Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Hubungan Indikator Investasi Portofolio dan Siklus Bisnis di Dalam Sutau Perekonomian



ARTIKEL
Hubungan Indikator Investasi Portofolio dan Siklus Bisnis di Dalam Sutau Perekonomian

Investasi dalam arti luas yaitu mengorbankan nilai dollar sekarang untuk nilai dollar di masa depan. Ada dua komponen berbeda yang mempengaruhi yaitu resiko dan waktu. Pengorbanan yang terjadi sekarang memliki kepastian dan hasil yang akan diperoleh kemudian dengan jumlah yang tidak pasti. Di beberpa kasus, komponen waktu merupakan faktor yang paling mendominasi (seperti obligasi pemerintah). Dan di kasus lain, komponen resiko menjadi yang dominan (seperti option call pada saham biasa). Kedua komponen waktu dan resiko sama-sama menjadi faktor yang penting dalam melakukan penanaman investasi.
Perbedaan antara investasi dan tabungan yaitu tabungan merupakan simpanan atau disebut sebagai konsumsi yang tertunda. Sedangkan investasi didefinisikan sebagai Investasi Riil dimana di masa depan akan meningkatkan pendapatan nasional. Terdapat perbedaan antara Investasi Riil (investasi nyata) dan Investasi Financial (investasi financial). Secara umum Investasi Riil (investasi nyata) yaitu investasi yang melibatkan asset nyata, seperti tanah, mesin-mesin, atau pabrik.
Pada perekonomian primitive, hampir semua investasi merupakan Investasi Riil (investasi nyata). Investasi Financial (investasi financial) yaitu investasi yang melibatkan kontrak-kontrak tertulis seperti saham dan obligasi. Di dalam perekonomian modern, semua investasi lebih banyak dilakukan Investasi Financial (investasi financial).
Hampir semua investasi mengandung unsure ketidak pastian atau resiko. Pemilik modal tidak mengetahui dengan pasti hasil yang akan diperoleh dari investasi yang dilakukan. Keadaan semacam itu dapat dikatakan bahwa pemilik modal tersebut mengahdapi resiko dalam investasi yang dilakukan. Yang dilakukan oleh pemilik modal yaitu memperkirakan keuntungan yang diharapkan dari investasinya, dan mengukur seberapa jauh hasil yang sebenarnya dari hasil yang diharapkan. Masalah pertama ini bersangkutan dengan penghitungan nilai yang diharapkan dan  masalah yang kedua menyangkut pengukuran penyebaran nilai.
Karena pemilik modal mengahadapi kesempatan investasi yang beresiko maka pilihan dalam investasi tidak hanya mengandalkan dan mengaharapkan pada tingkat keuntungan saja. Apabila pemilik modal mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, 

maka pemilik modal harus bersedia menanggung resiko yang tinggi pula. Salah satu karakteristik investasi pada sekuritas (financial assets) adalah kemudahan untuk membentuk protofolio investasi. Artinya yaitu pemilik modal dapat dengan mudah menyebar atau melakukan diversifikasi investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Oleh karena itu perlu dipahami proses investasi yaitu dimulai dari perumusan kebijakan investasinya sampai dengan evaluasi kinerja investasi tersebut.
Investasi pada sekuritas (financial assets) merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemilik modal atau pihak yang memiliki kertas tersebut untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemilik modal tersebut menjalankan haknya. Apabila sekuritas berjangka panjang dan merupakan instrument keuangan maka dapat diperjualbelikan dan penerbitannya dilakukan di pasar yang disebut dengan pasar modal. Sedangkan kegiatan perdagangannya dilakukan di bursa.
Instrument keuangan jangka panjang yaitu meliputi obligasi dan saham. Dan yang menyangkut jangka pendek pada investasi pada sekuritas (financial assets) yaitu seperti deposito jangka pendek. Menjadi tugas analisis investasi pada sekuritas (financial assets) yaitu untuk memberikan saran kepada calon pemilik modal mengenai sekuritas- sekuritas yang diperkirakan mispriced artinya harganya terlalu tinggi ataupun terlalu rendah, ataupun  sekuritas- sekuritas yang sesuai dengan karakteristik pemilik modal dalam hal resiko, pola penghasilan, maupun stastus pajak yang menjadi tanggungan pemilik modal tersebut.
Jenis-jenis investasi pada sekuritas (financial assets) yaitu
a.       Surat Hutang Departemen Keuangan (Treasury Bills)
Jenis sekuritas yang melibatkan pemberian pinjaman uang alam jangka pendek. Pinjaman seperti itu memilik resiko yang sangat kecil (jika ada) bahwa pinjaman tersebut tidak akan terbayar sesuai dengan perjanjian.
b.      Obligasi jangka panjang
Merupakan jenis sekuritas obligasi yang juga melibatkan pemberian pinjaman uang.  Tiap jenis obligasi menunjukkan komitmen dalam waktu yang relative lama dari pihak penerbit obligasi (peminjam) kepada pihak investor (pemberi pinjaman).
Proses investasi, menunjukkan bagaimana pemilik modal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas, dalam sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut dan kapan investasi tersebut akan dimulai. Untuk mengambil keputusan ada beberapa langkah yang dipertimbangkan yaitu sebagai berikut :
1.      Menentukan kebijakan investasi
Disini pemilik modal perlu menentukan apa tujuan dari investasinya, dan berapa banyak investasi tersebut dilakukan. Karena adanya hubungan yang positif antara resiko dan keuntungan dari investasi itu sendiri, maka pemilik modal tidak bisa mengatakan bahwa tujuan dari investasi yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Pemilik modal harus menyadari bahwa ada kemungkinan untuk menderita rugi. Jadi tujuan dari investasi itu sendiri harus dinyatakan bank dalam keuntungan maupun resiko.
Pemilik modal yang bersedia menanggung resiko lebih besar (dengan harapan memperoleh keuntungan yang lebih besar), akan mengalokasikan dananya pada sebagian besara sekuritas yang lebih beresiko. Dengan demikian bentuk portofolio investasinya mungkin akan terdiri dari saham, bukan obligasi. Saham yang dipilih biasanya saham dari perusahaan yang mempunyai resiko tinggi. Sebaliknya bagi pemilik modal yang tidak bersedia menanggung resiko yang tinggi mungkin akan memilih sebagian besar investasinya pada obligasi dari perusahaan-perusahaan yang dinilai aman. Dengan demikian refrensi resiko sangat diperlukan dalam membertimbangkan proses investasi.
Dan jumlah dana yang diinvestasikan mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dan resiko yang ditanggung. Pemilik modal yang meminjam dana dan menginvestasikan pada berbagai saham, akan menanggung resiko yang lebih tinggi daripada pemilik modal yang menggunakan modal sendri.
2.      Analisis Sekuritas
Tahap ini melakukan analisis terhadap individual atau kelompok sekuritas. Ada dua filosofi dalam melakukan analisis sekuritas. Pertama yaitu mereka berpendapat bahwa adanya sekuritas yang mispriced (harganya salah, mungkin terlalu tinggi dan mungkin terlalu rendah) dan mendeteksi sekuritas-sekuritas tersebut. ada berbagai cara dalam analisis ini secara garis besar ada dua cara yang bisa dikelompokkan dalam analisis ini yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal yaitu menggunakan data perubahan harga di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Analisis fundamental berupaya mengidentifikasi prospek perusahaan melalui analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk bisa memperkirakan harga saham di masa yang akan datang.
Kedua, adalah mereka berpendapat bahwa harga sekuritas adalah wajar. Kalaupaun ada sekuritas yang mispriced dan analisis tidak mampu untuk menditeksinya. Mereka yang menganut pendapat ini berpendapat bahwa pasar modal efesien. Dengan demikian pemilihan sekuritas bukan didasarkan oleh mispriced melainkan didasarkan oleh preferensi resiko para pemilik modal, sesuai dengan resiko yang mereka tanggung.
3.      Pembentukan portofolio
Portofolio merupakan sekumpulan investasi. Tahap ini meliputi identifikasi sekuritas mana yang akan dipilih, dan beberapa proporsi dana yang akan ditanamkan oleh masing-masing sekuritas tersebut. Pemilik modal melakukakn diversifikasi dengan maksud untuk mengurangi resiko yang ditanggung. Sebagaimana yang telah disebutkan pemilihan sekuritas dipengaruhi oleh prefensi resiko, pola kebutuhan kas, status pajak dan lain sebagainya.
4.      Melakukan revisi portofolio
Dengan maksud kalo perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau dirasa portofolio yang sekarang yang dimiliki tidak lagi optimal atau tidak sesuai dengan prefensi resiko pemilik modal maka pemilik modal dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut.
5.      Evaluasi kinerja portofolio
Dalam hal ini pemilik modal harus melakukan penilaian terhadap kineja (performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh ataupun tingkat resiko yang ditanggung.
Dengan demikian langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami bagaimana mengukur tingkat keuntungan yang diharapkan dan resiko investasi tersebut.
Didalam melakukan investasi protofolio investor (pemilik modal) melakukan rebalancing portofolio untuk memeprtimbangkan jenis sector saham yang akan di pilih dalam menanam modalnya nanti. Pengertian dari  rebalancing portofolio  merupakan alokasi penyesuaian kembali strategi portofolio sesuai dengan karakteristik atau preferensi dari pemilik modal atau investor, rebalancing portofolio juga berfungsi sebagai solusi untuk mengurangi resiko investasi .
Siklus bisnis biasa dikenal dengan sebagai siklus perekonomian. Siklus bisnis biasanya digunakan sebagai indicator untuk menunjukkan naik turunnya dari suatu pertumbuhan ekonomi. Siklus bisnis menggunakan siklus jangka pendek dan jangka panjang. Dapat diketahui bahwa krisi perekonomian di suatu negara , jangka waktu dari satu peristiwa dengan krisis keuangan berikutnya biasanya ditunjukkan melalui siklus bisnis.
Siklus bisnis merupakan suatud eretan masa resesi atau depresi dan masa kemakmuran yang berulang kali dan teratur dan meluas ke mana-mana. Siklus bisni dibedakan dari variasi musiman dan kecenderungan secular. Terdapat beberpa tahap dari siklus bisnis itu sendiri, meliputi tahapan kulminasi, kontraksi, resesi, nadir, perbaikan, dan ekspansi. Adanya siklus bisni dapat dengan mudah dilihat dengan suatu kondisi perekonomian yang berada dalam titik terendah dan suatu kondisi perekonomian yang berada di titik puncak.
Siklus bisnis (business cycle) juga dapat digunakan untuk melihat dan mengenal prospek kondisi perekonomian di suatu negara. Bukan hanya dari prospek indicator-indikator moneter yang paa umumnya digunakan.
Siklus bisnis merupakan suatu peristiwa yang berualang-ulang dari suatu perekonomian yang awalnya tidak bisa berekspansi secara terus menerus akan tetapi pada suatu masa akan mempunyai masa untuk bisa berekspansi. Yang akan diikuti oleh kondisi perkonomian yang melambat. Dan kemudian akan mencapai titik puncak dalam perekonomian dan kemudian mengalami masa resesi atau depresi dalam suatu perekonomian itu sendiri, dimana kondisi perekonomian dari titik puncak menjadi titik terendah. Dan kemudian kondisi perkeonomian akan berekpansi kembali, bertumbuh dengan cepat, dan melalui kondisi perelambatan perekonomian lagi dan mencapai titik puncak perekonomian lagi dan kemudian menuju ketiitik terendah kondisi perekonomian.
Dalam suatu negara memiliki siklus bisnis (business cycle) yang berbeda-beda. Panjang dan system siklus bisnis disuatu negara juga berbeda-beda tergantung dari kondisi suatu negara tersebut dan para pelaku ekonomi dinegara tersebut. semakin pandai dan pintar para pelaku ekonomi dan penentu kebijakan ekonominya di suatu negara maka siklus bisnis (business cycle)  dalam suatu negara tersebut akan semakin panjang. Artinya bahwa., perekonomian di suatu negara tersebut dapat melakukan ekspansi dalam jangka waktu yang cukup lebih lama. Hal ini menandakan bahwa para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan berperan penting dalam perekonomian, dan panjang waktu siklus bisnis (business cycle) di suatu negara dapat dijadikan indicator untuk mengurukur suatu kondisi perekonomian di suatu negara tersebut.
Di dalam perekonomian Amerika Serikat (AS) panjang siklus bisnis (business cycle) di negara adidaya tersebut bervariasi antara 7 sampai 10 tahun. Ketika kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) berjalan dengan baik, maka kondisi siklus bisnis Amerika Serikat bisa tumbuh selama 10 tahun. Dan sebaliknya jika kebijakan dalam mengatur kondisi perekonomiannya kurang baik, maka kondisi siklus bisnis Amerika Serikat (AS) hanya bisa tumbuh sepanjang 7 tahun dan setelahnya itu kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) jatuh dalam keadaan resesi.
Terdapat banyak teori-teori ekonomi yang dapat mencoba untuk menjelaskan penyebab dari siklus bisnis itu terjadi. Meski, belum ada jawaban yang pasti mengenai penyebab utamanya. Bahwa data-data terkini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh suatu Bank Sentral  di suatu negara terhadap siklus bisnis (business cycle)
Pada umumnya untuk mengukur dan melihat kondisi perekonomian di suatu negara ditentukan oleh tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga rendah maka perekonomian cenderung tumbuh lebih cepat. Dan sebaliknya, jika tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank sentral di suatu negara itu tinggi maka tingkat pertumbuhan perekonomian cenderung lebih lambat.

0 komentar:

Posting Komentar