Terjadinya inflasi
dalam perekonomian tak lepas dari lebih tingginya angka permintaan dibandingkan
penawarannya dan meningkatnya harga barang modal. Inflasi dapat terjadi
sewaktu-waktu seiring dengan jalannya aktivitas perekonomian. Pada saat
tertentu, inflasi tidak diinginkan kehadirannya sehingga pemerintah berupaya
sedemikian rupa untuk menekan laju inflasi hingga pada level yang dianggap stabil.
Namun, di sisi lain inflasi menjadi hal yang penting berkaitan dengan kinerja
perekonomian suatu negara. Jika inflasi sangat rendah, bahkan terjadi deflasi,
terkadang mengindikasikan bahwa perekonomian sedang tidak bergairah. Ini
menjadi perhatian karena dapat menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu
negara.
Di Indonesia, inflasi
relatif stabil pada triwulan I 2016 yaitu sebesar 4,45% (yoy) di mana angka tersebut merupakan tingkat inflasi di
level rendah dan diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4
1%. Indeks Harga
Konsumen (IHK) merilis angka deflasi sebesar 0,62% (qtq) turun dari level
sebelumnya yaitu sebesar 1,27%. Deflasi tersebut didukung oleh administered price (AP) dan volatile food (VF). Sementara inflasi
inti dinilai relatif stabil pada triwulan I yang didukung oleh tren ekspektasi inflasi
di tingkat pedagang eceran maupun konsumen mengalami penurunan. Jika diamati,
pada triwulan I 2016 tingkat harga cenderung mengalami penurunan dari berbagai
aspek pendukung inflasi. Hal tersebut dimungkinkan karena kebijakan yang tetap
bersifat ekspansif demi menghadapi perekonomian global yang masih melambat.
Sekalipun dalam jangka pendek, ekspektasi inflasi diperkirakan akan mengalami
peningkatan akibat pola kondisi masyarakat yang akan menghadapi tahun ajaran
baru, bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.
Menurut Laporan
Kebijakan Moneter Triwulan I 2016 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, deflasi
month to month terjadi hampir di
seluruh wilayah Indonesia. Pada bulan April 2016, deflasi yang terjadi di
beberapa wilayah yaitu 0,91% di wilayah Sumatera, 0,40% di Kawasan Timur
Indonesia, 0,35% di Jawa dan Kalimantan sebesar 0,24%. Cabai merah, beras, ikan
segar, daging ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyokong terjadinya deflasi di
berbagai wilayah tersebut. Deflasi pada komoditas-komoditas tersebut saling
mengisi setelah panen raya berlangsung. Pola yang sudah biasa terjadi dalam
perekonomian khususnya pada komoditas pertanian, harga menjadi jatuh begitu
saja sesaat setelah panen raya. Cobweb
theory berlaku di sini, namun bukan menjadi pembahasan utama dalam tulisan
ini.
Pada triwulan I 2016,
pertumbuhan ekonomi diperkirakan mengalami peningkatan yang ditopang oleh
stimulus fiskal oleh pemerintah. Pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah
yang meningkat secara signifikan untuk akselerasi proyek-proyek infrastruktur dinilai
menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, konsumsi rumah
tangga tumbuh cukup kuat seiring dengan terjaganya tingkat harga komoditas.
Pada triwulan I 2016, konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan
ekonomi diindikasikan dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 0,02% yang
semula 4,95% menjadi 4,97% (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya
konsumsi transportasi seiring dengan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, kuatnya tingkat konsumsi masyarakat juga didukung oleh Indeks
Kepercayaan Konsumen (IKK) yang mengalami peningkatan.
Inflasi yang relatif
rendah bahkan cenderung deflasi selama triwulan I 2016 mengindikasikan lemahnya
permintaan domestik. Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 lebih tinggi
dari tahun 2015 yaitu kisaran 5,0 – 5,4%. Sekalipun lebih tinggi dari tahun
sebelumnya, perkiraan tersebut lebih rendah dari royeksi sebelumnya akibat
tingkat konsumsi dan investasi yang lebih rendah pada triwulan I 2016.
Kecenderungan inflasi
yang rendah dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi apabila tidak ditekan
menaik pada target yan telah ditetapkan. Kebijakan BI dan Pemerintah yang telah
ditempuh mengindikasikan adanya keberhasilan dalam mengendalikan laju inflasi
dalam kisaran targetnya. Namun, terjadinya deflasi di beberapa wilayah
Indonesia perlu diwaspadai. Jika inflasi terlalu rendah, hal itu menunjukkan
permintaan domestik yang cenderung lemah dan selanjutnya mengindikasikan pada
lambatnya laju pertumbuhan ekonomi.
Banyak faktor yang
menjadi pendukung lesunya perekonomian domestik baik dari sisi eksternal maupun
internal. Secara eksternal, belum solidnya pertumbuhan ekonomi dunia dan adanya
rencana kenaikan suku bunga The Fed menjadi
bayang-bayang risiko penyesuaian ekonomi di masa yang akan datang. Sementara
dari sisi internal, risiko keterbatasan ruang fiskal dan pembiayaan ekonomi
perlu mendapat perhatian lebih demi tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi
yang diharapkan.
Inflasi yang rendah
merupakan kondisi perekonomian yang boleh dikatakan baik. Namun, jika hal
tersebut terjadi dalam jangka panjang akan berpengaruh pada pertumbuhan
ekonomi. Terjadinya deflasi yang tidak terkendali hingga harga jatuh pada level
yang sangat rendah dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi karena tingkat
konsumsi masyarakat rendah. Selanjutnya, akan terdapat excess supply dalam perekonomian yang mengakibatkan tingkat
ekuilibrium suatu perekonomian menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, inflasi
yang terlalu rendah dan terjadi terus-menerus perlu mendapat perhatian lebih
agar tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi.






0 komentar:
Posting Komentar