Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

GARA -GARA INFLASI



Gara – Gara Inflasi
Oleh: Devi sylvia herman
Stabilitas perekonomian adalah kunci bagi kesejahteraan masyarakat semua lapisan. Stabilitas perekonomian ini dapat dijaga pemerintah dan bank sentral melalui berbagai kebijakan yang dikombinasi sedemikian rupa. Seperti kombinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Diharapkan dengan kombinasi kedua kebijakan tersebut dapat menyentuh sektor riil sehingga semua lapisan masyarakat dapat merasakan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Permasalahan ekonomi yang dihadapi suatu negraa adalah penggangguran dan inflasi. Inflasi yang terjadi disuatu perekonomian adalah musuh besar bagi pemerintah karena inflasi yang terjadi akan menggerus upah riil masyarakat, karena upah yang diterima masyarakat akan berkurang karena harga – harga barang mengalami kenaikan.  Namun disisi lain inflasi justru diharapkan pada saat ekonomi sedang lesu seperti yang dialami oleh sebagian negara di Eropa, sampai – sampai menentapkan sistem suku bunga sangat rendah bahkan minus. Mengapa demikian, dengan inflasi yang rendah dan suku bunga yang rendah namun yang terjadi perekonomian mengalami stagnasi, karena perbankan enggan menyalurkan uangnya kepada masyarakat maka dibuatkan kebijakan suku bunga nagatif guna merangsang seseorang untuk tidak menanbungkan uangnya dibank karena apabila mereka melakukan hal itu bukannya mendapat pengembalian dari hasil menanbung namun seseorang malah akan membayar sejumlah uang kepada bank. Hal  tersebut juga dilakukan oleh Jepang saat mereka mengalami menuruanan daya beli  yang mengakibatkan deflasi.
Bagaimana dengan Indonesia?
            Di Indonesia pun mengalami perlambatan ekonomi  yang terjadi pada tahun 2015 yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang hanya pada titik 4.7 persen dan inflasi yang rendah sebesar 3.35 persen yang jauh dari proyeksi dalam APBN-P 2015 yang sebesar 5.0 persen. Angka  inflasi yang rendah tidak dapat mendorong daya beli masyarakat yang hanya pada kisaran dibawah 5 persen. Angka – angka tersbut sudah memberi kita gambaran bahwa inflasi yang rendah pun tidak dapat meningkatkan daya beli masyarakat , dapat dipastikan ekonomi mengalami kelesuan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi, jawabannya adalah terjadi kenaikkan harga pangan yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun, karena sebagian besar rakyat indonesia yang menengah kebawah , pendapat yang mereka peroleh digunakan untuk konsumsi. Inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen. Harga pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68% dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 % dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014, harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam, daging sapi. Selain akibat pelemahan rupiah terjadinya inflsi terhadap pangan ini akibat periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya. 
Kenaikan harga – harga tersebut tidak dapat dirasakan para buruh – buruh tani. Hal tersebut terjadi sebab walaupun harga setiap panen meningkat namun terjadinya inflasi pada produk pertanian merupakan biang tidak sejahteraanya para petani, karena penti juga bertindak sebagai konsumen. Upah buruh tani pada tahun 2015 mengalami kenaikan namun secara nominal, seperti data yang diambil dari bps, pada bulan februari yang sebesar 46.059 meningkat dari bulan januari sebesar 45.846 dan pada bulan mei yang sebesar 46.386 mengalami peningkatan pada bulan juni 46.458 sebsar dan seterusnya meningkat sampai akhir tahun pada bulan desember 46 995. Namun hal ini tidak dibarengi dengan kenaikan upah riil yang berfluktuasi pada tahun 2015 dan cenderung menurun dilihat dari data bps pada bulan. Upah riil adalh gambaran daya beli upah riil yang menurun artinya daya beli masyarakaty menurun begitu pula naiknya upah riil menggambarkan naiknya daya beli. Pada tahun 2015 upah riil harian buruh tani mengalami fluktuasi upah riil yang menlami kenaikan terdapat pada bulan februari, april, juli , september, oktober dan mengalami puncak kenaikan pada bualn oktober sebsar Rp 37.918 per hari. Tidak hanya mengalami kenaiikan, upah riil lebih banyak mengalami penurunan terjadi penurunan upah terendah berapa pada Rp 37.486 per hari pada bulan desember 2015.
Upah nominal yang terus meningkat walaupun kenaikkannya tipis namun ternyata upah riil per hari buruh tani mengalami  kecenderungan menurun mengapa hal ini terjadi. Jawabannya adalah terjadinya inflasi pada produk – produk pangan yang sudah dijelaskan pada awal tadi dan terjadi inflasi pada bahan – bahan pangan yang terjadi di pedesaan terlihat pada angka inflasi pedesaan yang cenderung lebih tinggi daripada inflasi nasional. Terlihat pada semester pertama tahun 2015 inflasi pedesaan sebesar 0.82 persen dan inflasi nasional sebesar 0.54 persen. Tercermin pula pada nilai tukar petani pada tahun 2015. Dengan melihat nilai tukar petani kita dapt memperkiraan tingkat kesejahteraan petani atau secara konseptual niali tikar petani menggambar rasio pengukuran kemampuan petani dalam melakukan peoduksi yang nanti akan ditukarkan dengan barang dan jasa yang mereka konsumsi. Pada tahun 2015 nilai tukar petani dari bulan jaunuari sampai bulan juni. Dengan rasio tertinggi terletak pada bulan februari sebesar 102.19. mengalmi penurunan pada bulan maret sebesar 101.53 terus mengalami penurunan hingga bulan mei sebesar 100.02 dan mengalmi peningkatn pada bulan juni sebesar 100.52.
Mengapa hal  tersebut bisa terjadi jawabnnya adlah pemerintah yang hanya menekankan pada pendorong paradigma meningkatan produksi tanpa memerhatikan kesejahteraan para petani. Peningkatan kesejahteraan para petani yang hanya mengandalkan upah saja dirasa tidak efektif jika pemerintah tidak berusaha mengendalikan laju inflasi pada pangan. Pemerintah harus menjaga bahn – bahn pangan seperti bahn pangan yang paling mendsar yaitu sembilan bahan pokoktertap terjaga dan tidak berfluktuasi. Jika harga barang – barang pangan tersebut berfluktuasi dapat dipastikan terjadinya inflasi pada sektor pangan yang antinya akan berimbas pada penurunan daya beli masyarakat seperti yang sudah dijelaskan diawal
Kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah pertama adalah menjaga harga pangan agar stabil dengan mengefisienkan tata niaga dan jalur distribusi dimana terjadi disparitas harga pangan di antara pulau jawa dan luar jawa jadi pemerintah harus memikirkan bagaimana mengurangi atau kalau bisa menghilangkan disparitas harga di Indonesia dengan jalur distribusi yang tepat dengn meratanya semua proses produkdi pertanian di semua pulau.
Meningkatkan inovasi dalam hal benih ataupun teknologi pada bidang pertanian yang dapat menciptakan efisiensi waktu panen. Kebijakan yang lain lakukan pemerintah adalah penyaluran raskin yang ditambah, pembentukan Badan Pangan Nasioanal, yaitu gabungan dar bulog dan Badan ketahanan pangan, diman peran bulog di perbesar guan menyimpan bahan – bahan pangan terkait pangan nasional yaitu menyimpan pangan selain beras. Membasmi para tengkulak –tengkulak pertanian yang menyebabkan biang keterpurukan para petani karena membeli hasil panen dibawah harga pokok pemeblian yang pemerintah tetapkan. Dengan kebijkan – kebijakan  diatas dapat dipastikan inflasi pedesaan dapat menurn . nilai tukar petani dapat naik upah riil petani pun dapat meningkat, kesejahteraan petani pun tercapai.

0 komentar:

Posting Komentar