Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

BI Pasang Target Inflasi 2016 di Rentang 4±1%”



Bank Indonesia saat ini menargetkan inflasi kota Jogjakarta ada pada rentang 4+1%. Target inflasi pertama kali dikenalkan Bank Indonesia pada tahun 2000. Diterapkannya target inflasi di Indonesia berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama karena sistem nilai tukar anchor telah ditinggalkan maka akan sangat diperlukan sistem anchor relatif. Kedua karena independensi Bank Indonesia sehingga target inflasi menjadi konsekuensi bagi independensi Bank Indonesia dalam penetapan kebijakan moneter yang memfokuskan pada pengendalian dan penekanan inflasi. Penetapan target inflasi sendiri di Indonesia terutama jika diteraokan secara ketat masih terdapat pro dan kontra. Komitmen penetapan target inflasi ini di satu sisi memang mampu untuk mendisiplinkan bank sentral dalam konsentrasinya mengendalikan dan menekan infasi yang ada di Indonesia. Dengan adanya penetapan target inflasi yang diumumkan oleh Bank Indonesia kepada publik dengan jelas mampu memacu Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi secara eksplisit. Kebijakan moneter yang secara tegas menentukan konsetrasi atau prioritas kebijakannya pada pengendalian dan penekanan inflasi mampu mengangkat kredibilitas bank sental tersebut. Tentu saja hal ini mampu menurunkan ekspektasi masyarkat tentang inflasi masa depan yang hal ini dapat menimbulkan pengurangan biaya terhadap pengendalian inflasi yang diespektasikan akan aterjadi pada masa depan.

Semntara itu bagi pihak-pihak yang keberatan tentu mereka mempunyai beberapa alasan mendasar yang tentu saja mampu menjelaskan keberatan mereka pada penetapan target inflasi itu sendiri. Pertama, mereka menganggap jika base money  akan lebih baik dalam mengotrol kebijakan moneter dibandingkan dengan hubungan kausalitas yang terjadi antara inflasi dan suku bunga. Suku bunga yang tidak pasti mampu meningkatkan resiko-resiko yang akan memperburuk kinerja kebijakan moneter itu sendiri. Kedua, menurut  mereka masalah kredibilitas Bank Indonesia akan mudah dibangun dengan base money. Karena pada dasarnya Bank Indonesia dalam kondisi yang serba tidak pasti ini tentu lebih mudah dalam mengendalikan base monet dari pada inflasi itu sendiri. Namun jangan melupakan fakta bahwa pengendalian base money tidaklah mudah hal utama yang menjadi hambatan adalah kurangnya peran intermediasi perbankkan dan juga jika seluruh kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh masyarakat banyak menggunakan uang kartal. Sehingga akan terjadi masalah dalam pengotrolan base money itu sendiri. Ketiga, mereka berpendapat bahwa kendala yang lain adalah kendala dalam hal sektor riil dan sektor perbangkan. Jika terjadi masalah dalam kedua sektor ini hanya masalah jangka pendek saja. Karena jelas bank sentral tidak akan mengabaikan hal ini dengan kata lain bank sentral akan bertindak untuk mengurangi resiko yang akan dialami oleh sektor riil dan perbankkan.

Target inflasi yang diterapkan oleh Bank Indonesia saat ini menggunakan sasaran antara yaitu target base money. Pada realita prakteknya target inflasi ini digunakan untuk menghitung base money itu sendiri. Target inflasi yang bersifat forward looking menjadikan kemampuan Bank Indonesia selaku bank yang menetapkan strategi target inflasi sebagai syarat mutlak yang harus terpenuhi. Inflasi yang telah terprediksi mampu meningkatkan sentiment pasar global baik pasar uang maupun pasar barang. Inflasi yang telah tertarget mampu membuat investor akan meningkatkan atau menurunkan investasi yang mereka lakukan. Penetapan target inflasi tentu sangat menguntungkan bagi perekonomian karena dapat membuat masyarakat mengerti akan prediksi inflasi yang akan terjadi di masa depan sehingga mampu menarik banyak masyarakat yang akan berinvestasi. Tentu saja investasi sangat diperlukan dalam penyerapan terhadap tenaga kerja yang hal ini akan mengurangi penganggutran yang terjadi di Indonesia.
Memang benar hal tersebut akan memicu inflasi karena jika penggngguran berkurang maka jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, jika jumlah uang yang beredar bertambah maka akan memicu terjadinya inflasi. Jika inflasi terjadi maka akan mendorong bank sentral untuk meredamnya dengan penaikan tingkat suku bunga. Penaikan tingkat suku bunga akan mengakibatkan investor yang berinvestasi tadi dikarenakan bunga yang tinggi akan menari uangnya dan selanjutnya yang terjadi bisa tertebak yaitu masalah pengangguran pun muncul. Maka dari itu sangat diperlukan sekali peran pemerintah untuk mengatasi hal ini. Iflasi dan pengangguran merupakan masalah yang tidak terpisahkan satu sama lain. Inflasi dan pengangguran akan menjadi boomerang jika tidak diselesaikan secara mendasar. Inflasi dan pengangguran seperti dua sisi mata uang koin yang tidak dapat dipisahkan yang satu dengan lainnya. Jika kita ingin menekan inflasi maka yang akan terjadi pengangguran jika menyerap pengangguran maka akan memicu inflasi. Sehingga masalah inflasi dan pengangguran merupakan satu mata rantai yang saling berhubungan satu sama lainnya. Pengendalian inflasi akan menjadi solusi alternatif dalam menyelesaikan masalah dan dampak yang ditimbulkan oleh inflasi dan pengangguran. Karena jika bank sentral mampu mengendalikan inflasi maka ketakutan investor terhadap iklim investasi yang mereka jalani akan terganggu berkurang. Hal ini akan memicu sentiment pasar menjadi lebih baik lagi. Dan tentu saja hal itu akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia tentunya

0 komentar:

Posting Komentar