Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Rupiah Pulih, Momentum Bagi Ekspor Indonesia



Faktor eksternal yang mulai membaik berdampak pada pergerakan rupiah di tahun 2016 setelah sebelumnya mengalami depresiasi sebesar 10,2% (yoy) secara keseluruhan selama 2015. Tingkat depresiasi tersebut lebih rendah dari depresiasi mata uang  beberapa negara peers seperti Real Brasil, Rand Afrika Selatan, Ringgit Malaysia, Won Korea Selatan dan Lira Turki. Meredanya risiko di pasar keuangan global turut menjadi penyokong penguatan nilai tukar rupiah, diantaranya berkaitan dengan rencana The Fed untuk menaikkan Fed Fund Rate (FFR) dan kebijakan moneter di beberapa negara maju yang terus dilonggarkan. Rupiah menguat sebesar 3,96% yaitu pada level Rp13.260 per dolar AS selama triwulan I 2016.

Berbeda pada tahun 2015, rupiah cenderung mengalami depresiasi beberapa kali. Melemahnya rupiah disebabkan oleh tekanan-tekanan baik yang berasal dari sisi global maupun dari sisi domestik. Ketidakpastian pasar keuangan global yang terkait dengan ketidakpastian kapan suku bunga FFR akan dinaikkan, kondisi fiskal Yunani, dan devaluasi terhadap mata uang Yuan menjadi faktor yang dominan dalam mempengaruhi tren depresiasi rupiah. Di dalam negeri, melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi domestik menjadi alasan pelemahan Rupiah. Sementara itu, depresiasi rupiah juga didorong oleh kondisi pasar valas domestik yang masih dangkal dan pembiayaan eksternal yang terus menggandrungi korporasi domestik.  Tekanan terhadap Rupiah tersebut terjadi pada awal tahun hingga triwulan III 2015.

Di tahun 2016, kinerja ekspor diperkirakan tetap mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang masih terbatas menjadi faktor yang menyebabkan kinerja ekspor belum dapat meningkat secara signifikan. Hal tersebut dikarenakan Tiongkok merupakan salah satu pasar utama ekspor Indonesia. Harga komoditas ekspor utama Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2015 dan sedikit mengalami perbaikan pada tahun 2016.

Nilai tukar rupiah turut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Terdepresiasinya rupiah dapat memberikan keuntungan bagi pelaku ekspor sekalipun hal itu mengindikasikan kondisi perekonomian yang menurun. Melemahya nilai tukar rupiah selama tahun 2015 menjadi salah satu faktor peningkatan ekspor beberapa komoditas Indonesia.

Bagi komoditas ekspor dengan menggunakan komponen impor, hal ini beda lagi ceritanya. Jika rupiah terdepresiasi, perusahaan yang menghasilkan produk ekspor dengan dominasi komponen impor tentu merasakan dampak crowding out. Sekalipun keuntungan dapat diperoleh dengan adanya penurunan pada nilai tukar rupiah, akan sama saja dampaknya atau menerima dampak yang lebih rendah jika dibandingkan dengan adanya penguatan rupiah. Harga barang impor menjadi lebih tinggi dengan adanya pelemahan rupiah, maka barang produksi produk ekspor akan semakin tinggi. Akibatnya, harga barang ekspor harus lebih tinggi dari sebelumnya. Maka momentum depresiasi rupiah bagi pelaku ekspor tidak dapat diwujudkan begitu saja.

Jika kasusnya demikian, maka apresiasi rupiah lah yang menjadi kabar baik bagi ekspor Indonesia. Kondisi rupiah yang mulai pulih pada triwulan I 2016 berpotensi menjadi momentum bagi para pelaku ekspor Indonesia. Apresiasi sebesar 0,55% (ptp) dan ditutup pada level Rp13,118 per dolar AS terjadi pada rupiah di bulan April 2016. Pulihnya rupiah didukung oleh ekspektasi positif terhadap perekonomian domestik yang menunjukkan kondisi stabilitas makroekonomi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik. Hal ini dapat berdampak positif bagi ekspor Indonesia untuk terus menunjukkan tren menaik di masa yang akan datang dengan diiringi kestabilan inflasi, dan perbaikan sisi logistik. Meningkatnya ekspor selanjutnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik ke depan.

Maka, apapun yang terjadi pada rupiah, baik itu melemah atau menguat, semua memiliki momentumnya sendiri bagi sektor-sektor perekonomian. Salah satunya ialah momentum kinerja ekspor yang dapat terwujud baik pada saat rupiah sedang ‘lemah’ maupun saat sedang dalam masa ‘pemulihan’.

Situbondo, 8 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar