Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

APLIKASI INDEPEDENSI BANK SENTRAL DI INDONESIA



APLIKASI INDEPEDENSI BANK SENTRAL DI INDONESIA

Bank sentral secara teoritis memiliki sifat independen, dimana dalam menetapkan kebijakaan moneter bank sentral tidak lagi mendapat intervensi dari pemerintah. Diharapkan dengan adanya independensi ini, bank sentral dapat menyusun kebijakan secara lebih optimal jika dibandingkan dengan adanya intervensi dari pemerintah. Selain itu, realisasi kebijakan yang disusun bersama-sama cenderung lebih sulit dilakukan apabila terdapat lebih dari satu stakeholder yang menyusun kebijakan. Teori ini telah banyak diaplikasikan oleh Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, dan terbukti bank sentral Amerika Serikat dan Kanada lebih optimal dalam pelaksanaan otoritas moneternya.
Bank sentral Indonesia, Bank Indonesia, juga menerapkan sistem indpendensi bank sentral seperti yang diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat dan Kanada. Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter, bergerak secara indpenden tanpa adanya intervensi dari pemerintah. Sedangkan pemerintah sendiri lebih berperan pada kebijakan fiskal, dimana lebih terfokus pada sektor penerimaan Negara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bank sentral sebagai otoritas moneter dan pemerintah sebagai otoritas fiskal bergerak sendiri-sendiri namun implikasinya saling berpengaruh satu sama lain.
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter memiliki ultimate goal tersendiri, dimana dalam merealisasikan ultimate goal tersebut Bank Indonesia menggunakan instrumen-instrumen tertentu yang penggunannya bergantung pada keadaan perekonomian yang ada. Dimana keadaan perekonomian yang ada tentunya juga bergantung pada otoritas fiskal yang ada. Dimana otoritas fiskal juga sangat berpengaruh terhadap keadaan perekonomian. Sehingga meskipun Bank Indonesia bersifat independen, namun juga harus memiliki kinerja yang berimbang dengan pemerintah dengan melihat situasi perekonomian yang sedang terjadi.
Dikarenakan Indonesia merupakan Negara yang sedang berkembang, maka gejolak perekonomian terutama dalam konteks moneter masih sering terjadi. Karena itu, otoritas moneter harus bekerja sedikit lebih ekstra dalam hal ini. Pandangan berbeda terjadi di Negara maju, dimana keadaan ekonomi moneternya sudah cenderung stabil sehingga otoritas moneter tidak perlu bekerja begitu keras dan pada umumnya di Negara-negara maju lebih berfokus pada implikasi kebijakan-kebijakan fiskal. Sedangkan di Negara berkembang, meskipun lebih terarah pada otoritas moneternya namun Negara sedang berkembang juga tidak bisa meninggalkan kinerjanya terhadap otoritas fiskal. Memang Negara sedang berkembang terlihat lebih bekerja ekstra dibandingkan Negara maju, hal tersebut dikarenakan Negara sedang berkembang tentunya masih tertinggal jauh kondisi perekonomiannya jika dibandingkan dengan Negara maju. Maka dari itu, Negara sedang berkembang harus lebih bisa mengejar ketertinggalannya agar dapat memperoleh kondisi perekonomian yang lebih baik.
Implikasi independensi bank sentral yang terjadi di Indonesia dinilai berjalan cukup baik. Hal tersebut terlihat dari terealisasinya sistem yang sudah direncakana oleh bank sentral. Selain itu, realisasi kebijakan moneter Bank Indonesia juga dapat dikatakan baik karena dalam melaksanakan kebijakan moneter Bank Indonesia tidak terlepas dari implikasi kebijakan fiskal yang menuntut keduanya berjalan beriringan. Sehingga tidak terjadi ketimpangan kasus antara realisasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang ada.
Seperti yang kita tahu, kondisi perekonomian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aspek-aspek lain. Dimana perokonomian bisa dikatakan sebagai jantung dari aktivitas segala sektor yang ada di suatu Negara. Dan kondisi perekonomian sendiri fluktuasinya sangat tergantung pada kebijakan-kebijakan yang diterpkan, baik itu kebijakan moneter yang diterapkan bank sentral maupun kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah. Sehingga peran perekonomian ini menjadi sesuatu yang sangat urgent bagi keberlangsungan suatu Negara.
Bank Indonesia sendiri dalam melaksanakan ultimate goal-nya juga tidak terlepas dari dampingan kebijakan moneter lain diluar dari ultimate goal tadi. Kebijakan yang mendampingi realisasi ultimate goal dari Bank Indonesia ini juga berupa kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Hal tersebut karena dalam pelaksaan pewujudan ultimate goal dari Bank Indonesia sendiri tidak berjalan mulus seperti ekspektasi yang diharapkan. Dalam perjalanannya, terdapat hambatan-hambatan tertentu dimana Bank Indonesia tidak dapat secara langsung mengubah ultimate goal yang ada. Sehingga untuk meminimalisir adanya pelencengan realisasi ultimate goal Bank Indonesia ini perlu dibuat kebijakan pendamping yang fungsinya juga mempermudah Bank Indonesia dalam mencapai ultimate goal-nya.
Sejauh ini, di Indonesia memang belum menghadapi krisis moneter sehingga Bank Indonesia menghadap kinerja yang aman-aman saja tanpa adanya masalah yang berarti. Namun perlu digaris bawahi, dengan kondisi yang seperti ini seharusnya Indonesia bisa lebih terfokus pada pengembangan sektor-sektor riil untuk ekspansi pasar internasional yang lebih berkembang lagi. Karena situasi seperti ini merupakan kesempatan yang tidak bisa diabaikan bagi Indonesia. Dengan begitu, harapan untuk mencapai perekonomian yang lebih baik lagi pada segala sektor yang ada tidak akan hanya menjadi harapan saja namun dapat terealisasi secara optimal.

0 komentar:

Posting Komentar