Transmisi
kebijakan moneter melalui suku bunga acuan yang dilakukan oleh Bank Indonesia
pada bulan Mei 2016 berfokus pada beberapa hal. BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk
mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan stimulus
pertumbuhan ekonomi (Sindo, Senin/ 30 Mei 2016). Fokus tersebut dengan tetap
memperhatikan pada upaya pengendalian inflasi. Terutama sembari menanti
datangnya bulan Ramadhan dimana gejolak inflasi sering mengalami ke’labil’an.
BI
Rate tetap dipertahankan pada angka 6,75%. Begitu pula 7-day Repo Rate tidak
di’otak-atik’ pada angka 5,50%. Penetapan suku bunga yang dilakukan BI
mengingat perekonomian global masih dinilai lesu. Sekalipun The Fed berencana untuk menaikkan suku
bunga acuan, namun tidak seberapa besarnya.
Tingkat
inflasi pada bulan Ramadhan selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Hal
ini dikarenakan permintaan khususnya pada barang konsumsi meningkat saat bulan
Ramadhan. Permintaan komoditas bahan kebutuhan pokok di pasar yang meningkat
saat bulan Ramadhan seringkali menjadi penyumbang inflasi terbesar bagi
perekonomian, terlebih di Indonesia yang memiliki komunitas muslim terbesar di
dunia.
BI
merilis data laporan Triwulan I 2016 yang menunjukkan bahwa perekonomian
Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif. Perkembangan tersebut didukung
oleh stabilitas makroekonomi yang semakin baik, begitu pula dengan sistem
keuangan yang cenderung semakin positif. Kestabilan makroekonomi terlihat dari
tingkat inflasi yang rendah dan defisit transaksi berjalan yang relatif stabil.
Dari sisi nilai tukar, rupiah tetap terjaga dan cenderung menguat dalam
beberapa hari terakhir pada Triwulan I 2016. Penguatan Rupiah tersebut sebesar
3,96% dan berlanjut pada April 2016 sebesar 0,55% dan ditutup di level Rp13.188
per dolar AS. Alasan menguatnya Rupiah berasal dari kondisi domestik yang
didukung oleh persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia karena kestabilan
makroekonomi tetap terjaga sehingga menimbulkan optimisme terhadap pertumbuhan
ekonomi di masa yang akan datang. Sementara dari sisi eksternal, faktor
pelonggaran kebijakan moneter di sebagian negara maju menjadi pendorong penguatan
Rupiah.
Kebijakan
moneter yang cenderung ekspansif menjelang Ramadhan boleh dikatakan untuk
menstimulus sisi produksi agar permintaan dapat diimbangi dengan penawaran yang
cukup. Apabila tingkat suku bunga tetap bahkan cenderung menurun akan lebih
baik agar para investor menaikkan investasinya. Seiring dengan peningkatan
investasi, supply barang dan jasa di
bulan Ramadhan dapat terpenuhi tanpa mengalami excess demand yang mendorong inflasi.
Memang
tidak bisa dipungkiri kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok pada bulan
Ramadhan sudah pasti terjadi. Namun, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan
mengena diharapkan inflasi yang terjadi tidak akan terlalu tinggi sehingga
masyarakat tidak terlalu ‘merana’ akan kebutuhan yang semakin tak bisa
terpenuhi. Setidaknya, mereka bisa beranggapan bahwa Ramadhan bukan ‘momok’
bagi harga sembako dan barang-barang yang dibutuhkan di bulan Ramadhan dan
menjelang hari raya idul fitri. Dan juga, berkah ramadhan dapat mereka raih
tanpa khawatir akan melonjaknya harga yang sering menganggu kekhusyukan.
Situbondo,
7 Juni 2016






0 komentar:
Posting Komentar