Suku Bunga Rendah, Tingkat Inflasi
pun Rendah
Dari dasil Rapat Dewan
Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kembali tetap memutuskan untuk menahan suku
bunga acuan Bi rate pada posisi 6.75 persen. Bank Indonesia memprediksi akan
tetap menahan Bi Rate hingga pergantian ke Bi 7-day Reverse Repo pada 19 Agustus
2016.
BI
7-Day Reserse Repo Rate sebagai bunga acuan memiliki tenor tujuh hari,
sedangkan perhitungan Bi Rate berbasis tenor 12 bulan. Kebijakan ini dintempuh
karena Bi kurang responsif dalam
mempengaruhi suku bunga jangka pendek di pasar uang, Dalam aturan lama Bi Rate,
suku bunga yang ditetapkan adlaah 6,75%, tenor 12 bulan, lending facility
7,25%, dan deposit facility 4,75. Sedangkan dalam acuan baru BI 7-Day Reserse
Repo Rate suku bunga yang ditetapkan adalah 5.50%, tenor 7 hari, lending
facility 6,25% dan deposit facility 4,75%. Deposit facility merupakan fasilitas
yang disediakan oleh bank sentral untuk menampung ekses likuiditas dari bank,
di luar instrumen lain seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan reverse
repo.
Dengan
tetap menahan tingkat BI Rate maka akan memicu masyarakat untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dengan mengambil fasilitas kredit di perbankan dikarenakan
bunga kredit di perbankan otomatis akan ikut menurun. Secara teori Suku bunga
merupakan sejumlah prosentase yang diterima oleh orang yang meminjamkan dana
pada peminjam dana dan merupakan biaya imbalan yang harus dibayarkan peminjam kepada pemberi pinjaman atas
investasinya dengan kesepakan bersama yang telah dibuat dan disepakati oleh
kedua pihak. Persentase tingkat bunga akan berfluktuasi sesuai dengan
permintaan dan penawan uang (Nopirin, 1996). Dari teori ini jelas sekali, jika
Bank Indonesia menurunkan tingkat BI Rate maka penwaran Jumlah Uang Beredar di
masyarakat akan meningkat pesat, sehingga roda perputaran perekonomian berjalan
dengan lancar kembali.
Dalam
hal ini juga seluruh bank konvesional di kondisikan agar tetap menurunkan suku
bunga kredit dan suku bunga tabungannya, sehingga suku bunga rendah dapat
berkesinambungan jika ada inflasi rendah yang juga berkesinambungan. Sehingga
penurunan suku bunga juga perlu dijamin dengan penurunan inflasi.
Inflasi
di indoenesia terjadi karena produksi yang kurang sementara permintaan yang ada
di barang tinggi. Produksi rendah juga membuat harus adanya impor sehingga
terjadi defisit berjalan. Tapi dalam hal ini, jika pemerintah dan Bank
Indonesia tidak menjaga tingkat suku bunga BI Rate tanpa memperhatikan tingkat
stbilitas ekonomi makro yang ada di Indonesia, maka bisa meyebabkan tingkat
inflasi di Indonesia menjadi meningkat dan akhirnya nilai tukar rupiah akan
mengalami pelemahan kembali. Dukungan dari lemaga non bank harus di ikut
sertakan untuk menjaga kestabilan turunnya suku bunga BI Rate. Disini Lembaga
Penjamin Simpanan dan Otorisasi Jasa Keuangan tetap berjalan dalam kontroling
agar Jumlah Uang yang Beredar di Masyarakat tetap terkontrol sehingga tidak
menyebabkan tingkat komsumptif di masyarakat menjadi tinggi. Jika tidak
terkontrol maka Jumlah Uang Beredar di Masyarakat akan menyebabkan naiknya
tingkat inflasi di perekonomian.
Menurut
terori dampak Fisher Internasional (Internasional
Fisher Effect) yang menunjukkan tentang pergerakan nilai mata uang suatu
negara terhadap mata uang negara lain yang disebabkan oleh perbedaan suku bunga
antar kedua negara yang bersangkutan. Jika nilai suku bunga turun maka akan
menyebabkan masyarakat meminjam uang kepada perbankan sehingga tingkat jumlah
uang beredar di masyarakat akan meningkat dan membuat nilai tukar negara
tersebut terapresiasi.
Jika
disambungkan dengan teori dampak fisher
internasional, pemerintah indonesia mendorong Bank Indonesia untuk menurunkan
suku bunga BI Rate supaya tingkat Jumlah Uang Beredar di Masyarakat Indonesia
sehingga perputaran ekonomi di indonesia berkembang dan berdampak tingkat ekpor
menjadi meningkat sehingga nilai tukar rupiah menjadi apresiasi.
Dalam
hal ini, inflasi merupakan salah satu ukuran yang paling utama dalam kebijakan
moneter oleh Bank Indonesia untuk tetap memeliharan kestabilan perekonomian.
Laju inflasi merupakan suatu cerminan dari laju pertumbuhan ekonomi yang ada di
negara tersebut. Dari hasil survei pemantauan harga yang dilakukan oleh Bank
Indoensia, menunjukan tingkat inflasi sebesar 0,19 persen (month-to-month)
hingga pekan ketiha ei 2016. Penurunan inflasi dapat terjadi jika dapat
dilakukan dengan cara memproduksi barang serta memdistribusikannya dengan lancar.
Dan produksi ini mencukupi di dalam negeri, bukan karena mengimpor barang. Dari
hasil survei maka bisa saja inflasi tahunan yang terjadi di 3,3 persen.
Tren
penurunan laju inflasi secara tahunan di topang oleh penurunan inflasi volatile food. Dalam hal ini inflasi volatile food adalah inflasi kelompok
komoditas bahan makanan yang perkembanfan harganya sangat bergejolak karena
adanya faktor-faktor tertentu. Sebagai contoh, inflasi yang terjadi pada
beberapa komoditas bahan makanan seperti cabai, bawang merah, dan jenis sayuran
lainnya yang sering sekali berfluktuasi secara tajam karena dipengaruhi oleh
kondisi produksi komoditas yang bersangkutan (adanya faktor panen, gangguan
distribus, bencana alam, atau hama).
Secara
teori, jika
kita hubungan dengan teori dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Maka teori
kuantitas lah yang masuk ke dalam kategori studi kasus yang terjadi di
Indonesia, Disini Teori kuantitas mempunyai inti yaitu inflasi dapat terjadi
jika Jumlah Uang Beredar (M1) di masyarakat mempunyai tingkat volume yang
besar. Laju inflasi pun dapat ditentukan dari laju pertambahan jumlah uang
beredar dan ekspetasi masyarakat mengenaik kenaikan harga di masa yang akan
datang.
Dengan adanya kebijakan
menurunkan harga bahan bakar minyak merupakan menjadi salah faktor lain yang
mendorong tingkat inflasi tetap stabil di Indonesia. Karena secara otomatis
kita analogika, jika Harga Bahan Bakar Minyak menurun maka biaya yang di
keluarkan dalam transportasi untuk mengatarkan barang akan menurun. Karena tanpa
kita pungkiri, biaya yang besar dalam sistem perdagangan di Indonesia merupakan
dalam hal biaya transportasinya, Indonesia merupakan suatu wilayah yang terdiri
dari pulau – pulau dengan luas wilayah yang cukup besar jika bandingkan dengan
singapura, malaysia, ataupun thailand. Sehingga untuk memenuhi semua permintaan
barang di seluruh Indonesia, maka diperlukan transportasi yang memadai. Dan
hingga saat ini pun, transportasi yang paling besar digunakan adalah
trasnportasi darat. Transportasi darat memang merupakan suatu akses yang paling
mudah untuk dapat mencangkup semua wilayah, akan tetapi waktu dan biaya yang
dikeluarkan tidaklah sedikit untuk mengatar satu barang dalam satu perjalanan
saja.






0 komentar:
Posting Komentar