Fundamental
Ekonomi Ujung Tombak Ekonomi
Oleh:
Devi Sylvia Herman
Sebuah
fundamental ekonomi suatu negara penting untuk dijaga, mengapa demikian?
Bagaimana suatu fundamental yang tetap terjaga dalam mempengaruhi ekonomi dan
pelaku pasar saat terjadi suatu goncangan dalam negara?
Fundamental
ekonomi suatu negara harus dijaga karena melalui fundamental ekonomi yang baik
maka sentimen para pelaku pasar atau investor akan negara kita tetap positif.
Fundamental ekonomi memiliki arti suatu
analisis pemeriksaan indikator ekonomi. Seperti pada teror yang terjadi di awal
tahun menunjukkan betapa pentingnya menjaga fundamental ekonomi untuk optimisme
pelaku pasar
Ada 5 fundamental ekonomi yang menyebabkan optimisme ekonomi. Pertama
kepastian kenaikan suku bunga The Fed untuk sekarang dan kedepannya menyebabkan
ketidakpastian dalam pasar keuangan mereda. Kenaikan yang sangat tipis 25
basis poin(bps) sebesar 0,25 – 0,50 persen membawa dampak positif bagi ekonomi Indonesia karena kenaikan tipis
ini hanya dollar AS akan melemah kembali dan dollar AS memiliki saingan baru
yuan Cina yaitu renmibi, dan meski terjadi kenaikan pada suku bunga The Fed
investor akan tetap menanamkan modal pada negar berkembang.
Kedua kinerja neraca pembanyaran pada triwulan ke IV tahun 2015
menunjukkan angka yang positif, karena terjadi surplus pada transaksi modal dan
financial. neraca pembanyaran sendiri adalah suatau gambaran transakasi yang
dilakukan perusahaan dan perseorangan dalam transaksi luar negeri. Ketiga,
meningkatnya cadangan devisa Indonesia yang tercatat US$ 5 Milliar pada awal
bulan dan meningkat pada bulan desember 2015 $ 105.9 billion setara 7.4 bulan
impor. Cadangan devisa meningkat berasal dari ekspor penarikan utang luar
negeri, export minyak, gas dan obligasi global yang diterbitkan untuk memenuhi
kebutuhan valuta asing. Keempat, nilai tukar rupiah pada tahun 2015 yang stabil
dibanding negara lain dan inflasi yang sesuai sasaran sebesar 3,35
persen.meskipun pada tahun 2015 rupiah mengalami tekanan beberapa kali namun
depresiasi rupiah berada pada kisaran 11 persen, lebih baik dari mata uang
Brasil yang tertekan pada 49 persen, Turki yang tertekan pada 33persen dan
negara negara lain yang depresiasi mata uangnya susut sebesar lebih dari 20
persen. Kelima, stabilisasi sitem keuangan yang tetap sehat dan terjaga, yaitu
rasio modal perbankkan dan rasio kredit bermasalah hingga 2015 masih sehat.
Selain itu penanganan cepat dari aparatur negara membuat dampak yang
berkepanjangan dari aksi teror itu dapat diminimalisir. Ketahanan
kondisi perekonomian mungkin akan bereaksi pada saat setelah terjadinya aksi
teror namun dengan kerjasama semua warga negara, aparatur negara dan
pemerintahan, maka kondisi perekonomian dan pasar uang akan kembali pada posisi
semua. Seperti yang terjadi pada bom Thamrin 2016 dimana saat setelah
terjadinya bom sempat tertekan pada level 13.900 per dollar Amerika Serikat
(AS) dan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun sempat melemah
1,72 persen, sepanjang
hari ini, rupiah berada di kisaran 13.821-13.981. dan terdapat 4 mall dijakarta
yang menutup operasionalnya yaitu mall Grand Indonesia, Plaza Indonesia,
Senayan City dan Arion, banyangkan berapa banyak kerugian yang akan di rasakan
akibat penutupan mall tersebut . namun ini semua hanya sesaat karena rupiah apa
keesokan harinya bergerak dengan stabil dengan level 13.909 dan pelemahan IHSG
menjadi terbatas lantaran ada dorongan dari suku bunga acuan turun 25 basis
poin menjadi 7,25 persen. IHSG pun melemah 23,99 poin ke level 4.513.
Lalu
bagaimana fundamental ekonomi pada triwulan pertama tahun 2016.
Petumbuhan ekonomi pada Maret tahun 2016 menunjukkan angka yang positif
yaitu 4,92 persen dari pada Maret tahun 2015
yang sebesar 4.73 persen. Namun angka ini jauh dari perkiraan karena
terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi swasta. Kedua kurs
USD berdasarkan JIBOR menunjukkan tren menurun sampai pada 13.276 di bulan maret 2016. Hal ini didukung oleh
menurunnya suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 6.75 persen selain itu juga
disukung oleh baiknya persepsi terhadap ppergerakan makro ekonomi dan perbaikan
infrastutktur, juga dengan segala kebijkan ekonomi yang memperbaikai iklim
investasi domestik. Dan defisit transaksi berjalan menurut PDB berlaku pada
triwulan pertama tahun 2016 sebesar -4.668 juta dollar lebih kecil daripada triwulan ke empat tahun 2015 yang sebesar -5.075 juta dollar. Didukung oleh
meningkatnya surplus neraca perdagangan Posisi cadangan devisa dalam bulan
impor dan pembanyaran utang luar negeri yaitu setara dengan 7,8 bulan impor dan
cadangan devisa pada bulan April sebesar 107,7 miliar dolar AS
atau setara 8,1 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar
negeri pemerintah.
Dan inflasi yang naik dari 3.35 persen pada tahun 2015 pada bulan
Januari, Februari hingga Maret inflasi berangsur – angsur naik hingga 4.45
persen pada bulan Maret. Hal ini mengindentifikasika daya beli masyarakat naik.
Dan stabilkitas sistem keuangan tetap terjaga karena ditompang dengan katahanan
sistem perbankan dan kinerja sistem keuangan yang semakin membaik, rasio
kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 21,8%, sementara
rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada di kisaran 2,8%
(gross). Pada bulan Maret sisi fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit tercatat
sebesar 8,7% (yoy), meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2%
(yoy). Tranmisi pelonggaran moneter melalui jalur suku bunga dicatat membaik
yaitu dari penuruan suku bunga acuan suku bunga kredit dan deposito perbankan
mengikuti perubahan itu.namu pada tranmisi kebijakan moneter melalui jalaur
kredit peningkatnnya masih sangat tipis.
Tentunya menjaga fundamental ekonomi agar tetap membaik dan menunjukkan
angka yang positif adalah tantang bagi otoritas moneter yaitu BI dan juga
bersama dengan pemerintah. Meningkatkan konsumsi pemerintah guna meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dirasa perlu sperti berbbagai
paket kebijkan yang sudah di keluarkan akhir – akhir ini. Namun tentunya
menjaga stabilitas makroekonomi juga harus tetap diperhatikan oleh Bi dan
pemerintah. Jangan sampai ekspansi pada perekonomian yangh dilakuakan sekarang
malah menyebabkan ketidak stabilan pada makroekonomi yang tentunya akan
berimbas pada perekonomian riil.






0 komentar:
Posting Komentar