Indonesia
merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar, yaitu pada tahun
2015 penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa. Namun, di balik
keuntungan yang dimiliki negara Indonesia, ada dampak negatif yang di timbulkan
dari besarnya penduduk di negeri ini. Jika di cermati keadaan demografi ini
menjadi bonus bagi negara ini, jika sumber daya manusia yang dimiliki mampu
berdaya saing, mampu untuk mengelola potensi sumber daya yang dimiliki, dan negara
ini juga mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam artikel
kompas pada tanggal 12 maret 2016 menyebutkan bahwa banyaknya penduduk atau
bonus demografi di negara ini menjadi ancaman bagi negara Indonesia. Mengingat
bahwa, penduduk yang besar, sumber daya yang dimiliki banyak, serta potensi
pariwisata yang banyak sekali tetapi tidak di imbangi dengan kesejahteraan
masyarakatnya. Dimana seperti yang kita tahu justru banyak sekali masyarakat
kita yang berada di garis kemiskinan. Mengapa demikian? Karena bonus demografi
yang dimiliki tidak di manfaatkan sebaik mungkin, pemerintah justru seakan
tidak peka terhadap bonus demografi yang dimiliki. Sumber daya yang di miliki di
nilai berkualitas rendah karena tidak mampu mengolah sumber daya yang ada dan
tidak mampu berdaya saing dengan sumber daya manusia di negara lain.
Masyarakat
Ekonomi Asean merupakan berita baik sekaligus berita buruk yang terbaru dari
Indonesia. Dalam menghadapi MEA menurut saya Indonesia tidak mampu untuk
menumbuhkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lainnya.
Perbaikan mutu pendidikan maupun gizi dinilai sangat perlu untuk
keberlangsungan hidup ke depan. Ketika bonus demografi seperti yang dimiliki
negara ini tidak mampu dimanfaatkan, maka yang terjadi bonus demografi ini
justru menjadi ancaman bagi negara Indonesia sendiri. Jika dilihat dari
perbandingan sumber daya manusia di Indonesia dengan negara Asia yang lain,
Indonesia kalah dengan negara – negara asia yang lain. Sumber daya di negara asia
lainnya cenderung peka terhadap teknologi terbaru, namun apa yang terjadi pada
sumber daya manusia di Indonesia? Kenyataan realnya adalah sumber daya manusia
di Indonesia cenderung gagap terhadap teknologi, tertinggal oleh negara –
negara asean yang lain.
Menurut
Kepala PPK LIPI Haning
Romdiati (kompas.com) menyatakan bahwa tantangan Indonesia kedepan dalam
menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah melakukan perbaikan terhadap
mutu pendidikan, gizi, dan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Dimana
seperti yang telah diketahui bahwa persaingan ke depan akan lebih berat,
mengingat tenaga kerja di negara Indonesia ini nanti akan banyak warga luar
negeri atau asing yang bekerja di Indonesia. Ketika daya saing yang dimiliki
Indonesia tidak mampu mengikuti persaingan yang terjadi. Maka pengangguran akan
bertambah meningkat seiring di berlakunnya Masyarakat Ekonomi Asean.
Berdasarkan
data yang dikeluarkan oleh bps, pada tahun 2015 banyak sekali masyarakat
Indonesia yang berpendidikan rendah. Seperti lulusan SD (Sekolah Dasar) sebesar
54,6 juta penduduk warga negara Indonesia yang hanya mampu mengenyam pendidikan
ditingkat sekolah dasar, jumlah ini jika dijadikan persentase mencapai 45,19%.
Merupakan persentase yang tinggi sekali jika disbanding dengan negara asia yang
lain yang lebih mengedepankan pendidikan. Seharusnya pemerintah harus memberi
kesempatan pada anak – anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang tinggi,
dimana pendidikan yang tinggi merupakan modal bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan
yang layak. Ibarat investasi, pemerintah mengeluarkan dana untuk meningkatkan
pendidikan di Indonesia dan akan mendapatkan hasil yang baik bagi perekonomian
pada saat anak didiknya sudah dewasa dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka
akan mendukung adanya pertumbuhan ekonomi, sebab pendapatan perkapita akan
meningkat.
Produktivitas
yang rendah, banyaknya pengangguran, tingkat pendidikan yang rendah, serta
mengakibatkan pendapatan masyarakat yang rendah akan berpotensi pada perilaku –
perilaku menyimpang yang akan banyak terjadi. Ketika pengangguran semakin
banyak, dan jumlah penduduk yang terus meningkat maka adanya kepala keluarga
dalam suatu keluarga tersebut akan dibebani oleh banyaknya anggota keluarga
yang lain yang tidak bekerja seperti istri, kedua anak, dan mentuanya.
Pendapatan yang dihasilkan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Ketika
seseorang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dan berfikiran
negatif, bingung harus seperti apa. Dari situ timbul perilaku menyimpang yang mana
kan berbuat kejahatan atau kriminalitas untuk mendapatkan pendapatan yang lebih
besar dengan mencuri, merampok, dan kejahatan – kejahatan yang lain. Di sisi
lain mereka berbuat kejahatan karena mereka berupaya untuk memenuhi
kebutuhannya, namun di sisi lain mereka di nilai salah karena mereka
mendapatkan pendapatannya tersebut dari perilaku yang buruk. Peran pemerintah
dalam hal perilaku menyimpang ini cukup besar, mengapa? Karena pada dasarnya
mereka melakukan hal buruk tersebut karena mereka tidak mampu menghidupi
anggota keluarganya dengan pendapatan yang rendah. Seharusnya pemerintah
menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak untuk menampung para masyarakatnya
yang menganggur. Sehingga, bonus demografi yang dimilki bermanfaat untuk
meningkatkan pembangunan negara Indonesia ini.
Keadaan
Indonesia saar ini, banyak warga desa yang berbondong – bondone ke kota untuk
mencari lapangan pekerjaan da menaruh harapan untuk mejadi sukses di kota yang
besar. Namun apa yang terjadi? Apa dampak dari perilaku masyarakat yang
demikian? Ketika mereka berharap besar dengan pergi ke kota besar untuk
mendapatkan pekerjaan yang layak namun dengan kualitas diri yang rendah hanya
akan membuat masalah pada tatanan kota besar yang ditinggali. Mengapa? Karena
meraka akan sulit mencari pekerjaan dengan kualitas diri yang rendah, sehingga
mereka akan membuat pemukiman – pemukiman kumuh dipinggiran kota dan sungai.
Sehingga menimbulkan bencana banjir karena tempat meresapnya air. Dengan adanya
pemukiman kumuh tersebut, akan menganggu pemandangan kota. Kota akan terlihat
kumuh, jelek, kotor karena mereka biasanya akan membuat gubuk – gubuk non
permanen dari plastik, kardus, dan lain - lain.
Yang
perlu di perbaiki di Indonesia disini bukan hanya memperbaiki tatanan sumber
daya manusianya, namun juga tatanan lingkungan yang mana telah banyak tanah
persawahan yang digunakan menjadi pabrik. Sehingga para tenaga kerja di desa yang bekerja sebagai pertani akan
kehilangan mata pencahariannya karena lahannya sudah tidak ada. Damapak yang dihasilkan
dari berkurangnya lahan persawahan adalah kurangnya bahan pokok yang diproduksi
dalam negeri dan mengakibatkan pemerintah untuk ekspor beras, serta banyaknya
pengangguran yang terjadi di pedesaaan. Banyaknya petani yang telah menganggur,
sehingga disarankan untuk pengurangan alih lahan dari pertanian ke industri
agar para tenaga kerja di desa tidak kehilangan pekerjaannya dan berbondong – bonding ke kota untuk mencari
pekerjaan dengan modal pendidikan yang rendah. Yang perlu ditekankan lagi adalah
memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia, karena pendidikan merupakan modal
kedepan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, modal pendidikan juga sebagai
ilmu bagi para wirausaha untuk membuka usaha yang baru, sehingga akan menyerap
banyak tenaga kerja dan akan membantu masyarakat indonesia terlepas dari garis
kemiskinan dan akan berdampak juga pada pendapatan perkapita dari masyarakat
meingkat. Sehingga banyaknya jumlah
penduduk Indonesia tidak lagi menjadi beban dalam pembangunan, namun menjadi asset
dalam pembangunan di negara ini.
Nur
Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember,






0 komentar:
Posting Komentar