Gara-Gara Gula
Oleh
: Ika Wahyu Cahyani
Target angka inflasi
oleh otoritas moneter dirasa tak terealisasi bulan ini. Padahal, bulan Mei
kemarin pencapaian inflasi berada pada tingkat 3,3 persen. Hal yang memicu
kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok selain karena bertepatan dengan
momentum bulan ramadhan, juga karena adanya indikasi bahwa pasokan barang tidak
mencukupi permintaan. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan diduga
karena adanya taktik permainan dari peara pelaku pasar yang sengaja menimbun
barang untuk tujuan keuntungan semata.
Kali ini, kenaikan
harga gula pasir memberi banyak
kontribusi untuk kenaikan inflasi disamping barang-barang kebutuhan lain,
termasuk beras, telur dan daging. Kenaikannya mencapai tiga ribu rupiah dari
harga sebelumnya. Selain tradisi ramadhan yang memprovokasi kenaikannya, juga
karena tidak adanya stok ketersediaan di prabik gula. Pasalnya, proses
penggilingan baru akan dibuka dibeberapa pabrik gula, sementara barang jadi
dari penggilingan sebelumnya sudah habis.
Kenaikan harga gula
pasir terjadi hampir di keseluruhan wilayah Jawa Timur. Di Kediri, kenaikan
harga gula pasir diperkirakan akan terjadi hingga Juli dan cenderung akan
mempengaruhi harga barang-barang lain untuk naik menjelang lebaran mendatang.
Sementara di Jember, stok persediaan gula pasir sebesar 1677 ton nyatanya belum
mencukupi permintaan pasar, sehingga kenaikan harga yang cukup signifikan juga
disayangkan oleh beberapa pelaku pasar dan konsumen. Bahkan, kenaikan harga
gula pasir di Jember sudah terjadi dari Mei lalu dan menyumbang cukup tinggi
bagi kenaikan inflasi. Lebih-lebih ada dugaan bahwa Jember menduduki peringkat
kedua setelah Sumenep dengan kategori inflasi tertinggi di jawa Timur pada
bulan tersebut.
Momentum seperti
ramadhan dan lebaran memang selalu dihiasi dengan tradisi kenaikan harga-harga
barang, terutama kebutuhan pokok. Sudah barang tentu, baik dari masyarakat,
pemerintah maupun pelaku pasar hafal dengan tradisi tersebut. Bahkan, dari
adanya kenaikan harga barang pada momentum terseut justru dimanfaatkan beberapa
pihak untuk melakukan taktik permainan hanya semata-mata mengejar keuntungan
pribadi. Misalnya, adanya penimbunan barang-barang secara sengaja sehingga stok
barang tidak sesuai dengan permintaan pasar. Bukankah dengan harga setinggi
langit pun barang akan tetap dibeli, jika barang tersebut sangat dibutuhkan
untuk sehari-hari? Hendaknya pemerintah menguayakan persediaan barang tetap
terjaga sehingga kebutuhan permintaan tercukupi, dan menindak secara tegas jika
ada pemain pasar yang melakukan kecurangan, seperti dengan sengaja melakukan
penimbunan.






0 komentar:
Posting Komentar