Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Fundamental Ekonomi Ujung Tombak Ekonomi



Fundamental Ekonomi Ujung Tombak Ekonomi
Oleh: Devi Sylvia Herman
Sebuah fundamental ekonomi suatu negara penting untuk dijaga, mengapa demikian? Bagaimana suatu fundamental yang tetap terjaga dalam mempengaruhi ekonomi dan pelaku pasar saat terjadi suatu goncangan dalam negara?
Fundamental ekonomi suatu negara harus dijaga karena melalui fundamental ekonomi yang baik maka sentimen para pelaku pasar atau investor akan negara kita tetap positif. Fundamental ekonomi memiliki  arti suatu analisis pemeriksaan indikator ekonomi. Seperti pada teror yang terjadi di awal tahun menunjukkan betapa pentingnya menjaga fundamental ekonomi untuk optimisme pelaku pasar
Ada 5 fundamental ekonomi yang menyebabkan optimisme ekonomi. Pertama kepastian kenaikan suku bunga The Fed untuk sekarang dan kedepannya menyebabkan ketidakpastian dalam pasar keuangan mereda. Kenaikan yang sangat tipis 25 basis poin(bps) sebesar 0,25 – 0,50 persen membawa dampak positif  bagi ekonomi Indonesia karena kenaikan tipis ini hanya dollar AS akan melemah kembali dan dollar AS memiliki saingan baru yuan Cina yaitu renmibi, dan meski terjadi kenaikan pada suku bunga The Fed investor akan tetap menanamkan modal pada negar berkembang.
Kedua kinerja neraca pembanyaran pada triwulan ke IV tahun 2015 menunjukkan angka yang positif, karena terjadi surplus pada transaksi modal dan financial. neraca pembanyaran sendiri adalah suatau gambaran transakasi yang dilakukan perusahaan dan perseorangan dalam transaksi luar negeri. Ketiga, meningkatnya cadangan devisa Indonesia yang tercatat US$ 5 Milliar pada awal bulan dan meningkat pada bulan desember 2015 $ 105.9 billion setara 7.4 bulan impor. Cadangan devisa meningkat berasal dari ekspor penarikan utang luar negeri, export minyak, gas dan obligasi global yang diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan valuta asing. Keempat, nilai tukar rupiah pada tahun 2015 yang stabil dibanding negara lain dan inflasi yang sesuai sasaran sebesar 3,35 persen.meskipun pada tahun 2015 rupiah mengalami tekanan beberapa kali namun depresiasi rupiah berada pada kisaran 11 persen, lebih baik dari mata uang Brasil yang tertekan pada 49 persen, Turki yang tertekan pada 33persen dan negara negara lain yang depresiasi mata uangnya susut sebesar lebih dari 20 persen. Kelima, stabilisasi sitem keuangan yang tetap sehat dan terjaga, yaitu rasio modal perbankkan dan rasio kredit bermasalah hingga 2015 masih sehat.
Selain itu penanganan cepat dari aparatur negara membuat dampak yang berkepanjangan dari aksi teror itu dapat diminimalisir. Ketahanan kondisi perekonomian mungkin akan bereaksi pada saat setelah terjadinya aksi teror namun dengan kerjasama semua warga negara, aparatur negara dan pemerintahan, maka kondisi perekonomian dan pasar uang akan kembali pada posisi semua. Seperti yang terjadi pada bom Thamrin 2016 dimana saat setelah terjadinya bom sempat tertekan pada level 13.900 per dollar Amerika Serikat (AS) dan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun sempat melemah 1,72 persen, sepanjang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.821-13.981. dan terdapat 4 mall dijakarta yang menutup operasionalnya yaitu mall Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Senayan City dan Arion, banyangkan berapa banyak kerugian yang akan di rasakan akibat penutupan mall tersebut . namun ini semua hanya sesaat karena rupiah apa keesokan harinya bergerak dengan stabil dengan level 13.909 dan pelemahan IHSG menjadi terbatas lantaran ada dorongan dari suku bunga acuan turun 25 basis poin menjadi 7,25 persen. IHSG pun melemah 23,99 poin ke level 4.513.
Lalu bagaimana fundamental ekonomi pada triwulan pertama tahun 2016.
Petumbuhan ekonomi pada Maret tahun 2016 menunjukkan angka yang positif yaitu 4,92 persen dari pada Maret tahun 2015 yang sebesar 4.73 persen. Namun angka ini jauh dari perkiraan karena terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan investasi swasta. Kedua kurs USD berdasarkan JIBOR menunjukkan tren menurun sampai pada 13.276 di bulan maret 2016. Hal ini didukung oleh menurunnya suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 6.75 persen selain itu juga disukung oleh baiknya persepsi terhadap ppergerakan makro ekonomi dan perbaikan infrastutktur, juga dengan segala kebijkan ekonomi yang memperbaikai iklim investasi domestik. Dan defisit transaksi berjalan menurut PDB berlaku pada triwulan pertama tahun 2016 sebesar -4.668 juta dollar lebih kecil daripada triwulan ke empat tahun 2015 yang sebesar -5.075 juta dollar. Didukung oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan Posisi cadangan devisa dalam bulan impor dan pembanyaran utang luar negeri yaitu setara dengan 7,8 bulan impor dan cadangan devisa pada bulan April sebesar 107,7 miliar dolar AS atau setara 8,1 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Dan inflasi yang naik dari 3.35 persen pada tahun 2015 pada bulan Januari, Februari hingga Maret inflasi berangsur – angsur naik hingga 4.45 persen pada bulan Maret. Hal ini mengindentifikasika daya beli masyarakat naik. Dan stabilkitas sistem keuangan tetap terjaga karena ditompang dengan katahanan sistem perbankan dan kinerja sistem keuangan yang semakin membaik, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 21,8%, sementara rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) berada di kisaran 2,8% (gross). Pada bulan Maret sisi fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 8,7% (yoy), meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 8,2% (yoy). Tranmisi pelonggaran moneter melalui jalur suku bunga dicatat membaik yaitu dari penuruan suku bunga acuan suku bunga kredit dan deposito perbankan mengikuti perubahan itu.namu pada tranmisi kebijakan moneter melalui jalaur kredit peningkatnnya masih sangat tipis.
Tentunya menjaga fundamental ekonomi agar tetap membaik dan menunjukkan angka yang positif adalah tantang bagi otoritas moneter yaitu BI dan juga bersama dengan pemerintah. Meningkatkan konsumsi pemerintah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dirasa perlu sperti berbbagai paket kebijkan yang sudah di keluarkan akhir – akhir ini. Namun tentunya menjaga stabilitas makroekonomi juga harus tetap diperhatikan oleh Bi dan pemerintah. Jangan sampai ekspansi pada perekonomian yangh dilakuakan sekarang malah menyebabkan ketidak stabilan pada makroekonomi yang tentunya akan berimbas pada perekonomian riil.   

0 komentar:

Posting Komentar