CAPITAL INFLOW SEBAGAI BAGIAN DARI INSTRUMEN PENGGERAK
EKONOMI NASIONAL
Oleh : Fatchur Rozi
Modal atau capital
merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam ekonomi
selain tenaga kerja atau Labor. Modal
bisa menggerakan investasi dan meningkatkan efisiensi dalam produksi suatu
barang dan jasa. Selain itu dengan akumulasi modal atu kapital akan memberikan
dampak yang luas terhadap pengembangan usaha dan perusahaan dal suatu suatu
industri. Jika ditinjau secara makroekonomi, capital atau modal turut
menentukan tingkat output agregat yang diahasilkan oleh suatu sektor industri
tertentu. Tetapi permaslahan yang muncul adalah terkait dengan ketersediaan
modal tersebut. Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia,
ketidaktersediaan modal yang cukup untuk investasi merupakan suatu permasalahan
ekonomi yang melingkupi hingga saat ini. Ketersediaan modal yang rendah di
negara berkembang diakibatkan oleh stok akumulasi modal yang rendah yang dikarenakan
tingkat pendapatan masyarakatnya masih tergolong rendah. Sehingga penyediaan
dari stok modal dalam negeri untuk pembiayaan investasi dalam negeri belumlah
cukup, sehingga perlu dipikirkan suatu mekansime pembiayaan lain, salah satu
yang potensial adalah melalui capital
inflow atau arus modal asing masuk.
Capital Inflow ini
bisa berupa investasi atau pembelian oleh investor asing terhadap surat-surat
berharga dalam jangka pendek maupun jangka panjang sperti dalam bentuk
portofolio, SUN, SBN maupun obligasi. Pembiayaan melalui capital inflow ini
terutam untuk instrumen portofolio cukup potensial untuk menarik minat dan
meningkatkan kapitalisasi penerimaan dari investor asing tersebut. Hal ini
bukan semata omongan belaka karena banyak investor asing yang telah enarik
minat untuk investasi di pasar instrumen surat berharga portofolio.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, kondisi perekonomian
Indonesia dinilai cukup stabil saat ini, padahal kondisi perekonomian global
saat ini kecenderungannya sedang mengalami perlambatan. Dimana tahun 2015 lalu
realisasi pertumbuhanekonomi yang terjadisepassar 4,7 persen. Angka ini dinilai
masih memiliki prospek yang cukup bagus. Selain pertumbuhan ekonomi yang cukup
stabil inflasi yang terjadi juga cukup terkendali, dimana inflasi yang terjadi
sepanjang tahun 2015 berada di bawah 5 persen. Kebijakan pengendalian inflas
yang telah dijalankan oleh Bank Indonesiai ini patut di apreasisai, di mana
melalui kerangka ITF (Inflation
Targetting Framework) dinilai cukupber hasil. Inflasi yang terkendali ini
tentu saja akan berdampak terhadap iklim investasi yang semakin kondusif tak
terkecuali iklim investasi di sektor portofolio.
Terkait dengan perlambatan ekonomi global yang terjadi
saat ini beberapa negara bahkan telah menerapkan tingkat suku bunga negatif.
Melalui suku bunga negatif diharapkan investor akan semakin tertarik untuk
menanmkan modalnya untuk investasi. Tetapi melihat tingkat suku bunga yang
terjadi atau suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral saat ini menunjukkan
bahwa tingkat suku bunga acuan di Indoesia masih termasuk atau tergolong
tinggi, walaupun baru-baru ini Bank Sentral telah menurunkan suku bunga
acuannya menjadi 6,75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya
telah bersungguh-sungguh ydalam mingkatkan dan merangsang iklim investasi dalam
negeri melalui kebijakan pelonggaran moneter. Kebijakan pelonggaran moneter ini
kemarin juga didukung oleh kebijakan makroprudensial yang dijalankan oleh Bank
Indonesia salah satunya melalui kebijakan LTV guna merangsang kredit di sektor
investasi properti.
Menilai dari sebuah artikel online yang saya baca
terkait dengan salah satu pernyataan analis ekonomi, salah satunya terkait
dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang akan berada diatas 5 persen untuk
tahun ini. Saya menilai proyeksi tersebut cukup rasional mengingat Indonesia
juga masih berada dalam bayang-bayang dampak dan pengaruh dari perlambatan
ekonomi global. Jadi kemungkinan
akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai angka 6 persen bakal
terhambat. Tetapi melihat pertumbuhan tersebut dengan angka sebsar itu adalah
suatu pencapaian yang bagus. Perbaikan
dan stabilitas di makro ekonomi Indonesia juga ditunjukkan dari apresiasi nilai
tukar rupiah yang mengalami penguatan, walaupun nilai rupiah dalam tahun 2014
dan 2015 terperosok jauh dan mengalami pelemahan yang cukup dalam terhadap
dollar tetapi penguatan atau apresiasi rupiah akhir-akhir ini bisa menjadi
suatu sinyal positif atu sentimen positif terhadap peningkatan arus modal asing
ke Indonesia.
Di balik semua potensi yang menarik terkait dengan
investasi portofolio di Indonesia seperti yang telah disinggung sebelumnya
sebenarnya harus di cover dan didukung dengan kebijakaan pemerintah yang pro
dan mendukung peningkatan arus modal asing masuk (capital in flow), mengingat investasi di portofolio ini merupakan
investasi jangka pendek, sehingga sangat berpengaru terhadap guncangan (shock)
ataupun instabilitas ekonomi yang terjadi di negara tersebut. Jika ini
terjadi maka hal yang dikhawatrikan yakni terkait dengan pembalikan modal asing
tersebut bakal terjadi.
Karena itu pemerintah diharapkan ikut mengeluarkan
kebijakan-kebijakan yang bisa mendukung dan memudahakan akses untuk invastasi
di portofolio. Mengingat sebagai negara berkembang kita masih membutuhkan
banyak modal ekonomi guna melaksanakan pembangunan, sehingga pemerintah juga
tidak boleh mengabaikan investasi di portofolio ini. Terkait dengan kinerja
pasar modal negara Indonesia, saya
menilai perkembangan pasar modal yang ditunjukkan dari nilai IHSGnya
menunjukkan bahwa IHSG akhir akhir ini menunjukkan tren peningkatan yang cukup
tinggi.
peningkatan IHSG dan pasar modal atau saham di sektor
komoditas lainnya akan berdamapak terhadap potensi keuntungan yang dinikmati
oleh investor akan semakin meningkat. Dari sini terlihat bahwa sektor pasar
modal dan saham dalam negeri cukup potensial dalam memupuk keuntungan. Tentu
saja dengan keuntungan seperti yang telah disebutkan dalam artikel diatas
dengan pay-out rationya mencapai 20 persen merupakan suatu angka yang cukup
tinggi tidak heran Indonesia saat ini telah menjadi ncaran oleh banyak negara
sebagai tujuan investasi utamanya tentang investasi di portofolio yang menjadi
bahasan di artikel diatas. Dari tabel artikel diatas yang menunjukkandata yield obligasi pemerintah dengan tenor
10 tahun dari beberapa negara di Asia menunjukkan bahwa yield obligasi Indonesia merpukan yang tertinggi. Bahkan China yang
notabennya sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia menunjukkan nilai yield yang jauh berada di negara kita.
Kebijakan dan pembaharuan dibidang birokrasi juga
perlu dilakukan mengingat kebijakan birokrasi yang mudah juga sangat menentukan
dan mendukung investasi. Karena jika birokrasi semakin mudah maka akan semakin
banyak investasi yang akan tertarik untuk investasi. Selain itu birokrasi yang
cepat juga cukup memberikan dampak terahadap iklim investasi yang kondusif.
Iklim investasi yang kondusif ini juga akan memberikan dampak terhadap
ekspektasi yang positif bagi para investor.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang banyak atau
terbesar keempat di dunia tentu menjadikan Indonesia sebagai pasar yang
potensial untuk menjadi lokasi investasi dan incaran negara-negara asing untuk
melakukan investasi di Indonesia seperti yang telah disebutkan dalam artikel
tersebut. Ditengah daya beli masyarakat negara-negara maju mengalami penurunan
akibat perlambatan ekonomi global, negara kita justru menunjukkkan
eksistensinya dengan permintaan dan daya beli masyarakatnya yang tidak begitu
terpengaruh dengan kondisi global karena resiliensi ekonomi domestik juga
ditopang dari permintaan dan daya beli masyarakat domestik apalagi perkembangan
masyarakat kelas menengah dalam negeri juga mengalami peningkatan.
Momentum seperti iniliah yang harus bisa dimanfaatkan
oleh pemerintah, ditambah dengan sentimen positif berupa kepercayaan yang
optimis bagi iklim investasi terutama untuk investasi portofolio itu sendiri ,
di Indonesia oleh para investor asing merupakan suatu apresiasi dan kepercayaan
yang harus bisa di jaga dan juga harus bisa direspons dan difasilitasi oleh
pemerintah.
Bentutuk apresiasi tersebut dapat dilakukan dengan
penyediaan fasilitas dan infrastruktur publik oleh pemerintah agar investasi
semakin menarik dan mampu meningkatkan capital
inflow berupa foreign direct
invetment maupun invetasi dalam pasar saham dan surat-surat berharga. Jadi
pada intinya semua memiliki keterkaitan yang koheren yaitu antar investasi yang
dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal, kemudian didukung oleh
kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Sentral, akan memberikan dampak yang
luas terhadap iklim investasi dan aliran dana asing yang masuk ke Indonesia.
Dengan didukung oleh kebijakan yang saling menguatkan tersebut baik dari sisi
fiskal dan moneter tentu saja pasar Indonesia akan semakin potensial dan
berkembang karena pasar domestik dan perekonomian domestik juga didukung oleh
daya beli masyarakat yang cukup tinggi.
Dalam mendukung di sektor investor ini pemerintah
Indonesia juga tidak main-main, di mana pemerintah telah menganggarkan dana
lebih dari 300 triuliun untuk angggaran infrastruktur seperti yang juga
disinggung dalam artikel diatas. Angka tersebut merupakan suatu angka terbesar
dalam sejarah pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur. Pengeluran untuk infrastruktur
ini memang dirasa sangat perlu karena pengeluaran pada bidang infrastruktur
merupakan pengeluaran yang sangat produktif dan mampu mendukung daya dukung
perkembangan investasi dan fasilitas publik. Jika infrastruktur dan fasilitas
publik sudah memadai maka maka para invetsor akan semakin tertarik untuk
investasi di negara kita. Karena infrastruktur merupakan salah satu faktor
kunci utama yang berperan dalam pembangunan ekonomi. Jika investor semakin
tertarik maka kemungkinan untuk mendapatkan semakin banyak aliran dana asing
terutama untuk investasi asing akan semakin mudah.
Beberapa informasi dan data makro ekonomi dalam negeri
yang juga dijadikan sebagai acuan dalam menentukan indikator atau tolok ukur
investasi adalah tingkat inflasi yang terjadi. Sedangkan realisasi inflasi yang
terjadi saat ini cukup rendah dan terkendali yaitu dibawah empat persen dari
kondisi di tahun 2014 yang mencapai 8,36 persen yoy. Kebijakan yang dilakukan
oleh otoritas moneter dalam mengontrol tingkat inflasi tersebut patut di
apresiasi. Inflasi yang rendah dan terkendali tersebut akan memberikan sentimen
positif bagi para pelaku dan investor.
Dengan melihat tingkat inflasi pada tahun 2015
tersebut juga bisa diperkirakan ekpektasi dari kondisi ekonomi pada tahun ini.
Dimana menurut perkiraan saya pertumbuhan ekonomi tahun ini akan mengalami
peningkatan pada kisaran 5,2 – 6 persen. Asumsi tersebut cukup masuk akal
mengingat, kondisi ekonomi global juga sedang mengalami perlambatan termasuk
negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia juga mengalami
perlambatan seperti China dan Jepang.
Dengan tingkat inflasi yang rendah tersebut Bank
Sentral Indonesia dari data yang saya baca sampai tanggal 1 April 2016 Bank
Indonesia sudah menurunkan tingkat suku bunga acuannya sebanyak tiga kali
berturut-turut hingga sampai pada tingakatan sebesar 6,75 persen. Penurunan ini
tentu saja sangat mendukung dalam peningkatan iklim investasi. Tingkat suku
bunga tersebut saya menilainya masih cukup tinggi dan masih ada potensi unruk mengalami
penurunan lagi karena melihat tingkat inflasi yang telah terjadi di bulan
januari sampai februari masih cukup rendah.
Adapun terkait dengan penurunan imbal hasil atau yield terhadap investasi di pasar Surat
Utang Negara (SUN) merupakan hal yang wajar mengingat Bank Indonesia telah
menurunkan tingkat suku bunganya sebanyak tiga kali berturut-turut sepanjang
tahun ini. Walupun yield mengalami penurunan tetapi tingkat suku bunga acuan
Indonesia masih cukup kompetitif dalam menarik minat inveastasi di pasar surat
berharga baik yang berjangka pendek
seperti portofolio maupun surat berjangka panjang seperti obligasi.
Melihat segala potensi dan optimisme tersebut
seharusnya kita harus bisa mengambil manfaat yang lebih dari adanya capital inflow tersebut, karena aliran
modal masuk ini berdampak besar terhadap iklim investasi dan diharpkan melalui
peningkatan capital inflow akan
tercipta suatu kondisi kesempatan tenaga kerja penuh dan berdampak pada
pembangunan ekonomi yang menyeluruh dalam jangka panjang. Sehingga akan
berdampak atau memberikan impact yang
positif terhadap perekonomian.






0 komentar:
Posting Komentar