Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Dilema Inflasi bagi Pertumbuhan Ekonomi



Terjadinya inflasi dalam perekonomian tak lepas dari lebih tingginya angka permintaan dibandingkan penawarannya dan meningkatnya harga barang modal. Inflasi dapat terjadi sewaktu-waktu seiring dengan jalannya aktivitas perekonomian. Pada saat tertentu, inflasi tidak diinginkan kehadirannya sehingga pemerintah berupaya sedemikian rupa untuk menekan laju inflasi hingga pada level yang dianggap stabil. Namun, di sisi lain inflasi menjadi hal yang penting berkaitan dengan kinerja perekonomian suatu negara. Jika inflasi sangat rendah, bahkan terjadi deflasi, terkadang mengindikasikan bahwa perekonomian sedang tidak bergairah. Ini menjadi perhatian karena dapat menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Di Indonesia, inflasi relatif stabil pada triwulan I 2016 yaitu sebesar 4,45% (yoy) di mana angka tersebut merupakan tingkat inflasi di level rendah dan diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi 2016, yaitu 4 1%. Indeks Harga Konsumen (IHK) merilis angka deflasi sebesar 0,62% (qtq) turun dari level sebelumnya yaitu sebesar 1,27%. Deflasi tersebut didukung oleh administered price (AP) dan volatile food (VF). Sementara inflasi inti dinilai relatif stabil pada triwulan I yang didukung oleh tren ekspektasi inflasi di tingkat pedagang eceran maupun konsumen mengalami penurunan. Jika diamati, pada triwulan I 2016 tingkat harga cenderung mengalami penurunan dari berbagai aspek pendukung inflasi. Hal tersebut dimungkinkan karena kebijakan yang tetap bersifat ekspansif demi menghadapi perekonomian global yang masih melambat. Sekalipun dalam jangka pendek, ekspektasi inflasi diperkirakan akan mengalami peningkatan akibat pola kondisi masyarakat yang akan menghadapi tahun ajaran baru, bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.
Menurut Laporan Kebijakan Moneter Triwulan I 2016 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, deflasi month to month terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada bulan April 2016, deflasi yang terjadi di beberapa wilayah yaitu 0,91% di wilayah Sumatera, 0,40% di Kawasan Timur Indonesia, 0,35% di Jawa dan Kalimantan sebesar 0,24%. Cabai merah, beras, ikan segar, daging ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyokong terjadinya deflasi di berbagai wilayah tersebut. Deflasi pada komoditas-komoditas tersebut saling mengisi setelah panen raya berlangsung. Pola yang sudah biasa terjadi dalam perekonomian khususnya pada komoditas pertanian, harga menjadi jatuh begitu saja sesaat setelah panen raya. Cobweb theory berlaku di sini, namun bukan menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini.
Pada triwulan I 2016, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mengalami peningkatan yang ditopang oleh stimulus fiskal oleh pemerintah. Pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah yang meningkat secara signifikan untuk akselerasi proyek-proyek infrastruktur dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh cukup kuat seiring dengan terjaganya tingkat harga komoditas. Pada triwulan I 2016, konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi diindikasikan dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 0,02% yang semula 4,95% menjadi 4,97% (yoy). Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya konsumsi transportasi seiring dengan turunnya harga bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, kuatnya tingkat konsumsi masyarakat juga didukung oleh Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang mengalami peningkatan.
Inflasi yang relatif rendah bahkan cenderung deflasi selama triwulan I 2016 mengindikasikan lemahnya permintaan domestik. Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 lebih tinggi dari tahun 2015 yaitu kisaran 5,0 – 5,4%. Sekalipun lebih tinggi dari tahun sebelumnya, perkiraan tersebut lebih rendah dari royeksi sebelumnya akibat tingkat konsumsi dan investasi yang lebih rendah pada triwulan I 2016.
Kecenderungan inflasi yang rendah dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi apabila tidak ditekan menaik pada target yan telah ditetapkan. Kebijakan BI dan Pemerintah yang telah ditempuh mengindikasikan adanya keberhasilan dalam mengendalikan laju inflasi dalam kisaran targetnya. Namun, terjadinya deflasi di beberapa wilayah Indonesia perlu diwaspadai. Jika inflasi terlalu rendah, hal itu menunjukkan permintaan domestik yang cenderung lemah dan selanjutnya mengindikasikan pada lambatnya laju pertumbuhan ekonomi.
Banyak faktor yang menjadi pendukung lesunya perekonomian domestik baik dari sisi eksternal maupun internal. Secara eksternal, belum solidnya pertumbuhan ekonomi dunia dan adanya rencana kenaikan suku bunga The Fed menjadi bayang-bayang risiko penyesuaian ekonomi di masa yang akan datang. Sementara dari sisi internal, risiko keterbatasan ruang fiskal dan pembiayaan ekonomi perlu mendapat perhatian lebih demi tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Inflasi yang rendah merupakan kondisi perekonomian yang boleh dikatakan baik. Namun, jika hal tersebut terjadi dalam jangka panjang akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Terjadinya deflasi yang tidak terkendali hingga harga jatuh pada level yang sangat rendah dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi karena tingkat konsumsi masyarakat rendah. Selanjutnya, akan terdapat excess supply dalam perekonomian yang mengakibatkan tingkat ekuilibrium suatu perekonomian menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, inflasi yang terlalu rendah dan terjadi terus-menerus perlu mendapat perhatian lebih agar tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi. 

Situbondo, 8 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar