Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Suku Bunga Rendah, Tingkat Inflasi pun Rendah

Suku Bunga Rendah, Tingkat Inflasi pun Rendah

Dari dasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kembali tetap memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Bi rate pada posisi 6.75 persen. Bank Indonesia memprediksi akan tetap menahan Bi Rate hingga pergantian ke Bi 7-day Reverse Repo pada 19 Agustus 2016.
BI 7-Day Reserse Repo Rate sebagai bunga acuan memiliki tenor tujuh hari, sedangkan perhitungan Bi Rate berbasis tenor 12 bulan. Kebijakan ini dintempuh karena  Bi kurang responsif dalam mempengaruhi suku bunga jangka pendek di pasar uang, Dalam aturan lama Bi Rate, suku bunga yang ditetapkan adlaah 6,75%, tenor 12 bulan, lending facility 7,25%, dan deposit facility 4,75. Sedangkan dalam acuan baru BI 7-Day Reserse Repo Rate suku bunga yang ditetapkan adalah 5.50%, tenor 7 hari, lending facility 6,25% dan deposit facility 4,75%. Deposit facility merupakan fasilitas yang disediakan oleh bank sentral untuk menampung ekses likuiditas dari bank, di luar instrumen lain seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan reverse repo.
Dengan tetap menahan tingkat BI Rate maka akan memicu masyarakat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengambil fasilitas kredit di perbankan dikarenakan bunga kredit di perbankan otomatis akan ikut menurun. Secara teori Suku bunga merupakan sejumlah prosentase yang diterima oleh orang yang meminjamkan dana pada peminjam dana dan merupakan biaya imbalan yang harus dibayarkan  peminjam kepada pemberi pinjaman atas investasinya dengan kesepakan bersama yang telah dibuat dan disepakati oleh kedua pihak. Persentase tingkat bunga akan berfluktuasi sesuai dengan permintaan dan penawan uang (Nopirin, 1996). Dari teori ini jelas sekali, jika Bank Indonesia menurunkan tingkat BI Rate maka penwaran Jumlah Uang Beredar di masyarakat akan meningkat pesat, sehingga roda perputaran perekonomian berjalan dengan lancar kembali.
Dalam hal ini juga seluruh bank konvesional di kondisikan agar tetap menurunkan suku bunga kredit dan suku bunga tabungannya, sehingga suku bunga rendah dapat berkesinambungan jika ada inflasi rendah yang juga berkesinambungan. Sehingga penurunan suku bunga juga perlu dijamin dengan penurunan inflasi.
Inflasi di indoenesia terjadi karena produksi yang kurang sementara permintaan yang ada di barang tinggi. Produksi rendah juga membuat harus adanya impor sehingga terjadi defisit berjalan. Tapi dalam hal ini, jika pemerintah dan Bank Indonesia tidak menjaga tingkat suku bunga BI Rate tanpa memperhatikan tingkat stbilitas ekonomi makro yang ada di Indonesia, maka bisa meyebabkan tingkat inflasi di Indonesia menjadi meningkat dan akhirnya nilai tukar rupiah akan mengalami pelemahan kembali. Dukungan dari lemaga non bank harus di ikut sertakan untuk menjaga kestabilan turunnya suku bunga BI Rate. Disini Lembaga Penjamin Simpanan dan Otorisasi Jasa Keuangan tetap berjalan dalam kontroling agar Jumlah Uang yang Beredar di Masyarakat tetap terkontrol sehingga tidak menyebabkan tingkat komsumptif di masyarakat menjadi tinggi. Jika tidak terkontrol maka Jumlah Uang Beredar di Masyarakat akan menyebabkan naiknya tingkat inflasi di perekonomian.
Menurut terori dampak Fisher Internasional (Internasional Fisher Effect) yang menunjukkan tentang pergerakan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain yang disebabkan oleh perbedaan suku bunga antar kedua negara yang bersangkutan. Jika nilai suku bunga turun maka akan menyebabkan masyarakat meminjam uang kepada perbankan sehingga tingkat jumlah uang beredar di masyarakat akan meningkat dan membuat nilai tukar negara tersebut terapresiasi.
Jika disambungkan dengan  teori dampak fisher internasional, pemerintah indonesia mendorong Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga BI Rate supaya tingkat Jumlah Uang Beredar di Masyarakat Indonesia sehingga perputaran ekonomi di indonesia berkembang dan berdampak tingkat ekpor menjadi meningkat sehingga nilai tukar rupiah menjadi apresiasi.
Dalam hal ini, inflasi merupakan salah satu ukuran yang paling utama dalam kebijakan moneter oleh Bank Indonesia untuk tetap memeliharan kestabilan perekonomian. Laju inflasi merupakan suatu cerminan dari laju pertumbuhan ekonomi yang ada di negara tersebut. Dari hasil survei pemantauan harga yang dilakukan oleh Bank Indoensia, menunjukan tingkat inflasi sebesar 0,19 persen (month-to-month) hingga pekan ketiha ei 2016. Penurunan inflasi dapat terjadi jika dapat dilakukan dengan cara memproduksi barang serta memdistribusikannya dengan lancar. Dan produksi ini mencukupi di dalam negeri, bukan karena mengimpor barang. Dari hasil survei maka bisa saja inflasi tahunan yang terjadi di 3,3 persen.
Tren penurunan laju inflasi secara tahunan di topang oleh penurunan inflasi volatile food. Dalam hal ini inflasi volatile food adalah inflasi kelompok komoditas bahan makanan yang perkembanfan harganya sangat bergejolak karena adanya faktor-faktor tertentu. Sebagai contoh, inflasi yang terjadi pada beberapa komoditas bahan makanan seperti cabai, bawang merah, dan jenis sayuran lainnya yang sering sekali berfluktuasi secara tajam karena dipengaruhi oleh kondisi produksi komoditas yang bersangkutan (adanya faktor panen, gangguan distribus, bencana alam, atau hama).
Secara teori, jika kita hubungan dengan teori dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Maka teori kuantitas lah yang masuk ke dalam kategori studi kasus yang terjadi di Indonesia, Disini Teori kuantitas mempunyai inti yaitu inflasi dapat terjadi jika Jumlah Uang Beredar (M1) di masyarakat mempunyai tingkat volume yang besar. Laju inflasi pun dapat ditentukan dari laju pertambahan jumlah uang beredar dan ekspetasi masyarakat mengenaik kenaikan harga di masa yang akan datang.

Dengan adanya kebijakan menurunkan harga bahan bakar minyak merupakan menjadi salah faktor lain yang mendorong tingkat inflasi tetap stabil di Indonesia. Karena secara otomatis kita analogika, jika Harga Bahan Bakar Minyak menurun maka biaya yang di keluarkan dalam transportasi untuk mengatarkan barang akan menurun. Karena tanpa kita pungkiri, biaya yang besar dalam sistem perdagangan di Indonesia merupakan dalam hal biaya transportasinya, Indonesia merupakan suatu wilayah yang terdiri dari pulau – pulau dengan luas wilayah yang cukup besar jika bandingkan dengan singapura, malaysia, ataupun thailand. Sehingga untuk memenuhi semua permintaan barang di seluruh Indonesia, maka diperlukan transportasi yang memadai. Dan hingga saat ini pun, transportasi yang paling besar digunakan adalah trasnportasi darat. Transportasi darat memang merupakan suatu akses yang paling mudah untuk dapat mencangkup semua wilayah, akan tetapi waktu dan biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit untuk mengatar satu barang dalam satu perjalanan saja.

0 komentar:

Posting Komentar