Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Menjelang Ramadhan, Kebijakan Tetap Ekspansif



Transmisi kebijakan moneter melalui suku bunga acuan yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada bulan Mei 2016 berfokus pada beberapa hal. BI  memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan stimulus pertumbuhan ekonomi (Sindo, Senin/ 30 Mei 2016). Fokus tersebut dengan tetap memperhatikan pada upaya pengendalian inflasi. Terutama sembari menanti datangnya bulan Ramadhan dimana gejolak inflasi sering mengalami ke’labil’an.
BI Rate tetap dipertahankan pada angka 6,75%. Begitu pula 7-day Repo Rate tidak di’otak-atik’ pada angka 5,50%. Penetapan suku bunga yang dilakukan BI mengingat perekonomian global masih dinilai lesu. Sekalipun The Fed berencana untuk menaikkan suku bunga acuan, namun tidak seberapa besarnya.
Tingkat inflasi pada bulan Ramadhan selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan permintaan khususnya pada barang konsumsi meningkat saat bulan Ramadhan. Permintaan komoditas bahan kebutuhan pokok di pasar yang meningkat saat bulan Ramadhan seringkali menjadi penyumbang inflasi terbesar bagi perekonomian, terlebih di Indonesia yang memiliki komunitas muslim terbesar di dunia.
BI merilis data laporan Triwulan I 2016 yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif. Perkembangan tersebut didukung oleh stabilitas makroekonomi yang semakin baik, begitu pula dengan sistem keuangan yang cenderung semakin positif. Kestabilan makroekonomi terlihat dari tingkat inflasi yang rendah dan defisit transaksi berjalan yang relatif stabil. Dari sisi nilai tukar, rupiah tetap terjaga dan cenderung menguat dalam beberapa hari terakhir pada Triwulan I 2016. Penguatan Rupiah tersebut sebesar 3,96% dan berlanjut pada April 2016 sebesar 0,55% dan ditutup di level Rp13.188 per dolar AS. Alasan menguatnya Rupiah berasal dari kondisi domestik yang didukung oleh persepsi positif terhadap perekonomian Indonesia karena kestabilan makroekonomi tetap terjaga sehingga menimbulkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Sementara dari sisi eksternal, faktor pelonggaran kebijakan moneter di sebagian negara maju menjadi pendorong penguatan Rupiah.
Kebijakan moneter yang cenderung ekspansif menjelang Ramadhan boleh dikatakan untuk menstimulus sisi produksi agar permintaan dapat diimbangi dengan penawaran yang cukup. Apabila tingkat suku bunga tetap bahkan cenderung menurun akan lebih baik agar para investor menaikkan investasinya. Seiring dengan peningkatan investasi, supply barang dan jasa di bulan Ramadhan dapat terpenuhi tanpa mengalami excess demand yang mendorong inflasi.
Memang tidak bisa dipungkiri kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok pada bulan Ramadhan sudah pasti terjadi. Namun, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan mengena diharapkan inflasi yang terjadi tidak akan terlalu tinggi sehingga masyarakat tidak terlalu ‘merana’ akan kebutuhan yang semakin tak bisa terpenuhi. Setidaknya, mereka bisa beranggapan bahwa Ramadhan bukan ‘momok’ bagi harga sembako dan barang-barang yang dibutuhkan di bulan Ramadhan dan menjelang hari raya idul fitri. Dan juga, berkah ramadhan dapat mereka raih tanpa khawatir akan melonjaknya harga yang sering menganggu kekhusyukan.

Situbondo, 7 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar