HOT MONEY
Aliran modal
masuk (capital inflow) jangka pendek atau yang biasa disebut hot
money akan menjadi buah simalakama yang menyebabkan adanya dilema bagi
perekonomian Indonesia. Di satu sisi, aliran modal ini akan menguntungkan
Indonesia namun juga terdapat sisi negatif apabila aliran modal tersebut tidak
disikapi secara tepat dan bijaksana. Memang pada dasarnya aliran modal ini akan
memperbaiki nilai tukar mata uang rupiah melalui penambahan stok dolar Amerika
di Indonesia. Namun yang menyebabkan adanya dilema adalah aliran modal masuk
yang sebagian besar mengincar surat utang dan obligasi serta hanya bersifat
jangka pendek.
Aliran modal
masuk jangka pendek berarti bahwa para investor dapat menarik kembali modalnya
kapan saja. Ditambah lagi tingginya tingkat bunga yang ditetapkan pada surat
utang dan obligasi. Sebuah racun yang dapat mengguncang perekonomian. Apabila
para investor menarik kembali modalnya secara tiba-tiba mungkin dikarenakan
adanya peningkatan suku bunga The Fed, perekonomian nasional akan terganggu,
sebab negara tidak hanya harus mengembalikan modal masuk tersebut namun juga mempunyai
kewajiban membayar bunga yang tinggi. Hal ini dapat merusak nilai tukar yang
mempunyai efek negatif bagi perekonomian. Anjloknya nilai tukar dapat
meningkatkan harga impor sehingga biaya produksi semakin mahal karena sebagian
besar bahan baku masih tergantung pada hasil impor. Biaya produksi yang mahal
akan menyebabkan harga produk mahal. Hal ini akan mengurangi daya beli
masyarakat dan mengakibatkan pendapatan nasional dari sektor konsumsi
berkurang. Dari sektor perdagangan internasional, selain harga impor yang
meningkat, ekspor pun juga akan menurun karena harga komoditas yang semakin
mahal dan kalah bersaing dengan pasar internasional. Lesunya perekonomian ini
juga akan diperparah oleh investor yang semakin pesimis dengan kondisi
perekonomian Indonesia sehingga investasi juga menurun. Semua ini berarti bahwa
aliran hot money ke Indonesia sangat berbahaya.
Arus modal
masuk yang hanya diparkir di Surat Utang Negara saja tidak akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan tercapai jika arus modal ini
dikucurkan untuk membangkitkan sektor riil terutama sektor industri dan
pertanian yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Apabila aliran modal masuk
ini dikucurkan dalam instrumen lain yang dapat menyentuh sektor riil terutama
dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) khususnya investasi
langsung kepada industri yang menyerap banyak tenaga kerja atau tradable
sector seperti industri manufaktur dan pertanian. Investasi langsung ini
sangat diperlukan bagi perekonomian mengingat permodalan di negara ini sangat
minim. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suntikan investasi pada berbagai
industri dalam industri tradable sector. Apabila investasi ini
ditingkatkan, produktivitas juga akan tinggi dan kebutuhan akan tenaga kerja
juga meningkat terutama tradable sector. Investasi langsung ini juga
dapat diwujudkan dengan dibukanya perusahaan baru untuk mengekspansi perusahaan
menjadi perusahaan multinasional. Pendirian perusahaan baru melalui investasi
langsung ini akan menimbulkan simbiosis mutualisme atau hubungan yang saling
menguntungkan. Selain memiliki pengaruh positif bagi investor berupa keuntungan,
pendirian perusahaan baru ini juga menimbulkan peningkatan pertumbuhan ekonomi
bagi Indonesia karena akan meningkatkan output total dan pendapatan nasional.
Aliran hot
money ini sebenarnya sudah terjadi dari tahun 2010. Ahmad Erani Yustika
dalam bukunya yang berjudul Perekonomian Indonesia: Catatan dari Luar Pagar
menyatakan bahwa aliran hot money ini disebabkan oleh para investor
global yang mulai pulih kepercayaan dirinya melihat Indonesia sebagai salah
satu negara yang prospek ekonominya bagus sehingga dijadikan target penempatan
dana, baik dalam bentuk pembelian saham perusahaan maupun obligasi (SUN dan
SBI). Namun, arus modal tersebut secepatnya harus dicarikan instrumen untuk
mengalihkan ke sektor privat atau investasi riil. Sebab jika tetap berada di Surat
Utang Negara, dana itu hanya akan menjadi beban keuangan negara karena
kewajiban membayar bunga yang tinggi dan juga membuat nilai tukar rupiah rentan
dan dana tersebut tidak memiliki dampak terhadap kesejahteraan sebagian besar
rakyat.
Pemerintah
harus memberi kebijakan untuk membatasi aliran dana masuk yang diparkir di
Surat Utang Negara dan mengalihkannya pada investasi langsung. Investasi
langsung ini juga harus didukung oleh pemerintah melalui diciptakannya iklim
investasi yang nyaman bagi investor seperti penyediaan infrastruktur yang
memadai dan sistem birokrasi yang mudah dan efisien. Arus modal yang masuk juga
diberi batasan waktu agar para pemilik modal tidak menariknya secara tiba-tiba
yang dapat membahayakan perekonomian nasional. Tingkat bunga portofolio juga
harus diturunkan mengingat aliran hot money ini sangat deras dalam
sektor tersebut. Jika hal ini sudah dilakukan oleh pemerintah maka dapat
dipastikan arus modal masuk ini tidak akan menjadi sebuah dilema, namun akan
menjadi “durian runtuh” bagi perekonomian Indonesia. Indonesia tidak hanya
dapat memperbaiki sistem moneter melalui stabilitas nilai tukar saja, namun
juga dapat memperbaiki perekonomian secara keseluruhan seperti berkurangnya
jumlah kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan pendapatan. Dan yang terpenting
akan tercapainya sila ke lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.






0 komentar:
Posting Komentar