasi kembali hadir. Diharapkan revolusi mental yang telah ditegaskan oleh pemerintahan saat ini diimbangi dengan perbaikan sistem yang diterapkan. Sehingga tak ayal jika masih banyak kita dengar dan lihat setiap hari tayangan dari penangkapan orang –orang yang mengahancur negara ini dengan korupsi.
Dan dana yang diterima dari pungutan biaya logistik setiap kabupaten/kota serta provinsi ini digadang-gadangkan untuk pembangunan infrastruktur di setiap wilayah. Padahal kenyataannya pemerintah telah memberikan dana sekitar mencapai Rp. 1 Triliun di setiap provinsi. Jadi menurut penulis, alasan itu hanya dijadikan alibi dari praktek korupsi.
Penghapusan biaya tarif antar negara pada era MEA 2015 ini tentu akan memperlancar arus transfer barang maupun jasa yang masuk ke setiap negara anggota MEA. Indonesia merupakan negara dengan tingkat biaya logistik termahal dari beberapa negara tetangga seperti Malaysi, Singapura, Thailand, dan Philipina. Terlebih lagi di sektor pelabuhan, buruknya fasilitas di lapangan serta tidak efisennya para petugas dilapangan memperparah keadaan ini. Sehingga hal ini pun tak jauh berbeda dengan kondisi biaya pungutan antar wilayah domestik, bahkan bisa dikatakan lebih buruk.
Penyebab lain yaitu terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah indonesia yang terjadi pada desember akhir tahun 2016. Pengahapusan subsidi pada golongan kedua yaitu pada pelanggan rumah tangga yang menggunakan listik 1.300 dan 2.500. sehingga terjadi kenaikan dari Rp. 1.352 menjadi Rp.1059,38 per kwh, kenaikan ini diperkiran sekitar 11,6%. Hal inilah yang juga menjadi pemacu kenaikan harga komoditi lain yang menggunakan faktor produksi listrik.
Komiditi lain juga di sebutkan konsumsi sandang berpengaruh sebesar 0,26%. Hal ini ungkin saja terjadi karena adanya permintaan di barang sandang pada awal tahun. Sehingga pasar secara aktif akan merespon hal ini dan dengan terbatasnya penawaran yang ada akan menyebabkan kenaikan harga. Dan adanya kenaikan permintaan di barang maupun jasa yang bersifat sandang ini menunjukkan adanya tingkat kenaikan pada pendapatan.
Dan pada laju inflasi bulan januari ini juga dipengaruhi oleh inflasi pada bulan lalu yaitu desember 2015. Faktor yang menjadi penyebabnya juga antara lain masa libur sekolah yang pastinya akan membuat sektor rekreasi dan olahraga meningkat dari sebelumnya.
Kenaikan harga umum juga terjadi di beberapa wilayah indonesia, antara lain di kabupaten  Sibolga Sumatera utara yang mencapai 1,82%. Angka ini cenderungbesar jika dibandingkan dengan laju inflasi secara keseluruhan yaitu sebesar 0,51%. Sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya bahwa alur distribuusi juga dapat berpengaruh terhadap harga dipasar. Sedangkan untuk wilayah dengan laju inflasi paling rendah yaitu Padang Sumatera Barat yaitu 0,02%. Yang menarik adalah ketika terjadi kenaikan laju inflasi secara nasional, wilayah Gorontalo mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum dipasar yaitu senilai 0,58%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian di Gorontalo tidak sepenuhnya lagi bergantung pada perekonomian Indonesia. Hal ini juga menunjukkan adanya kesinambungan yang baik antara kebijakan fiskal maupun moneter yang dilakukan oleh pemerintah di Gorontalo.
Dari sisi moneter,  pada bulan puasa perputaran uang terjadi begitu cepat di masyarakat. Banyak dari nasabah mengambil uang tabungannya maupun depositonya di setiap perbankan. Tak peduli lagi apakah suku bunga akan mengalami kenaikan atau penurunan, para nasabah mayoritas akan tetap mengambil uang yang selama ini disimpannya. Sehingga perlu adanya beberapa inovasi baru dari berbagai pihak seperti pemerintah maupun perbankan dalam pengendalian belanja masyarakat maupun peputaran uang pada bulan puasa nanti. Dalam hal ini Bank Indonesia  tetap menjaga suku bunga acuan BI rate sebesar 7,5% pada akhir desember 2015 lalu. Hal ini dirasa efektif sehingga pada awal tahun 2016 kondisi inflasi yang terjadi masih bisa dikendalikan. Pada musim puasa nanti inflasi tidak hanya berasal dari sektor primer saja, tetap juga di dorong oleh sektor sekunder maupun sektor tersier. Belanja masyarakat seperti pembelian baju, alat alat elektronik, maupun kendaraan bermotor pasti terjadi. Padahal seharusnya ketika memasuki bulan puasa jumlah asupan makanan yang kita cerna berkurang, tapi mengapa data yang dilaporkan oleh BPS yaitu indek harga konsumen (IHK) mengalami peningkatan. Keinginan untuk berkonsumsi masyarakat inilah yang seharusnya dapat dikendalikan. Dan puncaknya ketika memasuki hari idul fitri, harga cenderung tak bisa dikendalikan.
Tidak hanya itu, pada musim puasa nanti, liburan sekolah yang memasuki tahun ajaran baru pada sekitar bulan juli ataupun agustus mendatang juga akan mempengaruhi nilai laju inflasi di setiap wilayah. Setelah musim puasa selesai, periode ini akan menggantikan ataupun mengakibatkan nilai kenaikan beberapa harga komoditi di pasaran. Mulai dari mengalami kenaikannya peralatan seolah sampai naiknya tarif pada setiap tempat rekreasi juga akan terjadi. Sehingga perlu adanya beberapa kebijakan “siaga” pada bulan juni sampai agustus mendatang. Karena jika tidak maka laju inflasi di kota Bengkulu maupun kota lainnya akan sulit mengalami penurunan harga kembali.
Kontrol terhadap laju inflasi ini tidak hanya berdasarkan data yag disajikan, tapi juga terlebih juga perbaikan pada sistem yang akan diterapkan guna mengontrol laju inflasi. Jika tidak simalakama dari inflasi ini akan kita rasakan secepatnya, atau mungkin di beberapa wilayah telah atau mulai dirasakan. Yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK) seperti telah di contohkan sebeumnya akan segera terjadi di kota kota lain.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sejauh manakah kebijakan dari pemerintah kita yang bertindak selaku segmen kebijakan fiskal maupun Bank Indonesia (BI) sebagai penentu dalam sektor moneter mampu mengatasi simalakama dari penyakit klasik yaitu inflasi sendiri?







0 komentar:

Posting Komentar