Faktor eksternal
yang mulai membaik berdampak pada pergerakan rupiah di tahun 2016 setelah
sebelumnya mengalami depresiasi sebesar 10,2% (yoy) secara keseluruhan selama 2015.
Tingkat depresiasi tersebut lebih rendah dari depresiasi mata uang beberapa negara peers seperti Real Brasil, Rand Afrika Selatan, Ringgit Malaysia,
Won Korea Selatan dan Lira Turki. Meredanya risiko di pasar keuangan global
turut menjadi penyokong penguatan nilai tukar rupiah, diantaranya berkaitan
dengan rencana The Fed untuk menaikkan Fed
Fund Rate (FFR) dan kebijakan moneter di beberapa negara maju yang terus
dilonggarkan. Rupiah menguat sebesar 3,96% yaitu pada level Rp13.260 per dolar
AS selama triwulan I 2016.
Berbeda pada
tahun 2015, rupiah cenderung mengalami depresiasi beberapa kali. Melemahnya
rupiah disebabkan oleh tekanan-tekanan baik yang berasal dari sisi global
maupun dari sisi domestik. Ketidakpastian pasar keuangan global yang terkait
dengan ketidakpastian kapan suku bunga FFR akan dinaikkan, kondisi fiskal
Yunani, dan devaluasi terhadap mata uang Yuan menjadi faktor yang dominan dalam
mempengaruhi tren depresiasi rupiah. Di dalam negeri, melemahnya prospek
pertumbuhan ekonomi domestik menjadi alasan pelemahan Rupiah. Sementara itu,
depresiasi rupiah juga didorong oleh kondisi pasar valas domestik yang masih
dangkal dan pembiayaan eksternal yang terus menggandrungi korporasi domestik. Tekanan terhadap Rupiah tersebut terjadi pada
awal tahun hingga triwulan III 2015.
Di tahun 2016,
kinerja ekspor diperkirakan tetap mengalami penurunan. Pertumbuhan ekonomi
Tiongkok yang masih terbatas menjadi faktor yang menyebabkan kinerja ekspor
belum dapat meningkat secara signifikan. Hal tersebut dikarenakan Tiongkok
merupakan salah satu pasar utama ekspor Indonesia. Harga komoditas ekspor utama
Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2015 dan sedikit mengalami perbaikan
pada tahun 2016.
Nilai tukar
rupiah turut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Terdepresiasinya rupiah
dapat memberikan keuntungan bagi pelaku ekspor sekalipun hal itu
mengindikasikan kondisi perekonomian yang menurun. Melemahya nilai tukar rupiah
selama tahun 2015 menjadi salah satu faktor peningkatan ekspor beberapa
komoditas Indonesia.
Bagi komoditas
ekspor dengan menggunakan komponen impor, hal ini beda lagi ceritanya. Jika
rupiah terdepresiasi, perusahaan yang menghasilkan produk ekspor dengan
dominasi komponen impor tentu merasakan dampak crowding out. Sekalipun keuntungan dapat diperoleh dengan adanya
penurunan pada nilai tukar rupiah, akan sama saja dampaknya atau menerima
dampak yang lebih rendah jika dibandingkan dengan adanya penguatan rupiah.
Harga barang impor menjadi lebih tinggi dengan adanya pelemahan rupiah, maka
barang produksi produk ekspor akan semakin tinggi. Akibatnya, harga barang
ekspor harus lebih tinggi dari sebelumnya. Maka momentum depresiasi rupiah bagi
pelaku ekspor tidak dapat diwujudkan begitu saja.
Jika kasusnya
demikian, maka apresiasi rupiah lah yang menjadi kabar baik bagi ekspor
Indonesia. Kondisi rupiah yang mulai pulih pada triwulan I 2016 berpotensi
menjadi momentum bagi para pelaku ekspor Indonesia. Apresiasi sebesar 0,55%
(ptp) dan ditutup pada level Rp13,118 per dolar AS terjadi pada rupiah di bulan
April 2016. Pulihnya rupiah didukung oleh ekspektasi positif terhadap
perekonomian domestik yang menunjukkan kondisi stabilitas makroekonomi dan
proyeksi pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik. Hal ini dapat berdampak
positif bagi ekspor Indonesia untuk terus menunjukkan tren menaik di masa yang
akan datang dengan diiringi kestabilan inflasi, dan perbaikan sisi logistik. Meningkatnya
ekspor selanjutnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih
baik ke depan.
Maka, apapun
yang terjadi pada rupiah, baik itu melemah atau menguat, semua memiliki momentumnya
sendiri bagi sektor-sektor perekonomian. Salah satunya ialah momentum kinerja
ekspor yang dapat terwujud baik pada saat rupiah sedang ‘lemah’ maupun saat sedang
dalam masa ‘pemulihan’.
Situbondo,
8 Juni 2016






0 komentar:
Posting Komentar