APLIKASI
INDEPEDENSI BANK SENTRAL DI INDONESIA
Bank sentral secara
teoritis memiliki sifat independen, dimana dalam menetapkan kebijakaan moneter
bank sentral tidak lagi mendapat intervensi dari pemerintah. Diharapkan dengan
adanya independensi ini, bank sentral dapat menyusun kebijakan secara lebih
optimal jika dibandingkan dengan adanya intervensi dari pemerintah. Selain itu,
realisasi kebijakan yang disusun bersama-sama cenderung lebih sulit dilakukan
apabila terdapat lebih dari satu stakeholder
yang menyusun kebijakan. Teori ini telah banyak diaplikasikan oleh
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, dan terbukti bank
sentral Amerika Serikat dan Kanada lebih optimal dalam pelaksanaan otoritas
moneternya.
Bank sentral Indonesia,
Bank Indonesia, juga menerapkan sistem indpendensi bank sentral seperti yang
diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat dan Kanada. Bank Indonesia dalam
menetapkan kebijakan moneter, bergerak secara indpenden tanpa adanya intervensi
dari pemerintah. Sedangkan pemerintah sendiri lebih berperan pada kebijakan
fiskal, dimana lebih terfokus pada sektor penerimaan Negara. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa bank sentral sebagai otoritas moneter dan pemerintah sebagai
otoritas fiskal bergerak sendiri-sendiri namun implikasinya saling berpengaruh
satu sama lain.
Bank Indonesia sebagai
otoritas moneter memiliki ultimate goal
tersendiri, dimana dalam merealisasikan ultimate
goal tersebut Bank Indonesia menggunakan instrumen-instrumen tertentu yang
penggunannya bergantung pada keadaan perekonomian yang ada. Dimana keadaan
perekonomian yang ada tentunya juga bergantung pada otoritas fiskal yang ada.
Dimana otoritas fiskal juga sangat berpengaruh terhadap keadaan perekonomian.
Sehingga meskipun Bank Indonesia bersifat independen, namun juga harus memiliki
kinerja yang berimbang dengan pemerintah dengan melihat situasi perekonomian
yang sedang terjadi.
Dikarenakan Indonesia
merupakan Negara yang sedang berkembang, maka gejolak perekonomian terutama
dalam konteks moneter masih sering terjadi. Karena itu, otoritas moneter harus
bekerja sedikit lebih ekstra dalam hal ini. Pandangan berbeda terjadi di Negara
maju, dimana keadaan ekonomi moneternya sudah cenderung stabil sehingga otoritas
moneter tidak perlu bekerja begitu keras dan pada umumnya di Negara-negara maju
lebih berfokus pada implikasi kebijakan-kebijakan fiskal. Sedangkan di Negara
berkembang, meskipun lebih terarah pada otoritas moneternya namun Negara sedang
berkembang juga tidak bisa meninggalkan kinerjanya terhadap otoritas fiskal.
Memang Negara sedang berkembang terlihat lebih bekerja ekstra dibandingkan
Negara maju, hal tersebut dikarenakan Negara sedang berkembang tentunya masih
tertinggal jauh kondisi perekonomiannya jika dibandingkan dengan Negara maju.
Maka dari itu, Negara sedang berkembang harus lebih bisa mengejar
ketertinggalannya agar dapat memperoleh kondisi perekonomian yang lebih baik.
Implikasi independensi
bank sentral yang terjadi di Indonesia dinilai berjalan cukup baik. Hal
tersebut terlihat dari terealisasinya sistem yang sudah direncakana oleh bank
sentral. Selain itu, realisasi kebijakan moneter Bank Indonesia juga dapat
dikatakan baik karena dalam melaksanakan kebijakan moneter Bank Indonesia tidak
terlepas dari implikasi kebijakan fiskal yang menuntut keduanya berjalan
beriringan. Sehingga tidak terjadi ketimpangan kasus antara realisasi kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal yang ada.
Seperti yang kita tahu,
kondisi perekonomian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aspek-aspek
lain. Dimana perokonomian bisa dikatakan sebagai jantung dari aktivitas segala
sektor yang ada di suatu Negara. Dan kondisi perekonomian sendiri fluktuasinya
sangat tergantung pada kebijakan-kebijakan yang diterpkan, baik itu kebijakan
moneter yang diterapkan bank sentral maupun kebijakan fiskal yang diterapkan
pemerintah. Sehingga peran perekonomian ini menjadi sesuatu yang sangat urgent bagi keberlangsungan suatu
Negara.
Bank Indonesia sendiri
dalam melaksanakan ultimate goal-nya
juga tidak terlepas dari dampingan kebijakan moneter lain diluar dari ultimate goal tadi. Kebijakan yang
mendampingi realisasi ultimate goal dari Bank Indonesia ini juga berupa
kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Hal tersebut karena
dalam pelaksaan pewujudan ultimate goal dari Bank Indonesia sendiri tidak
berjalan mulus seperti ekspektasi yang diharapkan. Dalam perjalanannya,
terdapat hambatan-hambatan tertentu dimana Bank Indonesia tidak dapat secara
langsung mengubah ultimate goal yang
ada. Sehingga untuk meminimalisir adanya pelencengan realisasi ultimate goal Bank Indonesia ini perlu
dibuat kebijakan pendamping yang fungsinya juga mempermudah Bank Indonesia
dalam mencapai ultimate goal-nya.
Sejauh ini, di
Indonesia memang belum menghadapi krisis moneter sehingga Bank Indonesia
menghadap kinerja yang aman-aman saja tanpa adanya masalah yang berarti. Namun
perlu digaris bawahi, dengan kondisi yang seperti ini seharusnya Indonesia bisa
lebih terfokus pada pengembangan sektor-sektor riil untuk ekspansi pasar
internasional yang lebih berkembang lagi. Karena situasi seperti ini merupakan
kesempatan yang tidak bisa diabaikan bagi Indonesia. Dengan begitu, harapan
untuk mencapai perekonomian yang lebih baik lagi pada segala sektor yang ada
tidak akan hanya menjadi harapan saja namun dapat terealisasi secara optimal.






0 komentar:
Posting Komentar