Bank Indonesia saat ini menargetkan
inflasi kota Jogjakarta ada pada rentang 4+1%. Target inflasi pertama
kali dikenalkan Bank Indonesia pada tahun 2000. Diterapkannya target inflasi di
Indonesia berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama karena sistem nilai
tukar anchor telah ditinggalkan maka akan sangat diperlukan sistem anchor
relatif. Kedua karena independensi Bank Indonesia sehingga target inflasi
menjadi konsekuensi bagi independensi Bank Indonesia dalam penetapan kebijakan
moneter yang memfokuskan pada pengendalian dan penekanan inflasi. Penetapan
target inflasi sendiri di Indonesia terutama jika diteraokan secara ketat masih
terdapat pro dan kontra. Komitmen penetapan target inflasi ini di satu sisi
memang mampu untuk mendisiplinkan bank sentral dalam konsentrasinya
mengendalikan dan menekan infasi yang ada di Indonesia. Dengan adanya penetapan
target inflasi yang diumumkan oleh Bank Indonesia kepada publik dengan jelas
mampu memacu Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi secara eksplisit.
Kebijakan moneter yang secara tegas menentukan konsetrasi atau prioritas
kebijakannya pada pengendalian dan penekanan inflasi mampu mengangkat
kredibilitas bank sental tersebut. Tentu saja hal ini mampu menurunkan
ekspektasi masyarkat tentang inflasi masa depan yang hal ini dapat menimbulkan
pengurangan biaya terhadap pengendalian inflasi yang diespektasikan akan
aterjadi pada masa depan.
Semntara itu bagi pihak-pihak yang
keberatan tentu mereka mempunyai beberapa alasan mendasar yang tentu saja mampu
menjelaskan keberatan mereka pada penetapan target inflasi itu sendiri.
Pertama, mereka menganggap jika base
money akan lebih baik dalam
mengotrol kebijakan moneter dibandingkan dengan hubungan kausalitas yang
terjadi antara inflasi dan suku bunga. Suku bunga yang tidak pasti mampu
meningkatkan resiko-resiko yang akan memperburuk kinerja kebijakan moneter itu
sendiri. Kedua, menurut mereka masalah
kredibilitas Bank Indonesia akan mudah dibangun dengan base money. Karena pada dasarnya Bank Indonesia dalam kondisi yang
serba tidak pasti ini tentu lebih mudah dalam mengendalikan base monet dari pada inflasi itu
sendiri. Namun jangan melupakan fakta bahwa pengendalian base money tidaklah mudah hal utama yang menjadi hambatan adalah
kurangnya peran intermediasi perbankkan dan juga jika seluruh kegiatan
perekonomian yang dilakukan oleh masyarakat banyak menggunakan uang kartal.
Sehingga akan terjadi masalah dalam pengotrolan base money itu sendiri. Ketiga, mereka berpendapat bahwa kendala
yang lain adalah kendala dalam hal sektor riil dan sektor perbangkan. Jika
terjadi masalah dalam kedua sektor ini hanya masalah jangka pendek saja. Karena
jelas bank sentral tidak akan mengabaikan hal ini dengan kata lain bank sentral
akan bertindak untuk mengurangi resiko yang akan dialami oleh sektor riil dan
perbankkan.
Target inflasi yang diterapkan oleh
Bank Indonesia saat ini menggunakan sasaran antara yaitu target base money. Pada realita prakteknya
target inflasi ini digunakan untuk menghitung base money itu sendiri. Target inflasi yang bersifat forward looking menjadikan kemampuan
Bank Indonesia selaku bank yang menetapkan strategi target inflasi sebagai
syarat mutlak yang harus terpenuhi. Inflasi yang telah terprediksi mampu
meningkatkan sentiment pasar global baik pasar uang maupun pasar barang.
Inflasi yang telah tertarget mampu membuat investor akan meningkatkan atau
menurunkan investasi yang mereka lakukan. Penetapan target inflasi tentu sangat
menguntungkan bagi perekonomian karena dapat membuat masyarakat mengerti akan
prediksi inflasi yang akan terjadi di masa depan sehingga mampu menarik banyak
masyarakat yang akan berinvestasi. Tentu saja investasi sangat diperlukan dalam
penyerapan terhadap tenaga kerja yang hal ini akan mengurangi penganggutran
yang terjadi di Indonesia.
Memang benar hal tersebut akan memicu
inflasi karena jika penggngguran berkurang maka jumlah uang yang beredar di
masyarakat akan bertambah, jika jumlah uang yang beredar bertambah maka akan
memicu terjadinya inflasi. Jika inflasi terjadi maka akan mendorong bank
sentral untuk meredamnya dengan penaikan tingkat suku bunga. Penaikan tingkat
suku bunga akan mengakibatkan investor yang berinvestasi tadi dikarenakan bunga
yang tinggi akan menari uangnya dan selanjutnya yang terjadi bisa tertebak yaitu
masalah pengangguran pun muncul. Maka dari itu sangat diperlukan sekali peran
pemerintah untuk mengatasi hal ini. Iflasi dan pengangguran merupakan masalah
yang tidak terpisahkan satu sama lain. Inflasi dan pengangguran akan menjadi
boomerang jika tidak diselesaikan secara mendasar. Inflasi dan pengangguran
seperti dua sisi mata uang koin yang tidak dapat dipisahkan yang satu dengan
lainnya. Jika kita ingin menekan inflasi maka yang akan terjadi pengangguran
jika menyerap pengangguran maka akan memicu inflasi. Sehingga masalah inflasi
dan pengangguran merupakan satu mata rantai yang saling berhubungan satu sama
lainnya. Pengendalian inflasi akan menjadi solusi alternatif dalam
menyelesaikan masalah dan dampak yang ditimbulkan oleh inflasi dan
pengangguran. Karena jika bank sentral mampu mengendalikan inflasi maka
ketakutan investor terhadap iklim investasi yang mereka jalani akan terganggu
berkurang. Hal ini akan memicu sentiment pasar menjadi lebih baik lagi. Dan
tentu saja hal itu akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat
Indonesia tentunya






0 komentar:
Posting Komentar