Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

GARA-GARA GULA



Gara-Gara Gula
Oleh : Ika Wahyu Cahyani

Target angka inflasi oleh otoritas moneter dirasa tak terealisasi bulan ini. Padahal, bulan Mei kemarin pencapaian inflasi berada pada tingkat 3,3 persen. Hal yang memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok selain karena bertepatan dengan momentum bulan ramadhan, juga karena adanya indikasi bahwa pasokan barang tidak mencukupi permintaan. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan diduga karena adanya taktik permainan dari peara pelaku pasar yang sengaja menimbun barang untuk tujuan keuntungan semata.
Kali ini, kenaikan harga gula pasir memberi  banyak kontribusi untuk kenaikan inflasi disamping barang-barang kebutuhan lain, termasuk beras, telur dan daging. Kenaikannya mencapai tiga ribu rupiah dari harga sebelumnya. Selain tradisi ramadhan yang memprovokasi kenaikannya, juga karena tidak adanya stok ketersediaan di prabik gula. Pasalnya, proses penggilingan baru akan dibuka dibeberapa pabrik gula, sementara barang jadi dari penggilingan sebelumnya sudah habis.
Kenaikan harga gula pasir terjadi hampir di keseluruhan wilayah Jawa Timur. Di Kediri, kenaikan harga gula pasir diperkirakan akan terjadi hingga Juli dan cenderung akan mempengaruhi harga barang-barang lain untuk naik menjelang lebaran mendatang. Sementara di Jember, stok persediaan gula pasir sebesar 1677 ton nyatanya belum mencukupi permintaan pasar, sehingga kenaikan harga yang cukup signifikan juga disayangkan oleh beberapa pelaku pasar dan konsumen. Bahkan, kenaikan harga gula pasir di Jember sudah terjadi dari Mei lalu dan menyumbang cukup tinggi bagi kenaikan inflasi. Lebih-lebih ada dugaan bahwa Jember menduduki peringkat kedua setelah Sumenep dengan kategori inflasi tertinggi di jawa Timur pada bulan tersebut.
Momentum seperti ramadhan dan lebaran memang selalu dihiasi dengan tradisi kenaikan harga-harga barang, terutama kebutuhan pokok. Sudah barang tentu, baik dari masyarakat, pemerintah maupun pelaku pasar hafal dengan tradisi tersebut. Bahkan, dari adanya kenaikan harga barang pada momentum terseut justru dimanfaatkan beberapa pihak untuk melakukan taktik permainan hanya semata-mata mengejar keuntungan pribadi. Misalnya, adanya penimbunan barang-barang secara sengaja sehingga stok barang tidak sesuai dengan permintaan pasar. Bukankah dengan harga setinggi langit pun barang akan tetap dibeli, jika barang tersebut sangat dibutuhkan untuk sehari-hari? Hendaknya pemerintah menguayakan persediaan barang tetap terjaga sehingga kebutuhan permintaan tercukupi, dan menindak secara tegas jika ada pemain pasar yang melakukan kecurangan, seperti dengan sengaja melakukan penimbunan.

0 komentar:

Posting Komentar