Ketidakpastian
sedang melanda perekonomian Indonesia saat ini. Seperti kita BBM yang
sebelumnya naik kini mengalami penurunan kembali. Naik turunnya harga ini berdampak
pada perekonomian, seperti harga-harga naik kemudian yang sudah terlanjur naik
sulit untuk turun lagi. Alhasil, banyak masyarakat merasa tertekan dengan
harga-harga yang semakin tinggi.
Sering
masyarakat ditakutkan dengan fenomena harga-harga naik yang sering disebut inflasi ini mengancam para rakyat jelata yang
tidak mempunyai kesanggupan membeli barang karena harga yang begitu tinggi.
Akhirnya pinjam sana pinjam sini menjadi keputusan akhir untuk tetap
mempertahankan hidup. Dengan penghasilan pas-pasan dan harus mengeluarkan biaya
tambahan atas pinjaman yang telah dilakukan masyarakat akan semakin tertekan
dengan keadaan ini.
Melihat keadaan perekonomian saat ini dari
sisi nilai tukarnya Indonesia mengalami penguatan dari yang sebelumnya Rp
14.000 kini berkisar Rp 13.000. Nilai rupiah yang menguat akibat kestabilan
nilai rupiah. Semakin stabil nilai rupiah akan menarik simpati pera investor
untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Meningkatnya investor akan meningkatkan
jumlah produktivitas suatu industri sehingga membantu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Nilai rupiah yang menguat juga disertai adanya penurun suku bunga
sehingga kemauan untuk investasi juga akan semakin meningkat. Hal ini akan
berimbas baik pada perekonomian.
Peningkatan nilai rupiah dalam
perekonomian Indonesia disebabkan oleh kenaikan harga minyak. Kenaikan nilai
rupiah juga dipengaruhi oleh investor yang semakin yakin adanya pertumbuhan
ekonomi di Indonesia pada tahun ini. Selain adanya penurunan suku bunga,
kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk melakukan transaksi menggunakan
rupiah juga dapat meningkatkan nilai tukar rupiah. Dari penurunan acuan suku
bunga ini dapat mempengaruhi perekonomian menjadi lebih baik.
Rupiah mampu menguat sebesar 3,73 %
merupakan peningkatan yang bagus, apabila terjadi penguatan secara terus
menerus sehingga mengakibatkan kestabilan pun tercapai. Namun menjadi
pertanyaan apakah pengutan nilai rupiah apakah akan berlangsung lama.
Melihat
kondisi tersebut harus tetap diwaspadai jika kemungkinan terjadi pelemahan
kembali. Inflasi dan nilai tukar sangat erat kaitannya terhadap
perekonomian. Pengendalian keduanya pun
tetap harus dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia yaitu
mengeluarkan kebijakan moneter untuk mengimbangi kebijakan pemerintahan Jokowi.
Pemerintah
mengeluarkan paket kebijakan dari jilid satu sampai sebelas tujuannya agar
industri nasional dapat menghadapi ekonomi global. Setiap kebijakan yang
diluncurkan konsepnya sangat bagus untuk membangun perekonomian dan saling
berkaitan antara satu kebijakan dengan kebijakan lain. Namun disini perlu
diketahui, kebijakan dengan konsep baik dan matang tidak akan berjalan dengan
mulus tanpa dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia terutama para pemimpin.
Oleh karena itu pembenahan masyarakat sendiri itu sangat diperukan.
Gubernur
bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan bahwa akan ada 5 paket kebijakan
moneter untuk mengimbangi kebijakan Jokowi antara lain upaya untuk memperkuat
pengendalian inflasi dan mendorong sektor riil dari sisi suplai dengan
memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Infalsi (TPI) dan kemudian memperkuat
kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kedua, menjaga
ekspektasi pelaku pasar uang dan obligasi. Ketiga, memperkuat pengelolaan
liquiditas rupiah. Keempat, memperkuat pengelolaan valuta asing dari sisi
permintaan dan penawaran. Kemudian yang terakhir menyangkut upaya pendalaman
pasar uang. Sejumlah peraturan tersebut diharapkan dapat lebih menstabilkan
nilai rupiah.
Kebijakan
moneter untuk mencapai pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, keseimbangan
neraca pembayaran serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi
ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta
keseimbangan neraca pembayaran internasional.
Kebijakan
moneter yang ditempuh BI juga dianggap telah tepat dan telah mendukung
penyesuaian ekonomi terhadap tekanan eksternal. Pengambil kebijakan juga telah
memberi respons yang tepat saat terjadi gejolak di pasar keuangan, dengan
fleksibilitas nilai tukar dan imbal hasil obligasi Pemerintah, serta usaha
pendalaman pasar keuangan.
Pandangan
IMF terhadap kebijakan Indonesia sudah cukup baik dalam menerapkan strategi
yang tepat sasaran, dengan peningkatan belanja infrastruktur dan program sosial
yang menyasar pada target yang tepat. Otoritas terkait telah berhasil melakukan
pengurangan subsidi BBM dan bantuan tunai bersyarat dan investasi publik.
Sinergitas
antara kebijakan pemeritah dengan kebijakan moneter perlu ditekakankan untuk
memulihkan pertumbuhan ekonomi. Seperti kebijakan BI di sisi makroprudensial
seperti pelonggarab giro wajib minimum. Meskipun pertumbuhan ekonomi tidak akan
langsung melonjak namun akan tetap mengalami peningkatan.
Kestabilan
moneter untuk mencapai pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, keseimbangan
neraca pembayaran serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga
stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga
serta keseimbangan neraca pembayaran internasional. Sementara kebijakan
pemerintah lebih mendorong stabilisasi fiskal dan menggerakan sektor riil.
Sehingga sinergitas dibutuhkan antara kedua kebijakan tersebut agar keadaan
ekonomi Indonesia semakin membaik.






0 komentar:
Posting Komentar