Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

CAPITAL INFLOW SEBAGAI BAGIAN DARI INSTRUMEN PENGGERAK EKONOMI NASIONAL



CAPITAL INFLOW SEBAGAI BAGIAN DARI INSTRUMEN PENGGERAK EKONOMI NASIONAL
Oleh : Fatchur Rozi

Modal atau capital merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam ekonomi selain tenaga kerja atau Labor. Modal bisa menggerakan investasi dan meningkatkan efisiensi dalam produksi suatu barang dan jasa. Selain itu dengan akumulasi modal atu kapital akan memberikan dampak yang luas terhadap pengembangan usaha dan perusahaan dal suatu suatu industri. Jika ditinjau secara makroekonomi, capital atau modal turut menentukan tingkat output agregat yang diahasilkan oleh suatu sektor industri tertentu. Tetapi permaslahan yang muncul adalah terkait dengan ketersediaan modal tersebut. Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, ketidaktersediaan modal yang cukup untuk investasi merupakan suatu permasalahan ekonomi yang melingkupi hingga saat ini. Ketersediaan modal yang rendah di negara berkembang diakibatkan oleh stok akumulasi modal yang rendah yang dikarenakan tingkat pendapatan masyarakatnya masih tergolong rendah. Sehingga penyediaan dari stok modal dalam negeri untuk pembiayaan investasi dalam negeri belumlah cukup, sehingga perlu dipikirkan suatu mekansime pembiayaan lain, salah satu yang potensial adalah melalui capital inflow atau arus modal asing masuk.
Capital Inflow ini bisa berupa investasi atau pembelian oleh investor asing terhadap surat-surat berharga dalam jangka pendek maupun jangka panjang sperti dalam bentuk portofolio, SUN, SBN maupun obligasi. Pembiayaan melalui capital inflow ini terutam untuk instrumen portofolio cukup potensial untuk menarik minat dan meningkatkan kapitalisasi penerimaan dari investor asing tersebut. Hal ini bukan semata omongan belaka karena banyak investor asing yang telah enarik minat untuk investasi di pasar instrumen surat berharga portofolio.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, kondisi perekonomian Indonesia dinilai cukup stabil saat ini, padahal kondisi perekonomian global saat ini kecenderungannya sedang mengalami perlambatan. Dimana tahun 2015 lalu realisasi pertumbuhanekonomi yang terjadisepassar 4,7 persen. Angka ini dinilai masih memiliki prospek yang cukup bagus. Selain pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil inflasi yang terjadi juga cukup terkendali, dimana inflasi yang terjadi sepanjang tahun 2015 berada di bawah 5 persen. Kebijakan pengendalian inflas yang telah dijalankan oleh Bank Indonesiai ini patut di apreasisai, di mana melalui kerangka ITF (Inflation Targetting Framework) dinilai cukupber hasil. Inflasi yang terkendali ini tentu saja akan berdampak terhadap iklim investasi yang semakin kondusif tak terkecuali iklim investasi di sektor portofolio.
Terkait dengan perlambatan ekonomi global yang terjadi saat ini beberapa negara bahkan telah menerapkan tingkat suku bunga negatif. Melalui suku bunga negatif diharapkan investor akan semakin tertarik untuk menanmkan modalnya untuk investasi. Tetapi melihat tingkat suku bunga yang terjadi atau suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral saat ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga acuan di Indoesia masih termasuk atau tergolong tinggi, walaupun baru-baru ini Bank Sentral telah menurunkan suku bunga acuannya menjadi 6,75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sebenarnya telah bersungguh-sungguh ydalam mingkatkan dan merangsang iklim investasi dalam negeri melalui kebijakan pelonggaran moneter. Kebijakan pelonggaran moneter ini kemarin juga didukung oleh kebijakan makroprudensial yang dijalankan oleh Bank Indonesia salah satunya melalui kebijakan LTV guna merangsang kredit di sektor investasi properti.
Menilai dari sebuah artikel online yang saya baca terkait dengan salah satu pernyataan analis ekonomi, salah satunya terkait dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang akan berada diatas 5 persen untuk tahun ini. Saya menilai proyeksi tersebut cukup rasional mengingat Indonesia juga masih berada dalam bayang-bayang dampak dan pengaruh dari perlambatan ekonomi global.  Jadi kemungkinan akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai angka 6 persen bakal terhambat. Tetapi melihat pertumbuhan tersebut dengan angka sebsar itu adalah suatu pencapaian yang bagus.  Perbaikan dan stabilitas di makro ekonomi Indonesia juga ditunjukkan dari apresiasi nilai tukar rupiah yang mengalami penguatan, walaupun nilai rupiah dalam tahun 2014 dan 2015 terperosok jauh dan mengalami pelemahan yang cukup dalam terhadap dollar tetapi penguatan atau apresiasi rupiah akhir-akhir ini bisa menjadi suatu sinyal positif atu sentimen positif terhadap peningkatan arus modal asing ke Indonesia.
Di balik semua potensi yang menarik terkait dengan investasi portofolio di Indonesia seperti yang telah disinggung sebelumnya sebenarnya harus di cover dan didukung dengan kebijakaan pemerintah yang pro dan mendukung peningkatan arus modal asing masuk (capital in flow), mengingat investasi di portofolio ini merupakan investasi jangka pendek, sehingga sangat berpengaru terhadap guncangan (shock)  ataupun instabilitas ekonomi yang terjadi di negara tersebut. Jika ini terjadi maka hal yang dikhawatrikan yakni terkait dengan pembalikan modal asing tersebut bakal terjadi.
Karena itu pemerintah diharapkan ikut mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa mendukung dan memudahakan akses untuk invastasi di portofolio. Mengingat sebagai negara berkembang kita masih membutuhkan banyak modal ekonomi guna melaksanakan pembangunan, sehingga pemerintah juga tidak boleh mengabaikan investasi di portofolio ini. Terkait dengan kinerja pasar modal negara Indonesia,  saya menilai perkembangan pasar modal yang ditunjukkan dari nilai IHSGnya menunjukkan bahwa IHSG akhir akhir ini menunjukkan tren peningkatan yang cukup tinggi.
peningkatan IHSG dan pasar modal atau saham di sektor komoditas lainnya akan berdamapak terhadap potensi keuntungan yang dinikmati oleh investor akan semakin meningkat. Dari sini terlihat bahwa sektor pasar modal dan saham dalam negeri cukup potensial dalam memupuk keuntungan. Tentu saja dengan keuntungan seperti yang telah disebutkan dalam artikel diatas dengan pay-out rationya mencapai 20 persen merupakan suatu angka yang cukup tinggi tidak heran Indonesia saat ini telah menjadi ncaran oleh banyak negara sebagai tujuan investasi utamanya tentang investasi di portofolio yang menjadi bahasan di artikel diatas. Dari tabel artikel diatas yang menunjukkandata yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun dari beberapa negara di Asia menunjukkan bahwa yield obligasi Indonesia merpukan yang tertinggi. Bahkan China yang notabennya sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia menunjukkan nilai yield yang jauh berada di negara kita.
Kebijakan dan pembaharuan dibidang birokrasi juga perlu dilakukan mengingat kebijakan birokrasi yang mudah juga sangat menentukan dan mendukung investasi. Karena jika birokrasi semakin mudah maka akan semakin banyak investasi yang akan tertarik untuk investasi. Selain itu birokrasi yang cepat juga cukup memberikan dampak terahadap iklim investasi yang kondusif. Iklim investasi yang kondusif ini juga akan memberikan dampak terhadap ekspektasi yang positif bagi para investor.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang banyak atau terbesar keempat di dunia tentu menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial untuk menjadi lokasi investasi dan incaran negara-negara asing untuk melakukan investasi di Indonesia seperti yang telah disebutkan dalam artikel tersebut. Ditengah daya beli masyarakat negara-negara maju mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi global, negara kita justru menunjukkkan eksistensinya dengan permintaan dan daya beli masyarakatnya yang tidak begitu terpengaruh dengan kondisi global karena resiliensi ekonomi domestik juga ditopang dari permintaan dan daya beli masyarakat domestik apalagi perkembangan masyarakat kelas menengah dalam negeri juga mengalami peningkatan.
Momentum seperti iniliah yang harus bisa dimanfaatkan oleh pemerintah, ditambah dengan sentimen positif berupa kepercayaan yang optimis bagi iklim investasi terutama untuk investasi portofolio itu sendiri , di Indonesia oleh para investor asing merupakan suatu apresiasi dan kepercayaan yang harus bisa di jaga dan juga harus bisa direspons dan difasilitasi oleh pemerintah.
Bentutuk apresiasi tersebut dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas dan infrastruktur publik oleh pemerintah agar investasi semakin menarik dan mampu meningkatkan capital inflow berupa foreign direct invetment maupun invetasi dalam pasar saham dan surat-surat berharga. Jadi pada intinya semua memiliki keterkaitan yang koheren yaitu antar investasi yang dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal, kemudian didukung oleh kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Sentral, akan memberikan dampak yang luas terhadap iklim investasi dan aliran dana asing yang masuk ke Indonesia. Dengan didukung oleh kebijakan yang saling menguatkan tersebut baik dari sisi fiskal dan moneter tentu saja pasar Indonesia akan semakin potensial dan berkembang karena pasar domestik dan perekonomian domestik juga didukung oleh daya beli masyarakat yang cukup tinggi.
Dalam mendukung di sektor investor ini pemerintah Indonesia juga tidak main-main, di mana pemerintah telah menganggarkan dana lebih dari 300 triuliun untuk angggaran infrastruktur seperti yang juga disinggung dalam artikel diatas. Angka tersebut merupakan suatu angka terbesar dalam sejarah pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur. Pengeluran untuk infrastruktur ini memang dirasa sangat perlu karena pengeluaran pada bidang infrastruktur merupakan pengeluaran yang sangat produktif dan mampu mendukung daya dukung perkembangan investasi dan fasilitas publik. Jika infrastruktur dan fasilitas publik sudah memadai maka maka para invetsor akan semakin tertarik untuk investasi di negara kita. Karena infrastruktur merupakan salah satu faktor kunci utama yang berperan dalam pembangunan ekonomi. Jika investor semakin tertarik maka kemungkinan untuk mendapatkan semakin banyak aliran dana asing terutama untuk investasi asing akan semakin mudah.
Beberapa informasi dan data makro ekonomi dalam negeri yang juga dijadikan sebagai acuan dalam menentukan indikator atau tolok ukur investasi adalah tingkat inflasi yang terjadi. Sedangkan realisasi inflasi yang terjadi saat ini cukup rendah dan terkendali yaitu dibawah empat persen dari kondisi di tahun 2014 yang mencapai 8,36 persen yoy. Kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter dalam mengontrol tingkat inflasi tersebut patut di apresiasi. Inflasi yang rendah dan terkendali tersebut akan memberikan sentimen positif bagi para pelaku dan investor.
Dengan melihat tingkat inflasi pada tahun 2015 tersebut juga bisa diperkirakan ekpektasi dari kondisi ekonomi pada tahun ini. Dimana menurut perkiraan saya pertumbuhan ekonomi tahun ini akan mengalami peningkatan pada kisaran 5,2 – 6 persen. Asumsi tersebut cukup masuk akal mengingat, kondisi ekonomi global juga sedang mengalami perlambatan termasuk negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia juga mengalami perlambatan seperti China dan Jepang. 
Dengan tingkat inflasi yang rendah tersebut Bank Sentral Indonesia dari data yang saya baca sampai tanggal 1 April 2016 Bank Indonesia sudah menurunkan tingkat suku bunga acuannya sebanyak tiga kali berturut-turut hingga sampai pada tingakatan sebesar 6,75 persen. Penurunan ini tentu saja sangat mendukung dalam peningkatan iklim investasi. Tingkat suku bunga tersebut saya menilainya masih cukup tinggi dan masih ada potensi unruk mengalami penurunan lagi karena melihat tingkat inflasi yang telah terjadi di bulan januari sampai februari masih cukup rendah.
Adapun terkait dengan penurunan imbal hasil atau yield terhadap investasi di pasar Surat Utang Negara (SUN) merupakan hal yang wajar mengingat Bank Indonesia telah menurunkan tingkat suku bunganya sebanyak tiga kali berturut-turut sepanjang tahun ini. Walupun yield mengalami penurunan tetapi tingkat suku bunga acuan Indonesia masih cukup kompetitif dalam menarik minat inveastasi di pasar surat berharga baik yang berjangka  pendek seperti portofolio maupun surat berjangka panjang seperti obligasi.
Melihat segala potensi dan optimisme tersebut seharusnya kita harus bisa mengambil manfaat yang lebih dari adanya capital inflow tersebut, karena aliran modal masuk ini berdampak besar terhadap iklim investasi dan diharpkan melalui peningkatan capital inflow akan tercipta suatu kondisi kesempatan tenaga kerja penuh dan berdampak pada pembangunan ekonomi yang menyeluruh dalam jangka panjang. Sehingga akan berdampak atau memberikan impact yang positif terhadap perekonomian.

0 komentar:

Posting Komentar