Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

May Day Menolak Kapitalisme



May Day Menolak Kapitalisme
Oleh : Ika Wahyu Cahyani

Peringatan hari buruh, yang akrab disebut May Day,sudah menjadi bagian dari tradisi dunia. Lahirnya May Day dilatarbelakangi oleh adanya perampasan hak-hak kaum buruh oleh sistem kapitalisme yang dianut oleh sebagian besar kaum barat, padahal kaum buruh telah banyak memberi sumbangan bagi kemajuan ekonomi dan sosial. Berdasarkan kronologi sejarah, tercatat bahwa peringatan hari buruh ini telah berlangsung sejak lama yakni dimulai pada abad ke-19 di Amerika Serikat dan negara Eropa Barat. Sedangkan di Indonesia, hari buruh diperingati sejak tahun 1920, tepatnya setiap tanggal 1 Mei. Namun, pelaksanaannya terhambat ketika masa Orde baru berkuasa dan kembali diresmikan menjadi hari libur nasional pada Mei 2014.
Perayaan May Day, pada dasarnya berfungsi sebagai simbolisasi penolakan sistem kapitalisme yang notabene mengesampingkan kesejahteraan manusia.Sistem kapitalismecenderungmengastakan kedudukan antara pemilik modal dan pekerja/buruh, sementara pemerintah tak berhak ikut campur. Kedudukan pemilik modal dianggap sebagai penguasa, sedangkan kaum buruh hanya sebagai faktor produksi yang dikuasi oleh pemilik modal. Pemilik modal/penguasaini memang sering pula diartikan sebagai pihak swasta yang sepenuhnya memegang kendali atas perekonomian dan berkuasa terhadap pasar. Yang pada akhirnya, kasta antara swasta dan buruh menimbulkan kesenjangan yang berdampak pada kesewenangan terhadap hak-hak buruh oleh penguasa.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kapitalisme tetaplah bertahta namun porsinya lebih kecil. Karena negara menganut sistem ekonomi campuran, pemerintah tetap memiliki andil sebagai regulator. Artinya, swasta dan pemerintah memiliki kekuatan yang seimbang untuk menentukan jalannya roda perekonomian. Meskipun sistem perekonomiannya campuran, nyatanya peringatan May Daytetap mengakar menjadi tradisi di Indonesia dengan dukungan kondisi politik negara yang sedemikian rupa.
Dalam prosesi peringatannya, tradisi May Day di Indonesia seringkali diwarnai dengan berbagai macam tuntutan yang mengatasnamakan kesejahteraan kaum buruh. Tuntutan yang kerap diteriakkan tersebut seolahmenyuarakan aspirasi mereka. Sedangkan bentuk tuntutannya, ditunjukkan melalui demo-demo yang dimeriahkan oleh ribuan buruh. Misalnya, tuntutan kenaikan upah dan pemberian tunjangan yang bahkanberitanya tak jarang menjadi hiasan pemberitaan lokal maupun nasional. Tidak terkecuali soal penghapusan sistem kinerja outsourcing, baik disektor swasta dan BUMN, serta pembatasan sistem PHK oleh pemerintah pernah santer diperbincangkan. Upaya-upaya yang dilakukan itu tidak lain hanya untuk memihak pada kemakmuran kaum buruh.
Seperti May Dayyang terjadi pada tanggal 1 Mei 2016 lalu, berbagai media menayangkan prosesi sakral yang hampir setiap tahun diadakan oleh serikat pekerja dan terselenggarasecara serentak di seluruh Indonesia. Adapun di Jawa Timur, May Day yang jatuh pada hari Minggu (1/5) kemarin, diperingati oleh sekitar empat ribu buruh yang tergabung dalam serikat pekerja. Mereka menunjukkan aksinya didepan kantor Gubernur Jawa Timur yang terletak di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.Dalam aksi tersebut, ribuan buruh menyuarakan aspirasinya dalamdua tuntutan. Yang pertama yaitu kenaikan upah minimum Jawa Timur sebesar tiga puluh persen pada tahun 2017, dan yang kedua, meminta pemerintah lebih tegas mewaspadai dampak MEA melalui penerbitan izin bagi pekerja asing. Karena pendemo menganggap bahwa tuntuannya ini masih sama dengan tuntutan tahun lalu, hanya menunggu pemerintah yang tak kunjung merealisasikannya.
Sebenarnya, pedoman peraturan perundangan-undangan tentang ketenagakerjaaan termasuk perburuhan telah diatur dalam UU no 13 tahun 2003. Namun sayangnya, pemerintah masih belum mampu merealisasikannya secara maksimal sehingga dinilai kurang efektif, bahkanhasilnya dirasa masih tidak kentara. Adanya dugaan bahwa pemerintah masih terintervansi oleh swasta menimbulkan kesan lambat dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan perburuhan.Ketidakcekatannya pemerintah tersebut, akhirnya menjadi alasan terjadinya unjuk rasa serikat buruh dalam setiap peringatan May Day. Padahal, telah disepakati bahwa sistem ekonomi Indonesia adalah campuran dan pemerintah memiliki andil yang sama besar dengan swasta. Intinya, kemutlakan kapetalisme benar-benar telah ditolak oleh May Day karena menyalahi kepentingan kesejahteraan rakyat, khususnya kaum buruh.

0 komentar:

Posting Komentar