Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

INFORMASI DAN UPAYA KEBUT KREDIT PERTANIAN



INFORMASI DAN UPAYA KEBUT KREDIT PERTANIAN
Oleh,
Suci Arvilia
Monetary’13

Salah satu permasalahan yang terulang ssetiap tahunnya yaitu ketergantungan Indonesia terhadap impor. Sangat ironis bagi Negara yang dipandang sebagai Negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, dengan lahan pertanian yang membentang dari sabang hingga merauke. Permasalahan tersebut dikarenakan banyak faktor mulai dari perilaku sumber daya manusia yang ada hingga program industrialisasi yanag tidak memperhatikan lingkungan. Sehingga Indonesia harus mengimpor lebih dari 20 komoditas pangan (BPS,2013) untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.  Komoditas tersebut diantaranya beras, jagung, biji gandum, ayam, ubi kayu, kopi, susu, kelapa sawit, cengkeh, kakao, kentang, tembakau, mentega, susu, bawang merah, bawang putih, cabai, cabai kering, cabai awet hingga garam. Hal yang paling mengejutkan yaitu garam juga di impor di Indonesia, Negara maritime dengan garis terpanjang ke – 4 dunia.
Idealnya, impor yang dilakukan oleh suatu Negara karena terjadi kekurangan produksi komoditas dalam negeri, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun kondisi sebaliknya terjadi di Indonesia, Bulog yang dipandang sebagai lumbung pangan selalu mengalami kekurangan kebutuhan akan beras bahkan ketika itu panen raya. Sehingga atas latar belakang permasalahan tersebut pemerintah setiap tahunnya selalu berulang untuk terus melakukan impor pangan karena efek kekurangan pangan nantinya akan dapat meningktakan harga dan dampak akhir yaitu peningkatan angka inflasi itu sendiri.
Hal tersebut bukan berarti pemerintah tidak membuat master plan dalam upaya meningkatkan sektor pertanian dalam negeri dan dapat menjadi Negara yang mandiri mengingat masih banyak petani kecil yang membutuhkan perlindungan. Beberapa program telah diluncurkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia diantara pemberian subsidi pupuk, bibit hingga kemudahan dalam akses modal permodalan, Kredit Usaha rakyat (KUR). Terutama program KUR Hingga saat ini data menunjukkan bahwa terus terjadi peningkatan hingga 19, 30 % dari Rp. 212,04 triliun pada kuartal 1 tahun 2015 menjadi Rp. 252,96 triliun pada kuartal 1 tahun 2016 akses penyaluran kredit disetiap tahunnya untuk sektor pertanian. Sedangkan Bank Indonesia sendiri mendukung upaa realisasi penyaluran kredit mencapai 100 triliun dengan penurunan bunga 9% dimana sebelumnya 12 % efektif selama tahun 2016.
Program kredit usaha tersebut bekerja sama dengan berbagai pihak terkait setiap daerahnya seperti pemda hingga dinas pertanian dan lembaga – lembaga keuangan baik lembaga perbankan maupun lembaga non - perbankan. Pemerintah berfungsi sebagai pendukung dan membantu pelaksanaan berikut penjaminan kredit diberbagai sektor didaerah tersebut yang feasible namun unbankable. Dengan adanya berbagai program tersebut diharapkan mampu mendorong sektor – sektor yang layak dibiyai untuk terus dikembangkan.
Dari sisi lembaga perbankan terdapat 7 bank BUMN  yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan program KUR  pada tahun 2016, antara lain tiga bank BUMN (BRI, Mandiri, BNI), PT Bank Sinarmas IndonesiaTbk, PT Maybank Indonesia, BPD Kalbar, BPD NTT. Namun diantara bank tersebut BRI dipatok mendapatkan porsi terbesar yakni Rp. 67, 5 triliun dengan calon penerima kredit yakni 5 sektor usaha salah satunya yaitu sektor pertanian.
Dengan kondisi ekonomi yang lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya, dan beriringan dengan pemberian dukungan terhadap program swasembada pangan, sektor pertanian perlu treatment khusus untuk dapat meningkatkan nilai tukar sektor pertanian dan tidak hanya menjual hasil pertaniannya secara bentuk mentah. Lembaga perbankan pun telah melaksanakan banyak program sosialisasi disetiap daerahnya. Tujuannya yang tak lain yaitu pemberian informasi atas berbagai program pemerintah tersebut. Namun mengingat sektor pertanian tepatnya didaerah pelosok bahkan terkadang terdapat daerah yang belum tersentuh oleh program pemerintah. Mengingat informasi merupakan hal utama suatu program dapat berjalan antara pembuat kebijakan dengan sasaran kebijakan tersebut.
Perlunya peningkatan akses informasi daerah diera globalisasi seperti ini seharusnya bukan menjadi permasalahan bagi lembaga perbankan khususnya dalam meningkatkan financial accesbility. Ketimpangan informasi antar daerah juga akan menghambat program kredit itu sendiri sehingga hanya daerah tertentu yang dapat menikamti program tersebut. Lembaga perbankan seharusnya lebih genjar untuk masuk kewilayah pedesaan meskipun hanya sekedar memberikan informasi program dan memberikan penjelasan untuk menghilangkan persepsi masyarakat yang anti bank Karena dianggap rumit, salah satunya melalui perangkat desa terlebih dahulu untuk kemudian bisa diteruskan ke masyarakat pedalaman utamanya.
Di Indonesia masih banyak daerah – daerah yang perlu untuk diberikan akses kredit, terkait dengan banyaknya petani produktif diwilayah tersebut. Karena real estate nya petani didaerah pelosok hanya akan memproduksi atau menanami lahannya sawahnya secara subsisten (hanya sekedar memebuhi kebutuhan sehari – harinya) alasannya kembali pada sulitnya dan rumitnya akses permodalan.

0 komentar:

Posting Komentar