BULAN
MUNCULNYA INFLASI
Oleh Coniq Putri
Andinata, Mahasiswi S1 angkatan 2013,
Konsentrasi Moneter Ilmu Ekonomi Universitas Jember.
Stabil dan rendahnya laju inflasi
merupakan harapan setiap kota maupun negara guna meningatkan kesejahteraan pada
setiap masyarakatnya. Dalam sektor keuangan naiknya laju inflasi akan
mengakibatkna menurunnya nilai tukar mata uang negara tersebut. Di indonesia
laju inflasi setiap minggunya dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
dengan mengukur Indek Harga Konsumsi (IHK) dari setiap kota. Pengaruh Indeks
Harga Konsumsi (IHK) terhadap inflasi dalam penyajian dari BPS disebut dengan
disegigasi inflasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui indikator yang
mempengaruhi inflasi tersebut lebiih fundamental. BPS saat ini juga
mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan yang lainnya yang dinamakan
disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut dilakukan untuk menghasilkan
suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang
bersifat fundamental. Fundamental disini yaitu seperti interaksi
permintaan-penawaran, nilai tukar, harga komoditi barang secara global, serta
perkiraan inflasi dari produsen dan konsumen. Inflasi dibagi menjadi Inflasi
inti dan Inflasi Non Inti. Inflasi Non Inti terdiri yaitu inflasi yang
disebabkan oleh faktor-faktor non fundamental, seperti inflasi yang disebabkan
oleh harga komoditi yang diatur oleh pemerintah (administered Prices).
Bengkulu merupakan salah satu
provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 1874,9. Jumlah ini
termasuk sedikit jika kita bandingkan dengan jumlah penduduk kota surabaya
yaitu sekitar 2608. Sehiingga tak heran jika lebih mudah mengatur laju
perekonomian di wilayah tersebut. Dari nilai laju inflasi di bengkulu dapat kita ketahui bahwa terjadi
penurunan konsumsi dari masyarakat. Tidak adanya gejolak pasar seperti tingkat
pertumbuhan seperti tingkat pembelanjaan pada akhir tahun, masa libur sekolah,
sehingga sektor pariwisata tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan laju
inflasi di kota Bengkulu. Hal ini juga dikatakan oleh beberapa pengamat lajju
inflasi dengan berakhirnya masa liburan, maka laju inflasi di sektor tersebut
juga berakhir.
Jika laju inflasi selama beberapa
bulan terus menerus rendah, maka deflasi mungkin terjadi. Dimana harga beberapa
komoditi mengalami penurunan. Dan hal ini jelas akan direspon oleh para pihak
produsen. Akan tetapi di sini pemerintah Bengkulu tetap harus berjaga-jaga agar
ekspektasi seperti pengurangan para pekerja di perusahaan yaitu PHK tidak
terjadi.
Dan jika kita cermati, inflasi
dengan sebab kelebihan penawaran atau dapat kita sebut dengan Demand pull
inflation yaitu diprediksi akan terjadi pada bulan juni dan juli mendatang. Hal
ini terjadi karena pada bulan tersebut memasuki bulan puasa. Jika hal ini tidak
kita waspadai sedari awal, maka akan ada kemungkinan laju inflasi meningkat tak
terkendali. Dan biasanya harga hargad di pasaran mulai menyesuaikan dengan
berbagai kota maupun wilayah. Sehingga laju inflasi di beberapa wilayah juga
bermain penting dalam adanya inflasi.
Di indonesia, ketika harga dari
suatu komoditi naik, maka akan sulit
ataupun jarang terjadi ketika kita megalami deflasi haraga tersebut mengalami
penurunan. Hal ini disebut dengan shock
inflasi. Biasanya shock inflasi.
Terjadi ketika harga bahan bakar minyak
(BBM) naik, maka akan menyebabkan atau dapat kita katakan pasti akan memicu
kenaikan harga komoditi lain di pasar. Akan tetapi, ketika harga BBM mengalai
penurunan, para produsen maupun penjual di pasar enggan melakukan penurunan
harga. Dan inilah sebabnya ketika terjadi deflasi, jarang sekali kita rasakan
sepenuhnya sehingga yang selalu kita rasakan hanya ketika inflasi terjadi.
Pada musim puasa nanti inflasi tidak
hanya berasal dari sektor primer saja, tetap juga di dorong oleh sektor
sekunder maupun sektor tersier. Belanja masyarakat seperti pembelian baju, alat
alat elektronik, maupun kendaraan bermotor pasti terjadi. Padahal seharusnya
ketika memasuki bulan puasa jumlah asupan makanan yang kita cerna berkurang,
tapi mengapa data yang dilaporkan oleh BPS yaitu indek harga konsumen (IHK)
mengalami peningkatan. Keinginan untuk berkonsumsi masyarakat inilah yang seharusnya
dapat dikendalikan. Dan puncaknya ketika memasuki hari idul fitri, harga
cenderung tak bisa dikendalikan.
Dari sisi moneter, pada bulan puasa perputaran uang terjadi
begitu cepat di masyarakat. Banyak dari nasabah mengambil uang tabungannya
maupun depositonya di setiap perbankan. Tak peduli lagi apakah suku bunga akan
mengalami kenaikan atau penurunan, para nasabah mayoritas akan tetap mengambil
uang yang selama ini disimpannya. Sehingga perlu adanya beberapa inovasi baru
dari berbagai pihak seperti pemerintah maupun perbankan dalam pengendalian
belanja masyarakat maupun peputaran uang pada bulan puasa nanti.
Tidak hanya itu, pada musim puasa
nanti, liburan sekolah yang memasuki tahun ajaran baru pada sekitar bulan juli
ataupun agustus mendatang juga akan mempengaruhi nilai laju inflasi di setiap
wilayah. Setelah musim puasa selesai, periode ini akan menggantikan ataupun
mengakibatkan nilai kenaikan beberapa harga komoditi di pasaran. Mulai dari
mengalami kenaikannya peralatan seolah sampai naiknya tarif pada setiap tempat
rekreasi juga akan terjadi. Sehingga perlu adanya beberapa kebijakan “siaga”
pada bulan juni sampai agustus mendatang. Karena jika tidak maka laju inflasi
di kota Bengkulu maupun kota lainnya akan sulit mengalami penurunan harga kembali.






0 komentar:
Posting Komentar