Target
Pengendalian Inflasi, Kemiskinan dan Pengangguran
Pada
Tahun 2015
Oleh
Zannatul Maulida
Konsentrasi
Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Menurut Bodie dan
Marcus (2001: 331) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan
jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi merupakan masalah utama di negara
berkembang termasuk di Indonesia. Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan daya
beli masyarakat menurun sehingga menyebabkan perekonomian suatu negara tersebut
mengalami depresi atau resesi. Terdapat definisi-definisi yang baku dari
kemiskinan dan dapat diterima secara umum, hal ini menunjukkan bahwa masalah
kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks dan dalam pemacahannya pun
tidak mudah.
Menurut para ahli
kemiskinan itu bersifat multidimensional. Artinya karena kebutuhan manusia itu
berbagai macam maka kemiskinan pun memliki banyak aspek . dari sisi lain
kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu situasi atau kondisi yang dialami
oleh seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu meyelanggarakan hidupnya
sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (Bappenas, 2002). Masyarakat miskin
selalu berada pada kondisi ketidakmampuan dan ketidakberdayaan mereka dalam
memenuhi kebutuhan mereka.
Definisi mengenai
pengangguran :
Menurut Mankiw (2003 :
154) Pengangguran merupakan masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia
secara langsung dan merupakan masalah berat.
Menurut Asyad (1997),
menyatakan bahwa adanya hubungan yang erat di antara tingginya pengangguran dan
kemiskinan. Sebagian masyarakat, yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau part
time berada dikelompok masyarakat yang miskin. Sedangkan masyarakat yang
bekerja dengan bayaran tetap diperintah atau swasta biasanya termasuk kelompok
masyarakat menengah k atas. Dan masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan
merupakan kelompok masyrakat miskin.
Ketiga hal ini
merupakan target pemerintah untuk mendorong suatau kondisi perekonomian
terutama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi stabil dan
berkelajutan. Dengan perncanaan pembangunan yang meliputi reformasi yang sudah
berjalan sangat perlu untuk diteruskan, pembangunan ekonomi yang mencakup di
dalam hal segala bidang yang meliputi dari ketiga instrument target tersebut
seuapaya tercapai dan terkendali, dan pembangunan inklusif. Menurut IDDC (International disability and Development
Consortium) pembangunan inklusi merupakan proses untuk memastikan semua
kelompok atau penduduk yang
terpinggirkan dapat terlibat dalam proses pembangunan. Hal tersebut untuk
mengupayakan pemberian hak bagi kelompok atau penduduk yang terpinggirkan
tersebut dalam proses pembangunan.
Dari ketiga target
tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di akhir tahun 2015
menjadi 5,5 persen ampai dengan 6,3 persen. Dengan sasaran percepatan
pembangunan ekonomi melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Percepatan
pembangunan ekonomi, pembangunan haruus dilihat sebagai suatu proses yang
multidimensional seperti halnya dengan kemiskinan karena mencakup perubahan
yang mendasar di dalam strukur social , perilaku masyarakat, system kelembagaan
selain dari aspek-aspek ekonomi seperti kenaikan pendapatan perkapita,
kemerataan distribusi pendapatan, dan pengentasan kemiskinan.
Dengan
menargetkan laju inflasi yang terkendali dengan kisaran sebesar 4,5 persen.
Pemerintah juga menargetkan penurunan angka kemiskinan dan pengangguran yang
signifikan pada akhir tahun 2015. Dengan target penurunan kemisikinan turun
menjadi 9 sapai 10 persen, sedangkan target penurunan pengangguran sebesar 5,7
persen sampai dengan 5,9 persen. Diharapkan target Pemerintah pengendalian inflasi,
kemiskinan dan pengangguran turun pada tahun 2015. Dan tiga hal utama dalam
perencanaan pembangunan nasional tahun 2014 yang di keluarkan oleh Menteri
perencanaan Pembangunan nasional terlaksana sesuai dengan rencana.






0 komentar:
Posting Komentar