Penurunan
suku bunga kredit bergantung pada bagaimana upaya pemerintah dalam
mengendalikan inflasi. Upaya pemerintah dalam mengelola suku bunga kredit harus
di imbangi dengan melihat bagaimana inflasi yang terjadi saat itu. Inflasi yang
tinggi tentu tidak memungkinkan untuk menurunkan suku bunga kredit, maka dengan
demikian penurunan suku bunga kredit juga harus dengan upaya menekan inflasi
menjadi lebih rendah.
Pihak
pemerintah dan OJK sepakat untuk menurunkan suku bunga kredit. Di harapkan
dengan penurunan suku bunga kredit ini masyarakat mampu berdaya saing dalam
menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Pernyataan ini di nilai benar,
karena masyarakat tentu kekurangan modal untuk bisa berdaya saing dengan masyarakat
asean lainnya. Sehingga suku bunga kredit yang rendah akan mempengaruhi sektor
riil dalam menjalankan usahanya. Dengan suku bunga kredit yang rendah,
masyarakat tentu tidak lagi bimbang dalam mengambil tindakan untuk meminjam
dana kepada pihak bank. Sehingga jika dana yang dimiliki banyak maka masyarakat
akan mampu memajukan produksinya dan mendorong perusahaan yang dimilikinya agar
mampu bersaing dikancah nasional maupun internasional.
Penurunan
suku bunga kredit secara intensif oleh bank ini umunya lebih di bermanfaat pada
industi rumahan atau UMKM. Jika di telaah lebih lanjut UMKM bisa memberikan
dampak yang signifikan bagi perekonomian, namun UMKM banyak terlupakan oleh
pemerintah sehingga peran UMKM bagi perekonomian tidak terlalu terlihat. Salah satu pelaku usaha yang
memiliki eksistensi penting namun kadang “terlupakan” dalam berbagai kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah. Padahal jika kita pahami lebih dalam, peran UMKM bukanlah sekedar pendukung dalam kontribusi ekonomi
nasional. UMKM dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting. Kondisi ini dapat dilihat dari
berbagai data empiris yang
mendukung bahwa eksistensi UMKM cukup
dominan dalam perekonomian Indonesia. Manfaat banyaknya UMKM beberapanya adalah
: Pertama, berpotensi menambah industri yang besar dalam
perekonomian. Kedua, potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja,
dan ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB yang signifikan yaitu
sebesar 56% dari total PDB di tahun 2010 (Biro Pusat Statistik dan Kementerian
Koperasi dan UKM, 2010).
Perkembangan UMKM terbukti merupakan
penggerak utama dalam perekonomian yang berpengaruh langsung terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, perkembangan industri berskala
kecil ini umumnya masih mengalami rintangan yang dihadapi. Masalah yang hingga
kini masih menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha berskala kecil ini
adalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh industri berskala kecil seperti
UMKM. Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan industri ini dalam kaitannya
dengan pertumbuhan ekonomi di butuhkan akses keuangan dari berbagai pihak.
Seperti contohnya adalah peran Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga
keuangan yang mengatur stabilitas moneter di Indonesia. Peran Bank Indonesia
tidak boleh dianggap remeh, mengingat Bank Indonesia berberan sebagai otoritas
moneter dimana kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
tersebut sangat memberikan dampak yang luas terutama kebijakan terkait dengan
pengembangan UMKM itu sendiri.
Menurut
saya, kebijakan pemerintah dan OJK dalam menurunkan kredit ini cukup baik.
Dimana kebijakan ini akan meningkatkan kredit yang mana kredit disini untuk
mendorong stimulus perekonomian menjadi lebih baik. Dalam jangka pendek, akan
meningkatkan kredit dan juga akan berdampak pada pendapatan dari bunga pinjaman
yang juga akan meningkat. Dalam jangka panjang akan mendorong peningkatan
produksi. Namun, yang harus di perhatikan dalam kebijakan inidan harus tetap
dijaga disini adalah pengawasan terhadap kredit yang terjadi. Dimana kredit
tidak boleh boom, yang bilamana kredit boom maka akan meningkatkan resiko
sistemik yang tinggi. Sehingga pengawasan kredit harus ditekankan. Hal yang
perlu ditekankan lagi adalah syarat yang harus ditetapkan bagi peminjam atau
kreditor, yaitu harus mempuyai rasio kredit bermasalah kurang dari 5%.
Pada
akhir tahun 2015 inflasi yang terjadi 3,35% dan pada januari 2016 meningkat
sebesar 0,51% dan menjadi 4,70%* (* asumsi dasar ekonomi makro dalam penyusunan
APBN 2016). Inflasi pada akhir tahun 2015 menurun ditimbang inflasi tahun 2014.
Dan seharusnya ketika inflasi yang terjadi menurun, seharusnya tingkat suku
bunga simpanan juga harus turun. Secara inflasi juga turun, sehingga pada
hakikatnya suku bunga simpanan juga turun. Namun yang terjadi justru
sebaliknya, meskipun inflasi yang terjadi saat ini turun suku bunga deposito
tetap naik. Mengapa? Karena terjadinya likuiditas yang menyebabkan bank terus
menaikkan suku bunga deposito untuk menarik minat para nasabah untuk
mendapatkan dana yang besar dari nasabah.
Pada
tahun 2016 inflasi seharusnya tetap dijaga, seiring dengan menurunnya harga
minyak dunia maka penggunaan biaya untuk bahan bakar transportasi juga rendah.
Dampak positif dari menurunnya biaya yang rendah maka akan menurunkan juga
inflasi terhadap barang – barang. Seperti halnya distribusi barang logistik ke
beberapa wilayah yang mana ketika biaya distribusi cenderung turun maka harga
dari komoditi tersebut juga turun. Sehingga inflasi yang terjadi juga akan
cenderung menurun. Pada dasarnya terjadi inflasi daerah yang tinggi di beberapa
wilayah juga disebabkan oleh biaya ingks distribusi logistik yang tinggi.
Sehingga dengan adanya penurunan harga minyak dunia ini seharusnya direspon
positif oleh upaya pemerintah dalam mengelola biaya transportasi dan ongkos
barang logistik. Ketika ongkos dari distribusi tersebut turun,maka harga
komoditinya juga turun. Menurut Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan
Moneter BI Solikin M Juhro pada dasarnya harga komoditi barang logistic yang
tinggi disebabkan oleh biaya atau ongkos krim transportasi logistik yang juga
mahal. Contohnya saja ketika harga minyak dunia tinggi dan ada kenaikan pada
Bahan Bakar Minyak (BBM) semua harga mengalami kenaikan artinya inflasi yang
terjadi melonjak tinggi. Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan
barang tersebut juga tinggi.
Suku
bunga kredit bisa di turunkan jika jumlah biaya dana yang akan diberikan oleh
perbankan ke nasabah juga menurun. Persentase pengaruh suku bunga kredit terhadap
presentase biaya atau dana yang dikeluarkan oleh bank sebesar 60% , presentase
ini cukup besar sehingga besaran inflasi sangat mempengaruhi suku bunga kredit
dan suku bunga deposito yang ditetapkan oleh bank. Maka dari itu, upaya
pemerintah ke depan adalah mengontrol inflasi agar tetap stabil. Supaya
perekonomian makin membaik seiring dengan perbaikan yang sekarang dilakukan.
Perekonomian memang butuh stimulus untuk memacu perekonomian di sektor riil.
Penurunan suku bunga kredit yang bisa dengan penurunan tingkat inflasi juga di
dukung oleh adanya kebijakan pemerintah terhadap pelonggaran kebijakan moneter
melalui penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit melalui
penurunan inflasi juga akan berdampak pada menurunnya suku bunga deposito.
Namun sampai saat ini suku bunga deposito belum diturunkan karena bank
membutuhkan banyak dana dari nasabah. Sehingga perekonomian sektor riil di
harapkan terpacu oleh adanya penurunan
suku bunga kredit dan kebijakan peloggaran kredit oleh pemerintah.
Di
Indonesia inflasi di anggap suatu hal yang menakutkan bagi masyarakat karena
harga barang – barang yang meningkat membuat pendapatan riil mereka berkurang.
Sehingga dengan pendapatan tetap yang mereka terima tidak mencukupi untuk
kebutuhan mereka seperti sebelum terjadinya inflasi. Namun di sisi lain
sebetulnya inflasi bisa menjadi penstimulus dalam perekonomian. Seperti yang
terjadi saat ini, perekonomian global sedang dalam keadaan lesu sehingga butuh
adanya inflasi untuk mendorong daya beli nasyarakat agar pendapatan pemerintah
meningkat dan cukup untuk memperbaiki perekonomian yang sedang lesu.
Dalam
artikel kompas tanggal (29/2) menyebutkan bahwa kita harus cerdas dalam
mengelola inlasi. Mengapa? Karena inflasi sendiri tidak selalu bersifat atau
berdampak buruk terhadap perekonomian. Di negara jepang dan eropa justru suku
bunga yang di tetapkan adalah minus, mengapa? Karena negara ini mengharapkan
agar masyarakatnya menghabiskan pendapatannya untuk di belanjakan tidak untuk
di tabung. Jadi ketika daya beli masyarakat terus dipacu oleh adanya inflasi
maka pendapatan pemerintah dari sektor pajak misalnya akan bertambah.
Pendapatan pemerintah ini akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperbaiki
perekonomian sektor riil yang sedang lesu. Artinya inflasi di sini tidak hanya
menjadi beban dalam perekonomian, namun negara eropa dan jepang memang sengaja
memicu inflasi yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara
mereka.
Saat
perekonomian mengalami kelesuan atau sedang mengalami perlambatan adanya
inflasi ini justru di butuhkan, karena adanya infasi akan sangat berperan pada
pengembalian kinerja pertumbuhan ekonomi sektor riil. Adanya inflasi tidak
selalu harus menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dan perekonomian.
Seperti adanya inflasi idi negara jepang dan eropa dimana inflasi memang
diadakan untuk memacu kinerja perekonomian. Sehingga perekonomian akan
cenderung membaik karena pertumbuhan sektor riil yang juga membaik. Saat
kinerja sektor rill tumbuh dengan baik dan belanja pemerintah di tambah karena
bertambahnya pendapatan masyarakat maka ini akan menjadi jurus jitu untuk
merubah perekonomian tumbuh lebih baik.
Kebijakan
moneter dan kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang di butuhkan saat
perekonomian sedang mengalami perlambatan ekonomi. mengapa? Karena kebijakn
moneter ekspansif akan memacu kinerja perekonomian sektor riil menjadi lebih
baik dan kebijakan fiskal memacu perekonomian dengan menambah anggaran belanja
negara dengan pendapatan yang di dapatkan pasca inflasi di naikkan dan dengan
tambahan surat hutang negara.meskipun dampak dari belanja negara yang di tambah
adalah hutang pemerintah bertambah namun kebijakan ini di perlukan untuk
sementara waktu agar perekonomian kembali membaik. Selain itu kebijakan moneter
juga menurunkan suku bunga acuan kredit atau BI rate. Kebijakan ini juga di
tujukan untuk memacu perekonomian sektor riil, dimana dengan suku bunga kredit
yang murah di harapkan agar banyak industri – industri maupun UMKM (Usaha Kecil
Mikro dan Menengah) yang meminjam dana di
bank.
Ketika
inflasi yang tinggi menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dan
erekonomian, akan lebih menakutkan lagi jika inflasi yang rendah namu daya beli
masyarakat juga ikut rendah. Implikasi atau dampak yang di timbulkan justru
tidak baik juga untuk perekonomian. Pada tahun 2015 saja inflasi yang terjadi
hanya sebesar 3,35 persen, inflasi ini di nilai cukup rendah. Tetapi apa yang
terjadi? Ketika inflasi di tahun 2015 rendah daya beli masyarakat juga ikut
rendah, berbanding terbalik dengan ketika inflasi yang terjadi tinggi daya beli
masyarakat juga ikut meningkat. Akibat dari daya beli masyarakat maupun
konsumsi rumah tangga yang tidak meningkat meskipun inflasi yang terjadi cukup
rendah akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi yang rendah pula yaitu hanya
sekitar 4,7%. Ini berarti inflasi yang rendah justru tidak juga berdampak baik
dalam perekonomian. Bukan harus adanya inflasi yang tinggi maupun yang rendah,
namun yang perlu di pastikan adalah inflasi yang stabil. Dan efek yang di
timbulkan lagi adalah nilai tukar, yang mana nilai tukar juga berpengaruh
terhadap kinerja sektor riil.
Stabilitas
inflasi maupun nilai tukar akan mencegah perekonomian terjadi overheating, pertumbuhan ekonomi yang
harus dicapai tentu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan dan unutk
mencapainya pemerintah maupun lembaga – lembaga otoritas moneter maupun fiskal
harus tetap menjaga inflasi dan nilai tukar tetap stabil. Dalam menjaga nilai
tukar, bank Indonesia harus menjaga terjadinya akses demand oleh valuta asing,
hal ini dilakukan dengan pengefektifan kebijakan devisa hasil ekspor atau DHE.
Selain itu pihak bank Indonesia juga harus menerapkan kebijakan soft capital control artinya devisa
hasil ekspor harus di jaga agar tetap efektif, hal ini menjadi penting ketika
perekonomian global seperti saat ini dimana perekonomian sedang mengalami
gejolak yang menimbulkan ketidakpastian.
Kondisi
perekonomian global yang sedang mengalami perlambatan seperti saat ini
menyebabkan situasi pasar uang menjadi tidak menentu. Sudah saatnya pihak Bank
Indonesia menerapkan soft capital control,
pihak bank Indonesia seharusnya tidak hanya mengandalkan kebijakan moneter
untuk mengendalikan inflasi. Mengapa? Seperti yang kita tahu kebijakan
mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter selalu berdampak kontraktif
terhadap perekonomian. Sehingga pertimbangan untuk mengeluarkan kebijakan dalam
mengendalikan inflasi juga harus mempertimbangkan pengangguran yang akan
terjadi akibat inflasi yang tinggi.
Memang
pada saat ini, daya beli masyarakat turun atau rendah. Dan rata – rata daya
beli masyarakat ini turun akibat inflasi yang tinggi pada harga pangan. Iflasi
yang tinggi pada harga bahan pangan ini juga akan berdampak pada kemiskinan
yang justru akan semakin meningkat, banyak masyarakat kalangan bawah tidak
mampu memenuhi kebutuhan pangannya karena harga yang terlalu tinggi. Memang
saat sekarang ini bahan pangan menjadi barang yang sangat mahal, Indonesia
serba kekurangan akan bahan pangan. Sekarang semua yang di makan dan di pakai
oleh diri kita serasa tak ada yang made
in Indonesia, semua impor segala
sesuatunya impor. Seakan – akan bangsa ini tak punya jati diri untuk bisa
menghidupi negaranya sendiri. Lalu kemana hasil pan negara ini? Dibawa kemana?
Lahan persawahan di nilai cukup banyak di banding negara jepang, koreaa, maupun
china. Namun kemana hasil pertanian kita seakan akan hasil pertanian lenyap dan
kita di suapi oleh bahan angan impor yang kesehatan dan kesegarannya jauh
disbanding dengan bahan pangan di negeri sendiri. Pengurangan sifat konsumif
akan barang impor akan membuat perekonomian menjadi lebih baik. Dimana ketika
kita mengurangi impor maka anggaran belanja pemerintah untuk barang impor akan
berkurang. Biaya belanja dari hasil berkurangnya bahan pangan impor bisa di
gunakan dengan hal – hal yang lain. Misalnya infrastruktur untuk mengatasi
inflasi daerah karena biaya yang harus dikeluarkan untuk distribusi barang
meningkat dengan membangun jalan darat ke beberapa pulau. Sehingga akan menekan
inflasi yang tinggi di beberapa daerah karena biaya transportasi yang tinggi,
maka inflasi di Indonesia ini akan merata. Tidak adanya lagi ketimpangan yang
terjadi akibat inflasi yang tidak merata.
Nur
Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember






0 komentar:
Posting Komentar