Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Suku Bunga The Fed Meningkat dan Pelemahan Rupiah

Suku Bunga The Fed Meningkat dan Pelemahan Rupiah

Pada dua bulan yang lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami apresiasi mencapai Rp. 12.000,- per dollar Amerika. Dalam sepekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terus terdepresiasi. Pada tanggal 30 Mei 2015, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika memiliki kurs tegah Rp. 13.615,-.
Menurut teori, Nilai tukar adalah harga atau satuan suatu mata uang terhadap mata uang lain yang digunakan dalam  transaksi ekonomi. Suatu mata uang dikatakan terdepresiasi apabila harga mata uang domestik dibawah nilai tukar fleksibel lebih murah terhadap mata uang lain, sedangkan apresiasi mata uang terjadi apabila harga, mata uang domestik lebih mahal terhadap mata uang lain. Kedua hal ini akan mempengaruhi neraca pemabyaran dalam transaksi internasional (Dornbusch, 2004: 279-280).
Efek depresiasi mata uang yaitu meningkatkan jumlah mata uang yang diminta (kecuali permintaan inelatis sempurna) dan meningkatkan pengeluaran mata uang asing, jika permintaan elastis, serta menurunkan pengeluaran mata uang asing kalau permintaan in elastis. Sedangkan jika nilai mata uang mengalami apresiasi maka, menurunkan jumlah mata uang yang diminta (kecuali permintaan in elastis sempurna) dan menurunkan pengeluaran mata uang asing jika permintaan elastis serta meningkatkan pengeluaran mata uang asing jika permintaan in elastis.
Nilai tukar secara sederhana dapat diartikan sebagai semacam harga. Nilai tukar muncul ketika transaksi perdagangan atau pertukaran barang atau jasa terjadi sehingga menghasilkan perbandingan nilai tukar antar keduanya (Krugman dan Obstfeld, 1988; Ditria et al, 2008).
Menurut sejarahnya, berbagai upaya pemerintah indonesia telah di lakukan untuk menjaga agar stabilisasi nilai tukar rupiah diantaranya dengan menerapkan kebijakan moneter. Yang pertama menerapkan sistem nilai tukar tetap (fixed exchange rate). Sistem ini menjelaskan bahwa lembaga otoritas moneter (Bank Indonesia) menetapkan tingkat nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang negara lainnya pada tingkat harga tertentu, tanpa memperhatikan penawaran (supply) atau permintaan (demand) terhadap valuta asing yang terjadi. Sistem Nilai Tukar Tetap terjadi di Indonesia pada tahun (1971-maret 1983). Dalam sistem ini, bank indonesia akan membeli dan menjual mata uang mereka dalam harga dollar Amerika Serikat yang tetap sehingga penjaga harga tetap harus melayani kelebihan permintaan atau menyerap kelebihan penawaran agar dapat menjaga harga (exchange rate) tetap, dimana Bank Indonesia harus memiliki persedian dalam mata uang asing atau valuta asing yang dapat ditukarkan dengan ata uang domestik.
Upaya pemerintah yang kedua adalah berupa sistem nilai tukar  mengambang terkendali ( Manage Floating Exchange Rate), dimana pemerintah mempengaruhi tingkat nilai tukar melalui penawaran (supply) atau permintaan (demand) terhadap valuta asing yang terjadi, sistem ini pun digunakan untuk tetap menjaga stabilitas moneter dan neraca pembayaran. Sistem ini pernah dilakukan di Indonesia dengan 2 model. Pada April 1983 – sep 1986, Indonesia menggunakan  Sistem nilai tukar mengambang terkendali secara ketat dan Pada Sep 1986 – agustus 1997, Indonesia menggunakan Sistem Nilai Tukar Mengambang Fleksibel. Dalam menggunakan Sistem Nilai Tukar Mengambang Fleksibel, nilai tukar ditentukan tidak hanya pada mekanisme pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh unsur “managed” dari Bank Indonesia melalui intervensi.
Upaya ketiga yang pemerintah indonesia telah lakukan yaitu, dengan menggunakan sistem nilai tukar mengambang bebas (free Floating Exchange Rate), dimana pemerintah Indonesia tidak mencampuri tingkat niai tukar sama sekali sehingga nilai tukar diserahkan pada melalui penawaran (supply) atau permintaan (demand) terhadap valuta asing yang terjadi (mekanisme pasar). Sistem nilai tukar mengambang bebas pernah dilaksanakan pada Indonesia pada 14 Agustus 1967.
Jenis nilai tukar dikaitkan dengan perdagangan yaitu nilai tukar nominal dan nilai tuakr rill. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah nilai yang digunakan sebagai perjanjian yang dikenal dengan nilai tukar mata uang yang digunakan seseorang untuk menukar nilai mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain untuk kebutuhan transaksi jual dan beli (Mankiw, 2002:242). Jika nilai tukar berubah $1 dapat membeli mata uang asing lebih banyak, hal ini yang disebut sebagai apresiasi nilai tukar terhadap nilai dollar. Sebaliknya, apabila nilai tukar berubah dimana $1 hanya bisa membeli mata uang asing dalam jumlah yang lebih sedikit makan hal ini dikatakan sebagai deresiasi nilai tukar terhadap dolar. Nilai tukar rill adalah nilai yang digunakan seseorang sebagai alat pembayaran padatransaski ekonomi yang terjadi antar negara. Nilai tukar rill merupakan faktor penentu utama dalam menentukan seberapa banyak suatu negara diijikan untuk mengekspor komoditasnya (Mankiw, 2002;244).
Penyebab pertama nilai tukar rupiah terus melemah karena adanya spekulasi Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve yang akan menaikkan tingkat suku bungannya. Karena di rencanakan The Fed akan menaikan tingkat suku bunganya sekitar bulan Juni atau juli mendatang. Dan kemungkinan naiknya dua kali dalam setahun ini. Sehingga terlihat, pelemahan nilai tukar rupiah datang dari pengaruh eksternal.
Menurut beberapa ahli ekonomo di Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi ini hanya bersifat semstara karena hal ini banyak investor yang kemudian membawa dananya ke luar dari pasar modal Indonesia. Penyebab lain dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika adalah tingginya permintaan dolar Amerika Serikat di dalam negeri. Permintaan dolar Amerika Serikat meningkat tajam dikarenakan untuk pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen perusahaan. Memang hal ini selalu berlangsung pada periode-periode tertentu di setiap tahunnya.
Walaupun terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, fudamental perekonomian di Indonesia tetap baik-baik saja, tidak ada masalah. Indonesia memang sudah terbiasa menghadapi ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang akhirnya berdampak pada terombang ambingnya mata uang garuda sehingga mendorong penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Sehingga pemerintah menghimbau untuk tidak perlu terlalu khawatir dengan keadaan seperti ini.; Walaupun memang kita memang terkena dampang sudah terjadi keluarnya dana asing (capital outflow) dari pasar modal di Indonesia.

Dalam keadaan seperti ini, pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi dari sisi fiskal dan mendorong peningkatan iklim investasi di dalam negeri. Salah satu kebijakan jangka panjang dan menegah yaitu dengan pengendalian harga oleh Bank Indonesia. Dan dari pemerintah jokowi dengan membantu mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke 12. 

0 komentar:

Posting Komentar