Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Bonus Demografi Tidak Selalu Menjadi Peluang


Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang besar, yaitu pada tahun 2015 penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa. Namun, di balik keuntungan yang dimiliki negara Indonesia, ada dampak negatif yang di timbulkan dari besarnya penduduk di negeri ini. Jika di cermati keadaan demografi ini menjadi bonus bagi negara ini, jika sumber daya manusia yang dimiliki mampu berdaya saing, mampu untuk mengelola potensi sumber daya yang dimiliki, dan negara ini juga mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam artikel kompas pada tanggal 12 maret 2016 menyebutkan bahwa banyaknya penduduk atau bonus demografi di negara ini menjadi ancaman bagi negara Indonesia. Mengingat bahwa, penduduk yang besar, sumber daya yang dimiliki banyak, serta potensi pariwisata yang banyak sekali tetapi tidak di imbangi dengan kesejahteraan masyarakatnya. Dimana seperti yang kita tahu justru banyak sekali masyarakat kita yang berada di garis kemiskinan. Mengapa demikian? Karena bonus demografi yang dimiliki tidak di manfaatkan sebaik mungkin, pemerintah justru seakan tidak peka terhadap bonus demografi yang dimiliki. Sumber daya yang di miliki di nilai berkualitas rendah karena tidak mampu mengolah sumber daya yang ada dan tidak mampu berdaya saing dengan sumber daya manusia di negara lain.
Masyarakat Ekonomi Asean merupakan berita baik sekaligus berita buruk yang terbaru dari Indonesia. Dalam menghadapi MEA menurut saya Indonesia tidak mampu untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lainnya. Perbaikan mutu pendidikan maupun gizi dinilai sangat perlu untuk keberlangsungan hidup ke depan. Ketika bonus demografi seperti yang dimiliki negara ini tidak mampu dimanfaatkan, maka yang terjadi bonus demografi ini justru menjadi ancaman bagi negara Indonesia sendiri. Jika dilihat dari perbandingan sumber daya manusia di Indonesia dengan negara Asia yang lain, Indonesia kalah dengan negara – negara asia yang lain. Sumber daya di negara asia lainnya cenderung peka terhadap teknologi terbaru, namun apa yang terjadi pada sumber daya manusia di Indonesia? Kenyataan realnya adalah sumber daya manusia di Indonesia cenderung gagap terhadap teknologi, tertinggal oleh negara – negara asean yang lain.
Menurut Kepala PPK LIPI Haning Romdiati (kompas.com) menyatakan bahwa tantangan Indonesia kedepan dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah melakukan perbaikan terhadap mutu pendidikan, gizi, dan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Dimana seperti yang telah diketahui bahwa persaingan ke depan akan lebih berat, mengingat tenaga kerja di negara Indonesia ini nanti akan banyak warga luar negeri atau asing yang bekerja di Indonesia. Ketika daya saing yang dimiliki Indonesia tidak mampu mengikuti persaingan yang terjadi. Maka pengangguran akan bertambah meningkat seiring di berlakunnya Masyarakat Ekonomi Asean.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh bps, pada tahun 2015 banyak sekali masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah. Seperti lulusan SD (Sekolah Dasar) sebesar 54,6 juta penduduk warga negara Indonesia yang hanya mampu mengenyam pendidikan ditingkat sekolah dasar, jumlah ini jika dijadikan persentase mencapai 45,19%. Merupakan persentase yang tinggi sekali jika disbanding dengan negara asia yang lain yang lebih mengedepankan pendidikan. Seharusnya pemerintah harus memberi kesempatan pada anak – anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, dimana pendidikan yang tinggi merupakan modal bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ibarat investasi, pemerintah mengeluarkan dana untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia dan akan mendapatkan hasil yang baik bagi perekonomian pada saat anak didiknya sudah dewasa dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka akan mendukung adanya pertumbuhan ekonomi, sebab pendapatan perkapita akan meningkat.
Produktivitas yang rendah, banyaknya pengangguran, tingkat pendidikan yang rendah, serta mengakibatkan pendapatan masyarakat yang rendah akan berpotensi pada perilaku – perilaku menyimpang yang akan banyak terjadi. Ketika pengangguran semakin banyak, dan jumlah penduduk yang terus meningkat maka adanya kepala keluarga dalam suatu keluarga tersebut akan dibebani oleh banyaknya anggota keluarga yang lain yang tidak bekerja seperti istri, kedua anak, dan mentuanya. Pendapatan yang dihasilkan tidak mampu mencukupi kebutuhan yang ada. Ketika seseorang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dan berfikiran negatif, bingung harus seperti apa. Dari situ timbul perilaku menyimpang yang mana kan berbuat kejahatan atau kriminalitas untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar dengan mencuri, merampok, dan kejahatan – kejahatan yang lain. Di sisi lain mereka berbuat kejahatan karena mereka berupaya untuk memenuhi kebutuhannya, namun di sisi lain mereka di nilai salah karena mereka mendapatkan pendapatannya tersebut dari perilaku yang buruk. Peran pemerintah dalam hal perilaku menyimpang ini cukup besar, mengapa? Karena pada dasarnya mereka melakukan hal buruk tersebut karena mereka tidak mampu menghidupi anggota keluarganya dengan pendapatan yang rendah. Seharusnya pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak untuk menampung para masyarakatnya yang menganggur. Sehingga, bonus demografi yang dimilki bermanfaat untuk meningkatkan pembangunan negara Indonesia ini.
Keadaan Indonesia saar ini, banyak warga desa yang berbondong – bondone ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan da menaruh harapan untuk mejadi sukses di kota yang besar. Namun apa yang terjadi? Apa dampak dari perilaku masyarakat yang demikian? Ketika mereka berharap besar dengan pergi ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak namun dengan kualitas diri yang rendah hanya akan membuat masalah pada tatanan kota besar yang ditinggali. Mengapa? Karena meraka akan sulit mencari pekerjaan dengan kualitas diri yang rendah, sehingga mereka akan membuat pemukiman – pemukiman kumuh dipinggiran kota dan sungai. Sehingga menimbulkan bencana banjir karena tempat meresapnya air. Dengan adanya pemukiman kumuh tersebut, akan menganggu pemandangan kota. Kota akan terlihat kumuh, jelek, kotor karena mereka biasanya akan membuat gubuk – gubuk non permanen dari plastik, kardus, dan lain - lain.
Yang perlu di perbaiki di Indonesia disini bukan hanya memperbaiki tatanan sumber daya manusianya, namun juga tatanan lingkungan yang mana telah banyak tanah persawahan yang digunakan menjadi pabrik. Sehingga para tenaga kerja di  desa yang bekerja sebagai pertani akan kehilangan mata pencahariannya karena lahannya sudah tidak ada. Damapak yang dihasilkan dari berkurangnya lahan persawahan adalah kurangnya bahan pokok yang diproduksi dalam negeri dan mengakibatkan pemerintah untuk ekspor beras, serta banyaknya pengangguran yang terjadi di pedesaaan. Banyaknya petani yang telah menganggur, sehingga disarankan untuk pengurangan alih lahan dari pertanian ke industri agar para tenaga kerja di desa tidak kehilangan pekerjaannya dan  berbondong – bonding ke kota untuk mencari pekerjaan dengan modal pendidikan yang rendah. Yang perlu ditekankan lagi adalah memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia, karena pendidikan merupakan modal kedepan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, modal pendidikan juga sebagai ilmu bagi para wirausaha untuk membuka usaha yang baru, sehingga akan menyerap banyak tenaga kerja dan akan membantu masyarakat indonesia terlepas dari garis kemiskinan dan akan berdampak juga pada pendapatan perkapita dari masyarakat meingkat.  Sehingga banyaknya jumlah penduduk Indonesia tidak lagi menjadi beban dalam pembangunan, namun menjadi asset dalam pembangunan di negara ini.
Nur Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember,


0 komentar:

Posting Komentar