Lima
Indicator Makro Ekonomi
Oleh
Zannatul Maulida
Konsentrasi
Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Pemerintah dianggap
gagal dalam merealisasikan target pembangunan di dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Menganggap
semua asumsi makro ekonomi meleset. Merupakan kebijakan pemerintah dalam sector
kebijakan fiscal.
Sebelumnya ada lima
indicator makro ekonomi yang dikatakan
oleh Presiden Joko Widodo yaitu
indicator pertumbuhan ekonomi, indicator angka pengangguran, indicator
angka kemiskinan dan indicator ketimpangan ekonomi dimana kelima indicator
makro ekonomi tersebut dianggap meleset tidak tepat sasaran atau tidak sesuai
dengan target yang direncanakan. Kelima indicator makroekonomi yan disebutkan
oleh Bapak Priseden dianggap gagal dan tidak terealisasikan dalam target
pembangunan dalam APBN tahun 2015. Hanya satu indikator makro ekononomi yang
dapat dikatakan berhasil yaitu inflasi. Sebab inflasi pada akhir tahun 2015
rendah.
Menurut sejumlah ekonom
, rendahnya inflasi pada akhir tahun 2015 bukan karena keberhasilan pemerintah
dalam menjaga harga barang dan jasa melainkan disebabkan oleh faktor eksternal (dari
luar negeri) yaitu merosotnya harga komoditas di pasar internasional.
Di tengah merosotnya
harga komoditas di pasar internasional, harga minyak mentah menyentuh level 30
dollar AS per barrel hal ini yang menyebabkan laju inflasi mengalami penurunan,
bukan hanya di Indonesia saja inflasi mengalami penurunan tetapi juga
dibeberapa negara-negara lain yang ikut merasakan dampak dari turunnya harga
minyak tersebut.
Target inflasi didalam
APBNP tahun 2015 sebesar 5 persen, dalam realisasi inflasi sepanjang tahun 2015
sekitar 2,8 persen sampai dengan 2,9 persen . Inflasi bukan hanya disebabkan
oleh faktor eksternal (dari luar negeri) yaitu merosotnya harga komoditas
barang internasional , tetapi inflasi juga disebabkan oleh faktor internal
(dari dalam negeri). Inflasi yang rendah juga disebabkan oleh melemahnya daya
beli masyarakat sehingga menyebabkan konsumsi rumah tangga turun. Definisi dari
inflasi, Menurut Bodie dan Marcus (2001:331) inflasi merupakan suatu nilai
dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi
adalah salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan
naiknya harga-harga barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai
uang. Dampak dari terjadinya inflasi yaitu Inflasi menurunkan daya beli
masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai tabungan untuk
mengendalikan inflasi, tingginya inflasi menghambat untuk investasi produktif
dalam jangka panjang dikarenakan tingginya ketidakpastian, akantetapi mendorong
investasi dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang, akibat dari tingginya
inflasi dapat menyebabkan petumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.
Kondisi ini
mengakibatakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 mengalami perlambatan. Dari
target yang diperkirakan 5,5 persen
dalam realita pertumbuhan ekonomi
pada tahun 2015 menyentuh di level 4,72 persen. Sebelumnya Bank Indonesia (BI)
memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 4,8 persen. Akibat dari
melesetnya target pertumbuhan ekonomi tahun 2015 berdampak pada meningkatnya
pengangguran dan kemiskinan. Sementara itu, tingkat inflasi pada tahun 2015 sebesar 2,85 persen.
Definisi dari
pengangguran, menurut Mankiw (2003 : 154) Pengangguran merupakan masalah
makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah
berat. Menurut Asyad (1997), menyatakan bahwa adanya hubungan yang erat di
antara tingginya pengangguran dan kemiskinan. Sebagian masyarakat, yang tidak
mempunyai pekerjaan tetap atau part time berada dikelompok masyarakat yang
miskin. Sedangkan masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap diperintah atau
swasta biasanya termasuk kelompok masyarakat menengah ke atas. Dan masyarakat
yang tidak mempunyai pekerjaan merupakan kelompok masyarakat miskin.
Pengangguran terbuka
merupakan jumlah angkatan kerja yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah presentase jumlah pengangguran
terhadap jumlah angkatan kerja. Menurut Badan
pusat Statistik (BPS) pengangguran terbuka meliputi mereka yang tak punya
pekerjaan dan mencari kerja, mereka yang tak punya pekerjaan dan mempersiapkan
usaha, mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena
merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan yang terakhir mereka yang sudah
punya pekerjaan, tetapi masih belum memulai bekerja. Pengertian dari jumlah angkatan kerja yaitu penduduk
usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau mempunyai pekerjaan namun
sementara tidak bekerja dan pengangguran.
Pada bulan Agustus 2015,
pengangguran terbuka tercatat sejumlah 7,56 juta jiwa atau dalam persen sebesar
6,18 persen dari total angkatan kerja sejumlah 122,4 juta jiwa. Jumlah ini naik
sebesar 5,94 persen dibandingkan dengan periode tahun 2014 yang jumlahnya
sebesar 7,24 juta jiwa.” di kutip Kompas.com, Kamis (31/12/2015).
Terdapat
definisi-definisi yang baku dari kemiskinan dan dapat diterima secara umum, hal
ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks
dan dalam pemacahannya pun tidak mudah.
Menurut para ahli kemiskinan itu bersifat multidimensional. Artinya
karena kebutuhan manusia itu berbagai macam maka kemiskinan pun memliki banyak
aspek . dari sisi lain kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu situasi
atau kondisi yang dialami oleh seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu
meyelanggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (Bappenas,
2002). Masyarakat miskin selalu berada pada kondisi ketidakmampuan dan ketidak
berdayaan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Tingkat angka
kemiskinan akhir tahun 2015 sebesar 10,3 persen, target penurunan pun mengalami
kegagalan. Sebab tingkat penurunan pada bulan maret 2015 sudah mencapai 11,2
persen. Dan tingkat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga jauh dari target
yaitu dengan target Rp 12.500. berdasarkan kur Bank Indonesia (BI) nilai yukar
rupiah pada akhir tahun berada di posisi level Rp.13.788 per dollar AS (Amerika
Serikat).
Selain indicator yang
terlihat (fisik) pemerintah seharusnya menambahkan indicator lain yaitu indek
pembangunan manusia atau yang di sebut dengan human development index supaya lebih utuh dan menyeluruh. Indicator
tersebut semisal tingkat pendidikan, tingkat pendapatan perkapita, tingkat
distribusi pendapatan masyarakat, dan tingkat kesehatan masyarakat. Indicator
seperti itu juga penting untuk
menggambarkan suatu keberhasilan pembangunan yang utuh dan menyeluruh. Bukan
hanya dilihat dari indicator (fisik) seperti lima indicator makro ekonomi yang
disebutkan oleh Bapak Presiden diatas yaitu indicator pertumbuhan ekonomi,
indicator angka pengangguran, indicator angka kemiskinan dan indicator ketimpangan
ekonomi. Maka indicator indek pembangunan manusia atau yang di sebut dengan human development index juga penting
untuk dicantumkan dalam merealisasikan target pembangunan yang di lakukan oleh
pemerintah.
Selain itu, adanya
keseimbangan atau perpaduan dari kebijakan fiscal yang dilakukan oleh
pemerintah dan kebijakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah melalui
otoritas moneter supaya dalam melaksanakan realisasi target pembangunan tidak
terjadi kegagalan, karena kedua kebijakan tersebut memilki tujuan target sama.






0 komentar:
Posting Komentar