Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Sinergitas Kebijakan Pemerintah Dengan Kebijakan Moneter



Ketidakpastian sedang melanda perekonomian Indonesia saat ini. Seperti kita BBM yang sebelumnya naik kini mengalami penurunan kembali. Naik turunnya harga ini berdampak pada perekonomian, seperti harga-harga naik kemudian yang sudah terlanjur naik sulit untuk turun lagi. Alhasil, banyak masyarakat merasa tertekan dengan harga-harga yang semakin tinggi. 

Sering masyarakat ditakutkan dengan fenomena harga-harga naik yang sering disebut  inflasi ini mengancam para rakyat jelata yang tidak mempunyai kesanggupan membeli barang karena harga yang begitu tinggi. Akhirnya pinjam sana pinjam sini menjadi keputusan akhir untuk tetap mempertahankan hidup. Dengan penghasilan pas-pasan dan harus mengeluarkan biaya tambahan atas pinjaman yang telah dilakukan masyarakat akan semakin tertekan dengan keadaan ini. 

Melihat keadaan perekonomian saat ini dari sisi nilai tukarnya Indonesia mengalami penguatan dari yang sebelumnya Rp 14.000 kini berkisar Rp 13.000. Nilai rupiah yang menguat akibat kestabilan nilai rupiah. Semakin stabil nilai rupiah akan menarik simpati pera investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Meningkatnya investor akan meningkatkan jumlah produktivitas suatu industri sehingga membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Nilai rupiah yang menguat juga disertai adanya penurun suku bunga sehingga kemauan untuk investasi juga akan semakin meningkat. Hal ini akan berimbas baik pada perekonomian.

Peningkatan nilai rupiah dalam perekonomian Indonesia disebabkan oleh kenaikan harga minyak. Kenaikan nilai rupiah juga dipengaruhi oleh investor yang semakin yakin adanya pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun ini. Selain adanya penurunan suku bunga, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk melakukan transaksi menggunakan rupiah juga dapat meningkatkan nilai tukar rupiah. Dari penurunan acuan suku bunga ini dapat mempengaruhi perekonomian menjadi lebih baik.

Rupiah mampu menguat sebesar 3,73 % merupakan peningkatan yang bagus, apabila terjadi penguatan secara terus menerus sehingga mengakibatkan kestabilan pun tercapai. Namun menjadi pertanyaan apakah pengutan nilai rupiah apakah akan berlangsung lama. 

Melihat kondisi tersebut harus tetap diwaspadai jika kemungkinan terjadi pelemahan kembali. Inflasi dan nilai tukar sangat erat kaitannya terhadap perekonomian.  Pengendalian keduanya pun tetap harus dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia yaitu mengeluarkan kebijakan moneter untuk mengimbangi kebijakan pemerintahan Jokowi. 

Pemerintah mengeluarkan paket kebijakan dari jilid satu sampai sebelas tujuannya agar industri nasional dapat menghadapi ekonomi global. Setiap kebijakan yang diluncurkan konsepnya sangat bagus untuk membangun perekonomian dan saling berkaitan antara satu kebijakan dengan kebijakan lain. Namun disini perlu diketahui, kebijakan dengan konsep baik dan matang tidak akan berjalan dengan mulus tanpa dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia terutama para pemimpin. Oleh karena itu pembenahan masyarakat sendiri itu sangat diperukan.

Gubernur bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan bahwa akan ada 5 paket kebijakan moneter untuk mengimbangi kebijakan Jokowi antara lain upaya untuk memperkuat pengendalian inflasi dan mendorong sektor riil dari sisi suplai dengan memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Infalsi (TPI) dan kemudian memperkuat kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kedua, menjaga ekspektasi pelaku pasar uang dan obligasi. Ketiga, memperkuat pengelolaan liquiditas rupiah. Keempat, memperkuat pengelolaan valuta asing dari sisi permintaan dan penawaran. Kemudian yang terakhir menyangkut upaya pendalaman pasar uang. Sejumlah peraturan tersebut diharapkan dapat lebih menstabilkan nilai rupiah. 

Kebijakan moneter  untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, keseimbangan neraca pembayaran serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta keseimbangan neraca pembayaran internasional.

Kebijakan moneter yang ditempuh BI juga dianggap telah tepat dan telah mendukung penyesuaian ekonomi terhadap tekanan eksternal. Pengambil kebijakan juga telah memberi respons yang tepat saat terjadi gejolak di pasar keuangan, dengan fleksibilitas nilai tukar dan imbal hasil obligasi Pemerintah, serta usaha pendalaman pasar keuangan.

Pandangan IMF terhadap kebijakan Indonesia sudah cukup baik dalam menerapkan strategi yang tepat sasaran, dengan peningkatan belanja infrastruktur dan program sosial yang menyasar pada target yang tepat. Otoritas terkait telah berhasil melakukan pengurangan subsidi BBM dan bantuan tunai bersyarat dan investasi publik.

Sinergitas antara kebijakan pemeritah dengan kebijakan moneter perlu ditekakankan untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi. Seperti kebijakan BI di sisi makroprudensial seperti pelonggarab giro wajib minimum. Meskipun pertumbuhan ekonomi tidak akan langsung melonjak namun akan tetap mengalami peningkatan. 

Kestabilan moneter  untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, keseimbangan neraca pembayaran serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta keseimbangan neraca pembayaran internasional. Sementara kebijakan pemerintah lebih mendorong stabilisasi fiskal dan menggerakan sektor riil. Sehingga sinergitas dibutuhkan antara kedua kebijakan tersebut agar keadaan ekonomi Indonesia semakin membaik.

0 komentar:

Posting Komentar