Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

DEFLASI ?

DEFLASI ?
Oleh : Eka Wahyu Utami
Fakultas Ekonomi , Universitas Jember

Bahan pangan adalah sebuah kebutuhan yang harus bahkan wajib dipenuhi setiap harinya. Bayangkan saja apabila seseorang tidak memenuhi kebutuhan pangannya dalam sehari, maka akan berakibat pada kondisi yang lainnya. Seperti misalkan, apabila ada seseorang tidak makan sehari, maka dia akan merasa kelaparan dan merasa tidak fit. Sehingga ia tidak optimal dalam setiap kegiatan yang lakukan setiap hari. Bahan pangan adalah kebutuhan wajib yang harus dipenuhi untuk lahir, dan apabila seseorang tersebut telah mendapat asupan yang cukup maka ia akan dapat mengerjakan apapun secara optimal.
Tidak hanya memperhatikan hal itu saja, bahan pangan yang ia beli harus memiliki nutrisi yang cukup. Lalu darimana nutrisi tersebut di dapatkan apabila bahan yang ia beli sama sekali tidak berkualitas. Kadang masih ada segelintir orang yang hanya memikirkan isi perutnya tanpa melihat makanan tersebut memiliki nutrisi yang cukup atau tidak. Keadaan tersebut biasa terjadi pada orang-orang dari kalangan bawah.
Baik buruknya kualitas sebuah barang terkadang tidak dapat ditentukan dari harga barang. Terkadang masih ada oknum – oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja menjual makan tidak berkualitas dengan harga yang sangat mahal. Sehingga orang – orang percaya begitu saja untuk membeli bahan pangan tersebut. Konsumen harus lebih cerdas dalam menentukan bahan pangan mana yang sekiranya memiliki kualitas baik tanpa memperhatikan harga barang tersebut. Mereka harus dapat menegetahui informasi standart atau harga – harga bahan pangan terbaru. Mereka dapat menggunakan standart harga tersebut untuk mencari bahan pangan.
Seperti misalkan, si A. Apabila si A adalah salah satu orang yang sangat memperhatikan kualitas suati bahan pangan, maka ia tidak harus membeli bahan pangan dengan harga yang mahal. Misalkan pada suatu kasus, si A ingin membeli bahan pangan pada saat kondisi perekonomian mengalami deflasi yang berakibat pada menurunnya harga-harga barang. Apabila ia mengetahui standart harga pada saat itu, maka ia hanya perlu datang ke pasar untuk memilih barang mana yang terlihat segar dan sehat saja. Walaupun harga nya turun dan murah, tidak berarti bahan pangan tersebut memiliki kualitas yang rendah juga. Akan tetapi, kondisi tersebut dikarenakan terjadinya deflasi yang dampaknya pada seluruh barang – barang.
Dari kasus peristiwa tersebut, maka dapat diketahui bahwa naik turunnya harga itu sangat penting bagi konsumen. Produsen pun juga sangat membutuhkan informasi mengenai kenaikan dan penurunan harga – harga. Karena naik turunnya harga dapat mempengaruhi jumlah permintaan suatu barang yang ia jual. Banyak sekali faktor-faktor yang menentukan naik turunnya suatu bahan pangan. Deflasi ataupun inflasi sangat mempengaruhi naik turunnya harga bahan mentah. Begitupula sebaliknya, bahan mentah mempengaruhi deflasi dan inflasi.
Inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang – barang secara umum atau mahalnya harga – harga barang yang menyebabkan masyarakat harus mengeluarkan jumlah uang lebih banyak dari sebelumnya. Kasus seperti ini biasanya terjadi ketika ada even atau hari besar. Orang – orang akan membutuhkan banyak sekali barang untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu. Dan secara otomatis, uang yang beredar menjadi lebih banyak. Kondisi sepertii ini biasanya terjadi ketika pada hari raya atau akhir tahun. Selain inflasi, ada juga kebalikannya yaitu deflasi. Deflasi sendiri adalah turunnya harga – harga barang secara umum atau murahnya harga barang – barang secara umum.
Pada kasus yang terjadi saat ini, deflasi terjadi karena harga barang – barang pangan masih stabil. Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina, penurunan harga barang ini disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Akan tetapi pengaruh atau dampak yang diberikan tidak terlalu signifikan. Ia memperkirakan penurunan bahan pokok tersebut hanya kisaran 0,1 persen. Ia juga menjelaskan pengaruh antara struktur harga, porsi biaya distribusi dan transportasi yang pastinya berhubungan dengan BBM adalah hanya sebesar 3 persen saja. Ia juga mengatakan, apabila BBM mengalami penurunan harga sebesar 3,5 persen, maka akan mempengaruhi harga barang – barang pangan turun hanya sebesar 0,1 persen.
Srie juga percaya bahwa ketika harga bahan pangan diumumkan turun, maka seluruh produsen bahan pangan tidak akan serta merta menurunkan harga. Mereka pasti akan menjual dengan harga sesuai dengan pada saat mereka membelinya. Apabila pasokan barang lama, maka ia akan menjual barang tersebut dengan harga yang lama. Sebaliknya pun demikian, apablia datang pasokan barang baru dan dan pasokan barang lama telah habis, maka mereka akan menjual dengan harga yang baru. Itu sudah siklus pasar, maka kemungkinan – kemungkinan tertentu sudah diduga terlebih dahulu.
Seperti yang terjadi pada bulan ini, deflasi yang terjadi pada bulan ini juga mendapatkan sumbangan dari penurunan harga – harga barang pangan seperti bawang merah, cabai, minyak goreng, dan telur ayam. Namun tidak semua harga barang turun semuanya. Ada pendapat lain mengenai jumlah pengaruh yang diakibatkan penurunan harga bahan pangan terhadap deflasi. Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, deflasi yang akan kita capai pada bulan Februari ini menyentuh angka 0,11 persen. Dan hal ini disebabkan oleh penurunan harga bahan pangan dan tren yang telah diatur oleh pemerintah ( administer prices). Hal ini terjadi karena dampak kenaikan harga bahan pangan pada bulan Januari 2016 lalu, seperti daging ayam, telur ayam, dan jagung.
Penurunan harga bahan pangan ini hanya bentuk normalisasi saja. Penurunan ini terjadi juga dikarenakan dampak dari penurunan harga BBM elpiji 12 kg , tarif dasar listrik, serta penguatan nilai tukar rupiah. Ada beberapa bahan pangan yang tidak mengikuti tren penurunan harga bahan pangan seperti yang saya sebutkan tadi. Seperti contohnya daging, beras, harga makanan jadi, tarif kontrak rumah, harga mobil akibat pelemahan kurs tahun lalu.
Pendapat yang berbeda dari Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juminan mengungkapkan bahwa bulan ini justru akan terjadi inflasi bukan deflasi yakni sebsar 0,05 persen. Juminan menduga akan terjadi inflasi namun tetap pada titik terendah, tidak terlalu signifikan. Juminan juga mengungkapkan hal yang sama mengenai sebab turunnya harga barang bahan pangan ini. Namun, ada kemungkinan pada bulan Maret nanti akan ada kenaikan harga beras, karena akan ada panen raya.

Kita sebagai konsumen harus merespon baik terhadap menurunnya harga – harga barang tersebut. Tidak perlu berlebih menanggapinya. Karena nantinya penurunan harga barang – barang ini akan kembali meningkat pada waktunya. Sebaliknya ketika terjadi inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang – barang secara umum, kita tidak perlu meresponnya secara berlebihan karena itu memang sudah jalannya atau memang sudah bedasarkan dari perekonomian global. Melihat lagi negara kita adalah negara yang masih berkembang dan masih tergantung pada negara lain. Sehingga fluktuasinya tidak di duga – duga.

0 komentar:

Posting Komentar