Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

FLUKTUASI INFLASI DAN PENGANGGURAN DI INDONESIA



FLUKTUASI  INFLASI DAN PENGANGGURAN DI INDONESIA
Oleh Zannatul Maulida
Konsentrasi Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember

INFLASI
Menurut Bodie dan Marcus (2001:331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi adalah salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan naiknya harga-harga barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai uang.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa yang pada umumnya berlangsung secara terus menerus. Jika inflasi mengalami peningkatan, maka harga barang dan jas adi luar ngeri mengalami kenaikan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut memicu turunnya nilai mata uang. Dengan demikian, inflasi dapat menyebabkan menurunnya nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.
Dampak dari terjadinya inflasi yaitu inflasi menurunkan daya beli masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai tabungan untuk mengendalikan inflasi, tingginya inflasi menghambat untuk investasi produktif dalam jangka panjang dikarenakan tingginya ketidakpastian, akantetapi mendorong investasi dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang akibat dari tingginya inflasi dapat menyebabkan petumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.
Kebijakan Moneter Inflation Targeting Framework (ITF) merupakan kerangka kerja yang secara transparan dan konsisten diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi beberapa tahun ke depan yang secara eksplisit ditetapkan dan diumumkan oleh Bank Indonesia (BI). Ada empat prinsip dasar dalam kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF) yaitu :
1.      Mempunyai target utama, yaitu sasaran target inflasi yang dijadikan sebagai prioritas dalam pencapaian (overriding objective) dan sebgai acuan (nominal anchor) untuk kebijakan moneter.
2.      Bersifat sebagai antisipasi (preemptive or forward looking) dengan mengarahkan kebijakan moneter saat ini untuk mencapai sasaran target inflasi ke depan.
3.      Berdasarkan pada analisis, prakiraan dan peraturan dari kebijakan tertentu dalam menetapkan pertimbangan respon kebijakan moneter (constrained discretion).
4.      Sesuai dengan prinsip tata kelola yang sehat (good governance)  dengan kejelasan tujuan, konsistensi, transparan dan berakuntabilitas.
Manfaat dari penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) yaitu :
1.      Kebijakan moneter secara lebih jelas dan terfokus.
2.      Komunikasi, transparansi, dan akuntabilitas diperkuat.
3.      Membantu dalam menurunkan atau mengarahkan harapan dari inflasi dan jauh lebih baik dalam mengatasi kejutan inflasi.
4.      Membantu dalam menurunkan volalitas output dalam jangka menegah.
5.      Sudah terbukti dalam menghadapi kejutan guncangan ekonomi yang kurang menguntungkan.
6.      Relative fleksibel dalam mengakomodasi kejutan inflasi temporer yang tidak mengganggu pencapaian sasaran inflasi jangka menengah.
7.      Sejalan dengan independensi bank sentral dalam melaksanakan kebijakan moneter.
Tingkat inflasi yang rendah dan stabil merupakan syarat dasar dalam mencapai pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peran Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral Indonesia dalam mengontrol tingkat inflasi, control Bank Indonesia (BI) sangat terbatas karena tingkat inflasi dipengaruhi oleh beberapa banyak faktor. Maka, Bank Indonesia (BI) akan tetap mengeluarkan mengenai assessment menegenai perkembangan kondisi perekonomian khususnya terhadap tekanan oleh inflasi. Inflasi tidak hanya dilakukan melalui kebijakan moneter saja, melainkan juga dengan kebijakan ekonomi makro lain seperti kebijakan fiscal, serta kebijakan dalam sector riil.
Upaya pengendalian inflasi, sasaran akhir dari kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) di masa depan pada dasarnya lebih diarahkan untuk menjaga inflasi. Dikarenakan kecenderungan perkembangan bank sentral di dunia yang banyak yang beralih untuk memfokuskan diri dalam upaya pengendalian inflasi. Alasan yang mendasari adanya perubahan yaitu pertama, bukti empiris menunjukkan bahwa  dalam jangka panjang kebijakan moneter mempengaruhi tingkat inflasi, sedangkan kebijakan moneter tidak dapat mempengaruhi variabel riil seperti pertumbuhan output maupun tingkat pengangguran. Kedua, pencapaian inflasi yang rendah merupakan syarat dasar untuk tercapainya sasaran instrument ekonomi makro lainnya, seperti pertumbuhan pada tingkat kapasitas penuh (full employment) dan penyediaan lapangan kerja secara luas. Ketiga, penetapan tingkat inflasi yang rendah sebagai tujuan akhir dari kebijakan molneter yang menjadi nominal anchor sebagai kegiatan ekonomi. Strategi yang di gunakan Bank Indonesia dalam mencapai sasaran inflasi di tingkat yang rendah yaitu mengkaji efektivitas instrument moneter dan jalur transmisi kebijakan moneter, menentukan sasaran akhir dari kebijakan moneter, mengidentifikasi variable yang menyebabkan tekanan inflasi, serta memformulasikan respon dari kebijakan modern. Sebagai sasaran akhir dari laju inflasi diperoleh dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai sasaran akhir dari kebijakan moneter dan laju inflasi inti (core atau underlying inflation) sebagai sasaran operasional. Terdapat dua pengertian dari inflasi inti (core atau underlying inflation).  Pertama, inflasi inti (core atau underlying inflation) digunakan sebagai komponen inflasi yang cenderung bersifat tetap atau persisten component dalam setiap pergerakan laju inflasi dan yang kedua inflasi inti (core atau underlying inflation) digunakan sebagai kecenderungan perubahan harga secara umum (generalized component).
Dalam pengoprasionalnya, Bank Indonesia (BI) tidak menggunakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai acuan dalam mengendalikan kebijakan moneter, namun menggunakan inflasi inti. Dikarenakan inflasi inti (core atau underlying inflation) dapat memberikan signal yang tepat dalam mengatur kebijakan moneter. Seperti contoh dalam kasus, terjadi gangguan dalam permintaan (demand shock) yang menyebabkan inflasi tinggi, maka respon dari Bank Sentral yaitu akan mengetatkan jumlah uang yang beredar sehingga tingkat inflasi dapat ditekan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral tersebut, harus menyesuaikan dengan keadaan dinamika pertumbuhan ekonomi dalam perekonomian. Contoh kasus yang sebaliknya, dimana tingginya inflasi dikarenakan menurunnya sisi penawaran (supply side), misal terjadi kenaikan harga makanan yang dikarenakan oleh musim kering, maka jika Bank Sentral mengeluarkan kebijakan untuk memperketat uang maka kondisi ini dapat memperburuk atau menurunkan tingkat harga dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga respon yang harus dilakukan oleh Bank Sentral ialah melonggarkan kebijakan likuiditas perekonomian justru diperlukan untuk merangsang peningkatan penawaran.
Dalam menetapkan target, Bank Indonesia (BI) menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai titik targetnya. Alasan mengapa dipilihnya Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai target yang digunakan oleh Bank Sentral  yaitu merupakan alat ukur atau indicator yang tepat dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, karena Indeks Harga Konsumen (IHK) digunakan untuk mengukur indeks biaya hidup konsumen. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang reliable jika dibandingkan dengan indeks harga lain, sehingga hasil pengukuran Indeks Harga Konsumen (IHK) selalu memiliki kualitas yang lebih baik dan tersedia secara tepat waktu.
Tekanan terhadap inflasi dilihat dari asalnya dibedakan menjadi dua yaitu terdiri dari berasal dari dalam negeri (domestic pressures) dan berasal dari luar negeri (external pressures). Tekanan dalam negeri biasanya disebabkan oleh adanya gangguan dari sisi penawaran dan permintaan serta kebijakan yang dikelurakan oleh isntansi lain di luar Bank Indonesia, seperti kebijkan pemerintah dalam pengahapusan subsidi, pajak, dll. Gangguan dari sisi penawaran dapat disebabkan oleh terjadinya bencana alam, gangguan proses distribusi yang tidak lancar dan adanya kerusuhan social yang mengakibatkan terputusnya pasokan dari luar daerah. Sedangkan gangguan dari sisi permintaan yaitu jika otoritas moneter menerapkan kebijakan uang longgar. Dan tekanan inflasi dari external pressures (berasal dari luar negeri) biasanya gangguan dari sisi kondisi perekonomian global.
Dalam pasal 58 Undang-undang (UU) Bank Indonesia (BI) yang baru disebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) wajib menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka melalui media massa pada setiap awal tahun anggaran yang memuat rencana kebijakan dan menetapkan sasaran laju inflasi serta perkembangan kondisi perekonomian dan keuangan. Pengumuman tersebut mengandung makna yang penting dalam tranparansi dan menunjukkan komitmen Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan laju inflasi. Bagi masyarakat, target dan sasaran kebijakan moneter tersebut dapat menjadi arah mengenai kondisi perekonomian di masa yang akan datang sehingga masyarakat dapat merencanakan kegiataan perekonomian mereka dengan lebih baik. Dalam jangka menengah dan panjang, laju inflasi diharapkan bisa ditekan sebesar 5%. Dalam jangka pendek inflasi dipertahankan dibawah sigle digit. Namun, dengan berbagai kebijakan dalam menyesuaikan harga barang yang dikendalikan oleh pemerintah dapat memberi tekanan inflasi secara signifikan.
Hiperinflasi merupakan keadaan inflasi yang sangat tinggi . jika suatu negara mengalami hiperinflasi maka dapat dipastikan negara tersebut jumlah pengangguran di negara tersebut meningkat secara drastic. Dikarenakan kenaikan harga yang tinggi, maka perusahaan mengambil tindakan dengan mengurangi biaya untuk produksi dengan  cara mengurangi tenaga kerja. Sehingga, angka pengangguran yang tinggi tidak bisa dihindari dan mengkatkan perekonomian mengalami kelambanan. Maka, hubungan inflasi dan pengangguran sangat berkaitan.

PENGANGGURAN
Definisi pengangguran :
Menurut Mankiw (2003 : 154) Pengangguran merupakan masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah berat.
Menurut Asyad (1997), menyatakan bahwa adanya hubungan yang erat di antara tingginya pengangguran dan kemiskinan. Sebagian masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau part time berada dikelompok masyarakat yang miskin. Sedangkan masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap dipemerintahan atau swasta biasanya termasuk kelompok masyarakat menengah ke atas. Dan masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan merupakan kelompok masyrakat miskin.
Menurut Sukirno (2008 :13) pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secarsa aktif sedang mencari pekerjaan tetapi tidak memperoleh pekerjaan yang diinginkan.
Menurut Murni (2006: 197) pengangguran adalah orang-orang yang usianya berada dalam usia amgkatan kerja dan sedang mencari kerja.
Pengangguran dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya, yaitu :
a.       Pengangguran friksional adalah pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seorang pekerja untuk meninggalkan pekerjaannnya dan mencari kerja yang jauh lebih baik sesuai dengan keinginannya. Pengangguran friksional yaitu pengangguran yang sifatnya sementara karena disebabkan oleh adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan penyedia lapangan pekerjaan.
b.      Pengangguran structural adalah pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur perekonomian seperti menurunnya beberapa sector produksi yang meyebabkan  kegiatan produksi menurun dan pekerja dihentikan. Pengangguran strukural adalah keadaan dimana pencari pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh penyedia lapangan pekerjaan. Semakin maju suatu perekonomian di suatu negara maka akan meningkatkan kualitas kebutuhan sumber daya manusia dari sebelumnya.
c.       Pengangguran kongjungtur, adalah pengangguran yang disebabkan oleh adanya kelebihan pengangguran alamiah akibat dari pengurangan dalam permintaan agregat.
Tingkat pengangguran (Unemployment rate) yaitu untuk mengukur banyaknya angkatan kerja yang tidak bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan atau mengaharapkan untuk dipanggil bekerja kembali. Biaya terbesar yang diakibatkan oleh pengangguran adalah turunnya produksi. Masyarakat yang tidak bekerja tidak dapat berproduksi. Terdapat jenis pengangguran, menurut Sukirno (2008 : 330) jenis pengangguran berdasarkan jam kerja dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a.       Pengangguran tersembunyi yaitu pengangguran yang terjadi dikarenakan adanya keadaan dimana suatu jenis kegiatan ekonomi dijalankan oleh tenaga kerja yang jumlahnya melebihi dri yang diperlukan.
b.      Pengangguran musiman yaitu keadaan pengangguran pada masa tertentu dalam satu tahun.
c.       Setengah menganggur (under employment) yaitu keadaan dimana pengangguran bekerja jauh lebih rendah dari jam kerja normal.
d.      Pengangguran terbuka (open unemployment) yaitu tenaga kerja yang benar tidak mempunyai pekerjaan.
Pertumbuhan angkatan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan lapangan pekrjaan yang diinginkan. Lapangan pekerjaan yang relative rendah, akan mengakibatkan masalah pengangguran yang serius.Terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Pengangguran terbuka di Indonesia saat ini diperkiran mencapai rata-rata sekitar 10% dari seluruh angkatan kerja di perkotaan.
KURVA PHILLIPS (PHILLIP’S CURVE)
Kurva Phillips merupakan trade off antar inflasi dan pengangguran. Tradeoff  jangka pendek antara inflasi dan pengangguran, juga penting untuk memahami biaya relatif ekonomi dari inflasi dan pengangguran. Kurva Phillips adalah suatu cara untuk menunjukkan penawaran agregat karana inflasi dan pengangguran, karena indicator makroekonomi tersebut merupakan ukuran kinerja perekonomian yang penting. Kurva Phillips (Phillips Curve) dalam bentuk modern menyatakan bahwa tingkat inflasi tergantung pada tiga kekuatan, yaitu dari inflasi yang diharapkan, deviasi pengangguran alamiah atau disebut pengangguran siklis, dan guncangan dari penawaran. Dapat memberikan masukan bagi pembuat kebijakan sebagai bahan evaluasi tradeoff. Pembuat kebijakan akan memilih kombinasi biaya yang paling murah antara inflasi dan pengangguran.
SEJARAH KURVA PHILLIPS (PHILLIP’S CURVE) MODERN
Kurva Phillips diambil dari nama belakang ekonom kelahiran New Zealand A.W. Phillips. Ketika  Phillips mengamati adanya hubungan negative antara tingkat pengangguran dan tingkat inflasi dalam suatu data upah di Inggris. Kurva Phillips Modern yang digunakan oleh para ekonom saat ini terdapat tiga hal yang berbeda dari yang dipelajari  Phillips. Adapun tiga perbedaan tersebut yaitu :
1.      Kurva Phillips Modern mensubtitusi inflasi harga dengan inflasi upah.
2.      Kurva Phillips Modern meliputi inflasi yang diharapkan.
3.      Kurva Phillips Modern meliputi guncangan penawaran.
Dua tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan yaitu menekan laju inflasi dan menekan tingkat pertumbuhan pengangguran. Akantetapi, indicator makro ekonomi inflasi dan pengangguran mbergerak dalam arah berlawanan.
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI INFLASI DAN PENGANGGURAN
Kebijakan fiscal
Melalui kebijakan fiscal masalah pengangguran dan inflasi dapat diatasi. Kebijakan fiscal merupakan langkah pemerintah dalam memuat perubahan dibidang pengeluaran pemerintah dan perpajakan umtuk mempengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian (Indriayu, 2009). Berikut merupakan jenis kebijakan fiscal :
1.      Kebijakan fiscal ekpansif (expansionary fiscal policy) yaitu kebijakan menaikkan belanja negara dan menurunkan tingkat pajak netto. Tujuan dari kebijakan ini yaitu untuk meningkatkan daya beli masyarakat . kebijakan ini dikeluarkan pada saat perekonomian mengalami depresi atau resesi dan pada tingkat pengangguran tinggi.
2.      Kebijkan fiscal kontraktif (contractionary fiscal policy) yaitu kebijakan menurunkan belanja negara dan menaikkan tingkat pajak. Tujuan dari kebijakn ini yaitu untuk menurunkan daya beli masyarakat dn mengatasi inflasi.
Kebijakan Moneter
Merupakan kebijkan pemerintah melalui bank sentral untuk  mempengaruhi pernawaran uang dalam perekonomian atau mengubah suku bunga, dengan tujuan untuk mempengaruhi pengeluaran agregat,\. Berikut merupakan jenis kebijakan dalam mengatasi masalah inflasi dan pengangguran. Jenis-jenis kebijakan moneter :
1.      Kebijakan moneter ketat (tight money policy) yaitu untuk mengurangi atau membatsi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dikeluarkan pada saat perekonomian mengalami inflasi.
2.      Kebijkan moneter longgar (easy money policy) yaitu untuk menambah jumlah uang yang beredar. Tujuan dari kebijkan ini dilakukan untuk mengatsi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat  pada saat perkonomian mengalami rsesi atau depresi.

0 komentar:

Posting Komentar