Gara
– Gara Inflasi
Oleh:
Devi sylvia herman
Stabilitas
perekonomian adalah kunci bagi kesejahteraan masyarakat semua lapisan.
Stabilitas perekonomian ini dapat dijaga pemerintah dan bank sentral melalui
berbagai kebijakan yang dikombinasi sedemikian rupa. Seperti kombinasi antara
kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Diharapkan dengan kombinasi kedua
kebijakan tersebut dapat menyentuh sektor riil sehingga semua lapisan
masyarakat dapat merasakan perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah.
Permasalahan ekonomi yang dihadapi suatu negraa adalah penggangguran dan
inflasi. Inflasi yang terjadi disuatu perekonomian adalah musuh besar bagi
pemerintah karena inflasi yang terjadi akan menggerus upah riil masyarakat,
karena upah yang diterima masyarakat akan berkurang karena harga – harga barang
mengalami kenaikan. Namun disisi lain
inflasi justru diharapkan pada saat ekonomi sedang lesu seperti yang dialami
oleh sebagian negara di Eropa, sampai – sampai menentapkan sistem suku bunga
sangat rendah bahkan minus. Mengapa demikian, dengan inflasi yang rendah dan
suku bunga yang rendah namun yang terjadi perekonomian mengalami stagnasi,
karena perbankan enggan menyalurkan uangnya kepada masyarakat maka dibuatkan
kebijakan suku bunga nagatif guna merangsang seseorang untuk tidak menanbungkan
uangnya dibank karena apabila mereka melakukan hal itu bukannya mendapat
pengembalian dari hasil menanbung namun seseorang malah akan membayar sejumlah
uang kepada bank. Hal tersebut juga
dilakukan oleh Jepang saat mereka mengalami menuruanan daya beli yang mengakibatkan deflasi.
Bagaimana
dengan Indonesia?
Di Indonesia pun mengalami perlambatan
ekonomi yang terjadi pada tahun 2015
yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang hanya pada titik 4.7 persen dan
inflasi yang rendah sebesar 3.35 persen yang jauh dari proyeksi dalam APBN-P
2015 yang sebesar 5.0 persen. Angka
inflasi yang rendah tidak dapat mendorong daya beli masyarakat yang
hanya pada kisaran dibawah 5 persen. Angka – angka tersbut sudah memberi kita
gambaran bahwa inflasi yang rendah pun tidak dapat meningkatkan daya beli
masyarakat , dapat dipastikan ekonomi mengalami kelesuan. Mengapa hal tersebut
dapat terjadi, jawabannya adalah terjadi kenaikkan harga pangan yang
menyebabkan daya beli masyarakat menurun, karena sebagian besar rakyat
indonesia yang menengah kebawah , pendapat yang mereka peroleh digunakan untuk
konsumsi. Inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93
persen. Harga pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar
0,68%
dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe
naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 %
dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014,
harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan
november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam,
daging sapi. Selain akibat pelemahan rupiah terjadinya inflsi terhadap pangan
ini akibat periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga
besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena
mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya.
Kenaikan
harga – harga tersebut tidak dapat dirasakan para buruh – buruh tani. Hal
tersebut terjadi sebab walaupun harga setiap panen meningkat namun terjadinya
inflasi pada produk pertanian merupakan biang tidak sejahteraanya para petani,
karena penti juga bertindak sebagai konsumen. Upah buruh tani pada tahun 2015
mengalami kenaikan namun secara nominal, seperti data yang diambil dari bps,
pada bulan februari yang sebesar 46.059 meningkat
dari bulan januari sebesar 45.846 dan pada
bulan mei yang sebesar 46.386 mengalami peningkatan pada bulan
juni 46.458 sebsar dan
seterusnya meningkat sampai akhir tahun pada bulan desember 46
995. Namun hal ini tidak dibarengi dengan kenaikan upah riil yang berfluktuasi
pada tahun 2015 dan cenderung menurun dilihat dari data bps pada bulan. Upah
riil adalh gambaran daya beli upah riil yang menurun artinya daya beli
masyarakaty menurun begitu pula naiknya upah riil menggambarkan naiknya daya
beli. Pada tahun 2015 upah riil harian buruh tani mengalami fluktuasi upah riil
yang menlami kenaikan terdapat pada bulan februari, april, juli , september,
oktober dan mengalami puncak kenaikan pada bualn oktober sebsar Rp 37.918 per
hari. Tidak hanya mengalami kenaiikan, upah riil lebih banyak mengalami
penurunan terjadi penurunan upah terendah berapa pada Rp 37.486 per hari pada
bulan desember 2015.
Upah
nominal yang terus meningkat walaupun kenaikkannya tipis namun ternyata upah
riil per hari buruh tani mengalami
kecenderungan menurun mengapa hal ini terjadi. Jawabannya adalah terjadinya
inflasi pada produk – produk pangan yang sudah dijelaskan pada awal tadi dan
terjadi inflasi pada bahan – bahan pangan yang terjadi di pedesaan terlihat
pada angka inflasi pedesaan yang cenderung lebih tinggi daripada inflasi
nasional. Terlihat pada semester pertama tahun 2015 inflasi pedesaan sebesar
0.82 persen dan inflasi nasional sebesar 0.54 persen. Tercermin pula pada nilai
tukar petani pada tahun 2015. Dengan melihat nilai tukar petani kita dapt
memperkiraan tingkat kesejahteraan petani atau secara konseptual niali tikar
petani menggambar rasio pengukuran kemampuan petani dalam melakukan peoduksi
yang nanti akan ditukarkan dengan barang dan jasa yang mereka konsumsi. Pada
tahun 2015 nilai tukar petani dari bulan jaunuari sampai bulan juni. Dengan
rasio tertinggi terletak pada bulan februari sebesar 102.19. mengalmi penurunan
pada bulan maret sebesar 101.53 terus mengalami penurunan hingga bulan mei
sebesar 100.02 dan mengalmi peningkatn pada bulan juni sebesar 100.52.
Mengapa
hal tersebut bisa terjadi jawabnnya
adlah pemerintah yang hanya menekankan pada pendorong paradigma meningkatan
produksi tanpa memerhatikan kesejahteraan para petani. Peningkatan
kesejahteraan para petani yang hanya mengandalkan upah saja dirasa tidak
efektif jika pemerintah tidak berusaha mengendalikan laju inflasi pada pangan.
Pemerintah harus menjaga bahn – bahn pangan seperti bahn pangan yang paling
mendsar yaitu sembilan bahan pokoktertap terjaga dan tidak berfluktuasi. Jika
harga barang – barang pangan tersebut berfluktuasi dapat dipastikan terjadinya
inflasi pada sektor pangan yang antinya akan berimbas pada penurunan daya beli
masyarakat seperti yang sudah dijelaskan diawal
Kebijakan
yang perlu dilakukan pemerintah pertama adalah menjaga harga pangan agar stabil
dengan mengefisienkan
tata niaga dan jalur distribusi dimana terjadi disparitas harga pangan di
antara pulau jawa dan luar jawa jadi pemerintah harus memikirkan bagaimana
mengurangi atau kalau bisa menghilangkan disparitas harga di Indonesia dengan
jalur distribusi yang tepat dengn meratanya semua proses produkdi pertanian di
semua pulau.
Meningkatkan
inovasi dalam hal benih ataupun teknologi pada bidang pertanian yang dapat
menciptakan efisiensi waktu panen. Kebijakan yang lain lakukan pemerintah
adalah penyaluran raskin yang ditambah, pembentukan Badan Pangan Nasioanal,
yaitu gabungan dar bulog dan Badan ketahanan pangan, diman peran bulog di
perbesar guan menyimpan bahan – bahan pangan terkait pangan nasional yaitu
menyimpan pangan selain beras. Membasmi para tengkulak –tengkulak pertanian
yang menyebabkan biang keterpurukan para petani karena membeli hasil panen dibawah
harga pokok pemeblian yang pemerintah tetapkan. Dengan kebijkan –
kebijakan diatas dapat dipastikan
inflasi pedesaan dapat menurn . nilai tukar petani dapat naik upah riil petani
pun dapat meningkat, kesejahteraan petani pun tercapai.






0 komentar:
Posting Komentar