Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

DIBALIK INFLASI DAN PENGANGGURAN DI INDONESIA



DIBALIK INFLASI DAN  PENGANGGURAN DI INDONESIA
Oleh
Suci Arvilia
130810101122
Monetary 2013

Gejolak ekonomi apa saja saja yang selalu membuat masyarakat resah? Jawaban pertama adalah krisis ekonomi. Dapat kita berikan permasalahn yang kecil dari dalam negeri dimulai dari pada masa kepresidenan susilo bambang yudoyono mengalami beberapa vase dalam peningkatan pada harga, kondisi tersebut dimulai dari terjadinya peningkatan pada Bahan bakar minyak sehingga berdampak pada harga – harga barang lainnya. Kenaikan harga BBM beriringan dengan meningkatnya harga minyak internasional.
Kenaikan harga BBM berdampak pada harga barang lain dikarenakan di indonesia memiliki distorsi yang pendek antara daerah satu dengan yang lainnya, pulau satu dengan pulau lainnya. Jarak antar wilayah tersebut yang dapat menyebabkan harga barang – barang lain utamanya barang bersifat komoditas memiliki biaya distribusi yang tinggi. Secara tidak langsung akan berdampak pada harga barang itu sendiri. Kenaikan harga barang – barang komoditas dalam masyarakat memicu juga terhadap ekspektasi yang tinggi.
Ekspektasi merupakan pemikiran masyarakat akibat adanya kenaikan harga tersebut. Pemikiran – pemikiran yang tidak seharusnya difikirkan diluar kejadian menjadi timbul dalam masyarakat akan kecemasan berkurangnya jumlah penawaran barang, sehingga masyarakat dalam waktu yang singkat akan meningkatkan daya belinya, namun daya beli tersebut tidak langsung dikonsumsi semuanya melainkan melakukan penyimpanan atau penimbunan, sehingga penawaran yang seharusnya memenuhi menjadi tidak terpenuhi dan tidak semua orang yang mampu membeli tidak dapat mendapatkan barang yang diinginkan (ketidakadilan ekonomi).
Fenomena panic buying yang terjadi dalam masyarakat itu sendiri yang memicu kenaikan harga barang akibat adanya scarcity barang tersebut, pihak – pihak yang berfikir untuk merauk keuntungan akan memanfaatkan kondisi ini. Sehingga menghimpit konsumen mau tidak mau akan tetap membeli meskipun harga barang tersebut mahal bahkan bisa jadi naik secara 100%. Namun disisi lain akan ada pihak yang tanpa melihat apa yang terjadi sebenarnya dan akan menyalahkan pembuat kebijakan dan masyarakat tanpa menau yang terjadi hanya bisa melakukan demo dengan alasan pemerintah yang menaikkan harga BBM, serta barang – barang komoditas lainnya. Ulasan diatas merupakan salah satu contoh kondisi kenaikan harga tanpa melihat backward kondisi dibelakang atau kondisi riilnya.
Kenaikan akan harga secara umum dapat menunjukkan terjadinya inflasi, atas dasar harga keseluruhan atau bukan hanya harga satu barang . Inflasi dapat dipengaruhi oleh faktor dalam negeri maupun luar negeri. Faktor dalam negeri yang dapat memicu inflasi yaitu tingkat suku bunga, kenaikan harga BBM, penawaran yang lebih kecil dari permintaan, maupun ekspektasi dari masyarakat yang berlebihan. Sedangkan dari luar negeri yaitu adanya kenaikan pada harga import bahan baku dalam produk sehingga akan memicu kenaikan harga pada barang yang akan diproduksi dalam negeri, selain itu terdapat beberapa kebijakan dari pemerintah laur negeri sehingga menyebabkan inflasi negara lain. Namun yang perlu diperhatikan apabila terjadi pada inflasi akibat penawaran karena dampaknya lebih besar dibanding dengan cost push inflation.
Suatu Negara melalui Otoritas Pemerintahan berkepentingan untuk membuat kebijakan dalam  solusi permasalahan kekurangan penawaran atau kelangkaan stock, disparitas harga, dan fluktuasi harga barang – khususnya bahan pokok dalam negeri. Pemerintah Indonesia mengkategorikan 14 komoditas kedalam kategori bahan pokok, yaitu: beras, cabai ,kedelai bahan baku, tempe, bawang merah, minyak goreng, gula ,tepung terigu, , daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, ikan kembung, ,ikan tongkol/tuna/cakalang dan ikan bandeng.
Permasalahan kelangkaan stock, fluktuasi komoditas bahan pokok, dan disparitas menjadi perhatian  serius Pihak Pemerintah untuk menentukan kebijakan.  Scarcity atau Kelangkaan stock terjadi apabila disuatu daerah mengalami penurunan dan kesulitan atau bahkan tidak dapat mendapatkan berbagai komoditas bahan-bahan pokok secara terus menerus /kontinu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat akan berbagai komoditas bahan-bahan pokok tersebut.  Terdapat  banyak faktor yang menyebabkan masalah kelangkaan stock ini, antara lain: dari sisi petani yang mengalami kegagalan panen untuk komoditas hasil pertanian, serta faktor alam, dan masalah dalam kelemahan manajemen distribusi.
Manajemen distribusi berbagai barang utamanya komoditas bahan pokok merupakan salah satu fokus pemerintah dan isu penting dalam masalah sistem logistik nasional, yang memastikan kelancaran dalam pendistribusian komoditas bahan pokok dari daerah yang basis atau surplus dari produsen untuk dikirim ke daerah kurang atau  minus yang merupakan daerah padat penduduk  seperti daerah perkotaan yang banyak melakukan konsumsi.  Riilnya sistem manajemen logistik yang baik akan melakukan pemastikan kelancaran dalam distribusi komoditas bahan pokok dari berbagai daerah produsen ke daerah-daerah non basis / konsumen setiap saat, sepanjang pengiriman dengan rentan waktu secara berkesinambungan.
Perbedaan harga atau sering kita kenal disparitas harga terjadi apabila ada perbedaan harga yang sangat signifikan ada yang tinggi dan ada yang rendah atas suatu harga komoditas bahan pokok tertentu antardaerah.  Masalah Disparitas harga akan berdampak serta memberikan efek “ketidakadilan” dan kesejahteraan masyarakat  antardaerah.  Berabagai komoditas bahan pokok yang sama, misalnya bawang merah dan cabe, dimana penduduk di daerah-daerah Nusa Tenggara, akan membayar hingga harga 5 kali lipat lebih mahal daripada penduduk di Solo untuk mendapatkan bawang merah dan cabe. Padahal sama-sama warga Negara Indonesia, dan hidup di masa kemerdakaan, namun harus untuk mendapatkan barang tersebut perlu mengeluarkan uang yang lebih besar, hal tersebut tentunya akan mengurangi utilitas tingkat kepuasan dalam mengkonsumsi suatu barang bahkan selain bahan kebutuhan pokok.  Masyarakat membutuhkan kehadiran ketegasan dari otoritas pembuat kebijakan dalam Negari untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi terutama dalam logistic yang sangat berpengaruh terhadap disparitas harga komoditas bahan-bahan pokok.
Di tahun 2016 ini terulang kembali, Distorsi dalam lemahnya sistem distribusi yang dapat men terjadinya disparitas harga ini.  Dampak  adanya kelemahan dalam sistem distribusi ini dsangat simultan baik dalam kelangkaan barang /stock ataupun  dispartias harga.  Lalu Mengapa sampai saat ini tetap terjadi?  Kelangkaan stock akan memicu peningkatan harga utamanya harga pokok,  dampak lanjutan peningkatan harga akan memperlebar disparitas harga dan ujungnya pada inflasi. Kelancaran dalam proses alur distribusi dapat memberikan jaminan dalam ketepatan stock serta mampu mengendalikan disparitas dan fluktuasi harga komoditas bahan-bahan pokok.  Selain itu, fluktuasi harga bahan-bahan pokok turut memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat inflasi daerah dan nasional.  Apalagi Tingkat inflasi yang fluktuatif, cenderung tinggi, akan berdampak pada stabilitas ekonomi secara fundamental. Solusi sistem logistik nasional melalui perbaikan baik dalam distorsi maupun sistem distribusi komoditas bahan-bahan pokok menjadi fokus perhatian yang serius bagi Pemerintah untuk menentukan kebijakan yang tepat , Pemerintah  “hadir” untuk Negara dan  di tengah-tengah masyarakat dalam mengatasi berbagai persoalan disparitas, kelangkaan stock, dan fluktuasi harga komoditas bahan-bahan pokok yang dibutuhkan sehari-sehari oleh masyarakat .
Secara umum aktivitas dalam distribusi logistik  merupakan manajemen alur pergerakan barang, baik pergerakan dari pemasok supplier  bahan baku ke perusahaan manufaktur (inbound logistics or upstream), maupun pergerakan barang dari manufaktur ke masyarakat yang menjadi konsumen (outbound logistics or downstream).  Selain itu, dalam manajemen logistik juga dapat mengelola pengembalian (return) barang dari konsumen ke pengecer (retailer), dari retailer berlanjut ke pedagang besar (wholesaler), dan dari wholesaler ke perusahaan, maupun dari perusahaan ke pemasok/supplier.  Didalam manajemen logistik, pengelolaan logistik pengembalian barang ini dikenal dengan reverse logistics.
Dalam konteks supply chain management, alur saluran distribusi barang merupakan salah satu pilihan  keputusan stratejik.  Alur saluran distribusi akan menjamin dan memastikan produk dari manufaktur atau produsen diserahkan ke masyararakat atau konsumen dengan kuantitas, kualitas, tempat, penerima, waktu, dan biaya yang tepat dan sesuai dengan umum tanpa ada perbedaan. Seharusnya aluran distribusi merupakan salah satu bentuk daripemilihan strategi pemasaran, untuk memastikan produk-produk perusahaan sampai ke masyarakat konsumen melalui saluran distribusi yang efektif dan efisien.
Pilihan distribusi dapat dilakukan  perusahaan dapat memilih sistem distribusi dalam bentuk distribusi secara langsung (direct distribution channel) atau distrbusi secara tidak langsung (indirect distribution channel).  Perusahaan menggunakan direct distribution channel apabila perusahaan menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir tanpa perantara.  Dalam distribusi langsung perusahaan tidak memerlukan distributor dalam bentuk wholesaler atau retailer Sebaliknya Perusahaan perlu menggunakan indirect distribution channel apabila dalam menjual produk-produknya perusahaan menggunakan distributor.
Seiring dengan adanya kemajuan teknologi misalnya e-commerce mendorong perusahaan-perusahaan memilih strategi direct distribution channel dengan menggunakan last-mile delivery untuk menghemat biaya distribusi, meskipun sebenarnya tidak murni direct distribution.  Perusahaan-perusahaan yang mengimplementasikan strategi direct distribution tetap memerlukan “distributor” dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan pengelola e-commerce atau perusahaan 3PL yang mengelola pergudangan dan distribusi.  Hal ini dapat dailakukan karena perusahaan-perusahaan yang menerapkan strategi tanpa distributor mengharuskan berhubungan dengan banyak pelanggan.  Dengan penggunaan distributor, perusahaan-perusahaan cukup berhubungan langsung dengan distributornya.  Urusan hubungan dengan pelanggan akan dikelola langsung oleh distributornya.
Untuk membuktikan “kehadiran Negara” dalam mengatasi persoalan distribusi bahan-bahan pokok, Kementerian Perdagangan telah membangun Pusat Distribusi Regional di beberapa lokasi potensial untuk mendukung implementasi Sistem Logistik Nasional (Sislognas) dan MP3I dalam konteks pengembangan koridor ekonomi Indonesia.
Pusat Distribusi Regional (PDR) ini merupakan salah satu inisiasi stratejik Sislognas dalam konteks infrastruktur logistik barang nasional.  Selain PDR, Kementerian Perdagangan juga membangun Pusat Distribusi Provinsi (PDP). Sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 48/M-DAG/PER/8/2013, Pusat Distribusi adalah tempat yang berfungsi sebagai penyangga komoditas utama untuk menunjang kelancaran arus barang baik antar kabupaten dan kota maupun antar provinsi untuk tujuan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri.
Pusat Distribusi Regional adalah pusat distribusi yang berfungsi sebagai penyangga komoditas utama di beberapa kabupaten dan kota yang memiliki jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen, yang dapat bersifat kolektor, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antarpulau.
Pusat Distribusi Regional (PDR) merupakan salah satu subsistem jaringan yang pada dasarnya berfungsi sebagai penyokong bagi Pusat Distribusi Provinsi (PDP) yang berada di setiap propinsi dalam hal pemenuhan dan penyaluran kebutuhan maupun hasil produksi daerah. PDR berada dalam naungan Kementerian Perdagangan.
Bentuk  hubungan hubungan antara PDR dengan PDP dalam sistem distribusi nasional secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut (Kementerian Perdagangan, 2013):
  1. Pusat Distribusi Regional akan mengumpulkan data mengenai kebutuhan komoditas di tiap provinsi layanannya.
  2. Data persediaan komoditas pada Pusat Distribusi Provinsi di setiap propinsi dikumpulkan dan diagregatkan menjadi data persediaan regional untuk selanjutnya dilaporkan ke Kementerian Perdagangan.
  3. Pusat Distribusi Regional akan mencari pasokan untuk menutupi kekurangan pasokan di provinsi yang dinaunginya.
  4. Pusat Distribusi Regional menjadi pusat konsolidasi dalam hal pemesanan komoditas ketika kuota pemesanan di Pusat Distribusi Provinsi yang membutuhkan tidak mencukupi untuk melakukan pemesanan secara mandiri.
Inflasi dan pengangguran adalah masalah jangka pendek dalam perekonomian. Inflasi sendiri diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan dari satu atau dua barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Semua negara di dunia selalu menghadapi permasalahan inflasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa inflasi yang terjadi pada suatu negara dapat digunakan sebagai indikator baik buruknya perekonomian suatu negara. Bagi negara yang perekonomiannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4 persen per tahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai  4  persen  dikatakan  tingkat  inflasi  yang  rendah.  Tingkat  inflasi  yang berkisar  antara  7  sampai  10  persen  dikatakan  inflasi  yang  tinggi.  Inflasi  yang sangat tinggi tersebut disebut hiperinflasi (hyper inflation)[1].
Tujuan negara membangun adalah untuk kesejahteraan rakyat, maka masalah pengangguran yang tinggi merupakan kondisi yang sangat tidak dikehendaki oleh suatu negara di manapun. Inflasi dan pengangguran adalah dua masalah ekonomi yang utama yang sering dihadapi oleh masyarakat suatu negara. Jika masalah inflasi dan pengangguran tidak terkendali, maka kedua masalah tersebut dapat mewujudakan efek buruk baik yang bersifat ekonomi, sosial, politik serta lingkungan dan budaya. Untuk menghindari berbagai efek buruk yang mungkin ditimbulkan oleh kedua masalah tersebut, secara sederhana yakni secara ekonomi  makro  diperlukan  berbagai  kebijakan  ekonomi  yang  komprehensif. Dalam teori kurva Phillips, pengangguran yang tinggi memang akan cenderung mengurangi  inflasi.  Namun  yang  menarik  di  Indonesia  fenomena  yang  sering terjadi adalah ketika pengangguran tinggi tingkat inflasi juga masih tetap tinggi. Padahal, tujuan yang selalu dikehendaki untuk kedua masalah tersebut adalah rendah[2].

Referensi  : Jurnal Biro analisa APBN


[1] Prasetyo, Eko. 2009. Fundamental Makroekonomi.

[2] Beta Offset. Yogyakarta. Alghofari, Farid.2010.Analisis Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 1980-2007.Undip.

0 komentar:

Posting Komentar