DEFLASI ?
Oleh : Eka Wahyu Utami
Fakultas Ekonomi , Universitas
Jember
Bahan pangan adalah sebuah kebutuhan yang harus bahkan
wajib dipenuhi setiap harinya. Bayangkan saja apabila seseorang tidak memenuhi
kebutuhan pangannya dalam sehari, maka akan berakibat pada kondisi yang
lainnya. Seperti misalkan, apabila ada seseorang tidak makan sehari, maka dia
akan merasa kelaparan dan merasa tidak fit. Sehingga ia tidak optimal dalam
setiap kegiatan yang lakukan setiap hari. Bahan pangan adalah kebutuhan wajib
yang harus dipenuhi untuk lahir, dan apabila seseorang tersebut telah mendapat
asupan yang cukup maka ia akan dapat mengerjakan apapun secara optimal.
Tidak hanya memperhatikan hal itu saja, bahan pangan
yang ia beli harus memiliki nutrisi yang cukup. Lalu darimana nutrisi tersebut
di dapatkan apabila bahan yang ia beli sama sekali tidak berkualitas. Kadang
masih ada segelintir orang yang hanya memikirkan isi perutnya tanpa melihat
makanan tersebut memiliki nutrisi yang cukup atau tidak. Keadaan tersebut biasa
terjadi pada orang-orang dari kalangan bawah.
Baik buruknya kualitas sebuah barang terkadang tidak
dapat ditentukan dari harga barang. Terkadang masih ada oknum – oknum tidak
bertanggung jawab yang sengaja menjual makan tidak berkualitas dengan harga
yang sangat mahal. Sehingga orang – orang percaya begitu saja untuk membeli
bahan pangan tersebut. Konsumen harus lebih cerdas dalam menentukan bahan
pangan mana yang sekiranya memiliki kualitas baik tanpa memperhatikan harga
barang tersebut. Mereka harus dapat menegetahui informasi standart atau harga –
harga bahan pangan terbaru. Mereka dapat menggunakan standart harga tersebut
untuk mencari bahan pangan.
Seperti misalkan, si A. Apabila si A adalah salah satu
orang yang sangat memperhatikan kualitas suati bahan pangan, maka ia tidak
harus membeli bahan pangan dengan harga yang mahal. Misalkan pada suatu kasus,
si A ingin membeli bahan pangan pada saat kondisi perekonomian mengalami
deflasi yang berakibat pada menurunnya harga-harga barang. Apabila ia mengetahui
standart harga pada saat itu, maka ia hanya perlu datang ke pasar untuk memilih
barang mana yang terlihat segar dan sehat saja. Walaupun harga nya turun dan
murah, tidak berarti bahan pangan tersebut memiliki kualitas yang rendah juga.
Akan tetapi, kondisi tersebut dikarenakan terjadinya deflasi yang dampaknya
pada seluruh barang – barang.
Dari kasus peristiwa tersebut, maka dapat diketahui
bahwa naik turunnya harga itu sangat penting bagi konsumen. Produsen pun juga
sangat membutuhkan informasi mengenai kenaikan dan penurunan harga – harga.
Karena naik turunnya harga dapat mempengaruhi jumlah permintaan suatu barang
yang ia jual. Banyak sekali faktor-faktor yang menentukan naik turunnya suatu
bahan pangan. Deflasi ataupun inflasi sangat mempengaruhi naik turunnya harga
bahan mentah. Begitupula sebaliknya, bahan mentah mempengaruhi deflasi dan
inflasi.
Inflasi sendiri adalah kenaikan harga barang – barang
secara umum atau mahalnya harga – harga barang yang menyebabkan masyarakat
harus mengeluarkan jumlah uang lebih banyak dari sebelumnya. Kasus seperti ini
biasanya terjadi ketika ada even atau hari besar. Orang – orang akan
membutuhkan banyak sekali barang untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu. Dan
secara otomatis, uang yang beredar menjadi lebih banyak. Kondisi sepertii ini
biasanya terjadi ketika pada hari raya atau akhir tahun. Selain inflasi, ada
juga kebalikannya yaitu deflasi. Deflasi sendiri adalah turunnya harga – harga
barang secara umum atau murahnya harga barang – barang secara umum.
Pada kasus yang terjadi saat ini, deflasi terjadi
karena harga barang – barang pangan masih stabil. Menurut Direktur Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina, penurunan harga barang ini
disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Akan tetapi pengaruh
atau dampak yang diberikan tidak terlalu signifikan. Ia memperkirakan penurunan
bahan pokok tersebut hanya kisaran 0,1 persen. Ia juga menjelaskan pengaruh
antara struktur harga, porsi biaya distribusi dan transportasi yang pastinya berhubungan
dengan BBM adalah hanya sebesar 3 persen saja. Ia juga mengatakan, apabila BBM
mengalami penurunan harga sebesar 3,5 persen, maka akan mempengaruhi harga
barang – barang pangan turun hanya sebesar 0,1 persen.
Srie juga percaya bahwa ketika harga bahan pangan
diumumkan turun, maka seluruh produsen bahan pangan tidak akan serta merta
menurunkan harga. Mereka pasti akan menjual dengan harga sesuai dengan pada
saat mereka membelinya. Apabila pasokan barang lama, maka ia akan menjual
barang tersebut dengan harga yang lama. Sebaliknya pun demikian, apablia datang
pasokan barang baru dan dan pasokan barang lama telah habis, maka mereka akan
menjual dengan harga yang baru. Itu sudah siklus pasar, maka kemungkinan –
kemungkinan tertentu sudah diduga terlebih dahulu.
Seperti yang terjadi pada bulan ini, deflasi yang
terjadi pada bulan ini juga mendapatkan sumbangan dari penurunan harga – harga
barang pangan seperti bawang merah, cabai, minyak goreng, dan telur ayam. Namun
tidak semua harga barang turun semuanya. Ada pendapat lain mengenai jumlah
pengaruh yang diakibatkan penurunan harga bahan pangan terhadap deflasi.
Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, deflasi yang akan
kita capai pada bulan Februari ini menyentuh angka 0,11 persen. Dan hal ini
disebabkan oleh penurunan harga bahan pangan dan tren yang telah diatur oleh
pemerintah ( administer prices). Hal ini terjadi karena dampak kenaikan harga
bahan pangan pada bulan Januari 2016 lalu, seperti daging ayam, telur ayam, dan
jagung.
Penurunan harga bahan pangan ini hanya bentuk
normalisasi saja. Penurunan ini terjadi juga dikarenakan dampak dari penurunan
harga BBM elpiji 12 kg , tarif dasar listrik, serta penguatan nilai tukar
rupiah. Ada beberapa bahan pangan yang tidak mengikuti tren penurunan harga
bahan pangan seperti yang saya sebutkan tadi. Seperti contohnya daging, beras,
harga makanan jadi, tarif kontrak rumah, harga mobil akibat pelemahan kurs
tahun lalu.
Pendapat yang berbeda dari Kepala Ekonom Bank
Internasional Indonesia (BII) Juminan mengungkapkan bahwa bulan ini justru akan
terjadi inflasi bukan deflasi yakni sebsar 0,05 persen. Juminan menduga akan
terjadi inflasi namun tetap pada titik terendah, tidak terlalu signifikan.
Juminan juga mengungkapkan hal yang sama mengenai sebab turunnya harga barang
bahan pangan ini. Namun, ada kemungkinan pada bulan Maret nanti akan ada
kenaikan harga beras, karena akan ada panen raya.
Kita
sebagai konsumen harus merespon baik terhadap menurunnya harga – harga barang
tersebut. Tidak perlu berlebih menanggapinya. Karena nantinya penurunan harga
barang – barang ini akan kembali meningkat pada waktunya. Sebaliknya ketika
terjadi inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang – barang secara umum,
kita tidak perlu meresponnya secara berlebihan karena itu memang sudah jalannya
atau memang sudah bedasarkan dari perekonomian global. Melihat lagi negara kita
adalah negara yang masih berkembang dan masih tergantung pada negara lain.
Sehingga fluktuasinya tidak di duga – duga.






0 komentar:
Posting Komentar