Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Lima Indicator Makro Ekonomi



Lima Indicator Makro Ekonomi
Oleh Zannatul Maulida
Konsentrasi Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember

Pemerintah dianggap gagal dalam merealisasikan target pembangunan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara  Perubahan (APBN-P) 2015. Menganggap semua asumsi makro ekonomi meleset. Merupakan kebijakan pemerintah dalam sector kebijakan fiscal.
Sebelumnya ada lima indicator makro ekonomi  yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo yaitu  indicator pertumbuhan ekonomi, indicator angka pengangguran, indicator angka kemiskinan dan indicator ketimpangan ekonomi dimana kelima indicator makro ekonomi tersebut dianggap meleset tidak tepat sasaran atau tidak sesuai dengan target yang direncanakan. Kelima indicator makroekonomi yan disebutkan oleh Bapak Priseden dianggap gagal dan tidak terealisasikan dalam target pembangunan dalam APBN tahun 2015. Hanya satu indikator makro ekononomi yang dapat dikatakan berhasil yaitu inflasi. Sebab inflasi pada akhir tahun 2015 rendah.
Menurut sejumlah ekonom , rendahnya inflasi pada akhir tahun 2015 bukan karena keberhasilan pemerintah dalam menjaga harga barang dan jasa melainkan disebabkan oleh faktor eksternal (dari luar negeri) yaitu merosotnya harga komoditas di pasar internasional.
Di tengah merosotnya harga komoditas di pasar internasional, harga minyak mentah menyentuh level 30 dollar AS per barrel hal ini yang menyebabkan laju inflasi mengalami penurunan, bukan hanya di Indonesia saja inflasi mengalami penurunan tetapi juga dibeberapa negara-negara lain yang ikut merasakan dampak dari turunnya harga minyak tersebut.
Target inflasi didalam APBNP tahun 2015 sebesar 5 persen, dalam realisasi inflasi sepanjang tahun 2015 sekitar 2,8 persen sampai dengan 2,9 persen . Inflasi bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal (dari luar negeri) yaitu merosotnya harga komoditas barang internasional , tetapi inflasi juga disebabkan oleh faktor internal (dari dalam negeri). Inflasi yang rendah juga disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat sehingga menyebabkan konsumsi rumah tangga turun. Definisi dari inflasi, Menurut Bodie dan Marcus (2001:331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi adalah salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan naiknya harga-harga barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai uang. Dampak dari terjadinya inflasi yaitu Inflasi menurunkan daya beli masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak mempunyai tabungan untuk mengendalikan inflasi, tingginya inflasi menghambat untuk investasi produktif dalam jangka panjang dikarenakan tingginya ketidakpastian, akantetapi mendorong investasi dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang, akibat dari tingginya inflasi dapat menyebabkan petumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.
Kondisi ini mengakibatakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 mengalami perlambatan. Dari target yang diperkirakan 5,5 persen  dalam realita pertumbuhan  ekonomi pada tahun 2015 menyentuh di level 4,72 persen. Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 sebesar 4,8 persen. Akibat dari melesetnya target pertumbuhan ekonomi tahun 2015 berdampak pada meningkatnya pengangguran dan kemiskinan. Sementara itu, tingkat  inflasi pada tahun 2015 sebesar 2,85 persen.
Definisi dari pengangguran, menurut Mankiw (2003 : 154) Pengangguran merupakan masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah berat. Menurut Asyad (1997), menyatakan bahwa adanya hubungan yang erat di antara tingginya pengangguran dan kemiskinan. Sebagian masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau part time berada dikelompok masyarakat yang miskin. Sedangkan masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap diperintah atau swasta biasanya termasuk kelompok masyarakat menengah ke atas. Dan masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan merupakan kelompok masyarakat miskin.
Pengangguran terbuka merupakan jumlah angkatan kerja yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah presentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Menurut Badan pusat Statistik (BPS) pengangguran terbuka meliputi mereka yang tak punya pekerjaan dan mencari kerja, mereka yang tak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha, mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi masih belum memulai bekerja. Pengertian  dari jumlah angkatan kerja yaitu penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau mempunyai pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.
Pada bulan Agustus 2015, pengangguran terbuka tercatat sejumlah 7,56 juta jiwa atau dalam persen sebesar 6,18 persen dari total angkatan kerja sejumlah 122,4 juta jiwa. Jumlah ini naik sebesar 5,94 persen dibandingkan dengan periode tahun 2014 yang jumlahnya sebesar 7,24 juta jiwa.” di kutip Kompas.com, Kamis (31/12/2015).
Terdapat definisi-definisi yang baku dari kemiskinan dan dapat diterima secara umum, hal ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks dan dalam pemacahannya pun tidak mudah.  Menurut para ahli kemiskinan itu bersifat multidimensional. Artinya karena kebutuhan manusia itu berbagai macam maka kemiskinan pun memliki banyak aspek . dari sisi lain kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu situasi atau kondisi yang dialami oleh seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu meyelanggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (Bappenas, 2002). Masyarakat miskin selalu berada pada kondisi ketidakmampuan dan ketidak berdayaan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Tingkat angka kemiskinan akhir tahun 2015 sebesar 10,3 persen, target penurunan pun mengalami kegagalan. Sebab tingkat penurunan pada bulan maret 2015 sudah mencapai 11,2 persen. Dan tingkat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga jauh dari target yaitu dengan target Rp 12.500. berdasarkan kur Bank Indonesia (BI) nilai yukar rupiah pada akhir tahun berada di posisi level Rp.13.788 per dollar AS (Amerika Serikat).
Selain indicator yang terlihat (fisik) pemerintah seharusnya menambahkan indicator lain yaitu indek pembangunan manusia atau yang di sebut dengan human development index supaya lebih utuh dan menyeluruh. Indicator tersebut semisal tingkat pendidikan, tingkat pendapatan perkapita, tingkat distribusi pendapatan masyarakat, dan tingkat kesehatan masyarakat. Indicator seperti itu  juga penting untuk menggambarkan suatu keberhasilan pembangunan yang utuh dan menyeluruh. Bukan hanya dilihat dari indicator (fisik) seperti lima indicator makro ekonomi yang disebutkan oleh Bapak Presiden diatas yaitu indicator pertumbuhan ekonomi, indicator angka pengangguran, indicator angka kemiskinan dan indicator ketimpangan ekonomi. Maka indicator indek pembangunan manusia atau yang di sebut dengan human development index juga penting untuk dicantumkan dalam merealisasikan target pembangunan yang di lakukan oleh pemerintah.
Selain itu, adanya keseimbangan atau perpaduan dari kebijakan fiscal yang dilakukan oleh pemerintah dan kebijakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah melalui otoritas moneter supaya dalam melaksanakan realisasi target pembangunan tidak terjadi kegagalan, karena kedua kebijakan tersebut memilki tujuan target sama.

0 komentar:

Posting Komentar