Pada
bulan Februari lalu harga minyak dunia sempat mengalami penurunan. Hal itu
dikarenakan oleh dua hal yakni karena penemuan teknologi baru oleh amerika
serikat yaitu teknologi shale oil dan
shale gas. Dengan adanya teknologi
baru ni negara maju dan besar ini tidak lagi memiliki ketergantungan terhadap
impor minyak. Sedangkan negara Amerika Serikat sendiri merupakan negara
konsumtif terhadap minyak di dunia. Selain adanya penemuan teknologi baru di
Amerika Serikat (AS) hal lain yang menyebabkan harga minyak mentah dunia
menurun adalah karena perekonomian China yang sempat lemah, hal ini ddi
sebabkan olehmenurunnya pasar properti serta infrastruktur di negara tersebut.
Sedangkan dari produksi minyak sendiri mengalami kelebihan produksi. Dan hal
ini juga disebabkan oleh berkurangnya pasar ekspor minyak di Amerika Serikat
yang disebabkan oleh adanya teknologi baru itu.
Jika
dilihat secara agregat laba perusahaan minyak dunia mencapai titik penurunan
terbesar salam kurun waktu satu tahun belakangan ini. Yang berdampak pada
perusahaan memotong 2/3 dari investasi baik dari kegianan produksi maupun
kegiatan eksplorasi.
Prospek
minyak kedepan di proyeksikan akan tetap mengalami kelebihan pasokan. Apalagi
mengingat ada pengurangan pasokan pada non OPEC seperti halnya AS yang telah
mengurangi pasokan minyaknya karena telah menemukan teknologi baru. Pada
semester kedua 2016 persediaan minyak di perkirakan akan melambat. Pasokan
minyak yang masih banyak merupakan hasil timbunan pada tahun 2015. Cadangan
tersebut cukup untuk menjaga stabilisasi harga minyak dunia dalam jangka
pendek. Manfaat yang di dapatkan dari ini tidak lain adalah pemerintah dapat
menghemat APBN.
Baru
baru ini pada tanggal 7/6/16 kemarin, harga minyak dunia menyentuh 50 dollar AS
per barrel. Adanya kenaikan harga minyak mentah dunia ini di sebabkan oleh
adanya isu bahwa industri minyak di Nigeria akan di tutup. Nigeria merupakan
negara penyuplai minyak mentah di Afrika. Dengan adanya penutupan industri
minyak mentah di Nigeria ini akan berdampak besar pada perekonomian dunia.
Jika
dikaitkan dengan adanya hukum permintaan bahwa permintaan yang terus meningkat
dengan suplai barang yang tetap atau menurun akan mempengaruhi kenaikan harga.
Dengan demikian, jika industri minyak di Nigeria di tutup ini akan
memepengaruhi suplai minyak di beberapa negara. Nah, dikarenakan permintaan
akan minyak mentah dunia yang diproyeksikan akan meningkat dengan berkurangnya
satu penyuplai minyak mentah terbesar dunia maka harga dari minyak mentah dunia
ini tentu akan terus meningkat jika industri minyak mentah di Nigeria ini benar
– benar di tutup. Mengapa? Karena perekonomian dunia atau beberapa negara di
dunia akan kehilangan satu penyuplai minyak mentah dunia. Yang mana kebutuhan
minyak mentah dunia ini tidak ada habisnya justru dengan bertambahnya jumlah
penduduk dunia akan menambah banyak kebutuhan akan minyak. Sehingga perlu
adanya negoisasi ulang mengenai di tutupnya industri minyak di Nigeria.
Dulunya,
lonjakan harga pernah terjadi pada tahun 2008, dimana harganya telah mencapai
147 dollar per barrel, namun hal itu tidak bisa bertahan lama dan pada akhirnya
turun dibawag 40 dollar per barrel di tahun 2009. Penurunan bahkan terjadi
secara signifkan sekali, hal ini dikarenakan oleh naiknya pertumbuhan ekonomi
Tiongkok yang tinggi. Namun, setelah tahun 2009 harga minyak kembali merokat.
Yang mendasari meroketnya harga minyak dan juga harga yang cenderung bertahan
dalam harga yang lebih tinggi ini disebabkan oleh adanya isu kelangkaan pada
minyak dunia. Apalagi mengingat bahwa pada saat itu terjadi kelangkaan pada
pasokan minyak dunia yang terjadi akibat adanya kinflik di beberapa negara
pemasok minyak. Negara tersebut di antaranya yaitu negara Timur Tengah, seperti
Suriah, Mesir, dan juga Libya.
Penurunan
harga minyak sejak kisaran tahun 1986 – 2000 dipicu oleh terjadinya kelebihan
pasokan minyak. Apalagi ditambahnya oleh adanya industri pemasok baru yaitu
Irak dan Iran. Saat ini harga minyak justru terus melemah, hal ini bisa terjadi
sebab permintaan minyak kali ini terus menurun. Yang terjadi saat ini,
fluktuasi harga pada minyak disebabkan oleh turunnya permintaan yang
menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan minyak.
Kedepannya
di perkirakan situasi pasar minyak dunia akan memiliki potensi untuk mengalami
kelebihan pasokan. Dalam artian bahwa siklus harga yang rendah saat ini akan
cenderung bertahan lama. Terkecuali adanya faktor – faktor yang diluar
kebiasaan terjadi misalkan perang maka harga akan sedikit kompetitif. Namun
tentu kita tidak berharap akan terjadinya suatu perang. Untuk tahun – tahun
selanjutnya kita harus tetap berantisipasi pada fluktuasi harga yang terjadi.
Sehingga pemerintah dapat mengatasi hal – hal yang mungkin terjadi dan dapat
mengatasinya dengan suatu kebijakan.
Nur
Bidayah, Moneter 2013 Universitas Jember,






0 komentar:
Posting Komentar